Sunday, April 5, 2026

Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

 


******

Chapter 5 :

Numb, Empty

 

******

 

SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang.

Pemuda itu sempat ragu-ragu ketika melepas Hea keluar dari mobilnya. Berkali-kali ia memegang pergelangan tangan Hea dan menatap Hea dengan tatapan memohon. Seluruh tubuhnya serasa menolak kepergian Hea.

Sebenarnya, penolakan itu adalah reaksi yang tak terhindarkan lagi. Ia sudah terlalu lama merasa frustrasi; ia bisa mati digerogoti rasa bersalah jika menemukan Hea hampir mati sekali lagi. Namun, ia dan Hea sudah sepakat untuk bertemu lagi besok lusa. Hea akan tinggal bersamanya besok lusa.

Artinya, malam ini hingga besok, Hea masih harus berada di dalam neraka itu. Rumah sialan itu.

Yohan sempat hilang kendali dan berkata kalau dia akan membelikan Hea pakaian saja (daripada harus mengambil pakaiannya kembali ke rumah itu), tetapi sayangnya, masalahnya bukan itu.

Ada barang peninggalan ibu Hea di sana. Hea harus mengambil kenang-kenangan itu. Sweater ibu. Syal ibu. Itu adalah barang-barang berharganya. Sisa-sisa kebaikan di rumah itu.

Akhirnya, dengan berat hati, Yohan pun menunduk dan mengalah. Dia pun membiarkan Hea keluar dari mobilnya, tetapi dengan satu syarat.

 

“Bawa boneka kecil ini bersamamu. Setidaknya untuk menemanimu malam ini,” ujarnya.

 

Hea melebarkan mata. Di telapak tangan Yohan, ada sebuah boneka stroberi kecil seukuran gantungan kunci. Boneka stroberi itu memiliki mata dan tersenyum manis.

 

Ah. Ternyata, di dunia ini… Hea masih bisa melihat benda selucu itu.

Kapan terakhir kali Hea melihat boneka, ya?

 

Hea pun menghela napas, tersenyum tipis… lalu mengangguk. Ia pun turun dari mobil Yohan setelah menerima boneka itu dan memasukkannya ke saku gaunnya.

Yohan memperhatikan Hea yang berjalan hingga ke teras rumah, lalu mereka saling mendadahi.

 

“Sampai bertemu lagi, Hea,” katanya.

 

Hea pun mengangguk.

Tak lama kemudian, setelah melihat mobil Yohan pergi menjauh, ia pun menghela napas dan berbalik. Jujur saja, begitu memegang gagang pintu rumah, tangannya bergetar hebat. Jantungnya langsung berdetak kencang.

Ketakutan yang luar biasa mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Otaknya mendadak memperlihatkan beberapa gambar kepadanya; beberapa memori yang muncul secepat kilat, sekilas-sekilas, bagaikan tayangan slide yang terus berganti.

 

Pencabulan yang Daejung dan Ayah lakukan padanya.

Tamparan. Tendangan. Pukulan.

“Pelacur sialan.”

“Tempat pembuangan sperma.”

“ANAK SIALAN!”

“Dasar tolol.”

“Nikmat sekali.”

“LAYANI AKU DAN DAEJUNG DENGAN BAIK!!”

 

Napas Hea langsung sesak. Perutnya bergejolak sampai ia ingin muntah. Tubuhnya langsung berguncang; dia hampir jatuh karena betisnya lemas.

Keringat dingin sebesar biji jagung mulai muncul di pelipisnya.

 

Bagaimana ini?

Apakah mereka ada di dalam?!!

Aku takut. Aku takut. Aku sangat takut.

Aku harus mengambil barang-barangku, tetapi aku takut.

Aku akan disiksa. Aku sudah tidak pulang selama dua hari.

Aku tak mau.

Yohan. Haruskah aku—

Tidak. Yohan sudah pulang.

Yohan sudah melakukan banyak hal. Dia akan muak padaku kalau aku kembali merepotkannya.

Aku harus masuk. Aku harus masuk dan mengambil barang-barangku.

Bukan. Barang-barang Ibu.

 

Untuk yang pertama kalinya—setelah bertahun-tahun—Hea merasakan kecemasan yang luar biasa.

Selama ini, Hea sering merasa seperti cangkang kosong, terdisosiasi ekstrem, terutama saat dia sedang meregang nyawa dan sudah pasrah ingin menyusul ibunya. Pada dasarnya, dia sudah menyerah. Itu seperti mekanisme pertahanan terakhir otaknya saat ia merasa tak ada jalan keluar lagi.

