Tuesday, June 24, 2025

Because of Ticket! (Bab 13: Dia dan Kesehariannya)

 


******

Bab 13 :

Dia dan Kesehariannya

 

******

 

"NAD! Sebelah sini!" teriak Savanna, salah satu siswi Kelas XI IPS 5, saat melihat Nadya yang malah melamun ketika mereka sedang latihan menari. Mereka menari di spot kosong yang memisahkan kantor guru dengan barisan kelas sepuluh di lantai satu. Entah apa alasan Bu Essy mengajak mereka—murid-murid yang terpilih dalam seleksi peserta lomba tari tradisional—latihan di sana; guru itu hanya berkata bahwa tempat itu cukup luas dan terbuka untuk latihan. Setidaknya mereka akan dilihat oleh guru yang lewat atau murid yang sedang istirahat saat itu.

Benar. Nadya terpilih di seleksi yang diselenggarakan oleh OSIS. Latihan menari mereka sudah mulai efektif sejak seminggu yang lalu. Savanna, teman sekelas Nadya saat kelas sepuluh, juga terpilih. Namun, sekarang Savanna tidak sekelas lagi dengan Nadya karena Savanna memilih kelas IPS.

Mereka berdua otomatis akan ikut di pertandingan persahabatan yang dilaksanakan di SMANSA Jakarta; mereka mengikuti lomba tari tradisional bersama kelima orang lainnya (ada tujuh peserta lomba tari tradisional).

Nadya tersentak; ia langsung menatap Savanna yang sudah pindah ke ujung sana. Savanna meneriakinya lagi, "Sini, kita pindah posisi, Nad!!"

"Eh, iya, Van!" teriak Nadya. Cewek itu lalu berlari ke ujung sana, stand by berdiri di depan Savanna seraya menyiapkan gaya tubuh sebelum musik dimulai. Begitu lagu tradisional Betawi itu diputar, Nadya langsung bergerak bersama ketujuh temannya yang lain; Nadya mengambil posisi di depan, bagian kiri.

Tiga menit sudah berlalu. Lagunya diputar ulang untuk memperbaiki gerakan yang belum kompak. Mereka belum terlalu kompak karena baru latihan selama seminggu.

Beberapa menit kemudian, mulai banyak murid-murid yang menonton. Soalnya, banyak orang yang sudah selesai makan di kantin; murid-murid yang tidak pergi ke kantin pun malah memilih untuk menonton. Dalam seminggu belakangan, semua murid-murid perwakilan lomba mulai latihan. Sebenarnya, Nadya agak malu jika dilihat banyak orang, apalagi saat tariannya belum lancar. Ah, Nadya mah apa saja pasti malu.

Ketika masih bergerak, tiba-tiba Nadya mendengar ada sorakan dari ujung kanan. Semua penari juga langsung menoleh meskipun masih bergerak. Awalnya, Nadya lebih memilih untuk fokus. Akan tetapi, karena penasaran, Nadya sedikit melihat ke asal suara.

Alhasil, mata Nadya membelalak.

Di sana ada Aldo.

Pipi Nadya langsung merona; gadis itu spontan membuang muka. Dia berusaha untuk terus bergerak karena fokusnya mendadak buyar.

 

Aduh...gimana ini... Gimana...?!

Aldo…ngeliat...

 

Nadya tahu, sih, kalau OSIS pasti bakal mengecek latihan-latihan para peserta lomba setiap harinya. Namun…kok rasanya malu, ya, kalau yang mengecek itu Aldo?

Di sisi lain, Savanna (yang bergerak di belakang Nadya) mulai senyum-senyum karena melihat Nadya yang tiba-tiba jadi malu. Gilanya, Savanna malah mulai meneriaki Nadya, "Acieee, Nadyaaa!"

Jelas saja Savanna tahu tentang hubungan Nadya dan sang Ketua OSIS. Waktu itu, beritanya menyebar secepat embusan angin. Nadya kontan menunduk dan meneguk ludahnya sendiri. Pipinya semakin memerah. "Apaan, sih, Van..."

 

Duuh…jangan sampe Aldo denger...

