Monday, September 29, 2025

Because of Ticket! (Bab 16: Hujan di Hari Itu)

 


******

Bab 16 :

Hujan di Hari Itu

 

******

 

2 TAHUN YANG LALU

 

LAMPU lalu lintas di zebra cross akhirnya menyalakan warna merahnya setelah beberapa saat Nadya menunggu di pinggir jalan. Hujan mulai deras dan Nadya cepat-cepat menyeberang sembari menutupi kepalanya dengan jaket hitam yang untung saja ia bawa hari ini.

Meski Nadya memutuskan untuk cepat-cepat, cewek itu tetap saja harus berhati-hati. Jalanan licin, sementara orang berbondong-bondong untuk menyeberang. Kemacetan jalan, suara klakson, dan orang-orang yang ada di sekitar jalan…semua itu terlihat hectic. Mungkin, jalanan juga akan sangat macet saat hujan berhenti nanti.

Nadya menghela napasnya lega begitu sampai di halte yang ada di seberang jalan. Jika saja tadi ia menyetujui saran Gita untuk menunda pergi ke perpustakaan dan pulang bersama-sama, mungkin Nadya sudah ada di rumah. Tak perlu hujan-hujanan begini.

Sayangnya, tadi pagi mamanya menyuruhnya untuk melihat-lihat buku panduan UN—serta buku pintar lainnya di perpustakaan—agar ia tahu buku apa saja yang nanti bisa ia beli di toko buku tanpa harus melihat-lihat isinya lagi. Ia tak tahu bahwa ternyata cuaca secerah tadi pagi bisa berubah jadi mendung saat siang. Namun, Nadya pikir, ia masih bisa pergi ke perpustakaan. Masuk sebentar aja, biar bisa pulang sebelum hujan turun, begitu pikirnya.

Sayangnya, hari itu Gita disuruh cepat pulang, jadi dia tak bisa menemani Nadya. Makanya, di sinilah Nadya; dia baru saja keluar dari perpustakaan dan ternyata hujan turun dengan deras.

Nadya berdiri di dekat tiang halte, lalu mengusap tetesan air hujan yang jatuh di wajah dan baju seragamnya. Sedikit lebih lama lagi di bawah hujan dan dia akan basah kuyup.

Sembari menunggu angkutan kota tiba, Nadya hanya berdiri diam. Halte itu begitu ramai; ada orang yang memakai baju PNS, ada siswa, dan pegawai kantoran biasa. Meski halte itu tak begitu luas, semuanya tetap berdiri di sana demi menunggu transportasi atau mungkin hanya menunggu hujan berhenti.

Nadya melihat ke depan. Memandangi hujan adalah hal yang menenangkan hati. Suara hujan, aromanya (meskipun saat itu bercampur dengan polusi udara yang tersisa di jalan) mampu membuat Nadya tenang. Nadya menikmati aroma dan suasana hujan. Rasanya nyaman sekali. Saking nyamannya, Nadya sempat tersenyum sembari menutup matanya sejenak— mengabaikan suara-suara di jalan—dan tenggelam dalam suasana ituPenyuka hujan akan selalu menikmati hujan di mana pun mereka berada.

 

"Kamu suka hujan, ya?"

 

Suara itu membuat Nadya membuka mata. Suara itu terdengar lembut dan ramah; suara itu berasal dari samping kiri...atau tepat di samping Nadya. Demi memastikan orang itu benar-benar berbicara dengannya atau bukan, Nadya pun menoleh…

…dan mendapati seorang cowok yang tengah menatapnya seraya tersenyum manis.

 

Ah, senyumnya…

…sangat menawan...

 

Cowok itu berseragam SMA. Wajahnya begitu manis. Tinggi Nadya rupanya hanya sebatas dada cowok itu. Air muka cowok itu terlihat sangat ramah. Memandangi cowok itu sama rasanya seperti memandangi hujan.

 

Bisa menenangkan hati dan pikiran.

 

Ada sesuatu di ekspresi wajah serta cara bicara cowok itu yang membuat orang lain merasa nyaman. Ekspresinya santai, penuh perhatian; tatapannya pun teduh dan memberikan kedamaian.

Tanpa sadar, Nadya hanya mematung. Mata Nadya melebar dan mulut Nadya sedikit terbuka. Entah mengapa, Nadya tak mau mengalihkan pandangannya.

 

"...ei."

"Hei."

 

Ketika cowok itu mengibaskan tangannya di depan wajah Nadya, barulah Nadya tersentak.

"Ah—itu—" ujar Nadya kikuk. Jantung Nadya jadi berdegup kencang karena malu.

Nadya langsung menunduk meminta maaf. Cowok itu mengangkat tangannya untuk berkata tidak apa-apa sembari tertawa renyah. Mereka berdua pun kembali berdiri berdampingan.

Saat Nadya masih merasa malu, cowok itu tiba-tiba kembali bertanya.

"Kamu suka hujan, ya?"

Nadya menoleh. "Eh? Oh, iya, Kak."

Nadya masih SMP, jadi wajar saja memanggil orang yang berseragam SMA dengan 'Kakak'. Lagi pula, orang itu pasti mengerti saat melihat seragam yang Nadya kenakan.

Cowok itu tersenyum. "Sama. Aku juga suka hujan."

Nadya mengangguk pelan. Ia mulai kikuk. "Oo... Hehe…"

 

Nggak biasa ngobrol sama orang yang nggak dikenal...

 

"Kamu SMP di mana?"

"Deket sini, Kak," ujar Nadya. Sebenarnya, obrolannya jadi begitu kaku karena Nadya tidak pandai mencairkan suasana. Cowok itu juga berbicara sambil menikmati hujan.

"Kenapa kamu suka hujan?" tanya cowok itu.

Nadya menoleh, lalu menggaruk pipinya pelan karena merasa canggung. "Hm... Cuma…seneng aja, Kak. Nyaman. Kalo…Kakak?"

Cowok itu memandangi langit mendung yang sedang menurunkan hujan saat itu. Nadya melihat cowok itu tersenyum. Namun, kali ini, entah mengapa…

…senyuman itu agak berbeda.

 

Terlihat pilu...

 

"Aku suka hujan karena..." Cowok itu bernapas sejenak. "...pas hujan, biasanya aku bisa renungin kesalahan yang dulu pernah kubuat pada seseorang."

Nadya melebarkan mata. Cewek itu mendadak ikut sedih ketika mendengar respons cowok itu…serta melihat senyuman pilunya.

Tiba-tiba, cowok itu menurunkan pandangannya dari langit dan menatap Nadya. Anehnya, seiring dengan tatapannya yang beralih dari langit, senyumannya pun ikut beralih menjadi senyuman manis yang tadi Nadya lihat saat pertama kali cowok itu menyapa. Ekspresi wajahnya kembali ramah dan damai.

Cowok itu pun berkata, "Nama kamu siapa?"

Nadya, yang masih belum bisa beralih dari peristiwa tadi, jadi terkejut. Namun, dia masih mencoba untuk menjawab cowok itu dengan baik.

 

"Aku... Namaku...Nadya, Kak."

 

Cowok itu tersenyum. Sembari mengangkat tangan Nadya untuk bersalaman dengannya, ia berkata, "Namaku..."

 

******

 

Aldo mengusap pipi Nadya yang tertidur pulas di jok penumpang depan. Hari ini, Aldo membawa mobilnya ke sekolah, tetapi cowok itu tak tahu mengapa Nadya selalu tertidur di mobil setiap kali ia membawa Nadya. Tadi pagi—sebelum sampai di sekolah—juga begitu.

"Sayang," bisik Aldo pelan di telinga Nadya.

Aldo menekan-nekan pelan pipi Nadya dengan telunjuknya. "Sayang, bangun... Udah sampe di rumah kamu…"

Nadya membuka matanya. Perlahan-lahan, terlihatlah wajah Aldo yang ada tepat di depan wajahnya. Aldo tersenyum padanya; wajah Aldo terlihat sangat tampan.

