Bab
16 :
Hujan
di Hari Itu
******
2
TAHUN YANG LALU
LAMPU lalu
lintas di zebra cross akhirnya menyalakan warna merahnya
setelah beberapa saat Nadya menunggu di pinggir jalan. Hujan mulai deras dan
Nadya cepat-cepat menyeberang sembari menutupi kepalanya dengan jaket hitam
yang untung saja ia bawa hari ini.
Meski
Nadya memutuskan untuk cepat-cepat, cewek itu tetap saja harus berhati-hati.
Jalanan licin, sementara orang berbondong-bondong untuk menyeberang. Kemacetan
jalan, suara klakson, dan orang-orang yang ada di sekitar jalan…semua itu
terlihat hectic. Mungkin, jalanan juga akan sangat macet saat hujan
berhenti nanti.
Nadya
menghela napasnya lega begitu sampai di halte yang ada di seberang jalan. Jika
saja tadi ia menyetujui saran Gita untuk menunda pergi ke perpustakaan dan pulang
bersama-sama, mungkin Nadya sudah ada di rumah. Tak perlu hujan-hujanan begini.
Sayangnya,
tadi pagi mamanya menyuruhnya untuk melihat-lihat buku panduan UN—serta buku
pintar lainnya di perpustakaan—agar ia tahu buku apa saja yang nanti bisa ia
beli di toko buku tanpa harus melihat-lihat isinya lagi. Ia tak tahu bahwa
ternyata cuaca secerah tadi pagi bisa berubah jadi mendung saat siang. Namun,
Nadya pikir, ia masih bisa pergi ke perpustakaan. Masuk sebentar aja,
biar bisa pulang sebelum hujan turun, begitu pikirnya.
Sayangnya,
hari itu Gita disuruh cepat pulang, jadi dia tak bisa menemani Nadya. Makanya,
di sinilah Nadya; dia baru saja keluar dari perpustakaan dan ternyata hujan turun
dengan deras.
Nadya
berdiri di dekat tiang halte, lalu mengusap tetesan air hujan yang jatuh di
wajah dan baju seragamnya. Sedikit lebih lama lagi di bawah hujan dan dia akan
basah kuyup.
Sembari
menunggu angkutan kota tiba, Nadya hanya berdiri diam. Halte itu begitu ramai; ada
orang yang memakai baju PNS, ada siswa, dan pegawai kantoran biasa. Meski halte
itu tak begitu luas, semuanya tetap berdiri di sana demi menunggu transportasi
atau mungkin hanya menunggu hujan berhenti.
Nadya
melihat ke depan. Memandangi hujan adalah hal yang menenangkan hati. Suara
hujan, aromanya (meskipun saat itu bercampur dengan polusi
udara yang tersisa di jalan) mampu membuat Nadya tenang. Nadya menikmati aroma
dan suasana hujan. Rasanya nyaman sekali. Saking nyamannya,
Nadya sempat tersenyum sembari menutup matanya sejenak— mengabaikan suara-suara
di jalan—dan tenggelam dalam suasana itu. Penyuka hujan akan selalu
menikmati hujan di mana pun mereka berada.
"Kamu suka
hujan, ya?"
Suara
itu membuat Nadya membuka mata. Suara itu terdengar lembut dan ramah; suara itu
berasal dari samping kiri...atau tepat di samping Nadya. Demi memastikan orang
itu benar-benar berbicara dengannya atau bukan, Nadya pun menoleh…
…dan
mendapati seorang cowok yang tengah menatapnya seraya tersenyum manis.
Ah,
senyumnya…
…sangat
menawan...
Cowok
itu berseragam SMA. Wajahnya begitu manis. Tinggi Nadya rupanya hanya sebatas
dada cowok itu. Air muka cowok itu terlihat sangat ramah. Memandangi cowok itu
sama rasanya seperti memandangi hujan.
Bisa
menenangkan hati dan pikiran.
Ada
sesuatu di ekspresi wajah serta cara bicara cowok itu yang membuat
orang lain merasa nyaman. Ekspresinya santai, penuh perhatian; tatapannya pun teduh
dan memberikan kedamaian.