Mudah-mudahan yang nonton banyak ngeluarin suara juga…

 

"Padahal, kalo bagian kita, yang sering ngecek itu dia, lho. Masa lo saltingnya baru sekarang?" bisik Savanna sembari tertawa kecil. Perkataannya itu berhasil membuat mata Nadya membulat. Nadya kehilangan fokusnya dan langsung melihat ke depan lagi untuk melihat gerakan Bu Essy. Jantungnya berdegup kencang.

"Ma—masa iya, Van?" tanya Nadya gugup. Savanna menahan tawanya.

"Lah…iya, lho, Nad. Yang sering ngecek kita itu dia," jawab Savanna. "Lo aja yang nggak merhatiin sekitar. Lo udah tau kalo OSIS ngecek kita tiap hari, tapi pasti lo jarang liat pas kita dicek. Jadi, ya...lo nggak sadar. Haha."

Ya ampun, benar juga. Kalau seandainya hari ini mereka tidak latihan di jam istirahat, pasti kedatangan Aldo tidak disambut oleh sorakan cewek-cewek. Nadya juga tidak akan sadar kalau Aldolah yang mengecek latihan mereka.

Begitu mereka bertukar posisi—tepatnya saat berpapasan—Savanna berbisik pada Nadya sambil menari, "Kayaknya, dia nggak bisa banget ketinggalan ngeliat penampilan pacarnya."

Wajah Nadya merah padam. Bahkan, Nadya tidak berani melihat Aldo yang berdiri di sebelah sana. Beneran, deh, nggak berani! Malu banget! Bisa-bisa Nadya jadi mengacaukan tariannya hanya karena salah tingkah.

Ampun, deh. Mengapa suka sama Aldo itu...bikin Nadya jadi deg-degan setiap saat, ya…?

 

******

 

"Mau pulang atau mau makan dulu?" tanya Aldo saat ia dan Nadya sampai di tempat parkir motor, tepatnya di samping motor Aldo. Aldo memakai scarf bandana hitamnya yang sebenarnya sudah ada di lehernya sejak berjalan di koridor tadi. Dia biasa menjadikan scarf itu sebagai masker saat ia berkendara. Aldo mulai memasang sarung tangan hitamnya, lalu mengambilkan helm untuk Nadya.

Nadya langsung menunduk saat tatapan matanya dan tatapan mata Aldo bertemu; Aldo menatapnya dengan lembut. Sinar matahari siang ini membuat mata Aldo jadi semakin terang dan indah.

Oh, his eyes.

"Nggak tau..." jawab Nadya. Mendadak pipi Nadya merona lagi karena teringat ucapan Savanna sebelumnya.

Usai memasangkan helm di kepala Nadya dengan benar, Aldo pun mengusap pipi Nadya dan tersenyum lembut meskipun senyumannya itu tak terlihat karena dia sudah memakai scarf bandana-nya. "Kamu pilih yang mana pun, tujuannya tetap sama. Khusus untuk hari ini."

Nadya kontan mengangkat wajahnya dan dahinya sedikit berkerut. Dia tak paham dengan apa yang barusan Aldo katakan. Maksudnya...apa? Makan sama pulang...satu tujuan?

Saat Aldo tengah memasang helm, cowok itu menatap Nadya dan berkata, "Kita ke rumahku ya, Nad. Aku pengin bawa kamu," ujar Aldo. "Ntar kita ke rumah kamu dulu buat minta izin. Nggak apa-apa, 'kan?"

Mata Nadya kontan membeliak. Mulut Nadya menganga.

Ke rumah Aldo adalah hal yang tidak pernah Nadya pikirkan sama sekali. Ucapan Aldo barusan sukses membuat jantung Nadya serasa ingin copot. Ia jadi sangat gugup...

"A—Aldo, tapi...nanti mama sama papa kamu...mereka...mereka, kan, nggak ta—"

"Mereka udah tau soal kamu kok, Nadya…" Aldo mengusap pipi Nadya dengan punggung telunjuknya. Perlakuan kecil dan lembut yang berhasil membuat hati Nadya berdebar-debar. "tapi kalo masalah kamu datang hari ini, sih…mereka nggak tau. Yang ada di rumah jam segini itu…Mama sama Naya, adek aku. Kalo Papa biasanya belum pulang kerja."