Kesadaran Nadya belum sepenuhnya kembali. Ia masih mengumpulkan kesadaran—agar benar-benar bangun—untuk setidaknya mengetahui bahwa sekarang wajah Aldo benar-benar dekat dengan wajahnya.

Nadya benar-benar masih mengantuk. Matanya mengerjap pelan; tatapannya sangat polos ketika menatap Aldo.

"Untung kamu bangun..." bisik Aldo. Cowok itu menggesekkan hidungnya dengan hidung Nadya dengan lembut. Setelah itu, sebuah kecupan mendarat di kening Nadya.

"Kalo nggak bangun tadi..." Aldo membawa bibirnya ke sekeliling wajah Nadya; dia ingin mencium setiap bagian wajah Nadya.

"…mungkin kuculik, kubawa ke rumahku," sambungnya.

Saat itulah, semua kesadaran Nadya terkumpul. Pipi cewek itu langsung merona bukan main. Tubuhnya mematung. Wajahnya memanas, rasa panasnya mencapai telinga. Jantungnya berdegup kencang. Nadya tahu bahwa Aldo pasti bisa mendengar detak jantungnya itu. Soalnya, Nadya merasa Aldo mulai tersenyum tatkala menciumi wajahnya.

Wajah Nadya semakin merona—bahkan berada di dalam mobil ber-AC pun jadi terasa sangat panas.

Begitu Aldo selesai, Nadya langsung menutup wajahnya yang memerah itu dengan kedua tangannya. Aldo tertawa kecil.

 

Padahal…aku udah sering liat pipi merah kamu, Nad... Kok masih malu?

 

Aldo memegang tangan Nadya—yang masih menutupi wajahnya sendiri—dan tertawa pelan. "Kenapa ditutup? Aku pengin liat."

"Hei," panggil Aldo pelan. Cowok itu tersenyum penuh arti. Dia merasa bahwa kini, membuat Nadya salah tingkah adalah hobinya yang nomor satu.

Nadya mengeraskan tangannya dan menoleh ke samping supaya Aldo tak bisa menarik tangannya. Aldo meraih kepala Nadya agar menghadap padanya lagi dan berusaha membuka tangan Nadya. Sembari tersenyum, Aldo mengusap-usap telinga Nadya.

Nadya kontan merinding. Itu bagian sensitif! Sentuhan Aldo itu selembut dan seringan kapas, tetapi justru hal itulah yang membuat Nadya merinding. Rasanya geli sekali!

Perlahan-lahan, Nadya membuka tangannya. Saat wajahnya benar-benar terlihat di mata Aldo, Aldo melebarkan mata.

Rona merah di pipi Nadya...benar-benar terang.

Dari pipi…hingga ke telinganya...

Karena Aldo menatapnya tanpa berkedip, Nadya jadi menunduk malu.

Tiba-tiba, Aldo mencium pipi Nadya lagi. Mencium seluruh bagian pipi yang begitu merona itu. Mata Nadya membelalak—dia menganga—karena Aldo malah melakukan sesuatu yang diluar dugaan.

"Jangan tunjukin ekspresi lucu kamu ini ke orang lain," ujar Aldo. "Aku pengin jadi satu-satunya orang yang tau dan ngeliat semua ini."

Nadya terdiam. Cewek itu tak berkata apa-apa; ia hanya diam karena malu bukan main.  

Dua detik kemudian, Aldo tersenyum dan menjauhkan dirinya. Cowok itu mulai mengambil sesuatu dari jok penumpang belakang. Nadya hanya melihatnya.

Ternyata, itu adalah sebuah kado serta sebuah kotak cantik yang berisi cake dan berbagai dessert.

Aldo tersenyum, lalu memberikan kado yang terbungkus cantik itu kepada Nadya. Nadya terlihat bingung ketika menerima kado itu (karena ternyata, kado itu besar, sampai hampir tak bisa Nadya peluk). Nadya pun menoleh pada Aldo.

"Aldo, ini..."

"Kado buat kamu," ujar Aldo. "Kalo yang kue ini…bawa ke rumah, ya, Nad, buat mama sama papa kamu. Aku sempetin mampir ke toko kue bentar tadi waktu di jalan. Kamu tidur nyenyak banget tadi, Sayang, jadi mungkin kamu nggak denger."

Mata Nadya membeliak.

"Tapi Aldo… Kado ini.." Nadya masih bingung. "Aku, kan... nggak lagi ulang tahun..."

Aldo tertawa kecil.

 

Kalo harus nunggu ulang tahun dulu baru ngasih kado…nggak enak banget, Nad.

 

Aldo mendekati Nadya dan menatap Nadya lekat-lekat. Kotak kue itu Aldo singkirkan sebentar, lalu dia mengusap pipi Nadya dengan lembut.

Dia pun berbisik, "Happy three months, Sayang."

Nadya terperangah.

 

Tiga…bulan?

 

Oh...iya.

Ya ampun, Nad... Kok lupa...

 

"Waktu yang sebulan dan dua bulan kemarin, kita nggak bisa ngerayain apa-apa. Soalnya pas satu bulan, kamu lagi nonton konser Muse. Pas dua bulan, kita lagi sama-sama sibuk buat perlombaan persahabatan waktu itu," ujar Aldo. "Jadi...baru sekarang."

Nadya mengangguk perlahan. Akhirnya, Nadya tersenyum.

"Makasih, ya…Aldo."

Aldo mengangguk sembari tersenyum manis. Mereka pun sama-sama diam selama tiga detik.

Tangan Aldo—yang tadinya ada di pipi Nadya—kini turun ke dagu Nadya. Cowok itu mengangkat wajah Nadya…agar Nadya menatap tepat ke matanya.

Kedua mata Aldo terlihat sangat jernih dan indah. Mata itu menatap wajah Nadya dengan penuh kasih sayang. Cahaya matahari membuat mata Aldo tampak semakin memesona.

Setiap menatap mata Aldo, Nadya akan merasa gugup sekaligus kagum minta ampun.

"Nad," panggil Aldo pelan.

Nadya—yang sedang terpaku itu—spontan tersentak. Dengan gugup, Nadya pun menyahut, "I—Iya, Aldo? K—Kenapa...?"

 

Ya ampun, mata Aldo itu…indah banget.

 

Nadya tak pernah bosan memuji Aldo dalam hatinya meskipun sudah ribuan kali.

Usapan jempol Aldo yang lembut di dagu Nadya itu sukses membuat pipi Nadya merona lagi. Ah, sebentar. Sesungguhnya, rona merah di pipi Nadya tadi belum benar-benar hilang.

Mereka berada dalam keheningan itu selama kurang lebih enam detik. Hal itu membuat Nadya semakin gugup. Rasanya agak...sesak, soalnya Nadya jadi sulit bernapas dalam situasi yang mendebarkan seperti itu.

Jempol Aldo perlahan-lahan berhenti mengusap dagu Nadya, tetapi kini dia benar-benar memegang dagu Nadya semakin erat. Dia seolah-olah mau mengatakan, 'Jangan alihkan pandangan kamu dari aku.'

Aldo pun membuka suara. Dia berbicara dengan suara yang pelan, tetapi sangat yakin.

 

"I love you, Nadya Maharani."

 

Nadya kontan membelalakkan mata. Mulut Nadya terbuka, betis Nadya mendadak terasa selembut jelly.

 

Aldo…barusan…

Aldo menyatakan cinta...padanya!

 

Lidah Nadya kelu. Napas Nadya sempat tertahan.

Cara Aldo menatapnya, cara Aldo memegang dagunya, semua itu seolah-olah mengatakan kalau Nadya adalah sesuatu yang berharga di mata cowok itu. Sesuatu yang sangat lembut, tetapi bersinar dengan indah dan memiliki kekuatannya tersendiri.

 

You are so bright. Your perseverance, your beautiful heart, your honesty...

Everything...

 

Tanpa sadar, Aldo menyipitkan matanya. Tatapannya sungguh…lekat. Layaknya mantra, cowok itu pun terus berkata:

 

"I love you, my angel. I love you. I love you."

"Please be my girl," ujar Aldo dengan tulus. Matanya bak menelaah wajah Nadya. "...then, now, and always."