Tanpa
sadar, Nadya hanya mematung. Mata Nadya melebar dan mulut Nadya sedikit terbuka.
Entah mengapa, Nadya tak mau mengalihkan pandangannya.
"...ei."
"Hei."
Ketika
cowok itu mengibaskan tangannya di depan wajah Nadya, barulah Nadya tersentak.
"Ah—itu—"
ujar Nadya kikuk. Jantung Nadya jadi berdegup kencang karena malu.
Nadya
langsung menunduk meminta maaf. Cowok itu mengangkat tangannya untuk berkata
tidak apa-apa sembari tertawa renyah. Mereka berdua pun kembali berdiri berdampingan.
Saat
Nadya masih merasa malu, cowok itu tiba-tiba kembali bertanya.
"Kamu
suka hujan, ya?"
Nadya
menoleh. "Eh? Oh, iya, Kak."
Nadya
masih SMP, jadi wajar saja memanggil orang yang berseragam SMA dengan 'Kakak'.
Lagi pula, orang itu pasti mengerti saat melihat seragam yang Nadya kenakan.
Cowok
itu tersenyum. "Sama. Aku juga suka hujan."
Nadya
mengangguk pelan. Ia mulai kikuk. "Oo... Hehe…"
Nggak
biasa ngobrol sama orang yang nggak dikenal...
"Kamu
SMP di mana?"
"Deket
sini, Kak," ujar Nadya. Sebenarnya, obrolannya jadi begitu kaku karena
Nadya tidak pandai mencairkan suasana. Cowok itu juga berbicara sambil
menikmati hujan.
"Kenapa
kamu suka hujan?" tanya cowok itu.
Nadya
menoleh, lalu menggaruk pipinya pelan karena merasa canggung. "Hm... Cuma…seneng
aja, Kak. Nyaman. Kalo…Kakak?"
Cowok
itu memandangi langit mendung yang sedang menurunkan hujan saat itu. Nadya
melihat cowok itu tersenyum. Namun, kali ini, entah mengapa…
…senyuman
itu agak berbeda.
Terlihat
pilu...
"Aku
suka hujan karena..." Cowok itu bernapas sejenak. "...pas
hujan, biasanya aku bisa renungin kesalahan yang dulu pernah kubuat
pada seseorang."
Nadya
melebarkan mata. Cewek itu mendadak ikut sedih ketika mendengar respons cowok
itu…serta melihat senyuman pilunya.
Tiba-tiba,
cowok itu menurunkan pandangannya dari langit dan menatap Nadya. Anehnya,
seiring dengan tatapannya yang beralih dari langit, senyumannya pun ikut
beralih menjadi senyuman manis yang tadi Nadya lihat saat pertama kali cowok
itu menyapa. Ekspresi wajahnya kembali ramah dan damai.
Cowok
itu pun berkata, "Nama kamu siapa?"
Nadya,
yang masih belum bisa beralih dari peristiwa tadi, jadi terkejut. Namun, dia
masih mencoba untuk menjawab cowok itu dengan baik.
"Aku... Namaku...Nadya,
Kak."
Cowok
itu tersenyum. Sembari mengangkat tangan Nadya untuk bersalaman dengannya, ia
berkata, "Namaku..."
******
Aldo
mengusap pipi Nadya yang tertidur pulas di jok penumpang depan. Hari ini, Aldo
membawa mobilnya ke sekolah, tetapi cowok itu tak tahu mengapa Nadya selalu
tertidur di mobil setiap kali ia membawa Nadya. Tadi pagi—sebelum sampai di
sekolah—juga begitu.
"Sayang,"
bisik Aldo pelan di telinga Nadya.
Aldo
menekan-nekan pelan pipi Nadya dengan telunjuknya. "Sayang, bangun... Udah
sampe di rumah kamu…"
Nadya
membuka matanya. Perlahan-lahan, terlihatlah wajah Aldo yang ada tepat di depan
wajahnya. Aldo tersenyum padanya; wajah Aldo terlihat sangat
tampan.