"Aldo...itu—aku…" Nadya menggigit bibirnya. Gadis itu bingung bukan main. Dia juga gugup, memikirkan bahwa ia akan melihat keluarga Aldo. Dia takut banget, bisa saja dia punya sikap yang nantinya tidak disukai oleh keluarga Aldo. Bagaimanapun juga, dia tahu kalau keluarga Aldo dan keluarganya itu berbeda. Kalaupun dia dan Aldo adalah teman biasa, dia juga pasti akan gugup setengah mati. Soalnya, dia akan berhadapan dengan keluarga yang derajatnya sangat berbeda dengan keluarganya.

Aldo tersenyum miring; cowok itu tahu bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang membuat Nadya gugup. Ia tidak mendiskusikan ini terlebih dahulu pada Nadya. Namun, baginya hal seperti ini bukanlah hal yang harus didiskusikan. Ia hanya ingin membawa Nadya sebentar. Lagi pula, baginya itu masih wajar.

"Hei." Aldo mencubit hidung Nadya yang tergolong pesek itu pelan. "Kamu kenapa, Nad?"

Pipi Nadya mulai memerah lagi; gadis itu meneguk ludahnya. Sedetik setelah ia tahu Aldo memperhatikannya dengan saksama, sebisa mungkin ia menghindari tatapan mata Aldo yang tidak baik untuk jantungnya itu.

Aldo tertawa kecil.

 

Ya ampun, Nad...

Kamu imut banget, sih.

 

"Jangan memalingkan mata," ujar Aldo tatkala Nadya mulai menunduk. Cowok itu memegang wajah Nadya dengan kedua tangannya dan mengangkat wajah Nadya agar cewek itu menatapnya lurus-lurus. Mata Nadya membelalak; tubuh cewek itu mematung. Aldo lalu melanjutkan, "Dasar. Kebiasaan banget."

Warna merah di pipi Nadya sudah sampai ke telinga.

Aldo mulai menaiki motornya, lalu membantu Nadya untuk naik ke boncengannya. Begitu Nadya sudah duduk dengan baik, Aldo pun menoleh kepada Nadya dan berbicara dengan lirih, "Pegangan, Sayang."

 

******

 

Sejak turun dari motor hingga masuk ke rumah Aldo, Nadya tak berhenti memperhatikan seluruh bagian rumah Aldo dengan takjub. Mungkin…inilah contoh rumah konglomerat yang Nadya imajinasikan selama ini. Namun, agaknya…meskipun ia terkesima, meskipun ia berharap bisa lupa akan rasa gugupnya karena terlalu takjub melihat rumah Aldo, sayang sekali rasa gugupnya tidak hilang. Tidak bisa hilang.

 

Bagaimana rupa mama dan adiknya Aldo? Bagaimana...

 

Sejak pelayan menyapa Aldo…hingga ketika mereka melewati pilar-pilar kokoh berwarna putih yang ada di sisi-sisi ruang tamu, Nadya terus gugup. Nadya meneguk ludahnya; mereka berdua mulai menaiki tangga spiral menuju ke lantai dua.

Setelah sampai di lantai dua, Nadya langsung kagum melihat ruang keluarga yang ada di sana. Mungkin, yang membuat Nadya benar-benar kagum adalah adanya seorang wanita yang cantik di ruang keluarga itu dan seorang anak perempuan lucu yang duduk di dekatnya.

Kali ini, Nadya benar-benar membulatkan mata saking kagumnya.

 

Apa itu...mamanya Aldo?

Cantik...

Cantik banget...!

 

"Aldo? You're home, Hun," ujar wanita paruh baya yang cantik itu saat Aldo baru sampai di dekatnya dan menyalaminya. Wanita itu sebenarnya sudah mengernyitkan dahi saat melihat Aldo berjalan mendekatinya sambil membawa Nadya; hal itu membuat Nadya gugup setengah mati. Nadya kontan menunduk. Setelah Aldo menyalami mamanya, barulah Nadya ikut melakukan hal yang sama meskipun cewek itu terlihat gugup bukan main.