 

******

 

Hari ini adalah hari minggu, dua hari setelah Aldo memberi Nadya kado. Nadya pergi ke café; dia memakai dress berwarna putih dengan motif sunflower yang panjangnya sampai di bawah lutut. Rambut Nadya terurai, tetapi ada jepit bunga kecil yang ia pakai di samping poninya.

Sembari membenarkan tas selempangnya yang berukuran kecil—tas itu adalah kado ulang tahun dari mamanya tahun lalu—Nadya pun membuka pintu cafe yang ia datangi itu. Ia masuk dan melihat sekeliling.

Saat matanya memindai cafe itu, akhirnya Nadya menemukan orang yang ia cari. Orang itu kini sedang melambaikan tangan pada Nadya sembari tersenyum riang. Nadya pun tersenyum dan mengangguk.

Nadya mulai berjalan menghampiri orang itu dan ketika sudah sampai, Nadya lantas berkata, "Maaf, Kak. Kakak udah nunggu lama, ya?"

Nadya mulai duduk di kursi yang berseberangan dengan orang itu.

Tak ayal, orang itu tersenyum. Senyum yang sudah lama tak Nadya lihat, tetapi manisnya masih sama.

Rasanya…senyuman itu mirip sama senyuman Aldo. Tulus…dan indah.

Pipi Nadya merona lagi karena memikirkan Aldo.

"Nggak kok, Nadya... Baru sampai di sini juga, Dek," jawab orang yang duduk di seberang Nadya.

"Oo…" ujar Nadya. Orang itu benar-benar tidak berubah. Dia mampu membuat Nadya jadi akrab dengannya; dia adalah satu-satunya cowok yang mampu membuat Nadya nyaman berbicara dengannya seperti teman biasa meskipun tak seakrab dengan Gita. Kalau Aldo… Aldo itu, kan...bukan teman.

Nah, pipi Nadya merona lagi, deh.

 

Semoga Kak Kurnia nggak liat...

 

"Kamu bener-bener sehat? Semua urusan kamu…lancar-lancar aja?" ujar Kurnia, cowok yang duduk di seberang Nadya, dengan mata membulat ingin tahu. Soalnya, sudah lumayan lama dia tidak bertemu dengan Nadya.

Nadya tersenyum. "Iya. Kak Kurnia gimana?"

"Sama. Makasih, ya, Nadya, udah mau datang ke sini," ujar Kurnia. "Kakak lagi ada urusan di sini, jadi Kakak minta izin.”

"Iya, Kak," ujar Nadya. "Hm… Urusan apa, Kak?"

"Ada, deh," ujar Kurnia sembari tertawa kecil. Nadya jadi keheranan sendiri.

"Oh, ya, kamu mau pesen apa, Dek?" tanya Kurnia.

Nadya mengerjap. "Oh—umm... Aku… Aku mau chocolate milkshake aja, Kak."

"Kamu selalu pesen itu, ya, kalo di sini," ujar Kurnia sembari tertawa renyah. Nadya menggaruk tengkuknya dan tertawa canggung.

Saat Kurnia memanggil waitress di sana dan menyebutkan pesanan mereka, Nadya hanya memandangi Kurnia. Kurnia tidak banyak berubah, tetapi tubuhnya jadi semakin tegap dan wajahnya terlihat lebih matang.

Begitu Kurnia kembali menatap Nadya, cowok itu bertanya pada Nadya dengan nada ramahnya seperti biasa, "Orangtua kamu apa kabar? Udah lama Kakak nggak ke sana."

Nadya tersenyum.

Iya, benar.

Di hari hujan itu, saat pertama kali Nadya bertemu dengan Kurnia, mereka mengobrol hingga cowok itu ikut mengantar Nadya pulang. Mereka naik angkutan kota bersama-sama dan saat itulah Nadya sadar bahwa ternyata, rumah Kurnia bersebelahan dengan rumahnya. Mengapa dia tak pernah menyadari hal itu? Mengapa dia tak pernah melihat Kurnia?

Kurnia tinggal sendirian. Waktu itu, ia adalah anak SMA yang tinggal di dalam rumah minimalis; desain rumahnya cocok untuk laki-laki. Ia tinggal sendirian, tepat di samping rumah Nadya. Rumah mereka bersebelahan, tetapi mengapa Nadya tak tahu siapa orang yang tinggal di sebelah rumahnya?

Saat itu, Kurnia bilang kalau sebenarnya ia sudah tahu dengan Nadya. Ia sering kebetulan melihat Nadya dari jendela rumahnya ketika Nadya pergi les. Tentu saja, soalnya mereka bertetangga. Kurnia tak tahu siapa nama Nadya, tetapi setiap Kurnia pulang dan pergi sekolah, Nadya selalu tak terlihat di teras rumahnya. Kalau pun ada orang di sana, biasanya hanya ayah Nadya yang sedang memotong rumput di halaman atau melakukan hal lain. Ayah Nadya juga tidak begitu melihat ke arah Kurnia, jadi mungkin ayah Nadya tak berkata apa pun tentang 'tetangga sebelah' pada keluarganya. Jadi, tentu saja Nadya tak tahu.

Saat Kurnia bertemu dengan Nadya di halte sore itu, ia pun menegur Nadya tanpa berpikir apa-apa. Ia tahu dengan Nadya, jadi secara tanpa sadar, ia langsung menegur Nadya.

Lagi pula, waktu itu…ia sangat ingin berkenalan dengan Nadya.

"Kabar Mama sama Papa aku baik kok, Kak. Kakak...masih belum ngunjungin...rumah orangtua Kakak, ya?" tanya Nadya dengan hati-hati.

Tanpa sadar, sejak peristiwa di halte itu, mereka jadi seperti kakak-adik yang sering bertukar cerita, bahkan Kurnia sering main ke rumah Nadya. Ia juga sering makan malam di rumah Nadya, main bersama adik-adik Nadya, membantu ayah Nadya membersihkan halaman, dan lain-lain. Nadya pun kadang-kadang datang ke rumah Kurnia untuk bermain dengan kucing persia milik Kurnia yang bernama Lily.

"Masih," ujar Kurnia. Satu hal yang tak pernah Kurnia katakan pada Nadya adalah: alasan mengapa Kurnia belum kunjung menemui keluarganya.

Nadya hanya mengangguk. Dia masih belum berani menanyakan alasan Kurnia karena waktu itu…dia pernah bertanya dan Kurnia menolak untuk menjawab. Sejak saat itu, Nadya berhenti bertanya. Biarlah Kurnia sendiri yang menceritakan itu padanya.

Kurnia pun tersenyum manis. Sangat manis.

"Kamu makin cantik dan imut, ya," ujar Kurnia sembari mengusap kepala Nadya. "tapi sifatnya nggak berubah."

Pipi Nadya merona. Cewek itu menggeleng, merasa tidak setuju. "Aku nggak cantik, Kak."

Kurnia tertawa. "Iyain aja, deh."

Nadya buru-buru mengalihkan topik pembicaraan, "Umm… Kakak rencananya mau kuliah di mana?"

Well... Alasan mengapa Kurnia lama tak berjumpa dengan Nadya adalah karena cowok itu pindah sekolah sekitar setahun yang lalu. Rumah Kurnia pun dijual dan Kurnia pindah ke Yogyakarta.

Seharusnya saat ini Kurnia sudah kelas tiga SMA. Nadya dan Kurnia hanya berbeda satu tahun.

"Kalo bisa, sih, tetep di Yogya aja, Dek," ujar Kurnia. "Biar nggak pindah lagi."

Pada titik ini, Nadya lagi-lagi berpikir bahwa...

Kurnia sangat mandiri.

"Semoga UN-nya nanti lancar, ya, Kak..." ujar Nadya sembari tersenyum lembut.

"He-em. Amin!" sahut Kurnia dengan riang.

Tiba-tiba, ponsel Nadya berbunyi. Nadya tersentak dan langsung merogoh tasnya sembari meminta waktu pada Kurnia. Kurnia mengangguk, senyuman masih melekat di wajah cowok itu saat Nadya mengecek ponselnya.

