Chapter
1 :
“What’s
your name, again?”
******
“LAMA banget,
sih, mikirnya?”
Ucap
Lucian tiba-tiba, membuat Selin, Maxi, dan Aria tersentak dari rumitnya isi
kepala mereka sendiri. Mereka sedang duduk di café yang ada di kampus,
masih kepikiran soal apa yang baru saja dosen mereka katakan dua puluh
menit yang lalu di dalam kelas, sebelum akhirnya mereka pergi ke café bersama-sama
saat jam mata kuliah dosen tersebut selesai.
“Lucian,
kalo emang ada tempatnya, kita nggak bakal mikir lama-lama
kayak gini!” sahut Maxi, gadis itu mendadak jadi kesal sendiri. Aria—pacarnya
Lucian—juga memperingati Lucian dari gerakan matanya.
Lucian
nyengir; dia seakan-akan merasa tak bersalah. “Bukan gitu maksudku. Buat
apa kalian repot-repot mikir keras soal ke mana kita bakal ngerjain tugas
kelompoknya?”
Maxi
mulai emosi. “Ya, kan, karena di rumah kami semua rame—”
“—kan
bisa di rumahku,” potong Lucian.
Maxi
terdiam. Agak kaget, sebetulnya. Aria dan Selin juga tertegun, mereka seolah
baru berpikir seperti ini: “Lah...kalo dipikir-pikir...iya juga, ya.”
“Eh,
iya juga, ya,” sahut Aria, seolah menyuarakan pikiran mereka bertiga. Maxi juga
agak kaget, kok dia tidak kepikiran sampai ke situ, ya? Apa
karena mereka belum pernah sama sekali main ke rumahnya
Lucian?
Jadi,
sebenarnya mereka sudah kenal Lucian dari semester pertama, tetapi memang tidak
pernah main ke rumah pemuda itu. Hanya saja, mereka tahu bahwa ibunya Lucian
sudah lama meninggal dan anak tunggal itu diurus oleh ayahnya seorang. Dari
dulu, Lucian memang tidak pernah mengajak mereka main ke rumahnya.
Sebenarnya,
kalau ditelaah dari sisi Lucian, Lucian bukan tak mau mengajak mereka main
ke rumahnya; dia belum pernah kepikiran saja, soalnya dia juga nempel
sama Aria terus. Isi hidupnya itu cuma tidur, makan, kuliah, olahraga, jalan
sama Aria, lalu kembali lagi ke rumah. Jadi, lebih ke...tidak pernah kepikiran
saja untuk mengajak teman-temannya datang ke rumah. Teman-temannya pun jadi tak
pernah punya inisiatif untuk datang karena Lucian sendiri tak pernah mengajak
mereka. Agak segan juga, sih, sama ayahnya Lucian, soalnya mereka tahu bahwa
Lucian ini anak dari pengusaha sukses. Ayahnya itu adalah seorang konglomerat.
Pemilik business conglomerate. Jadi, agak gimana…gitu,
mau datang ke rumahnya tanpa diajak.
Well, tetapi
mereka pernah, sih, melihat foto ayahnya Lucian. Namun, itu hanyalah foto selfie
berdua dengan Lucian. Di foto itu, mereka sama-sama memakai sunglasses.
Intinya,
mereka tahu bahwa ayahnya Lucian adalah Juan Abraham Damon Zacharias, yang
sering dikenal dengan nama Juan Zacharias. Dia pengusaha besar yang mempunyai
perusahaan multinasional Zach Enterprises, Inc. yang juga dikenal sebagai Zach
Corp. atau Zach Industries. Anak perusahaannya ada banyak dan bahkan ada
yayasannya, yaitu The Zach Foundation. Akan tetapi, Selin dan kawan-kawan tak
pernah melihat Mr. Zacharias secara langsung walau anaknya setiap hari main
sama mereka.
Lucian
pernah sesekali bercerita soal teman-temannya kepada sang ayah saat sarapan
atau saat berolahraga bersama di hari libur. Sejauh ini, sang ayah tak pernah
komplain tentang pergaulan Lucian, soalnya Lucian memang tak pernah neko-neko
juga.
Dia
agak sengklek saja, sih.
Selin
menempatkan jemarinya di dagu, mengernyitkan dahi sedikit berpikir, lalu
bersuara, “Nggak apa-apa, nih, Lucian? Soalnya kami belum pernah ke
sana. Dibolehin nggak sama ayah kamu?”