Sambil melebarkan matanya, wanita paruh baya itu pun berkata, "Ini... Lho? Ini..."

"Kak!!" teriak anak perempuan yang lucu itu. Sepertinya, itu adalah Naya. Tiba-tiba, anak itu melompat ke arah Aldo dan berakhir di pelukan Aldo. Aldo tersenyum riang seraya mengusap kepala anak itu.

"Hey, Beautiful. Have you eaten yet?" tanya Aldo padanya. Anak kecil itu pun menyahut.

"Yup! Naya kangen Kakak!!!" jawab Naya dengan ceria. Aldo mencium pipinya.

Nadya menatap mereka berdua dan tanpa sadar cewek itu tersenyum. Mungkin, bagi Naya…Aldo adalah pangerannya. Mereka berdua benar-benar terlihat menggemaskan saat bersama; Aldo juga merupakan seorang kakak yang...sempurna untuk adiknya.

Saat itulah Aldo tiba-tiba berbicara, "She is Nadya, Mom."

Nadya spontan menatap mama Aldo, menyalami wanita itu, lalu tersenyum kikuk. "S-Saya…Nadya, Tante…"

Rachel, mamanya Aldo, kontan merasa takjub. Wajah dan matanya tampak begitu berbinar; wanita paruh baya itu sangat gembira saat tahu bahwa yang menyalaminya ini adalah Nadya.

"Ya ampun!!! Nadya ke sini?!" teriaknya sembari memeluk Nadya dengan erat. Senyuman di wajahnya begitu manis, sama seperti senyum Aldo.

Nadya kaget, cewek itu melebarkan matanya dan kebingungan sendiri. Rachel terlihat menantinya. Kalau Nadya boleh berpendapat, Rachel benar-benar baik hati, sama seperti Aldo. Semua cerita dari Aldo itu…benar. Meski Rachel adalah mama tirinya, Rachel adalah sosok yang menginspirasinya dan mengajarkannya tentang cinta, tentang kehidupan...

"I—Iya, Tante..."

Bibir Rachel mengerucut. "Kok Tante, sih... Panggil Mama aja, Nadya. Well, that's what I'm hoping for!"

Pipi Nadya merona. Rachel...ternyata adalah seorang ibu yang bersemangat. Ternyata, inilah sosok yang mampu mendidik dan menyayangi Aldo hingga Aldo tumbuh menjadi seseorang yang baik, seseorang yang...ramah dan berkharisma. Seseorang yang layak menjadi pemimpin.

Setelah puas melihat Nadya dan jadi gembira sendiri, Rachel langsung berencana untuk menuruni tangga (karena mau pergi ke dapur) sembari berkata pada Aldo, "You should've told me earlier or sent me a message before you brought her to our house, Honey. I didn't prepare anything."

"Where's Dad?" tanya Aldo.

Rachel, yang sudah dalam perjalanan menuruni tangga itu, menjawab dengan suara yang sedikit keras, "You ask like you don't know anything. You guys are so noisy because you're always looking for each other. Wait there, I'll bring something for Nadya."

Nadya sebenarnya hanya dengar sedikit-sedikit. Nadya kurang bisa Bahasa Inggris, jadi ia hanya bisa menangkap beberapa kata yang Rachel ucapkan. Aldo tertawa kecil.

Aldo menurunkan Naya dari gendongannya setelah mencium kening adiknya itu. "Nah, Naya kenalan dulu, gih. Ini namanya Kakak Nadya. Namanya hampir mirip sama Naya." Aldo berjongkok di depan Naya dan menunjuk Nadya dengan dagunya.

Nadya tersenyum pada Naya. Sesungguhnya, tatapan Naya membuat Nadya sedikit gugup. Nadya sebenarnya suka anak-anak, tetapi kalau untuk mendekati anak-anak terlebih dahulu, Nadya agak gugup.