Itu adalah sebuah pesan. Dari Aldo.

Semburat merah langsung muncul di pipi Nadya dan hal itu membuat Kurnia sedikit melebarkan mata.

 

From: Aldo

Sayang, yang duduk di depan tanaman hias itu...kamu, ya?

 

Tadi, Nadya sudah bilang pada Aldo kalau dia akan pergi ke cafe untuk menemui teman lamanya. Aldo juga sudah tahu bahwa ‘teman lama’ yang Nadya maksud itu dulunya bertetangga dengan Nadya. Nadya menolak saat Aldo ingin mengantarnya, soalnya cewek itu tak ingin Aldo repot. Selain itu, kata Aldo, Rian mengajak cowok itu main ke rumahnya. Jadi…mending tidak usah.

Namun...sebentar. Di depan tanaman hias?

Nadya spontan menoleh ke belakang. Ternyata, di belakangnya ada tanaman hias. Akan tetapi…

 

…mengapa Aldo tahu? Apa Aldo ada…di sini?

 

Nadya tak mau menoleh-noleh, soalnya jika Aldo memang ada di sini, Nadya akan malu. Maka dari itu, Nadya langsung mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Namun, sebelum Nadya sempat mengirim sebuah pesan yang berisi 'Iya', mendadak cewek itu mendengar sebuah suara yang sangat dia kenali.

 

"Nad?"

 

Nadya kontan menoleh.

…dan dia melihat Aldo.

Aldo sedang berjalan ke arahnya dan mungkin jarak mereka tinggal tiga langkah lagi. Begitu Aldo memanggil Nadya, Kurnia pun ikut menoleh ke asal suara.

Nadya belum menyahut; dia kaget melihat Aldo ada di cafe itu. Tatkala melihat wajah dan penampilan Aldo, jantung Nadya kembali berdebar-debar. Semua cewek di sana langsung menatap Aldo dengan kagum. Menemukan bule mungkin sudah biasa bagi sebagian orang, tetapi...bule yang ganteng?

Tadi, Aldo bilang dia akan main ke rumah Rian bersama Adam, lalu setelah Nadya pulang, dialah yang akan menjemput Nadya.

"Aku lagi nemenin Adam beli minuman, sebelum lanjut ke rumahnya Rian. Nggak nyangka kalo ternyata kamu ada di cafe in—"

Begitu Aldo melihat orang yang duduk berseberangan dengan Nadya—atau orang yang Nadya temui hari ini—Aldo langsung terdiam.

Langkah Aldo sontak terhenti.

Ekspresi wajah cowok itu berubah total. Matanya kontan membelalak dan rahangnya mengetat. Dari sana, terlihat bahwa otak cowok itu tengah mencoba untuk memastikan apa yang sedang ia lihat. Namun, tatkala melakukan itu, semua yang ia simpan di dalam hatinya tiba-tiba memaksa keluar. Ada sebuah sisi di dalam dirinya yang selalu terbelenggu dan terhalang oleh dinding yang sangat kokoh.

Nadya jadi bingung. Dia kontan menoleh kepada Kurnia.

Dilihatnya tubuh Kurnia mematung. Wajah cowok itu tiba-tiba memucat.

 

"Kak…Sandi?" []

 













******











Saturday, September 27, 2025

Double-Decker (Chapter 4: Sanguineous)

 


******

Chapter 4 :

Sanguineous

 

******

 

AKASHI berjalan masuk ke hotel bintang lima itu diikuti dengan delapan pria berpakaian hitam yang tadi menyambutnya di luar. Begitu ia melewati ambang pintu, seluruh staf di lobi langsung membeku; mereka menunduk hormat padanya dan memberinya jalan.

Udara di sana terasa sangat berat, seolah-olah atmosfer itu sendiri tunduk pada kehendaknya. Tekanannya begitu tinggi, padahal dia tak mengatakan apa-apa. Dia hanya lewat; mata elangnya yang berkilat itu menatap lurus ke depan. Tajam, menembus keheningan. Dia tak tersenyum, tak juga menunjukkan keramahan yang berarti. Dia berjalan santai…dan ketika sudah berada di ujung, ia pun belok kanan dan masuk ke lift.

Di sepanjang jalan, Akashi mengeluarkan aura yang gelap…dan kedalaman yang tak berujung. Dia terlihat seperti makhluk yang luar biasa tampan…tetapi berasal dari kegelapan. Kehadirannya terasa bagai badai dalam setelan jas yang dirancang khusus. Bagai seorang tiran elegan yang terpahat dari bayangan.

Parfumnya pun tercium bagai rahasia gelap yang memabukkan. Ia lebih seperti pertanda daripada manusia; seperti lautan yang tersamarkan air tenang, tak terduga dalamnya, tetapi mustahil untuk ditolak. Seperti misteri yang memikat.

A dark abyss.

Semua orang di sana sangat ingin mengangkat kepala mereka demi melihat sosoknya, tetapi entah mengapa mereka tak bisa melakukannya. Seolah-olah akan ada sesuatu yang terjadi…jika mereka melakukan itu.

Meskipun demikian, sebenarnya Akashi tak pernah menyentuh staf-staf hotel itu. Dia adalah sang pemilik yang jarang datang ke sana, tetapi amat dikenali wajahnya. Sejujurnya, nama Akashi Roan Kaiser cukup terkenal, tetapi sosoknya akan begitu jarang kau lihat, kecuali jika kau bekerja di salah satu perusahaannya…atau kau terlalu up-to-date soal manusia-manusia influential di negaramu.

Ah, tetapi, jika kau pernah melihat mata dan rambutnya yang berwarna merah itu…kau akan mengingatnya selamanya.

Wajahnya sangat tampan. Rahangnya tajam, hidungnya mancung, bentuk matanya seperti mata siren yang sensual dan penuh misteri…tetapi tatapannya tajam seperti elang. Saat tatapannya bertemu denganmu, kau akan merasa seolah-olah dikupas habis. Ditelanjangi, ditelusuri hingga ke pikiran terakhirmu yang paling kau sembunyikan. Terjebak di dalam tatapan matanya akan membuat tubuhmu langsung mengirimkan signal ‘bahaya’; teror akan menjalar ke pembuluh darahmu. Kau akan takut, tersudut…tetapi diam-diam berharap bahwa dia akan terus menatapmu karena…

…itu sangat hot dan mendebarkan. Sensasinya luar biasa.

Oh, manusia memang suka sesuatu yang thrilling. Ketegangan yang akan membuat mereka gila, tetapi ketagihan.

Begitu sosok Akashi sudah benar-benar masuk ke lift, semua orang yang ada di lobi itu pun langsung menegakkan tubuh mereka kembali dan mengembuskan napas lega. Mereka baru ingat untuk bernapas. Tekanannya begitu tinggi, jantung mereka berdebar-debar, tetapi sebenarnya…itu tidak sepenuhnya karena rasa takut.

Ada juga rasa hormat, rasa ingin tahu, rasa segan, serta…

…kekaguman.

It’s something dangerously close to desire.

Para wanita yang ada di sana jelas terpukau…tetapi mereka belum berani mengeluarkan suara. Di dalam keheningan yang Akashi tinggalkan itu, mereka hanya bisa memandangi sisa-sisa eksistensi Akashi dengan mulut yang separuh terbuka.

Segala sesuatu yang terkandung di dalam aura Akashi jelas meneriakkan bahaya, tetapi entah mengapa, para wanita itu mulai meneguk ludah mereka dan berbisik di dalam hati:

 

“Oh, he could ruin me. Ruin me, sir, and I’ll say thank you.”

 

‘Cuz damn.

He’s Leviathan incarnate, draped in the form of a man. Lethal. Majestic. Darkness bows to him.

 

Menggunakan lift besar tersebut, Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu pun turun ke Lower Ground. Tombol LG menyala di lift itu.

Tak lama kemudian, terdengarlah suara ‘ding’ dari lift itu. Pintu lift itu pun mulai terbuka.

 

…dan di balik pintu itu…

 

…semuanya gelap.

