Bab
13 :
Dia
dan Kesehariannya
******
"NAD! Sebelah
sini!" teriak Savanna, salah satu siswi Kelas XI IPS 5, saat melihat Nadya
yang malah melamun ketika mereka sedang latihan menari. Mereka menari di spot
kosong yang memisahkan kantor guru dengan barisan kelas sepuluh di lantai
satu. Entah apa alasan Bu Essy mengajak mereka—murid-murid yang terpilih dalam seleksi
peserta lomba tari tradisional—latihan di sana; guru itu hanya berkata bahwa tempat
itu cukup luas dan terbuka untuk latihan. Setidaknya mereka akan dilihat oleh
guru yang lewat atau murid yang sedang istirahat saat itu.
Benar.
Nadya terpilih di seleksi yang diselenggarakan oleh OSIS. Latihan menari mereka
sudah mulai efektif sejak seminggu yang lalu. Savanna, teman sekelas Nadya saat
kelas sepuluh, juga terpilih. Namun, sekarang Savanna tidak sekelas lagi dengan
Nadya karena Savanna memilih kelas IPS.
Mereka
berdua otomatis akan ikut di pertandingan persahabatan yang dilaksanakan di
SMANSA Jakarta; mereka mengikuti lomba tari tradisional bersama kelima orang
lainnya (ada tujuh peserta lomba tari tradisional).
Nadya
tersentak; ia langsung menatap Savanna yang sudah pindah ke ujung sana. Savanna
meneriakinya lagi, "Sini, kita pindah posisi, Nad!!"
"Eh,
iya, Van!" teriak Nadya. Cewek itu lalu berlari ke ujung sana, stand
by berdiri di depan Savanna seraya menyiapkan gaya tubuh sebelum musik
dimulai. Begitu lagu tradisional Betawi itu diputar, Nadya langsung bergerak
bersama ketujuh temannya yang lain; Nadya mengambil posisi di depan, bagian
kiri.
Tiga
menit sudah berlalu. Lagunya diputar ulang untuk memperbaiki gerakan yang belum
kompak. Mereka belum terlalu kompak karena baru latihan selama seminggu.
Beberapa
menit kemudian, mulai banyak murid-murid yang menonton. Soalnya, banyak orang yang
sudah selesai makan di kantin; murid-murid yang tidak pergi ke kantin pun malah
memilih untuk menonton. Dalam seminggu belakangan, semua murid-murid perwakilan
lomba mulai latihan. Sebenarnya, Nadya agak malu jika dilihat banyak orang,
apalagi saat tariannya belum lancar. Ah, Nadya mah apa
saja pasti malu.
Ketika
masih bergerak, tiba-tiba Nadya mendengar ada sorakan dari ujung kanan. Semua
penari juga langsung menoleh meskipun masih bergerak. Awalnya, Nadya lebih
memilih untuk fokus. Akan tetapi, karena penasaran, Nadya sedikit melihat ke asal
suara.
Alhasil,
mata Nadya membelalak.
Di
sana ada Aldo.
Pipi
Nadya langsung merona; gadis itu spontan membuang muka. Dia berusaha untuk
terus bergerak karena fokusnya mendadak buyar.
Aduh...gimana
ini... Gimana...?!
Aldo…ngeliat...
Nadya
tahu, sih, kalau OSIS pasti bakal mengecek latihan-latihan
para peserta lomba setiap harinya. Namun…kok rasanya malu, ya, kalau yang
mengecek itu Aldo?
Di
sisi lain, Savanna (yang bergerak di belakang Nadya) mulai senyum-senyum karena
melihat Nadya yang tiba-tiba jadi malu. Gilanya, Savanna malah mulai meneriaki
Nadya, "Acieee, Nadyaaa!"
Jelas
saja Savanna tahu tentang hubungan Nadya dan sang Ketua OSIS. Waktu itu, beritanya
menyebar secepat embusan angin. Nadya kontan menunduk dan meneguk ludahnya
sendiri. Pipinya semakin memerah. "Apaan, sih, Van..."
Duuh…jangan
sampe Aldo denger...