Ini
Selin serius bertanya, soalnya dia betulan agak segan. Mereka sudah berteman
dengan Lucian selama bertahun-tahun, tetapi untuk pergi ke rumah pemuda itu…rasanya
tetap agak segan. Segan, tetapi penasaran. Pengin tahu juga isi rumah
konglomerat itu seperti apa.
Lucian
meminum sisa americano di cup miliknya, lalu mengangguk
santai seraya menelan likuid yang sedang ia konsumsi itu. “Boleh. Ayahku juga
lagi nggak ada di rumah kok. Dia ada perjalanan bisnis ke China. Udah
pergi dari empat hari yang lalu.”
Tubuh
Aria, Selin, dan Maxi langsung sedikit menegap, mereka seolah mendapat sebuah
sambaran energi baru. Ada kilatan semangat di mata mereka yang agaknya bergerak
dengan sangat cepat. Maxi sampai-sampai sulit untuk menyembunyikan senyumnya.
Jujur, dia jadi excited banget. “Bener, nih?!”
Lucian
mengangguk. “Iya. Dia pulangnya besok malem. Kita bisa pake rumahku buat
ngerjain tugasnya. Nanti aku ajak Dylan juga.”
Mendengar
nama Dylan, rasa semangat Selin jadi agak turun. Ia merasa
seolah-olah ada pukulan tak berwujud yang mengenai jantungnya. Agak nge-jleb sedikit.
Tidak,
Selin tidak membenci Dylan. Tidak sama sekali. Selin dan Dylan juga tidak
bertengkar. Mereka baik-baik saja kok.
Tadinya, sih, begitu.
Kalau
sekarang...Selin agak merasa canggung ke Dylan.
Sekadar
informasi, Selin ada sedikit rasa bersalah ke Dylan. Akhir-akhir ini, Selin
menjauhi Dylan. Ia merasa harus melakukan itu karena tak ingin pertemanan
mereka menjadi super-tidak-menyenangkan kalau ia menolak pernyataan cinta dari
Dylan. Jadi, dia memilih jalan tengah, yaitu sedikit menjaga jarak
dari Dylan. Namun, ya...memang hanya bisa sedikit, soalnya Dylan
itu adalah sahabatnya Lucian. Selin dan Maxi juga adalah temannya Lucian. Jadi,
mereka tidak bisa benar-benar ‘punya’ jarak. Ada Lucian yang
menjembatani mereka.
Agak
susah kalau sampai mau menjauhi Lucian juga, soalnya Lucian orangnya baik.
Tajir pula.
Ups.
“Kalo
mau nginep di rumahku juga nggak apa-apa. Biar sekalian selesai tugasnya.
Kalian bisa pulang besok,” kata Lucian, pemuda itu meyakinkan mereka semua.
Alhasil,
karena tawaran yang bagus itu (tawaran itu juga merupakan pilihan yang terbaik
daripada harus mengerjakan tugas di rumah mereka yang ramai dengan keluarga),
mereka semua akhirnya mengangguk setuju.
“Oke,
sip. Kita nginep aja. Sesekali nginep di rumah konglomerat,” jawab Maxi seraya
mengacungkan jempol.
Selin
mengangguk dan tertawa mendengar jawaban Maxi; agaknya, dia sudah mengikhlaskan
soal Dylan tadi. “Oke, Lucian. Pulang dari kampus ntar kita langsung
bareng-bareng pergi ke rumah kamu.”
Sementara
itu, Aria memilih untuk memeluk lengan Lucian, mengusap-usapkan kepalanya ke
lengan atas Lucian sebagai tanda bahwa dia setuju dan bahagia atas tawaran dari
kekasihnya itu. Lucian tersenyum melihat Aria yang memang selalu bertingkah
manja, sementara Maxi dan Selin—yang sudah terbiasa dengan pemandangan tersebut—hanya
cuek dan kembali fokus untuk membahas rencana menginap mereka di rumah Lucian.
*****
“Lucian,
aku boleh numpang mandi nggak?” tanya Selin. “Soalnya badanku udah kerasa agak
lengket.”
“Badan
bagian mana, nih, yang lengket?” sahut Lucian yang langsung dihadiahi
pukulan di kepala oleh Aria. “Dasar!”
Lucian
tertawa dan menghadang pukulan Aria dengan kedua tangannya yang menyilang.
Seraya menghindari pukulan itu, Lucian pun menjawab Selin, “Oke, Selin. Mandi
aja. Pake aja kamar mandi yang ada di dalem kamar tamu lantai dua. Yang ada di
sebelah kamar Ayahku.”