 

Hanya ada sedikit penerangan di lantai itu. Penerangannya berupa lampu-lampu putih kecil yang sesekali berkedip. Seisi lantai itu berwarna hitam: lantainya, dindingnya, atapnya…

…semuanya hitam.

Lantai itu bersih. Spotless. Di sana tak ada furnitur…maupun staf hotel. Tidak ada orang sama sekali.

 

Sepi.

 

Langkah kaki Akashi dan kedelapan pria yang mengikutinya itu menggema di kesunyian. Mereka berjalan ke tengah-tengah Lower Ground yang sangat luas itu…dan masuk ke sebuah liang petak yang ukurannya cukup lebar. Di liang itu terdapat tangga untuk turun ke lantai yang lebih dalam.

Biasanya, liang itu tertutup dan tersamarkan. Namun, malam ini liang itu terbuka.

Akashi memasuki liang itu…dan menuruni tangga kecilnya satu per satu. Saat ia melangkah turun, cahaya dari Lower Ground mulai semakin remang-remang, hanya meninggalkan bayangan yang menempel pada sosoknya.

Ketukan langkah kaki mereka semua masih terdengar jelas, terutama karena mereka sedang menuruni tangga.

“Yang menunggu di sana adalah Tuan Kazama, Boss,” ujar salah satu dari delapan pria itu. Dia berjalan tepat di belakang Akashi, di balik bahu kanan Akashi.

Akashi tersenyum. Senyumnya terlihat begitu tenang. Rileks.

Dia pun mengangguk.

 

“I see.”

 

Tak lama kemudian, mereka pun sampai. Tangga itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang lebih kecil. Ruangan itu memiliki getaran yang sama dengan Lower Ground; semua areanya berwarna hitam, tetapi udaranya jauh lebih dingin. Selain itu, ada bau besi yang cukup pekat di sana.

Lampu neon pucat tergantung di langit-langit ruangan. Dinding sebelah kanan dan kiri ruangan itu dipenuhi dengan relief.

Akashi menghentikan langkahnya tatkala telah menjejaki ruangan itu. Di depan sana, di tengah-tengah ruangan…

 

…ada seorang pria paruh baya yang terikat di sebuah kursi besi.

 

Pria itu sudah terlihat babak belur. Wajahnya bengkak dan membiru. Kepalanya berdarah. Gigi depannya lepas. Dia memuntahkan darah tepat ketika Akashi datang. Di samping pria itu, berdirilah Kazama, seorang capo dari area itu. Kazama sedang menyeringai; dia memegang sebuah pisau seraya menjambak rambut pria itu. Anak-anak buah Kazama berdiri di sekeliling ruangan.

Begitu menyadari kedatangan Akashi, Kazama beserta seluruh anak buahnya langsung menghadap ke depan. Mereka menunduk hormat kepada Akashi…lalu menyapa Akashi serentak.

 

“Selamat datang, Boss.”

 

Akashi mengangguk singkat. Mata merahnya justru menatap pria paruh baya yang sedang terluka di tengah-tengah ruangan itu. Rambut pria itu ikal. Tubuhnya gemuk. Dia memakai suit, tetapi percuma saja karena jas dan kemejanya dipenuhi dengan darah dari mulutnya sendiri.

Meskipun sedang sekarat, begitu melihat Akashi…pria itu langsung bergidik. Dengan rasa takut yang naik sampai ke ubun-ubun, pria itu langsung membungkuk di kursinya dan berkata dengan suara yang bergetar. Dia hampir menangis; keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di keningnya.

“T—Tuan Akashi! Maafkan aku—kumohon maafkan aku!! Aku tidak bermaksud seperti itu, aku—”

Tamparan keras mendarat di pipi pria itu. Kazama menamparnya dengan sangat kuat. “Hei, hei… Jaga mulutmu di depan Boss. Kau pikir dengan siapa kau berbicara?”

“TOLONG MAAFKAN AKU, AKU—”

Kazama menamparnya dengan keras lagi. “DIAM!”

Setelah mendengkus, Kazama pun menoleh kepada Akashi dan menunduk hormat lagi. “Maafkan kami, Boss.”

Akashi hanya diam. Dia masih terlihat tenang. Sebuah senyuman tipis kembali terbit di wajahnya.

Salah satu pria di sana mulai mengambilkan sebuah kursi untuk Akashi. Kursi itu ia letakkan di dekat Akashi…dan Akashi langsung duduk di sana.

Jarak antara posisi duduk Akashi dengan pria paruh baya itu cukup jauh, sekitar tiga sampai empat langkah kaki pria dewasa. Namun, mereka berhadapan.

Akashi duduk bersandar. Kakinya bersilang. Jasnya ia letakkan di pangkuannya, lalu sikunya ia tumpukan di lengan kursi. Setelah itu, dia pun menjalin jemari tangannya.

Ia hanya diam di sana. Menunggu.

 Kazama lantas semakin menjambak rambut pria paruh baya yang tersiksa itu; dia menarik paksa kepala pria itu ke atas. “Jelaskan.”

Pria itu, Masahito, spontan mengangguk kencang. “Ya—ya!!! Tolong, tolong ampuni aku. Akan kujelaskan. Akan kujelaskan sekarang!!!”

Masahito atau Asahi adalah seseorang dari dunia politik. Dia adalah salah satu calon gubernur di provinsi itu…yang sedang sibuk berkampanye. Sebenarnya, dia sudah kalah beberapa kali, tetapi untuk yang kali ini, dia diekspektasikan untuk menang karena di-backing oleh Akashi. Dia kembali didudukkan di posisi calon gubernur itu oleh Akashi…setelah kalah beberapa kali dan bangkrut.

 Namun, ketika dia berpidato, berkampanye besar-besaran di depan para rakyat tadi pagi, dia sempat berkata:

 

“Aku akan menaklukkan para kriminal. Aku akan membasmi mereka semua. Keamanan provinsi ini akan sangat terjamin. Seluruh kriminal, baik perorangan, kelompok, maupun yang memiliki jaringan yang sangat besar; kriminal yang bersembunyi…yang berkeliaran…semuanya akan ditangkap dengan cepat dan tanpa terkecuali.”

 

Oh, for God’s sake. Berhati-hatilah ketika berbicara.

Seharusnya Masahito tahu bahwa ada telinga di setiap sudut provinsi itu. Negara itu. Dia tidak sendirian. Dia tidak berada di posisi tertinggi walaupun dia sedang berada di atas panggung.

Meskipun dia berdiri di balik mimbar, kontrol bukan berasal dari dirinya. Dunia tidak berputar di sekitarnya.

Tentu ada banyak mata yang mengawasinya…dan semua mata itu dipimpin oleh sepasang mata merah. Penguasa di balik layar.

Paginya dia berpidato seperti itu…malamnya dia sudah berada di ruang bawah tanah ini, dalam keadaan sekarat, dan memohon ampun dengan putus asa. Seharusnya dia tahu bahwa dia akan menjadi daging cincang tepat ketika dia berbicara seperti itu. Imut sekali. Dia pikir dia bisa bermain di papan catur milik orang lain.

Masahito pun mulai berbicara—hampir berteriak—dengan suara yang sangat serak; suaranya hampir habis. Napasnya sesak. Suaranya sumbang. Matanya membulat penuh, keadaannya begitu berantakan. Darah segar terus keluar melalui ludahnya yang memuncrat ketika ia berteriak. Wajahnya bengkak sana sini. Dia ketakutan dan panik setengah mati.

“Orpheus!!!” teriaknya. “Orpheus menyuruhku untuk mengatakan itu! Ketua Orpheus tiba-tiba mendatangiku dua hari yang lalu dan mengancam untuk membunuh istriku. Ampuni aku, Tuan, tolong ampuni aku!! Istriku dalam bahaya. Kumohon! Dia juga mengancam untuk membunuh seluruh keluargaku jika aku memberitahu ini padamu. Aku tak tahu harus melakukan apa, Tuan, kumohon!! Kumohon ampuni aku!! Mereka mengikutiku!!”

Masahito menangis kencang. Teriakannya terdengar begitu menyedihkan. Pathetic. Tubuhnya bergetar. Tangannya yang terikat itu terkepal kencang. Dia memohon-mohon kepada Akashi seperti seekor anjing.