Mudah-mudahan
yang nonton banyak ngeluarin suara juga…
"Padahal,
kalo bagian kita, yang sering ngecek itu dia, lho. Masa lo saltingnya
baru sekarang?" bisik Savanna sembari tertawa kecil. Perkataannya itu berhasil
membuat mata Nadya membulat. Nadya kehilangan fokusnya dan langsung melihat ke
depan lagi untuk melihat gerakan Bu Essy. Jantungnya berdegup kencang.
"Ma—masa
iya, Van?" tanya Nadya gugup. Savanna menahan tawanya.
"Lah…iya,
lho, Nad. Yang sering ngecek kita itu dia," jawab Savanna. "Lo aja
yang nggak merhatiin sekitar. Lo udah tau kalo OSIS ngecek kita
tiap hari, tapi pasti lo jarang liat pas kita dicek. Jadi, ya...lo nggak sadar.
Haha."
Ya
ampun, benar juga. Kalau seandainya hari ini mereka tidak latihan
di jam istirahat, pasti kedatangan Aldo tidak disambut oleh sorakan cewek-cewek.
Nadya juga tidak akan sadar kalau Aldolah yang mengecek latihan mereka.
Begitu
mereka bertukar posisi—tepatnya saat berpapasan—Savanna berbisik pada Nadya sambil
menari, "Kayaknya, dia nggak bisa banget ketinggalan ngeliat penampilan
pacarnya."
Wajah
Nadya merah padam. Bahkan, Nadya tidak berani melihat Aldo yang berdiri di sebelah
sana. Beneran, deh, nggak berani! Malu banget! Bisa-bisa Nadya
jadi mengacaukan tariannya hanya karena salah tingkah.
Ampun,
deh. Mengapa suka sama Aldo itu...bikin Nadya jadi deg-degan setiap
saat, ya…?
******
"Mau
pulang atau mau makan dulu?" tanya Aldo saat ia dan Nadya sampai di tempat
parkir motor, tepatnya di samping motor Aldo. Aldo memakai scarf
bandana hitamnya yang sebenarnya sudah ada di lehernya sejak berjalan
di koridor tadi. Dia biasa menjadikan scarf itu sebagai masker
saat ia berkendara. Aldo mulai memasang sarung tangan hitamnya, lalu mengambilkan
helm untuk Nadya.
Nadya
langsung menunduk saat tatapan matanya dan tatapan mata Aldo bertemu; Aldo menatapnya
dengan lembut. Sinar matahari siang ini membuat mata Aldo jadi semakin terang
dan indah.
Oh,
his eyes.
"Nggak
tau..." jawab Nadya. Mendadak pipi Nadya merona lagi karena teringat ucapan
Savanna sebelumnya.
Usai
memasangkan helm di kepala Nadya dengan benar, Aldo pun mengusap pipi Nadya dan
tersenyum lembut meskipun senyumannya itu tak terlihat karena dia sudah
memakai scarf bandana-nya. "Kamu pilih yang mana pun,
tujuannya tetap sama. Khusus untuk hari ini."
Nadya
kontan mengangkat wajahnya dan dahinya sedikit berkerut. Dia tak paham dengan
apa yang barusan Aldo katakan. Maksudnya...apa? Makan sama pulang...satu
tujuan?
Saat
Aldo tengah memasang helm, cowok itu menatap Nadya dan berkata, "Kita ke
rumahku ya, Nad. Aku pengin bawa kamu," ujar Aldo. "Ntar kita ke
rumah kamu dulu buat minta izin. Nggak apa-apa, 'kan?"
Mata
Nadya kontan membeliak. Mulut Nadya menganga.
Ke
rumah Aldo adalah hal yang tidak pernah Nadya pikirkan sama
sekali. Ucapan Aldo barusan sukses membuat jantung Nadya serasa ingin copot. Ia
jadi sangat gugup...
"A—Aldo,
tapi...nanti mama sama papa kamu...mereka...mereka, kan, nggak ta—"
"Mereka
udah tau soal kamu kok, Nadya…" Aldo mengusap pipi Nadya
dengan punggung telunjuknya. Perlakuan kecil dan lembut yang berhasil membuat
hati Nadya berdebar-debar. "tapi kalo masalah kamu datang hari ini, sih…mereka nggak tau.