Anyway,
mereka sudah tour di rumahnya Lucian tadi sore. Ternyata,
rumah Lucian adalah mansion yang sangat besar. Jujur, saat
baru masuk ke wilayah mansion tersebut—jarak dari gate utama
hingga ke mansion adalah sekitar satu kilometer—mereka sudah
sibuk menganga karena tidak pernah melihat mansion sebesar itu
secara langsung. Rasanya, seperti di film-film.
Jadi,
begini: sebelum masuk ke area mansion, mereka disambut oleh sebuah gerbang
tinggi yang dijaga oleh dua bangunan pos di sebelah kanan dan kirinya. Ketika
para penjaga itu memastikan bahwa yang datang adalah Tuan Muda Lucian,
mereka pun membukakan gerbang besar itu dan akhirnya mobil yang Lucian kendarai
dipersilakan masuk ke dalam area mansion. Tak lupa, para
penjaga tersebut berbaris untuk memberi hormat kepada Lucian tatkala Lucian menjalankan
mobilnya meninggalkan gerbang.
Sesungguhnya,
di dalam gerbang itu terdapat sebuah lahan sejauh hampir satu kilometer. Di
lahan tersebut, baik sebelah kanan maupun sebelah kiri, tersusun pohon-pohon
cemara yang rindang. Jika ada spasi yang lebar di antara pohon-pohon cemara
tersebut, biasanya akan ada plang penanda mewah yang memberitahukan area apakah
spasi tersebut. Di sepanjang jalan, Selin melihat ada lapangan futsal, lapangan
golf, kolam renang, lapangan tenis, lapangan voli, dan lapangan berkuda. Ada
juga sebuah taman bunga yang luas; di tengah taman bunga itu terdapat tugu
berbentuk singa. Taman itu memiliki jalur untuk jogging. Sepertinya,
Lucian dan ayahnya hobi berolahraga.
Setelah
melewati jarak hampir satu kilometer, barulah mereka semua sampai di
depan mega mansion-nya Keluarga Zacharias. Di depan mansion tersebut
ada pagar lagi dan halamannya sangat luas. Di balik pagar tersebut ada sebuah
jalan lurus yang lebar dan panjang; jalan itu mengarah tepat ke depan tangga
berwarna putih yang digunakan untuk naik ke pintu utama mansion. Di
sebelah kanan dan kiri jalan itu, ada lahan berumput yang dihias dan dibentuk
dengan cantik seolah-olah dilukis. Berjajar juga beberapa patung di sekitar
lahan berumput itu; patung-patung tersebut agaknya merupakan tiang-tiang lampu.
Selin
dan teman-temannya menganga lagi ketika melihat mansion itu. Desainnya
mirip seperti rumah-rumah atau istana para bangsawan Eropa di masa lalu. Bedanya,
yang ini terlihat jauh lebih modern. Rasanya, seperti masuk ke sebuah istana
yang sangat megah dan dimiliki oleh keluarga kerajaan.
Warna mansion itu
dominan krem dan atapnya berwarna hitam kebiruan; bangunan terdepan mansion itu
terdiri dari tiga bangunan yang terlihat seakan-akan terpisah dengan susunan
kiri-tengah-kanan, tetapi sesungguhnya bagian belakangnya tergabung. Ada pula
bangunan lain yang berdiri di belakang tiga bangunan itu. Ada tiang-tiang megah
yang tersusun di seluruh bagian mansion itu dan setiap
dindingnya juga memiliki relief.
Ketika
Selin dan teman-temannya turun dari mobil sport Lucian dan
mulai naik tangga, mereka tak henti-hentinya melihat ke sekeliling, sampai
melihat ke atap-atapnya. Itu menakjubkan. Mereka berasa kecil sekali di
daerah mansion itu. Belum lagi pintu rumah itu yang amat besar
dan megah. Pintunya berdaun dua; di pintu itu ada relief singa yang di bawahnya
bertuliskan ‘Zacharias’. Relief itu berwarna keemasan dan
bercahaya.
Lampu-lampu
berwarna warm light yang bertebaran di plafon dan yang
dipasang di tiang-tiang lampu itu membuat istananya jadi terlihat lebih eye-catching meski
sebenarnya cahaya lampunya tidak terlalu kentara karena Selin dan
teman-temannya sampai di mansion itu pada sore hari. Matahari
masih bersinar terang, layaknya hati Selin dan teman-temannya pada saat
melihat mansion itu. Semuanya menakjubkan.