Akan tetapi, begitu mendengar semua penjelasan itu…

 

Akashi tersenyum.

 

Dia mulai membuka suara setelah lama hanya diam. Suaranya halus, serak, seksi…tetapi menusuk. Mematikan dan tak berbelas kasih. Suaranya menggema di ruangan hitam itu dan sukses membuat tubuh semua orang di sana spontan mematung. Jantung mereka seolah-olah berhenti berdetak.

 

“I am keeping my mouth silent, Masahito.”

 

Masahito tersentak. Matanya melebar sempurna begitu mendengar suara itu. Suara yang sangat tenang…tetapi mampu membuat nyalinya ciut seketika.

Setelah itu, Akashi pun melanjutkan.

 

“But when I’m irritated, I bite.”

 

Bulu kuduk Masahito kontan meremang.

 

Di momen itu, saat itu juga, Masahito langsung membungkukkan tubuhnya kembali, jauh membungkuk ke depan hingga wajahnya sejajar dengan lututnya. Dia tak peduli dengan rambutnya yang masih dicengkeram oleh Kazama. Instingnya untuk bertahan hidup langsung bekerja; dia berada dalam situasi hidup dan mati…karena terperangkap di depan seekor binatang buas.

 

Predator.

 

Masahito berbicara dalam tempo yang sangat cepat karena panik. Sebuah erangan tanpa sadar keluar dari tenggorokannya; napasnya pendek-pendek dan tubuhnya bergetar hebat. “T—Tuan, maafkan aku. Maafkan aku!! Tolong aku, Tuan, kumohon! Aku diawasi oleh anggota Orpheus. Aku tahu aku bukan anggota Kaiser Clan, aku belum berada di bawah sayapmu, tetapi kumohon…kumohon ampuni aku.”

Mendengar itu, Akashi hanya diam. Ruangan itu terasa cukup sunyi, hanya ada erangan dan tangisan Masahito yang menggema di sana. Punggung Masahito berguncang; dia berusaha untuk melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Dia ingin bangkit dari kursi itu dan berlari ke depan Akashi untuk bersujud.

Dia tak mau keadaan ini terus berlanjut. Dia tak mau merasa seperti berada di ujung tanduk begini. Dia tak mau mati!!!

Beberapa detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.

 

“Wipe him out.”

 

Tiba-tiba, Kazama langsung melempar pisau yang sejak tadi ia pegang di tangan kanannya. Dia pun mengambil sebuah pistol dari balik jaketnya dan tepat saat itu juga, Masahito meraung histeris. Suara pria itu memecah keheningan seperti petir yang memekakkan telinga.

“No—NO!! NO!!! PLEASE—PLEASE FORGIVE ME!!! I DIDN’T MEAN—”

 

BOOM.

 

Terdengar suara tembakan keras di dalam ruangan itu. Satu peluru sukses menembus kepala Masahito.

Masahito ditembak di bagian kepala dan mati di tempat.

Tubuh pria itu roboh, tertolak ke samping. Badannya langsung berhenti bergerak. Dia mati dalam keadaan yang mengenaskan; matanya memelotot dan mulutnya menganga.

Akashi dan semua orang yang ada di sana menyaksikan adegan itu tanpa ekspresi di wajah mereka. Datar…dan sangat tenang. Hening. Hanya ada suara tetesan darah yang jatuh ke ubin dingin itu.

Setelah proses eksekusi itu selesai, Kazama pun mendengkus.

How stupid, pikirnya. Masahito baru saja mendapatkan uluran tangan dari Akashi, tetapi agaknya dia tak tahu di mana dia sedang berpijak. Dia memberanikan dirinya untuk menjangkau Akashi, tetapi tidak menggali lebih dalam tentang dunia bawah. Jika kau berani ‘masuk’ ke dunia bawah, setidaknya kau harus tahu jaringan atau spider web macam apa yang ada di sana, seberapa luas jaringan itu, dan siapa-siapa saja yang mengaturnya. Apakah dia hanya mendekati orang yang ‘ia dengar’ paling kuat, tetapi tidak mencari tahu lebih dalam? Jika dia cukup pintar, seharusnya dia tahu siapa Orpheus (dan seberapa besar kedudukannya dibanding Kaiser Clan) serta apa yang harus dia lakukan jika mendapat ancaman seperti itu.

Oh, Kazama jadi paham mengapa dia selalu kalah dalam pemilihan gubernur. Dia hanya sibuk memperbanyak lemak di tubuhnya. Otaknya kosong.

Tiba-tiba, terdengarlah sebuah suara yang composed, tetapi tajam.

Suara yang sangat Kazama kenali.

 

“Kazama.”

 

Kazama tersentak. Pria bertubuh tinggi dan kekar itu langsung menoleh ke asal suara. Di sana ia melihat sang penguasa tanpa mahkota. Shadow emperor of the world. The most dangerous man alive…tetapi ia memutuskan untuk tunduk di bawah kaki pria itu.

Rasanya, tiap kali pria itu berbicara, suaranya langsung mengirimkan getaran ke tulang belakangmu.

“Ya, Boss.” Kazama menunduk sejenak (sebagai tanda hormat), lalu ia kembali mengangkat wajahnya untuk menatap mata merah Akashi.

Akashi memiringkan kepalanya.

“Mengapa kalian tidak langsung menghabisinya? Hal seperti ini tidak perlu dilaporkan padaku.”

Mata Kazama melebar. “Oh. Maafkan aku, Boss. Aku ingin Anda mendengar sendiri kebohongan yang keluar dari mulutnya. Aku tadi sudah mencoba untuk menelepon Anda beberapa kali, tetapi tidak tersambung… Untungnya, teleponku yang terakhir bisa tersambung padamu.”

Ah, itu tidak tersambung karena Akashi sedang bersama Mei. Mengantar Mei pulang.

Akashi bernapas samar. “Dia hanya rekanan. Bukan bagian dari keluarga kita. Habisi saja.”

“Baik, Boss.” Kazama kontan menunduk hormat, diikuti oleh seluruh anggotanya. Suara Kazama terdengar sangat tegas. “Maafkan kami.”

Akashi diam. Dengan tenang, dia kembali memegang jasnya dan mulai berdiri. Dipandanginya dinding hitam yang ada di ujung sana; dinding yang berhadapan dengannya. Di dinding itu terdapat relief sebuah tangan yang memegang seekor ular.

“Orpheus, ya?” ujar Akashi pelan. Matanya menatap relief itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, satu hal yang pasti adalah: kilat di matanya terlihat begitu tajam…seolah-olah bisa mengulitimu di tempat.

Akashi pun berbalik. Kazama mengangkat kepalanya, menatap punggung tegap Akashi yang lebar itu seraya menunggu apa yang akan Akashi katakan selanjutnya.

Beberapa detik kemudian, suara Akashi pun kembali terdengar.

 

“Kazama,” ujarnya. “Ambil semua uang yang kuberikan pada Masahito…serta yang dia selundupkan dariku. Setelah itu, bunuh istrinya. Mereka bekerja sama.”

 

Mata Kazama membeliak.

 

******

 

Mei berendam di bathtub sambil melamun. Gadis itu tak bergerak untuk membersihkan tubuhnya sama sekali; dia hanya duduk diam di bathtub itu, matanya menatap ke depan, tetapi pikirannya melayang hingga ke angkasa.

 

“I like feisty.”

“Memangnya aku seperti apa, Mei?”

“Forgive me. I just enjoyed talking with you. Couldn’t help myself.”

“Okay, Princess. I won’t do it again.”

“Baru kali ini ada yang memanggilku dengan akhiran -kun. Ternyata, aku cukup menyukainya.”

“Bagaimana dengan pacar?”

“Tidakkah kau terlalu cantik untuk menjadi single?”

“I can honestly say that evading any kind of flirting whatsoever seems to be a skill of yours, Mei.”

“Your boyfriend is one hell of a stupid person.”

“Suit yourself, my lady. May I offer you a ride?”