Yang ada di rumah jam segini itu…Mama sama Naya, adek aku. Kalo Papa biasanya belum
pulang kerja."
"Aldo...itu—aku…"
Nadya menggigit bibirnya. Gadis itu bingung bukan main. Dia juga gugup,
memikirkan bahwa ia akan melihat keluarga Aldo. Dia takut banget, bisa saja dia
punya sikap yang nantinya tidak disukai oleh keluarga Aldo. Bagaimanapun juga, dia
tahu kalau keluarga Aldo dan keluarganya itu berbeda. Kalaupun dia dan Aldo
adalah teman biasa, dia juga pasti akan gugup setengah mati. Soalnya, dia akan berhadapan
dengan keluarga yang derajatnya sangat berbeda dengan keluarganya.
Aldo
tersenyum miring; cowok itu tahu bahwa ia telah mengatakan sesuatu
yang membuat Nadya gugup. Ia tidak mendiskusikan ini terlebih dahulu pada
Nadya. Namun, baginya hal seperti ini bukanlah hal yang harus didiskusikan. Ia
hanya ingin membawa Nadya sebentar. Lagi pula, baginya itu masih wajar.
"Hei."
Aldo mencubit hidung Nadya yang tergolong pesek itu pelan.
"Kamu kenapa, Nad?"
Pipi
Nadya mulai memerah lagi; gadis itu meneguk ludahnya. Sedetik setelah ia tahu
Aldo memperhatikannya dengan saksama, sebisa mungkin ia menghindari tatapan
mata Aldo yang tidak baik untuk jantungnya itu.
Aldo
tertawa kecil.
Ya
ampun, Nad...
Kamu
imut banget, sih.
"Jangan
memalingkan mata," ujar Aldo tatkala Nadya mulai menunduk. Cowok itu
memegang wajah Nadya dengan kedua tangannya dan mengangkat wajah Nadya agar
cewek itu menatapnya lurus-lurus. Mata Nadya membelalak; tubuh cewek itu mematung.
Aldo lalu melanjutkan, "Dasar. Kebiasaan banget."
Warna
merah di pipi Nadya sudah sampai ke telinga.
Aldo
mulai menaiki motornya, lalu membantu Nadya untuk naik ke boncengannya. Begitu
Nadya sudah duduk dengan baik, Aldo pun menoleh kepada Nadya dan berbicara
dengan lirih, "Pegangan, Sayang."
******
Sejak
turun dari motor hingga masuk ke rumah Aldo, Nadya tak berhenti memperhatikan
seluruh bagian rumah Aldo dengan takjub. Mungkin…inilah contoh rumah
konglomerat yang Nadya imajinasikan selama ini. Namun, agaknya…meskipun ia
terkesima, meskipun ia berharap bisa lupa akan rasa gugupnya karena terlalu
takjub melihat rumah Aldo, sayang sekali rasa gugupnya tidak hilang. Tidak bisa
hilang.
Bagaimana
rupa mama dan adiknya Aldo? Bagaimana...
Sejak
pelayan menyapa Aldo…hingga ketika mereka melewati pilar-pilar kokoh berwarna
putih yang ada di sisi-sisi ruang tamu, Nadya terus gugup. Nadya meneguk
ludahnya; mereka berdua mulai menaiki tangga spiral menuju ke lantai dua.
Setelah
sampai di lantai dua, Nadya langsung kagum melihat ruang keluarga yang ada di sana.
Mungkin, yang membuat Nadya benar-benar kagum adalah adanya seorang
wanita yang cantik di ruang keluarga itu dan seorang anak perempuan lucu yang
duduk di dekatnya.
Kali
ini, Nadya benar-benar membulatkan mata saking kagumnya.
Apa
itu...mamanya Aldo?
Cantik...
Cantik
banget...!
"Aldo? You're
home, Hun," ujar wanita paruh baya yang cantik itu saat Aldo baru
sampai di dekatnya dan menyalaminya. Wanita itu sebenarnya sudah mengernyitkan
dahi saat melihat Aldo berjalan mendekatinya sambil membawa Nadya; hal itu
membuat Nadya gugup setengah mati. Nadya kontan menunduk. Setelah Aldo
menyalami mamanya, barulah Nadya ikut melakukan hal yang sama meskipun cewek
itu terlihat gugup bukan main.