Kesadaran
Nadya belum sepenuhnya kembali. Ia masih mengumpulkan kesadaran—agar
benar-benar bangun—untuk setidaknya mengetahui bahwa sekarang
wajah Aldo benar-benar dekat dengan wajahnya.
Nadya
benar-benar masih mengantuk. Matanya mengerjap pelan; tatapannya sangat polos
ketika menatap Aldo.
"Untung
kamu bangun..." bisik Aldo. Cowok itu menggesekkan hidungnya
dengan hidung Nadya dengan lembut. Setelah itu, sebuah kecupan mendarat di
kening Nadya.
"Kalo nggak
bangun tadi..." Aldo membawa bibirnya ke sekeliling wajah Nadya;
dia ingin mencium setiap bagian wajah Nadya.
"…mungkin kuculik,
kubawa ke rumahku," sambungnya.
Saat
itulah, semua kesadaran Nadya terkumpul. Pipi cewek itu langsung merona bukan
main. Tubuhnya mematung. Wajahnya memanas, rasa panasnya mencapai telinga.
Jantungnya berdegup kencang. Nadya tahu bahwa Aldo pasti bisa mendengar detak
jantungnya itu. Soalnya, Nadya merasa Aldo mulai tersenyum tatkala menciumi
wajahnya.
Wajah
Nadya semakin merona—bahkan berada di dalam mobil ber-AC pun jadi terasa sangat
panas.
Begitu
Aldo selesai, Nadya langsung menutup wajahnya yang memerah itu dengan kedua
tangannya. Aldo tertawa kecil.
Padahal…aku
udah sering liat pipi merah kamu, Nad... Kok masih malu?
Aldo
memegang tangan Nadya—yang masih menutupi wajahnya sendiri—dan tertawa
pelan. "Kenapa ditutup? Aku pengin liat."
"Hei," panggil
Aldo pelan. Cowok itu tersenyum penuh arti. Dia merasa bahwa kini, membuat
Nadya salah tingkah adalah hobinya yang nomor satu.
Nadya
mengeraskan tangannya dan menoleh ke samping supaya Aldo tak bisa menarik tangannya.
Aldo meraih kepala Nadya agar menghadap padanya lagi dan berusaha membuka
tangan Nadya. Sembari tersenyum, Aldo mengusap-usap telinga Nadya.
Nadya
kontan merinding. Itu bagian sensitif! Sentuhan Aldo itu selembut dan seringan
kapas, tetapi justru hal itulah yang membuat Nadya merinding. Rasanya geli
sekali!
Perlahan-lahan,
Nadya membuka tangannya. Saat wajahnya benar-benar terlihat di mata Aldo,
Aldo melebarkan mata.
Rona
merah di pipi Nadya...benar-benar terang.
Dari
pipi…hingga ke telinganya...
Karena
Aldo menatapnya tanpa berkedip, Nadya jadi menunduk malu.
Tiba-tiba,
Aldo mencium pipi Nadya lagi. Mencium seluruh bagian pipi yang begitu merona itu.
Mata Nadya membelalak—dia menganga—karena Aldo malah melakukan sesuatu yang
diluar dugaan.
"Jangan tunjukin
ekspresi lucu kamu ini ke orang lain," ujar Aldo. "Aku pengin
jadi satu-satunya orang yang tau dan ngeliat semua ini."
Nadya
terdiam. Cewek itu tak berkata apa-apa; ia hanya diam karena malu bukan main.
Dua
detik kemudian, Aldo tersenyum dan menjauhkan dirinya. Cowok itu mulai
mengambil sesuatu dari jok penumpang belakang. Nadya hanya melihatnya.
Ternyata,
itu adalah sebuah kado serta sebuah kotak cantik yang berisi cake dan
berbagai dessert.
Aldo
tersenyum, lalu memberikan kado yang terbungkus cantik itu kepada Nadya. Nadya terlihat
bingung ketika menerima kado itu (karena ternyata, kado itu besar, sampai hampir
tak bisa Nadya peluk). Nadya pun menoleh pada Aldo.