Mata bulat Naya terlihat sangat lucu saat dia bertanya pada Aldo, "Kakak Nadya...?"

"Iya, Naya," jawab Aldo.

"Who is she?"

Aldo tersenyum dan mengusap kepala Naya sekali lagi.

"My girl," jawab Aldo. "Someone I love."

"Do you love me too?" tanya Naya.

"Of course. But this is a different kind of love. This is the kind of 'love' I told you about before, Sweetie," jelas Aldo sembari tersenyum manis. Senyuman indah yang selalu Aldo berikan kepada siapa pun.

Mata Naya melebar. Anak kecil itu agaknya mengingat sesuatu dan langsung mengangguk mengerti. Dia langsung menghampiri Nadya.

Nadya langsung membungkuk, menyambut Naya yang tiba-tiba langsung memeluknya.

"Hai, Kak!!! Nama aku Naya!!" kata Naya dengan ceria. Karena Naya adalah anak yang imut dan cantik, Nadya jadi gemas minta ampun. Rasanya…Nadya pengin memeluk Naya dengan erat dan menciumnya berkali-kali.

"Halo...Naya," sapa Nadya dengan lembut, tetapi cewek itu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

"Having fun?" Rachel menginterupsi saat wanita itu sampai di lantai dua. Dia membawa makanan dan minuman untuk Nadya. Aldo langsung mengajak Nadya duduk.

"Naya kayaknya suka banget sama kamu, Sayang," ujar Rachel pada Nadya. Wanita itu menaruh kue-kue di atas meja serta menuangkan jus jeruk ke dalam gelas Nadya. "Kamu ternyata imut-imut dan pemalu gini, ya, orangnya. Mama jadi ngerti kenapa Aldo suka sama kamu."

Nadya membulatkan matanya. Pipi Nadya langsung memerah; cewek itu tersenyum canggung. Ia tak tahu harus berkata apa, soalnya ia pun tak menyangka kalau Aldo menyukainya.

Rachel tersenyum pada Nadya, kemudian beralih menatap Aldo. Sebelah alis mata Rachel mulai naik turun; dia sedang menggoda Aldo, "Now tell me. Did you force her or steal her?"

Mata Aldo membulat. Namun, beberapa detik kemudian, Aldo menghela napasnya. "No, Mom, I didn't. I mean...yes, I stole her. But I didn't force her."

Rachel spontan tertawa lepas. "Sama aja, lho, itu!"

Ujung-ujungnya, Aldo tersenyum simpul sembari mengambil segelas jus yang tersedia untuknya di atas meja.

"Nadya sekelas sama Aldo, ‘kan?" tanya Rachel.

Nadya mengangguk. "Iya, M—Ma."

Rachel tersenyum riang.

"I know everything about you from Aldo. I'm also aware that you already know everything about him. But..." Rachel mendadak berbicara dengan ekspresi yang serius; dia seolah-olah akan menceritakan sebuah legenda turun-temurun. Nadya melebarkan matanya, menunggu dengan jantung yang berdegup kencang. Entah mengapa, Nadya jadi meneguk ludahnya.

"...since you're cute, you have to be careful of Aldo!" lanjut Rachel dengan bersemangat.

"Eh?" Nadya memiringkan kepala seraya menyatukan alisnya. Ia sama sekali tak mengerti. Mengapa ia harus berhati-hati...pada Aldo?

Rachel mengedipkan sebelah matanya pada Nadya, lalu menatap Aldo seraya tersenyum miring. Aldo—yang melihat senyuman Rachel itu—langsung sadar akan sesuatu. Cowok itu spontan memijit keningnya dan tersenyum, ia mengerti apa maksud Rachel dan merasa bahwa mamanya ini benar-benar...

 

…berbahaya. Dia adalah pengungkap rahasia yang paling gesit!

 

"Ya ampun, Ma..." erang Aldo. "Udah dulu, Ma. Nadya sampe bingung gitu, lho."

Namun, Rachel malah menjawab, "Hey, I'm saying this because I care about you and Nadya. You're my naughty boy. I'm your mother and I know that."

Aldo terdiam.

Ia benar-benar tak bisa menang dari ibunya.