Sambil
melebarkan matanya, wanita paruh baya itu pun berkata, "Ini... Lho? Ini..."
"Kak!!" teriak
anak perempuan yang lucu itu. Sepertinya, itu adalah Naya. Tiba-tiba, anak itu
melompat ke arah Aldo dan berakhir di pelukan Aldo. Aldo tersenyum riang seraya
mengusap kepala anak itu.
"Hey,
Beautiful. Have you eaten yet?" tanya Aldo
padanya. Anak kecil itu pun menyahut.
"Yup! Naya
kangen Kakak!!!" jawab Naya dengan ceria. Aldo mencium pipinya.
Nadya
menatap mereka berdua dan tanpa sadar cewek itu tersenyum. Mungkin, bagi
Naya…Aldo adalah pangerannya. Mereka berdua benar-benar terlihat menggemaskan
saat bersama; Aldo juga merupakan seorang kakak yang...sempurna untuk adiknya.
Saat
itulah Aldo tiba-tiba berbicara, "She is Nadya, Mom."
Nadya
spontan menatap mama Aldo, menyalami wanita itu, lalu tersenyum kikuk. "S-Saya…Nadya,
Tante…"
Rachel, mamanya
Aldo, kontan merasa takjub. Wajah dan matanya tampak begitu berbinar;
wanita paruh baya itu sangat gembira saat tahu bahwa yang menyalaminya ini
adalah Nadya.
"Ya
ampun!!! Nadya ke sini?!" teriaknya sembari memeluk
Nadya dengan erat. Senyuman di wajahnya begitu manis, sama seperti senyum Aldo.
Nadya
kaget, cewek itu melebarkan matanya dan kebingungan sendiri. Rachel terlihat menantinya.
Kalau Nadya boleh berpendapat, Rachel benar-benar baik hati, sama seperti Aldo.
Semua cerita dari Aldo itu…benar. Meski Rachel adalah mama tirinya, Rachel
adalah sosok yang menginspirasinya dan mengajarkannya tentang cinta, tentang
kehidupan...
"I—Iya, Tante..."
Bibir
Rachel mengerucut. "Kok Tante, sih... Panggil Mama aja, Nadya. Well,
that's what I'm hoping for!"
Pipi
Nadya merona. Rachel...ternyata adalah seorang ibu yang bersemangat. Ternyata,
inilah sosok yang mampu mendidik dan menyayangi Aldo hingga Aldo tumbuh menjadi
seseorang yang baik, seseorang yang...ramah dan berkharisma. Seseorang yang layak
menjadi pemimpin.
Setelah
puas melihat Nadya dan jadi gembira sendiri, Rachel langsung berencana untuk
menuruni tangga (karena mau pergi ke dapur) sembari berkata pada Aldo, "You
should've told me earlier or sent me a message before you brought her to our
house, Honey. I didn't prepare anything."
"Where's
Dad?" tanya Aldo.
Rachel,
yang sudah dalam perjalanan menuruni tangga itu, menjawab dengan suara yang
sedikit keras, "You ask like you don't know anything. You guys are
so noisy because you're always looking for each other. Wait there, I'll bring
something for Nadya."
Nadya
sebenarnya hanya dengar sedikit-sedikit. Nadya kurang bisa Bahasa Inggris, jadi
ia hanya bisa menangkap beberapa kata yang Rachel ucapkan. Aldo tertawa kecil.
Aldo
menurunkan Naya dari gendongannya setelah mencium kening adiknya itu.
"Nah, Naya kenalan dulu, gih. Ini namanya Kakak Nadya. Namanya hampir
mirip sama Naya." Aldo berjongkok di depan Naya dan menunjuk Nadya dengan
dagunya.
Nadya
tersenyum pada Naya. Sesungguhnya, tatapan Naya membuat Nadya sedikit gugup.
Nadya sebenarnya suka anak-anak, tetapi kalau untuk mendekati anak-anak terlebih
dahulu, Nadya agak gugup.
Mata
bulat Naya terlihat sangat lucu saat dia bertanya pada Aldo, "Kakak Nadya...?"