"Aldo,
ini..."
"Kado
buat kamu," ujar Aldo. "Kalo yang kue ini…bawa ke rumah, ya, Nad,
buat mama sama papa kamu. Aku sempetin mampir ke toko kue bentar
tadi waktu di jalan. Kamu tidur nyenyak banget tadi, Sayang, jadi mungkin kamu
nggak denger."
Mata
Nadya membeliak.
"Tapi
Aldo… Kado ini.." Nadya masih bingung. "Aku, kan... nggak lagi ulang
tahun..."
Aldo
tertawa kecil.
Kalo
harus nunggu ulang tahun dulu baru ngasih kado…nggak enak banget, Nad.
Aldo
mendekati Nadya dan menatap Nadya lekat-lekat. Kotak kue itu Aldo
singkirkan sebentar, lalu dia mengusap pipi Nadya dengan
lembut.
Dia
pun berbisik, "Happy three months, Sayang."
Nadya
terperangah.
Tiga…bulan?
Oh...iya.
Ya
ampun, Nad... Kok lupa...
"Waktu
yang sebulan dan dua bulan kemarin, kita nggak bisa ngerayain
apa-apa. Soalnya pas satu bulan, kamu lagi nonton konser Muse. Pas dua bulan,
kita lagi sama-sama sibuk buat perlombaan persahabatan waktu
itu," ujar Aldo. "Jadi...baru sekarang."
Nadya
mengangguk perlahan. Akhirnya, Nadya tersenyum.
"Makasih,
ya…Aldo."
Aldo
mengangguk sembari tersenyum manis. Mereka pun sama-sama diam selama tiga
detik.
Tangan
Aldo—yang tadinya ada di pipi Nadya—kini turun ke dagu Nadya. Cowok itu
mengangkat wajah Nadya…agar Nadya menatap tepat ke matanya.
Kedua
mata Aldo terlihat sangat jernih dan indah. Mata itu menatap wajah Nadya
dengan penuh kasih sayang. Cahaya matahari membuat mata Aldo tampak semakin
memesona.
Setiap
menatap mata Aldo, Nadya akan merasa gugup sekaligus kagum minta ampun.
"Nad," panggil
Aldo pelan.
Nadya—yang
sedang terpaku itu—spontan tersentak. Dengan gugup, Nadya pun menyahut,
"I—Iya, Aldo? K—Kenapa...?"
Ya
ampun, mata Aldo itu…indah banget.
Nadya
tak pernah bosan memuji Aldo dalam hatinya meskipun sudah ribuan kali.
Usapan
jempol Aldo yang lembut di dagu Nadya itu sukses membuat pipi Nadya merona
lagi. Ah, sebentar. Sesungguhnya, rona merah di pipi Nadya tadi belum
benar-benar hilang.
Mereka
berada dalam keheningan itu selama kurang lebih enam detik. Hal itu membuat
Nadya semakin gugup. Rasanya agak...sesak, soalnya Nadya jadi sulit
bernapas dalam situasi yang mendebarkan seperti itu.
Jempol
Aldo perlahan-lahan berhenti mengusap dagu Nadya, tetapi kini dia benar-benar
memegang dagu Nadya semakin erat. Dia seolah-olah mau
mengatakan, 'Jangan alihkan pandangan kamu dari aku.'
Aldo
pun membuka suara. Dia berbicara dengan suara yang pelan, tetapi sangat yakin.
"I
love you, Nadya Maharani."
Nadya
kontan membelalakkan mata. Mulut Nadya terbuka, betis Nadya mendadak terasa
selembut jelly.
Aldo…barusan…
Aldo menyatakan
cinta...padanya!
Lidah
Nadya kelu. Napas Nadya sempat tertahan.
Cara
Aldo menatapnya, cara Aldo memegang dagunya, semua itu seolah-olah mengatakan kalau
Nadya adalah sesuatu yang berharga di mata cowok itu. Sesuatu yang sangat lembut, tetapi
bersinar dengan indah dan memiliki kekuatannya tersendiri.