Namun, hari ini… Yohan memberikannya alasan untuk hidup. Yohan berjanji akan melindunginya. Agaknya, kesepakatan itu diam-diam memengaruhi batinnya. Dia jadi punya harapan dan rencana untuk masa depan. Oleh karena itu, insting bertahan hidupnya—yang memicu kecemasan dan teror itu—kembali aktif. Otaknya yang tadinya mati rasa (karena freeze/submit response) mendadak kembali aktif ke mode bertarung atau lari. Insting tubuhnya membunyikan alarm bahaya besar-besaran. Kini, rumah itu bukan lagi “tempat dia mati”, melainkan rintangan mengerikan yang bisa menggagalkan kebebasannya.

Dia takut harapan yang sekecil semut itu hancur begitu saja. Begitu tubuhnya mencicipi kehangatan, kembali ke tempat asal traumanya akan terasa berkali-kali lipat lebih mengerikan. Tubuhnya menolak keras untuk kembali ke neraka setelah sempat mencicipi sedikit surga.

Ironisnya, sekarang, di depan pintu rumah ini… logika Hea menyuruhnya untuk lari kembali ke Yohan. Namun, trauma itu membuatnya merasa tak pantas merepotkan Yohan lagi. Dia merasa harus menghadapi rumah itu sendirian demi mengambil barang-barang ibunya.

Meski tubuhnya bergetar dan lemas bukan kepalang, akhirnya Hea pun mencoba untuk berdiri tegap. Dia menelan getir beserta seluruh rasa takutnya, lalu membuka pintu itu.

 

Tidak apa-apa. Kau sudah sering diperkosa. Kau sudah sering disiksa.

Tidak apa-apa.

Satu hari lagi.

Satu hari lagi, Hea.

Kumohon.

Jangan mati.

Jangan ketahuan.

 

Cklek.

 

Hea mendorong pintu rumah itu ke dalam.

Gelap.

Rumahnya gelap.

 

Ke mana dua orang itu?

 

Tidak. Syukurlah. Setidaknya malam ini Hea tidak akan diper—

 

“Oh, lihat siapa yang baru pulang.”

 

Tubuh Hea spontan mematung.

 

“Sudah berani melacur di luar, huh?”

 

Hea lupa bernapas. Jantungnya bak berhenti berdetak.

Tidak. Setelah ini, dia pasti disiksa. Sebentar lagi, dia pasti akan—

“JAWAB AKU, GADIS JALANG!!!!” teriak ayah Hea dalam kegelapan. Hea tersentak, lalu tiba-tiba rambutnya ditarik. Ia langsung mendongak dan matanya membelalak penuh teror. “GADIS GILA, DI MANA KAU MELAKUKAN SEKS?!! SIAPA YANG MAU MENYETUBUHI VAGINAMU YANG SUDAH RUSAK ITU?!! KAU BERSETUBUH BINAL SEPERTI ANJING, YA?!! DI MANA KAU DUA HARI BELAKANGAN?!!!”

Seperti ada lembing yang menohok dada Hea tatkala mendengar hinaan demi hinaan itu. Vagina rusak. Bersetubuh seperti anjing.

Saking pedihnya hati Hea, mulutnya refleks terbuka dan napasnya terputus-putus. Air matanya keluar tanpa bisa direm, tetapi kelopak matanya terbuka lebar. Lebar sekali seolah-olah ia terkejut menghadapi neraka, padahal ia sudah terbiasa terkena panasnya.

Oh, lihat, betapa berbahayanya sebuah harapan manis.

Ayah Hea langsung menarik paksa Hea—dengan menjambak rambutnya—ke area dinding di belakang pintu.

“AYAH!!! AYA—”

 

Duagh!

 

Mulut Hea seketika berhenti berteriak. Kepalanya dibenturkan ke dinding dengan kuat.

 

Duagh!!!

 

Darah mulai mengucur dari kepala Hea. Tubuh Hea tak lagi punya kendali. Matanya sudah mengabur. Dunia di sekitarnya sejak tadi sudah gelap, tetapi kali ini mulai berbayang-bayang. Kepalanya seakan-akan berputar tanpa henti. Saat ia hampir tumbang ke lantai, ayahnya yang sedang mengamuk itu kembali menyeretnya. Menarik rambutnya hingga ke kamar.

“AYAH—” Hea berhasil menemukan suaranya meskipun kepalanya sakit luar biasa. Tadi, matanya mungkin ikut terbentur, soalnya sekarang ia tak bisa melihat dengan jelas. Ruang tamu yang ia lewati terlihat seperti garis-garis abstrak. “AYAH!! AKU MINTA MAAF, AYAH!! TOLONG! TOLONG, AYAH, AKU TIDAK MELACUR, AKU—”

 

Bugh!!