"Iya,
Naya," jawab Aldo.
"Who
is she?"
Aldo
tersenyum dan mengusap kepala Naya sekali lagi.
"My girl," jawab
Aldo. "Someone I love."
"Do
you love me too?" tanya Naya.
"Of
course. But this is a different kind of love. This is the kind of 'love' I told
you about before, Sweetie," jelas Aldo sembari
tersenyum manis. Senyuman indah yang selalu Aldo berikan kepada siapa pun.
Mata
Naya melebar. Anak kecil itu agaknya mengingat sesuatu dan langsung mengangguk
mengerti. Dia langsung menghampiri Nadya.
Nadya
langsung membungkuk, menyambut Naya yang tiba-tiba langsung memeluknya.
"Hai,
Kak!!! Nama aku Naya!!" kata Naya dengan ceria. Karena Naya adalah anak
yang imut dan cantik, Nadya jadi gemas minta ampun. Rasanya…Nadya pengin memeluk
Naya dengan erat dan menciumnya berkali-kali.
"Halo...Naya,"
sapa Nadya dengan lembut, tetapi cewek itu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Having
fun?" Rachel menginterupsi saat wanita itu
sampai di lantai dua. Dia membawa makanan dan minuman untuk Nadya. Aldo
langsung mengajak Nadya duduk.
"Naya
kayaknya suka banget sama kamu, Sayang," ujar Rachel pada Nadya. Wanita
itu menaruh kue-kue di atas meja serta menuangkan jus jeruk ke dalam gelas
Nadya. "Kamu ternyata imut-imut dan pemalu gini, ya, orangnya. Mama jadi
ngerti kenapa Aldo suka sama kamu."
Nadya
membulatkan matanya. Pipi Nadya langsung memerah; cewek itu tersenyum canggung.
Ia tak tahu harus berkata apa, soalnya ia pun tak menyangka kalau Aldo
menyukainya.
Rachel
tersenyum pada Nadya, kemudian beralih menatap Aldo. Sebelah alis mata Rachel mulai
naik turun; dia sedang menggoda Aldo, "Now tell me. Did you force
her or steal her?"
Mata
Aldo membulat. Namun, beberapa detik kemudian, Aldo menghela napasnya. "No,
Mom, I didn't. I mean...yes, I stole her. But I didn't force her."
Rachel
spontan tertawa lepas. "Sama aja, lho, itu!"
Ujung-ujungnya,
Aldo tersenyum simpul sembari mengambil segelas jus yang tersedia untuknya di
atas meja.
"Nadya
sekelas sama Aldo, ‘kan?" tanya Rachel.
Nadya
mengangguk. "Iya, M—Ma."
Rachel
tersenyum riang.
"I
know everything about you from Aldo. I'm also aware that you already know
everything about him. But..." Rachel mendadak berbicara
dengan ekspresi yang serius; dia seolah-olah akan menceritakan sebuah legenda
turun-temurun. Nadya melebarkan matanya, menunggu dengan jantung yang berdegup
kencang. Entah mengapa, Nadya jadi meneguk ludahnya.
"...since you're
cute, you have to be careful of Aldo!" lanjut Rachel dengan
bersemangat.
"Eh?"
Nadya memiringkan kepala seraya menyatukan alisnya. Ia sama sekali tak
mengerti. Mengapa ia harus berhati-hati...pada Aldo?
Rachel
mengedipkan sebelah matanya pada Nadya, lalu menatap Aldo seraya tersenyum
miring. Aldo—yang melihat senyuman Rachel itu—langsung sadar akan sesuatu. Cowok
itu spontan memijit keningnya dan tersenyum, ia mengerti apa maksud Rachel dan
merasa bahwa mamanya ini benar-benar...
…berbahaya.
Dia adalah pengungkap rahasia yang paling gesit!
"Ya
ampun, Ma..." erang Aldo. "Udah dulu, Ma. Nadya sampe bingung gitu,
lho."
Namun,
Rachel malah menjawab, "Hey, I'm saying this because I care about
you and Nadya. You're my naughty boy. I'm your mother and I know that."
Aldo
terdiam.
Ia
benar-benar tak bisa menang dari ibunya.