Ternyata,
ada orang di sekeliling Selin yang memiliki mega mansion seperti
ini. Maxi sampai melompat-lompat kegirangan; dia teriak-teriak sendiri. Kapan
lagi punya pengalaman masuk ke mansion megah milik billionaire seperti
ini? Setelah masuk nanti, mereka harus tour!
Nah,
sekarang, mari kita kembali ke topik awal, di mana Lucian menyuruh Selin untuk
mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamar tamu lantai dua. Jadi, karena
sudah tour di rumahnya Lucian, Selin sudah tahu letak kamar
tamu yang ada di lantai dua itu. Letaknya adalah tepat di atas kamar Lucian dan
di samping kamar ayah Lucian.
Kamar
ayah Lucian sangat mudah untuk dikenali karena kamar itu adalah kamar utama
yang terlihat paling besar jika diukur panjangnya dari koridor. Pintunya juga
sangat berbeda dari pintu-pintu kamar yang lain. Dalam satu jentikan jari, setiap
orang yang melihatnya pasti akan tahu bahwa itu adalah kamar pemilik mansion ini.
Selin
mengangguk. “Oh, iya. Nanti aku mandi di situ. Aku mandi dulu, ya. Badan aku
udah nggak enak lagi rasanya. Pengin mandi.”
Selin
pun mulai berdiri dan menghampiri tasnya untuk mengambil baju ganti yang memang
sudah ia siapkan. Melihat Selin yang bergegas mau mandi, Maxi juga jadi mau
mandi. Ia pun langsung berdiri dan berkata, “Aku juga, ah! Kamu nggak mandi,
Aria?”
Aria
menoleh, berhenti memukuli Lucian dan tersenyum. “Aku ntar aja, Maxi, ntar malem.”
Mendengar
jawaban itu, mendadak Maxi nyengir jail.
“Oho...?”
ujar Maxi. Alis matanya naik turun. Tubuhnya mulai berjoget tak jelas, berniat
untuk mengejek Aria dan Lucian sampai puas. “Kok malem-malem mandinya? Kalo malem
emangnya habis ngapain? Kok nunggu malem?”
Pipi
Aria memerah. Tak disangka-sangka, Lucian juga terlihat sedikit kikuk; pemuda
itu mulai memalingkan mata seraya menggaruk bagian belakang lehernya yang
sesungguhnya tidak gatal.
Melihat
reaksi mereka berdua, Maxi jadi kaget sebentar, lalu tertawa terbahak-bahak.
Selin, yang tadinya baru mau berjalan ke luar kamar (seraya membawa baju
gantinya), justru berhenti dan ikut tertawa.
“Enak
banget, yang punya pacar,” seloroh Selin. “Pantesan aja kita semua ditawarin ke
sini.”
Selin
tertawa geli seraya menutup mulutnya. Ia dan Maxi saling menatap, tertawa, dan
saling mengangguk menyetujui. “Iya, nih, iya! Bener! Supaya dia ada kesempatan
sama Aria!”
Akan
tetapi, ketika Selin semakin mundur ke belakang karena sibuk tertawa, tiba-tiba
punggung Selin menabrak sesuatu yang terasa keras dan bidang. Selin langsung
menoleh ke belakang dan mendapati tubuh Dylan yang tinggi sedang berdiri di belakangnya.
Suara tawa Selin perlahan-lahan menghilang.
Waduh,
ada Dylan. Canggung banget, batin Selin.
Mata
berwarna biru milik Dylan hanya melihat Selin sebentar. Cowok itu lalu
mengalihkan pandangannya ke depan, ke arah Lucian dan Aria.
“Selagi
suara kalian nggak kedengeran sampe ke luar, nggak apa-apa, Lucian,” ujar Dylan
dengan suara beratnya. “Kalo sampe ke luar, takutnya kalian yang besok pagi
malu setengah mati. Kami tinggal pulang aja, nggak mau ikutan kena malunya.”
Maxi
hampir menyemburkan ludahnya karena tak kuat menahan tawa akibat celetukan
tajam Dylan. Singkat, padat, dan jelas. Sama sahabatnya saja se-savage itu.
“Wow,
tajem banget omongannya, Kak,” ujar Lucian. Catatan: dalam kesehariannya, ia
tidak memanggil Dylan dengan sebutan ‘Kakak’. “Santai dikit boleh, Kak? Agak ketusuk, nih,
hatiku.”