“I will drop a woman off right in front of her house, my lady, to ensure her safe return.”

“Kau tidak akan pernah merepotkanku, Mei.”

“Looking forward to meeting you next time.”

 

Oh, damn it. Deretan kata-kata itu masih Mei ingat dengan jelas, tanpa cacat sama sekali. Suara dan ekspresi Akashi saat mengatakan itu juga terekam jelas di benak Mei. It’s very haunting. Sekarang, ketika Mei pikir-pikir lagi…itu bukan konversasi biasa. Itu flirting, ‘kan?! Akashi jelas-jelas menikmati semua itu; dia berendam di dalam sensasinya. Sial. The audacity of that man!! Is he a flirt machine?!

Pria itu benar-benar menghancurkan segala pertahanan Mei. Dia menginvasi pikiran Mei tanpa izin. Itu ilegal. Mei harus menelepon pihak berwajib. Pria itu sungguh berbahaya untuk jantung dan keperawanannya. Eh, tunggu. Bukan keperawanan. Dia takkan memberikan keperawanannya kepada seorang pria secepat itu. Let’s call interpol immediately. Or 911. Oh, no. This is not America. Let’s call 110 then.

Oke, wait. Tenang dulu. Setidaknya jangan menghubungi pihak berwajib dalam keadaan telanjang.

Mei pun menghela napas. Dia mulai bersandar di bagian kepala bathtub-nya.

 

Today is a long day. Periodt.

 

Pertemuan dengan Akashi…terasa seperti instant attraction. Mei menatap air yang agak beriak di atas tubuhnya dengan tatapan kosong, soalnya pikirannya masih ada di awang-awang. Lebih tepatnya, pikirannya tersangkut di sepasang mata merah yang tadi sore memenjarakan tubuhnya.

Tiba-tiba, Mei teringat bagaimana dia bertanya pada Akashi:

 

“Apakah kau merupakan anak seorang raja, bangsawan, atau sesuatu sejenis itu?”

“Apakah kau memimpin sesuatu? Apa saja, pokoknya memimpin sesuatu. Do you?”

 

…dan Akashi tertawa. Pria itu bahkan sampai bercanda dengan menyebut Ranger Merah. Sialan!! Apa hubungannya Power Rangers dengan semua ini?! Leave Power Rangers out of this, you sexy red-eyed menace!!!

Pipi Mei spontan memerah. Oh, Tuhan, Mei malu sekali!! Mengapa pertanyaannya jadi terdengar begitu konyol?! Lagi pula, mana ada kerajaan di kota ini! Sialan, Mei harus memberi pelajaran kepada mulutnya sendiri. Dia harus menampar mulutnya sepuluh kali setelah mandi nanti. Satu tinjuan di pipi kanan sepertinya juga bagus.

Mei pun menunduk dan menenggelamkan wajahnya ke air. Hal itu memunculkan gelembung-gelembung ke permukaan. Pipinya memanas…seolah-olah akan mengeluarkan asap. Dia harus mendinginkan wajahnya (atau bahkan seluruh bagian kepalanya) sebelum mengutuk dirinya sendiri dengan boneka voodoo yang dia simpan di laci meja riasnya. Saat SMA, dia membeli boneka voodoo itu iseng-iseng karena ingin mengutuk gadis dari kelas sebelah yang mencoret-coret tasnya.

Ah, pokoknya, Mei benar-benar kesal sekaligus malu dengan keadaan ini…tetapi di sisi lain, dia sangat penasaran dengan Akashi Roan Kaiser. Dia terus-menerus memikirkan pria berambut merah itu.

His mysterious and majestic vibe. His alluring red color that screams danger.

Everything seems like…a natural disaster.

 

******

 

Keesokan harinya, Mei pergi bekerja seperti biasa. Gadis itu berjalan santai ke kantornya, melewati pedestrian walkway yang tidak terlalu ramai. Mei tinggal di kota yang penduduknya tidak banyak, jadi meskipun ini adalah jam-jam di mana masyarakat keluar rumah untuk bekerja atau ke sekolah, di daerahnya jalanan terasa cukup lengang.

Pagi ini, Mei hanya ingin meredakan stres dan kelelahan mental yang timbul akibat memikirkan Akashi, that sexy beast.

Entah karena stres atau apa, hari ini tubuh Mei kurang fit. Dia tidak semangat seperti biasanya. Kejam sekali hidup ini. Beberapa hari yang lalu, dia stres karena patah hati. Sekarang, dia stress karena memikirkan Akashi. Lord, please have mercy.

Kaki Mei juga sakit. Biasanya, dia akan baik-baik saja mengenakan high heels ke kantor. Mengapa hari ini segalanya terasa melelahkan? Kakinya pun jadi ikut-ikutan sakit.

Panas matahari terasa sangat menyengat di trotoar tempat Mei berjalan. Mei bersyukur akal sehatnya masih menuntunnya untuk membawa deodoran hari ini. Dia memang tak pernah bisa bertahan dengan panas. Siapa pun yang memutuskan untuk memalsukan laporan cuaca hari ini pantas menderita. Seperti kehilangan uang lima puluh ribu yen atau celananya robek di depan umum.

Seharusnya suhu di luar hari ini sekitar tiga puluh derajat. Bukan seratus derajat.

Tiba-tiba, suara mesin yang bergemuruh pelan membuat Mei terkejut. Mei menoleh ke sumber suara.

Sumber suara itu adalah sebuah mobil Lamborghini Aventador berwarna hitam. Mobil itu terlihat sangat seksi, tetapi di sisi lain juga terlihat…misterius dan futuristik.

Mei tersentak. Mobil itu berhenti di sebelahnya, membuatnya refleks ikut berhenti berjalan. Sejak kapan ada mobil semewah ini di kotanya? Siapa pemilik mobil ini? Alis Mei langsung menyatu.

Satu detik kemudian, jendela mobil itu diturunkan.

Oh, sial. Tuhan memang tak pernah benar-benar berada di pihak Mei sejak dua hari yang lalu. Tatkala jendela mobil itu diturunkan, Mei langsung melihat objek lamunannya belakangan ini…tengah duduk di dalam mobil itu. Mengendarai mobil itu.

 

Akashi Roan Kaiser.

 

Akashi duduk di dalam mobil itu, sebelah tangannya memegang roda kemudi dan Goddammit, itu terlihat sangat seksi. Lengan kemejanya yang tergulung hingga ke siku, jam tangannya, urat-urat di lengannya…

Sialan. Mei hampir menganga.

 

“Good morning, Mei.”

 

Siaaaaaal! Haruskah Mei rekam suara itu untuk alarmnya di pagi hari?!

Oke, sial. Tidak. Bukan begitu konsepnya. Itu agak menyeramkan. Memangnya Mei seorang stalker?!

 

Pura-pura tak terpengaruh, Mei pun menjawab dengan nada datar, “Selamat pagi juga, Akashi.”

Akashi tersenyum.

“Off to work?” tanyanya.

Mei rasanya ingin memutar bola mata. Ya iyalah! Ini hari kerja, lho, bukan weekend! Akashi benar-benar harus disingkirkan dari dunia ini sebelum Mei sendiri yang akan menyingkirkannya. Mei akan mengurungnya di dalam lemari.

Ekhem.

“It is a Thursday, Akashi-kun, not the weekend.” Mei deadpanned.

Akashi tertawa kecil. “Masih pakai -kun, ya.”

Oh, sial. Berhentilah tertawa seperti itu atau hati Mei akan benar-benar tercuri.

“Kau kelihatannya sangat lelah. Butuh tumpangan?” Akashi sedikit menyipitkan mata; dia memeriksa Mei dengan saksama.

Namun, tentu saja, Mei akan menolak ajakan itu. Cukup kemarin saja Mei menerima ajakan Akashi dan berakhir stres sendiri karena terus melamunkan Akashi di apartemennya. Hari ini, kejadian itu takkan terulang. Ia takut jatuh cinta pada Akashi.

“Tidak usah, Akashi. Aku baik-baik saja. Aku berjalan kaki setiap hari.” Mei berdeham, pura-pura membersihkan tenggorokannya.