You
are so bright. Your perseverance, your beautiful heart, your honesty...
Everything...
Tanpa
sadar, Aldo menyipitkan matanya. Tatapannya sungguh…lekat. Layaknya mantra, cowok
itu pun terus berkata:
"I
love you, my angel. I love you. I love you."
"Please
be my girl," ujar Aldo dengan tulus. Matanya bak menelaah
wajah Nadya. "...then, now, and always."
******
Hari
ini adalah hari minggu, dua hari setelah Aldo memberi Nadya kado. Nadya pergi
ke café; dia memakai dress berwarna putih dengan
motif sunflower yang panjangnya sampai di bawah lutut. Rambut
Nadya terurai, tetapi ada jepit bunga kecil yang ia pakai di samping poninya.
Sembari
membenarkan tas selempangnya yang berukuran kecil—tas itu adalah kado ulang
tahun dari mamanya tahun lalu—Nadya pun membuka pintu cafe yang ia datangi
itu. Ia masuk dan melihat sekeliling.
Saat
matanya memindai cafe itu, akhirnya Nadya menemukan orang yang ia
cari. Orang itu kini sedang melambaikan tangan pada Nadya sembari tersenyum
riang. Nadya pun tersenyum dan mengangguk.
Nadya
mulai berjalan menghampiri orang itu dan ketika sudah sampai, Nadya lantas berkata,
"Maaf, Kak. Kakak udah nunggu lama, ya?"
Nadya
mulai duduk di kursi yang berseberangan dengan orang itu.
Tak
ayal, orang itu tersenyum. Senyum yang sudah lama tak Nadya lihat, tetapi
manisnya masih sama.
Rasanya…senyuman
itu mirip sama senyuman Aldo. Tulus…dan indah.
Pipi
Nadya merona lagi karena memikirkan Aldo.
"Nggak
kok, Nadya... Baru sampai di sini juga, Dek," jawab orang yang duduk di
seberang Nadya.
"Oo…"
ujar Nadya. Orang itu benar-benar tidak berubah. Dia mampu membuat Nadya jadi
akrab dengannya; dia adalah satu-satunya cowok yang mampu membuat Nadya nyaman
berbicara dengannya seperti teman biasa meskipun tak seakrab dengan Gita. Kalau
Aldo… Aldo itu, kan...bukan teman.
Nah,
pipi Nadya merona lagi, deh.
Semoga
Kak Kurnia nggak liat...
"Kamu
bener-bener sehat? Semua urusan kamu…lancar-lancar aja?" ujar Kurnia,
cowok yang duduk di seberang Nadya, dengan mata membulat ingin tahu. Soalnya,
sudah lumayan lama dia tidak bertemu dengan Nadya.
Nadya
tersenyum. "Iya. Kak Kurnia gimana?"
"Sama.
Makasih, ya, Nadya, udah mau datang ke sini," ujar Kurnia. "Kakak
lagi ada urusan di sini, jadi Kakak minta izin.”
"Iya,
Kak," ujar Nadya. "Hm… Urusan apa, Kak?"
"Ada,
deh," ujar Kurnia sembari tertawa kecil. Nadya jadi keheranan sendiri.
"Oh,
ya, kamu mau pesen apa, Dek?" tanya Kurnia.
Nadya
mengerjap. "Oh—umm... Aku… Aku mau chocolate milkshake aja,
Kak."
"Kamu selalu pesen
itu, ya, kalo di sini," ujar Kurnia sembari tertawa renyah. Nadya
menggaruk tengkuknya dan tertawa canggung.
Saat
Kurnia memanggil waitress di sana dan menyebutkan pesanan mereka, Nadya hanya
memandangi Kurnia. Kurnia tidak banyak berubah, tetapi tubuhnya jadi semakin
tegap dan wajahnya terlihat lebih matang.
Begitu
Kurnia kembali menatap Nadya, cowok itu bertanya pada Nadya dengan nada
ramahnya seperti biasa, "Orangtua kamu apa kabar? Udah lama Kakak nggak ke
sana."