Maxi
tertawa terbahak-bahak. Aria diam-diam menertawai kedua laki-laki itu. Selin
juga ikut tertawa walau ia masih agak canggung dengan Dylan.
Tak
Selin sangka, mendadak Dylan melihat ke arah Selin tanpa sepengetahuan cewek
itu. Dylan agak menyipitkan matanya sejenak, tetapi dua detik kemudian, tatapan
matanya kembali normal.
Suara
Dylan pun terdengar kembali. “Ya udah, Lin. Mandi dulu sana. Nanti balik lagi
ke sini, ya, sama Maxi. Biar kita lanjutin ngerjain tugasnya.”
Sejujurnya,
Selin agak kaget dengan saran dari Dylan itu. Terus terang, akhir-akhir
ini…setiap kata yang keluar dari mulut Dylan akan berhasil membuat Selin
sedikit menahan napas, soalnya dia punya kegelisahan tersendiri terhadap
keberadaan Dylan.
Kok
Dylan masih ngomong dengan baik-baik, ya, sama aku?
Hanya
itu yang terlintas di benak Selin tiap kali Dylan menegurnya. Walaupun begitu,
sebenarnya kini teguran dari Dylan itu terhitung jarang karena Selin telah
menambahkan jarak di antara mereka.
Tak
mau berlama-lama tertegun karena mendengar Dylan berbicara kepadanya, Selin pun
berusaha untuk tenang dan mengangguk dengan cepat. Ia tersenyum tipis. “O—Oke.
Aku mandi dulu.”
Dylan
mengangguk. Selin pun mulai berjalan ke luar kamar (dengan agak tergesa-gesa)
dan diikuti oleh Maxi. Sementara itu, Lucian mulai meneriaki Maxi yang saat itu
tengah mengikuti Selin dari belakang.
“Maxi,
jangan ikutan mandi di kamar tamu yang sama kayak Selin, ya! Cari kamar tamu
yang lain. Jangan mandi berdua!”
Maxi
dan Selin tertawa. Ngapain coba mandi berdua kalau kamar mandinya ada
banyak?
Maxi
pun meneriakinya balik, “Iya, astaga! Ada-ada aja!”
Saat
Maxi dan Selin berpisah di koridor—karena Maxi menemukan kamar tamu di lantai
satu—Selin pun lanjut berjalan dan mulai menaiki tangga spiral (yang jujur agak
melelahkan) untuk sampai ke lantai dua. Begitu berjalan memasuki koridor
daerah 'kamar utama' itu, jujur Selin agak merinding.
Bukan
merinding karena takut, melainkan merinding karena memikirkan betapa
bedanya vibe kamar itu dengan kamar yang lainnya saat
dilewati. It feels...prestigious. Kamar itu walau tertutup,
kemegahannya seolah-olah terasa sampai ke luar. Motif dindingnya berbeda,
pintunya berbeda. Warna yang mendominasi dinding serta pintu kamar itu adalah
merah bercampur hitam. Pokoknya, beda sekali rasanya saat melewati koridor
depan kamar itu dengan saat melewati koridor depan kamar yang lain. Sepertinya,
ayah Lucian suka warna-warna yang simple, tetapi tetap
terlihat mewah luar biasa. It looks expensive.
Menggelengkan
kepala, Selin pun mulai mengalihkan pandangannya dan fokus berjalan ke depan.
Saat sampai di depan kamar tamu yang ada di lantai dua itu, Selin langsung
membuka pintunya. Pintu kamar itu tidak terkunci, mungkin karena tadi siang
Lucian sudah meminta head butler di mansion itu
untuk tidak mengunci kamar-kamar tamu.
Begitu
masuk ke dalam, kamar itu terlihat sangat bagus. Ada ranjang kanopi antik
seperti milik bangsawan Eropa di tengah-tengah ruangan. Ada beberapa perabot
yang juga sangat bagus dan menyesuaikan warna ruangan itu. Warna cokelat dan krem.
Cantik
sekali. It's aesthetically pleasing. Selin sangat suka melihat
kamar ini.
Tak
mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengagumi ruangan itu—karena tubuhnya
sudah lengket—Selin pun langsung meletakkan baju gantinya di atas ranjang. Ia
berjalan masuk ke kamar mandi itu dan mulai mandi.
******
Setelah
selesai mandi—dan merasa fresh lagi—Selin pun keluar dari
kamar mandi itu dengan perasaan senang. Ia tersenyum dan sedikit bernyanyi
kecil, berencana untuk menghampiri baju gantinya yang tadi ia letakkan di atas
ranjang.