“Oh, begitu.” Akashi tersenyum miring. “Kau tidak membawa kendaraan?”

Mei mendengkus. “Aku tidak punya kendaraan. Lagi pula, untuk apa kendaraan kalau kantorku dekat? Segala yang kubutuhkan ada di dekat sini. Aku tak terlalu memerlukan kendaraan.”

Akashi tertawa kecil. Sepertinya, dia telah membuat Mei sedikit kesal. Meskipun demikian, dia tetap berbicara.

“Are you okay? Aku agak khawatir denganmu. Langkahmu tampak semakin berat. High heels tidak dirancang untuk berjalan terlalu jauh seperti yang kau lakukan. What did you say again? You walk like this…every day?”

…fuck.

Aaarrrghhhh!!!!! Mei harus jawab apaaaa?!! Mengapa Akashi harus seteliti itu?! Bikin malu saja!!

Mei spontan membuang muka, pura-pura cuek, padahal dia hanya ingin menyembunyikan warna merah yang mulai menyebar di pipinya. “Langkahku baik-baik saja, Akashi. Mungkin karena hari ini sangat panas, kau jadi berhalusinasi. Itu berbahaya, Akashi, sebaiknya kau pergi ke rumah sakit sekarang.”

Akashi kontan tertawa.

 

Pria itu tertawa lepas.

 

Mei langsung menoleh kepadanya dan menatap tawanya itu dengan mata yang sedikit melebar. Diam-diam, Mei kembali mengagumi tawa itu. Dunia mendadak jadi lebih berwarna. Ada bunga-bunga, simbol hati, dan bulu-bulu lembut yang seakan-akan beterbangan di udara.

Sial. Itu indah sekali.

Selepas tertawa, Akashi pun kembali menatap mata Mei.

“Agaknya, daripada menerima rayuan atau bantuan dariku, kau lebih memilih untuk menuduhku tidak waras dan menyakiti kakimu sendiri,” ujar Akashi. Pria itu merasa sangat terhibur. “Namun, aku akan melewati Kantor Pelayanan Publik. It wouldn’t trouble me to give you a ride.”

Mei masih keras kepala. “Tidak usah, Akashi.”

Akashi memiringkan kepala. “I also have a vanilla milkshake in my car if you’d like.”

 

Mata Mei spontan membulat.

 

Did he just say vanilla milkshake?

 

******

 

Oh, Mei memang murahan sekali. Dia tergoda dengan iming-iming vanilla milkshake.

Sialan. Akashi memikatnya seperti: “Ada permen gratis, Nak.”, tetapi dengan gaya yang elegan.

Sekarang, dengan tanpa malu, dia malah meneguk minuman itu sambil menggoyang-goyangkan kakinya tatkala duduk di dalam mobil ber-AC milik Akashi.

Ah, vanilla milkshake di hari yang panas begini? Sempurna.

Terkutuklah Akashi beserta segala triknya.

Jas Akashi digantung di jok, tetapi dia masih mengenakan rompi abu-abu di atas kemeja putihnya. Tangan kanan Akashi berada di roda kemudi, sementara tangan kirinya beristirahat di tuas persneling. Musik dihidupkan dengan volume rendah.

Pakaian yang ia kenakan terlihat sangat pas di tubuhnya, seolah-olah diciptakan khusus untuknya.

Tidak, Mei tidak sedang memandangi area selangkangannya atau pahanya yang berukuran ideal. Tidak, Mei tidak melihat semua itu.

Tiba-tiba, Akashi membuka suara.

 

“Apa hobimu, Mei?”

 

Mei kontan batuk-batuk sambil menyembunyikan rona merah yang terkutuk yang sepertinya akhir-akhir ini mudah muncul di wajahnya.

Setelah batuk-batuk, Mei langsung menormalkan ekspresi wajahnya seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dia menatap ke depan, lalu menjawab, “Hobiku membaca, Akashi.”

Oh, semoga Akashi tidak sadar kalau Mei memperhatikannya.

Namun…tunggu sebentar. Pertanyaan Akashi tadi…agak di luar dugaan. Akashi bertanya soal hobi dengan santai, tiba-tiba, seperti menanyakan kabar harian. Siapa yang menanyakan hobi dengan cara seperti itu?

 

Akashi, apparently.

 

“Oh ya?” Akashi menoleh kepada Mei sejenak dan tersenyum. “Apakah kau memiliki banyak koleksi buku?”

Mei pun ikut menatap Akashi, lalu menggeleng. “Tidak juga. Aku lebih suka membaca buku di perpustakaan atau toko buku. Aku sering pergi ke toko buku yang ada di daerah sini.”

Akashi mengangguk seraya tersenyum. Dia tampak tertarik pada fakta itu. “That sounds just like you. Di mana lokasi toko bukunya?”

Oh, tidak. Mei tak mau memberitahu Akashi soal itu. Dia tak mau oversharing. Selain itu, dia juga takut waktu rileksnya jadi berantakan karena Akashi, padahal belum tentu Akashi akan mengganggunya di toko buku itu. Dia saja yang berlebihan. Terlalu percaya diri.

Seseorang harus menampar Mei sekarang juga agar dia sadar.

“Aku tak mau memberitahumu.” Mei menjawab seraya memasang ekspresi datar. “Yang jelas, ada di dekat sini. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.”

Akashi tertawa kecil, dalam dan rendah, hampir membuat Mei menelan ludah.

“Hm…” Akashi memiringkan kepala. Keningnya berkerut sedikit, lalu ia tersenyum. “It wouldn’t be hard for me to deduce which bookstore you visited, considering it’s a rather small area. Kau bilang kau tidak punya kendaraan. Kau juga bilang bahwa lokasinya ada di dekat sini. A walking distance, so Shouzen Bookstore, I presume?”

Mata Mei membulat. Jantungnya sempat hampir berhenti berdegup. Dia meneguk ludah, pipinya hampir merona akibat kejutan itu.

This guy was just as terrifying as he was hot.

Damn. Mengapa analisis dan observasinya itu terdengar…sangat seksi?

“That’s sort of creepy, Akashi-sama,” ujar Mei.

Akashi kontan tertawa.

“Forgive me for wanting to get closer,” jawab Akashi. “So...are you calling me with the suffix -sama now?”

Mei menghadap ke depan dan mendengkus. “Because you look like royalty or something.”

Akashi tersenyum miring. “Ini sudah kedua kalinya kau menyebutku bangsawan. Do I really look like one?”

“Yes, you do.” Mei menjawab seraya menoleh kepada Akashi. Ekspresinya benar-benar datar.

Akashi kembali tertawa kecil.

Dua detik kemudian, mobil Akashi mulai menepi di depan Kantor Pelayanan Publik. Mobil itu berhenti tepat di depan gedungnya.

Oh, mereka sudah sampai.

Mei pun menoleh ke samping, melihat kantornya yang sudah ada di depan mata. Mei menghela napas samar; di satu sisi, dia merasa lega karena akan segera lepas dari jebakan Akashi. Namun, di sisi lain, dia masih ingin memandangi jelmaan dewa seksi yang ada di sebelahnya itu.

Saat ini…penampilan Akashi tampak sangat menyegarkan mata. Dia selalu tampak flawless, megah, tetapi kalau dilihat pagi-pagi begini…

 

Double kill.

 

Baiklah, Mei, kau benar-benar harus keluar dari mobil ini.

 

Mei pun melepas sabuk pengamannya. Begitu sabuk pengaman itu terlepas, Mei berencana untuk mengucapkan terima kasih kepada Akashi dan langsung keluar dari mobil itu.

Namun, sayangnya, sebelum Mei sempat mengucapkan terima kasih, tiba-tiba saja Akashi mencondongkan tubuhnya ke arah Mei. Pria itu mendekati Mei, membuat Mei terkejut dan refleks mundur hingga punggungnya menabrak pintu mobil.

“A—Akashi?!”

Akashi memiringkan kepalanya, lalu tersenyum miring.

“Mei,” panggilnya dengan suara rendah. “Can I have your number?” []

 















******




Akashi, the menace you areeeeee😭😭😭









She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...