Nadya
tersenyum.
Iya,
benar.
Di
hari hujan itu, saat pertama kali Nadya bertemu dengan Kurnia, mereka mengobrol
hingga cowok itu ikut mengantar Nadya pulang. Mereka naik angkutan kota
bersama-sama dan saat itulah Nadya sadar bahwa ternyata, rumah Kurnia
bersebelahan dengan rumahnya. Mengapa dia tak pernah menyadari hal
itu? Mengapa dia tak pernah melihat Kurnia?
Kurnia
tinggal sendirian. Waktu itu, ia adalah anak SMA yang tinggal di dalam rumah minimalis;
desain rumahnya cocok untuk laki-laki. Ia tinggal sendirian, tepat di samping
rumah Nadya. Rumah mereka bersebelahan, tetapi mengapa Nadya tak tahu siapa
orang yang tinggal di sebelah rumahnya?
Saat
itu, Kurnia bilang kalau sebenarnya ia sudah tahu dengan Nadya. Ia sering
kebetulan melihat Nadya dari jendela rumahnya ketika Nadya pergi les. Tentu
saja, soalnya mereka bertetangga. Kurnia tak tahu siapa nama Nadya, tetapi
setiap Kurnia pulang dan pergi sekolah, Nadya selalu tak terlihat di teras
rumahnya. Kalau pun ada orang di sana, biasanya hanya ayah Nadya yang sedang
memotong rumput di halaman atau melakukan hal lain. Ayah Nadya juga tidak
begitu melihat ke arah Kurnia, jadi mungkin ayah Nadya tak berkata apa pun
tentang 'tetangga sebelah' pada keluarganya. Jadi, tentu saja Nadya tak tahu.
Saat
Kurnia bertemu dengan Nadya di halte sore itu, ia pun menegur Nadya tanpa
berpikir apa-apa. Ia tahu dengan Nadya, jadi secara tanpa sadar, ia langsung
menegur Nadya.
Lagi
pula, waktu itu…ia sangat ingin berkenalan dengan Nadya.
"Kabar
Mama sama Papa aku baik kok, Kak. Kakak...masih belum ngunjungin...rumah
orangtua Kakak, ya?" tanya Nadya dengan hati-hati.
Tanpa
sadar, sejak peristiwa di halte itu, mereka jadi seperti kakak-adik yang sering
bertukar cerita, bahkan Kurnia sering main ke rumah Nadya. Ia juga sering makan
malam di rumah Nadya, main bersama adik-adik Nadya, membantu ayah Nadya
membersihkan halaman, dan lain-lain. Nadya pun kadang-kadang datang ke rumah
Kurnia untuk bermain dengan kucing persia milik Kurnia yang bernama Lily.
"Masih,"
ujar Kurnia. Satu hal yang tak pernah Kurnia katakan pada Nadya adalah: alasan mengapa
Kurnia belum kunjung menemui keluarganya.
Nadya
hanya mengangguk. Dia masih belum berani menanyakan alasan Kurnia karena waktu
itu…dia pernah bertanya dan Kurnia menolak untuk menjawab. Sejak saat itu,
Nadya berhenti bertanya. Biarlah Kurnia sendiri yang menceritakan itu padanya.
Kurnia
pun tersenyum manis. Sangat manis.
"Kamu
makin cantik dan imut, ya," ujar Kurnia sembari mengusap kepala Nadya.
"tapi sifatnya nggak berubah."
Pipi
Nadya merona. Cewek itu menggeleng, merasa tidak setuju. "Aku nggak
cantik, Kak."
Kurnia
tertawa. "Iyain aja, deh."
Nadya
buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, "Umm… Kakak rencananya mau kuliah
di mana?"
Well...
Alasan mengapa Kurnia lama tak berjumpa dengan Nadya adalah karena cowok itu
pindah sekolah sekitar setahun yang lalu. Rumah Kurnia pun dijual dan Kurnia
pindah ke Yogyakarta.
Seharusnya
saat ini Kurnia sudah kelas tiga SMA. Nadya dan Kurnia hanya berbeda satu
tahun.