Akan
tetapi, tepat saat mata Selin fokus ke depan untuk berjalan ke arah ranjang,
langkah kaki Selin mendadak berhenti.
Mata
Selin melebar. Ia seketika berhenti bernyanyi-nyanyi kecil.
Betapa
terkejutnya ia saat melihat ada seorang pria yang berdiri tepat di
depannya—seorang pria matang yang bertubuh tinggi, tegap, serta kekar—dan sedang
melihat balik ke arahnya. Pria itu hanya memakai boxer; ia membawa
handuk berwarna putih di lengannya. Pria itu tampak sedikit terkejut karena
melihat Selin keluar dari kamar mandi tamu itu.
“Kamu...”
Selin
mulai berkeringat dingin. Pikirannya kalut.
Ini...ini
bukannya...ayahnya—
HAH?!
Bentar-bentar!
Masa iya, sih?!
Orang
yang seharusnya kembali besok malam, mengapa bisa ada di sini?! Lagi pula, buat
apa mandi di kamar mandi tamu?!
Eh...sebentar.
Selin
baru sadar bahwa dirinya saat ini cuma memakai handuk!
“Astaga!
Astaga, ya Tuhan! Maaf, Om!” Selin panik setengah mati; gadis itu langsung
memegang erat bagian pangkal handuk di daerah dadanya dan berlari
terbirit-birit ke luar kamar. Sementara itu, ayahnya Lucian tampak memperhatikan
Selin—yang sedang berlari kencang itu—dengan sedikit membuka mulutnya (mungkin
ingin memanggil) dan matanya sedikit melebar.
Astaga.
Astaga. Astaga!
Sial,
malu banget, ya Tuhan! Kok bisa ayahnya Lucian ada di situ?! batin
Selin panik.
Setelah
berlari agak jauh, Selin mulai terengah-engah. Dia memegangi lututnya sebentar
dan detak jantungnya terdengar begitu kencang. Dia mulai berpikir ingin lompat
saja dari lantai dua saking malunya.
Dia
baru bertemu dengan ayahnya Lucian, tetapi sudah menyuguhkan adegan porno.
Etdah.
Menghela
napas, Selin pun akhirnya berpasrah. Dia berjalan ke lantai satu dengan lesu, pelan-pelan
mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri sambil berjalan. Ia menghela napasnya
berkali-kali.
Sudah.
Tidak apa-apa. Mudah-mudahan ayahnya Lucian lupa. Amin, batin
Selin. Ia sedang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri walau sebenarnya itu
konyol. Ayahnya Lucian itu pasti tidak demensia. Dia masih terlihat
sangat manly. Produktif.
Saat
sudah mulai tenang, Selin pun mulai membatin. Bukannya Selin mau
berpikiran mesum, tetapi astaga...itu—yang tadi itu beneran ayahnya
Lucian? Ya Tuhan! Jujur, Om itu seksi sekali. Pria matang yang menggoda. Sexually
attractive father.
Om
itu gagah...dan tadi punyanya Om itu juga terlihat sangat besar di dalam boxer
itu—
—eh,
bentar.
Baju
ganti Selin ke mana?
Nah,
bagus. Luar biasa. Baju gantinya ketinggalan di kamar tamu tadi!
Sembari
merengek karena menahan rasa kesal dan malu, Selin pun terpaksa berlari kembali
ke kamar tamu lantai dua tersebut. Ia mengutuk keadaan ini, tetapi dia pun tak
bisa menyalahkan dirinya sendiri, soalnya tadi dia terlalu panik untuk ingat
soal baju gantinya yang tergeletak di atas ranjang.
Lah, bentar-bentar.
Di atas ranjang itu juga ada...
Celana
dalam dan bra-nya...
Oh,
astaga! Rasanya, Selin pengin menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding. Gilaa!
Malu banget, asli!
Saat
langkah kakinya sudah sampai di depan pintu kamar tamu itu—yang masih
terbuka—Selin lantas menarik napas dan mengeluarkannya lagi.
Udah,
nggak apa-apa. Aku nggak punya pilihan lain. Malah tambah malu kalo bajunya nggak
diambil. Mudah-mudahan, ayahnya Lucian udah masuk ke kamar mandi, pikirnya.
Selin
pun mengangguk yakin, lalu ia mulai melihat ke depan. Namun, saat melihat ke
depan sana, jujur ia agak kaget karena melihat ayahnya Lucian ternyata belum
masuk ke kamar mandi. Ayahnya Lucian sedang duduk di salah satu kursi yang ada
di kamar itu, di dekat meja. Pria yang bertangan kekar itu tampak sedang
memainkan handphone-nya.