Akhirnya, Aldo pun menjawab, "...Okay, then.”

Rachel tersenyum penuh kemenangan.

Menghela napas, Aldo pun mulai menoleh kepada Nadya dan memegang tangan cewek itu. "Nad, aku ganti baju dulu, ya. Kamu ngobrol sama Mama bentar, oke?"

Begitu bangkit dari duduknya, Aldo berkata pada Rachel, "Well, maybe that's true. But I'd rather you didn't warn her, Mom, because she's so cute. I can't help it."

Rachel tertawa. "This boy!"

Oke, Nadya sadar bahwa dia tertinggal jauh. Dia tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Selain itu, ternyata…Aldo dan Rachel...akrab sekali. Mereka terlihat seperti teman.

 

******

 

Nadya menghampiri kamar Aldo begitu Rachel menyuruhnya untuk menemui Aldo di kamar cowok itu. Sebenarnya, Aldo menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam kamarnya, jadi Rachel menyuruh Nadya untuk mengeceknya.

Nadya kaget tatkala menerima perintah itu. Bukannya apa, ia sebenarnya...tidak pernah menghampiri Aldo duluan. Iya juga, ya. Kalau dipikir-pikir, Aldolah yang selalu menghampirinya!

Maka dari itu, perintah Rachel tadi sukses membuatnya gugup. Apalagi, ini beda situasi. Ia harus pergi ke kamar Aldo. Tadi, Rachel hanya memberitahunya di mana letak kamar Aldo, lalu menyuruhnya pergi sambil mengedipkan sebelah mata padanya.

Aduh, gugup sekali rasanya!

Begitu sampai di depan pintu kamar Aldo, Nadya berhenti sebentar dan menarik napasnya dalam-dalam. Setelah merasa agak rileks, cewek itu pun mengetuk pintu kamar Aldo dengan pelan. Jantungnya berdegup kencang.

 

Dibuka nggak, ya...? Atau...harus aku tanya dulu?

 

Di ketukan kedua, Nadya mulai bersuara, "Aldo..."

Akhirnya, pintu itu pun terbuka. Nadya langsung menatap Aldo yang lebih tinggi darinya itu dengan mata melebar. Aldo memakai kaus berwarna putih yang begitu pas di tubuhnya. Kalung berliontin infinite yang Aldo kenakan itu membuat leher Aldo terlihat begitu…menggoda. Aldo ganteng banget. Wangi tubuh cowok itu semakin tercium saat mereka berdekatan.

Pipi Nadya langsung terasa panas. Pasti pipinya itu merah sekali sekarang! Untungnya, Aldo mulai membuka suara, "Kamu ke sini, Nad? Mama mana? Sorry, ya… Tadi Rian nelepon bentar."

Nadya menunduk. "Iya, Aldo, nggak apa-apa."

Aduh. Seharian ini, Nadya benar-benar kena bantai. Sebelum ia punya perasaan pada Aldo, ia selalu biasa-biasa saja saat berinteraksi dengan cowok itu. Akan tetapi, sekarang…semuanya jadi mendebarkan. Semakin dalam perasaannya, semakin menggila pula degup jantungnya. Nadya kadang jadi kewalahan sendiri.

Aldo tersenyum simpul. Namun, tiba-tiba Aldo menarik tangan Nadya agar cewek itu masuk ke kamarnya. Cowok itu lalu mendorong pintu kamarnya agar tertutup.

 

H—Hah?

Sebentar, sebentar. Apa yang terjadi?!

 

Nadya kaget bukan main. Ternyata, kini dia sudah berdiri bersandar pada dinding kamar Aldo. Sementara itu, Aldo…

…berdiri tepat di depannya. Mengambil posisi yang sangat dekat dengannya.

Kemudian, cowok itu memiringkan kepalanya. Dia menatap Nadya dengan lekat seraya memberikan senyuman yang sulit diartikan.

"Tapi...kamu bener-bener nggak mikir apa-apa, ya, masuk ke kamar cowok...yang jatuh cinta sama kamu? Mama udah peringatin kamu, lho." []

 












******









No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...