"Kalo
bisa, sih, tetep di Yogya aja, Dek," ujar Kurnia. "Biar nggak pindah
lagi."
Pada
titik ini, Nadya lagi-lagi berpikir bahwa...
Kurnia
sangat mandiri.
"Semoga
UN-nya nanti lancar, ya, Kak..." ujar Nadya sembari tersenyum lembut.
"He-em.
Amin!" sahut Kurnia dengan riang.
Tiba-tiba,
ponsel Nadya berbunyi. Nadya tersentak dan langsung merogoh tasnya sembari
meminta waktu pada Kurnia. Kurnia mengangguk, senyuman masih melekat di wajah
cowok itu saat Nadya mengecek ponselnya.
Itu
adalah sebuah pesan. Dari Aldo.
Semburat
merah langsung muncul di pipi Nadya dan hal itu membuat Kurnia sedikit
melebarkan mata.
From: Aldo
Sayang,
yang duduk di depan tanaman hias itu...kamu, ya?
Tadi,
Nadya sudah bilang pada Aldo kalau dia akan pergi ke cafe untuk
menemui teman lamanya. Aldo juga sudah tahu bahwa ‘teman lama’ yang Nadya
maksud itu dulunya bertetangga dengan Nadya. Nadya menolak saat Aldo ingin
mengantarnya, soalnya cewek itu tak ingin Aldo repot. Selain itu, kata Aldo,
Rian mengajak cowok itu main ke rumahnya. Jadi…mending tidak usah.
Namun...sebentar.
Di depan tanaman hias?
Nadya
spontan menoleh ke belakang. Ternyata, di belakangnya ada tanaman hias. Akan
tetapi…
…mengapa
Aldo tahu? Apa Aldo ada…di sini?
Nadya
tak mau menoleh-noleh, soalnya jika Aldo memang ada di sini, Nadya akan
malu. Maka dari itu, Nadya langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Namun,
sebelum Nadya sempat mengirim sebuah pesan yang berisi 'Iya', mendadak
cewek itu mendengar sebuah suara yang sangat dia kenali.
"Nad?"
Nadya
kontan menoleh.
…dan
dia melihat Aldo.
Aldo
sedang berjalan ke arahnya dan mungkin jarak mereka tinggal tiga langkah lagi.
Begitu Aldo memanggil Nadya, Kurnia pun ikut menoleh ke asal suara.
Nadya
belum menyahut; dia kaget melihat Aldo ada di cafe itu. Tatkala
melihat wajah dan penampilan Aldo, jantung Nadya kembali berdebar-debar. Semua
cewek di sana langsung menatap Aldo dengan kagum. Menemukan bule mungkin
sudah biasa bagi sebagian orang, tetapi...bule yang ganteng?
Tadi,
Aldo bilang dia akan main ke rumah Rian bersama Adam, lalu setelah Nadya
pulang, dialah yang akan menjemput Nadya.
"Aku
lagi nemenin Adam beli minuman, sebelum lanjut ke rumahnya
Rian. Nggak nyangka kalo ternyata kamu ada di cafe in—"
Begitu
Aldo melihat orang yang duduk berseberangan dengan Nadya—atau orang yang Nadya
temui hari ini—Aldo langsung terdiam.
Langkah
Aldo sontak terhenti.
Ekspresi
wajah cowok itu berubah total. Matanya kontan membelalak dan rahangnya mengetat.
Dari sana, terlihat bahwa otak cowok itu tengah mencoba untuk memastikan apa
yang sedang ia lihat. Namun, tatkala melakukan itu, semua yang ia simpan di
dalam hatinya tiba-tiba memaksa keluar. Ada sebuah sisi
di dalam dirinya yang selalu terbelenggu dan terhalang oleh dinding yang sangat
kokoh.
Nadya
jadi bingung. Dia kontan menoleh kepada Kurnia.
Dilihatnya
tubuh Kurnia mematung. Wajah cowok itu tiba-tiba memucat.
"Kak…Sandi?" []


.jpg)