Lho,
ayahnya Lucian belum mandi. Nggak jadi mandi apa gimana? batin
Selin. Namun, Selin tak mau ambil pusing. Dia hanya ingin mengambil baju
gantinya.
Akhirnya,
karena malu kalau langsung masuk, Selin pun berbicara dengan pelan di dekat
pintu. Ia menyembunyikan separuh tubuhnya di balik pintu seraya memegang handuk
yang melekat di dadanya. Dari posisinya saat ini, hanya terlihat kepalanya,
lehernya, dan sebelah tangan telanjangnya yang sedang memegang kosen pintu.
“Om...?” panggilnya
pelan. Aaargh! Malu, segan, semuanya bercampur menjadi satu!
Ayahnya
Lucian—Om Juan—langsung menoleh.
“Ya?”
Wah. Suaranya.
Suara
Om Juan barusan terdengar begitu seksi.
Bentar.
Tahan dulu. Urusan baju Selin belum selesai.
“U—Um...
Maaf, Om. Baju aku ketinggalan,” ucap Selin lirih. “Aku mau ngambil bajunya,
Om. Umm... Boleh nggak, Om tutup mata dulu...?”
Om
Juan tampak terdiam sejenak, matanya sedikit melebar. Ia terlihat
agak...menahan napas, terkejut dengan permintaan Selin meskipun sebenarnya ia
tahu bahwa wajar saja Selin memintanya untuk menutup mata.
Om
Juan kemudian mengangguk. “Oh, ya. Om tutup mata. Nanti kalo udah, kasih tau Om,
ya.”
Selin
sebenarnya ikut kaget mendengar persetujuan Om Juan. Agak lucu sebenarnya
meminta konglomerat yang merupakan pria yang lebih tua darinya itu menutup mata
hanya karena ia ingin lewat dan mengambil baju.
Saat
melihat Om Juan sudah menutup matanya, Selin pun langsung mengangguk dan
bernapas dengan lega seraya berkata, “Iya, Om. Makasih, ya, Om.”
Dengan
cepat, Selin langsung berjalan menghampiri ranjang yang ada di dalam kamar itu.
Ia mengambil baju, celana, serta pakaian dalamnya dengan gerakan yang secepat
kilat, lalu ia berjalan kembali ke dekat pintu. Ke posisinya semula.
Merasa
sudah aman, Selin pun mengintip dari kosen pintu lagi dan berkata, “Udah, Om.”
Om
Juan mulai membuka matanya. Pria itu menemukan Selin yang sudah berada di
posisi semula. Matanya sedikit menyipit—tetapi hanya dalam waktu satu detik—dan
ini tidak berhasil disadari oleh Selin. “Oke.”
“Makasih,
ya, Om,” ujar Selin sambil menahan malu. Gadis itu pun mulai berbalik dan berencana
untuk meninggalkan kamar itu, tetapi tiba-tiba ia mendengar suara Om Juan.
“Kamu temennya Lucian,
ya?”
Selin
langsung berbalik kembali. Ia berdiri di posisi semula, agak memajukan separuh
tubuhnya dari balik kosen pintu.
“I—Iya,
Om.”
Om
Juan memperhatikan Selin dengan tatapan mata yang sukar untuk dijelaskan. Mata
berwarna coklat gelapnya terlihat berpendar di bawah lampu kamar itu.
Om
Juan pun mengangguk dan tersenyum. “Oh, gitu, ya. Soalnya Lucian nggak ada
bilang ke Om kalo hari ini ada temennya yang dateng.”
Mendengar
itu, Selin langsung merasa bahwa ia perlu mengklarifikasi semuanya. “Iya, Om,
soalnya kata Lucian, Om pulangnya besok malem. Jadi, Lucian ngajakin kami ke
sini buat ngerjain tugas kelompok dari kampus bareng-bareng...”
“Oh,
gitu. Soal jadwal pulang itu...nggak jadi. Meeting dan visit-nya
selesai lebih cepet daripada apa yang udah direncanain. Jadi, Om
langsung pulang.”
Mulut
Selin membulat—membentuk ‘O’—dan ia manggut-manggut. Dalam hati, jujur ia
mencoba untuk tidak salah fokus dengan Om Juan yang masih hanya
memakai boxer itu. Handuk putih milik pria itu terletak di bahu kirinya.