Akhirnya,
Aldo pun menjawab, "...Okay, then.”
Rachel
tersenyum penuh kemenangan.
Menghela
napas, Aldo pun mulai menoleh kepada Nadya dan memegang tangan cewek itu.
"Nad, aku ganti baju dulu, ya. Kamu ngobrol sama Mama bentar, oke?"
Begitu
bangkit dari duduknya, Aldo berkata pada Rachel, "Well, maybe
that's true. But I'd rather you didn't warn her, Mom, because she's so cute. I
can't help it."
Rachel
tertawa. "This boy!"
Oke,
Nadya sadar bahwa dia tertinggal jauh. Dia tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
Selain itu, ternyata…Aldo dan Rachel...akrab sekali. Mereka terlihat seperti
teman.
******
Nadya
menghampiri kamar Aldo begitu Rachel menyuruhnya untuk menemui Aldo di kamar
cowok itu. Sebenarnya, Aldo menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam
kamarnya, jadi Rachel menyuruh Nadya untuk mengeceknya.
Nadya
kaget tatkala menerima perintah itu. Bukannya apa, ia sebenarnya...tidak
pernah menghampiri Aldo duluan. Iya juga, ya. Kalau dipikir-pikir,
Aldolah yang selalu menghampirinya!
Maka
dari itu, perintah Rachel tadi sukses membuatnya gugup. Apalagi, ini beda
situasi. Ia harus pergi ke kamar Aldo. Tadi, Rachel hanya memberitahunya
di mana letak kamar Aldo, lalu menyuruhnya pergi sambil mengedipkan sebelah
mata padanya.
Aduh,
gugup sekali rasanya!
Begitu
sampai di depan pintu kamar Aldo, Nadya berhenti sebentar dan menarik napasnya
dalam-dalam. Setelah merasa agak rileks, cewek itu pun mengetuk pintu kamar
Aldo dengan pelan. Jantungnya berdegup kencang.
Dibuka
nggak, ya...? Atau...harus aku tanya dulu?
Di
ketukan kedua, Nadya mulai bersuara, "Aldo..."
Akhirnya,
pintu itu pun terbuka. Nadya langsung menatap Aldo yang lebih tinggi darinya
itu dengan mata melebar. Aldo memakai kaus berwarna putih yang begitu pas di tubuhnya.
Kalung berliontin infinite yang Aldo kenakan itu membuat leher
Aldo terlihat begitu…menggoda. Aldo ganteng banget. Wangi tubuh
cowok itu semakin tercium saat mereka berdekatan.
Pipi
Nadya langsung terasa panas. Pasti pipinya itu merah sekali sekarang! Untungnya,
Aldo mulai membuka suara, "Kamu ke sini, Nad? Mama mana? Sorry, ya…
Tadi Rian nelepon bentar."
Nadya
menunduk. "Iya, Aldo, nggak apa-apa."
Aduh. Seharian
ini, Nadya benar-benar kena bantai. Sebelum ia punya perasaan pada Aldo, ia
selalu biasa-biasa saja saat berinteraksi dengan cowok itu. Akan tetapi, sekarang…semuanya
jadi mendebarkan. Semakin dalam perasaannya, semakin menggila pula degup
jantungnya. Nadya kadang jadi kewalahan sendiri.
Aldo
tersenyum simpul. Namun, tiba-tiba Aldo menarik tangan Nadya agar cewek
itu masuk ke kamarnya. Cowok itu lalu mendorong pintu kamarnya agar tertutup.
H—Hah?
Sebentar,
sebentar. Apa yang terjadi?!
Nadya
kaget bukan main. Ternyata, kini dia sudah berdiri bersandar pada dinding kamar
Aldo. Sementara itu, Aldo…
…berdiri
tepat di depannya. Mengambil posisi yang sangat dekat dengannya.
Kemudian,
cowok itu memiringkan kepalanya. Dia menatap Nadya dengan lekat seraya
memberikan senyuman yang sulit diartikan.
"Tapi...kamu
bener-bener nggak mikir apa-apa, ya, masuk ke kamar cowok...yang jatuh
cinta sama kamu? Mama udah peringatin kamu, lho." []





No comments:
Post a Comment