Ah.
Rasanya, Selin pengin lari dari sini dan cepat-cepat memakai baju. Canggung banget
ngobrol kayak gini! Habisnya…dia baru hari ini ketemu langsung sama Om
Juan. Sedari tadi, Selin juga terus mencoba untuk mengabaikan berbagai macam
pertanyaan yang muncul di benaknya, berupa:
1.
Harusnya tadi Om Juan melihat baju ganti beserta pakaian dalam Selin.
Entah itu ketika pria itu pertama kali masuk ke kamar tamu…atau sesaat sebelum
Selin kembali lagi ke kamar itu setelah berlari ke luar dengan kencang. Jadi,
mengapa Om Juan diam saja?
2.
Mengapa Om Juan tidak jadi mandi?
3.
Mengapa Om Juan mandi di sini? Kan Om Juan punya kamarnya
sendiri...
Sudah,
sudah. Jangan terlalu penasaran. Nanti kebablasan.
“What's
your name, again?” tanya Om Juan tiba-tiba. Sepasang
matanya yang tajam itu kini fokus menatap Selin.
‘Again?’
Apakah
Om Juan pernah mendengar tentang Selin dari Lucian? Ya, menurut Selin itu
mungkin saja terjadi, tetapi bukan itu masalahnya sekarang.
Jantung
Selin serasa berhenti berdetak. Selin terdiam, terutama saat tiba-tiba Om Juan bangkit
dari duduknya dan meletakkan handphone-nya di atas meja; ia agaknya
bersiap untuk pergi ke kamar mandi. Namun, matanya masih menatap Selin.
Menunggu jawaban Selin. Dia diam sejenak di sana.
Meneguk
ludahnya dengan gugup, Selin pun berusaha untuk mengabaikan jantungnya yang
entah mengapa terus berdegup kencang. Kali ini, ia bisa melihat dengan jelas
fisik Om Juan yang sangat menawan.
Tubuhnya
yang tinggi, tegap, dan gagah. Dadanya yang bidang. Otot bisep dan trisepnya.
Lengannya yang berurat. Mata Selin sedikit menjelajah ke tubuh bagian depannya
dan menemukan perut six pack-nya. Kulitnya yang seksi. Ada sedikit
keringat di sana, mungkin karena Om Juan baru pulang dari perjalanan jauh.
Rahang yang tegas, sepasang mata yang tajam, hidung yang mancung, dan wajah
yang menawan. Turun lagi ke bawah...di sana ada kejantanan yang...
Astaga, itu
besar sekali.
(Maaf,
soalnya Selin tak bisa menahan matanya sendiri).
Jujur,
pemandangan itu membuat napas Selin tertahan. Pipinya memerah. Om Juan ini
benar-benar dilf. Totally dilf. Sexually attractive older man; a sexy
father.
Daddy.
Selin
juga normal. Ia terkadang berpikiran mesum meskipun ia tak mau. Seperti
sekarang ini: dia tak mau berpikiran mesum ke ayah temannya sendiri, tetapi
objek yang sedang berdiri di depannya saat ini benar-benar membuat jiwa
feminimnya meronta hingga dia jadi berpikiran mesum tanpa dia sadari. Lututnya pun
jadi agak lemas.
Om
Juan ini pasti...kuat banget.
Ah,
apa-apaan ini. Selin bahkan masih virgin. Mengapa
otaknya bisa sampai ke sana?
Berbahaya.
Jika dekat lebih lama lagi dengan Om Juan, bisa-bisa Selin akan menjadi orang
yang mesumnya tingkat dewa. Baru kali ini dia berpikiran kotor seperti ini
hanya karena menatap seorang pria.
Mencoba
untuk menguasai dirinya sendiri, Selin pun menggeleng, bermaksud untuk mengusir
pikiran mesumnya. Ia hanya bisa berdoa, mudah-mudahan Om Juan tidak mengetahui
pikiran mesumnya barusan; mudah-mudahan, pikiran mesumnya tidak tercetak di
wajahnya saat melihat fisik Om Juan.
Selin
meneguk ludahnya sejenak, lalu menjawab, “Selin, Om. Nama aku Florentia Roselin
Agrece.”
Setelah
itu, betapa lutut Selin jadi serasa selembut plastisin dan seringan kapas…tatkala
Om Juan tersenyum miring padanya dan berkata:
“Sweet.
It's pleasure to meet you, Selin. See you around.” []
******




No comments:
Post a Comment