 

Tubuh Hea langsung terempas ke ujung kamar, menabrak kaki meja. Tendangan ayahnya yang sangat kuat itu membuat Hea langsung membungkuk dan memuntahkan semua isi perutnya. Suara muntahnya bercampur dengan teriakan dan erangan nelangsa, seperti hewan yang sedang sekarat. Matanya yang memelotot itu terus mengeluarkan air mata. Perutnya seperti diperas oleh tangan tak kasat mata, memaksa segala isinya keluar, menyisakan rasa terbakar yang membakar tenggorokan hingga ke ubun-ubun.

Tidak. Jangan. Aku harus menghindar. Aku tak mau mati. Aku tak mau—

 

Bugh!!

Plak!!

 

Pipi Hea ditinju dan ditampar.

 

“JALANG TOLOL!!”

 

Duagh!!

 

Kepala Hea ditendang hingga membentur kaki meja.

“KAU PIKIR SIAPA YANG MEMBERIMU MAKAN?!!” teriak sang ayah. “BUKANNYA DIAM SAJA DI RUMAH, MALAH MELACUR SEPERTI ANJING BINAL!! SUDAH SYUKUR AKU MAU MENGURUSIMU!!! TAHU BEGINI, HARUSNYA KAU MATI SAJA MENYUSUL IBUMU ITU!!”

 

Memberiku makan?

…kapan?

Terakhir kali aku makan adalah beberapa hari yang lalu. Itu adalah makanan sisa waktu mereka memaksaku memasak setelah memerkosaku.

Mati menyusul Ibu?

Bukankah itu yang selalu kuusahakan selama ini?

Bukankah itu justru lebih baik daripada diam di rumah ini?

 

“SINI!!” teriak ayah Hea seraya merobek seluruh pakaian Hea. “KAU MAU JADI ANJING BINAL, HAH? SINI. BIAR AYAHMU YANG MENYODOK VAGINA PELACURMU ITU!!! DASAR ANAK TAK BERGUNA!!!!”

Hea memberontak mati-matian. Dia menendang, mendorong, mencoba untuk merangkak ke samping, tetapi tubuh dan kepalanya terus-menerus dipukul. Kepalan tangan ayahnya itu jauh lebih kuat daripada tubuh lemahnya, terutama dia baru keluar dari rumah sakit. Gaun lusuhnya langsung dilempar sembarangan ke tengah ruangan.

Boneka stroberi pemberian Yohan pun terlepar ke ujung. Menggelinding dan menabrak dinding kamar. Tergeletak dengan malang di sana.

Namun, Hea jelas tak memperhatikan semua itu.

“AYAH, AKU TIDAK MELACUR! AYAAH!!!!! AYAH, AMPUNI AKU!! AKU KEMARIN—”

“DIAM, BANGSAT!!!!”

 

Bugh!!

 

Dengan tinjuan terakhir itu, tubuh Hea pun tersungkur ke lantai sepenuhnya. Kepalanya tertolak ke samping dan pipinya membiru.

Tubuhnya mulai sulit digerakkan. Pandangannya hampir menghitam, bahkan siluet biadab ayahnya tak bisa lagi ia lihat dengan jelas. Yang ia tahu, tubuhnya mulai dibuat tengkurap, lalu bokongnya diangkat ke udara.

 

Setelah itu, dia benar-benar disetubuhi seperti anjing.

 

Mata Hea mulai kembali terlihat seperti mata ikan mati meskipun ada air mata yang mengalir dari sudutnya. Kepala dan hidungnya berdarah.

Tubuh telanjangnya juga merah-merah, sebentar lagi akan membiru seperti wajahnya. Tubuh kurusnya—yang tampak seperti boneka bekas dari tong sampah itu—sedang diperkosa oleh Ayah.

“Oh, nikmat sekali kau, pelacur sialan,” umpat sang ayah. “Kau dengar ini. Sekali lagi kau TIDAK PULANG KE RUMAH HANYA UNTUK MENEMUI PRIA DI LUAR SANA ATAU SIAPA PUN ITU, AKU DAN DAEJUNG AKAN MEMBUNUHNYA!! DASAR ANAK TAK TAHU DIUNTUNG!”

Setelah ‘membuang’ spermanya, sang ayah pun langsung mendorong tubuh Hea dengan kasar, lalu bangkit dan keluar dari kamar.

Namun, begitu punggung Ayah pergi menjauhi kamar, alih-alih disambut oleh kekosongan… Hea justru melihat Daejung di ambang pintu.

Ternyata, pemuda itu sudah berdiri bersandar di sana sejak tadi. Dia menonton semuanya sambil menyeringai. Begitu Ayah keluar, dia pun masuk, menutup pintu, dan berkata:

 

"Sekarang giliranku."

 

Ah.

Haha.

Konyol sekali.

Mereka benar.

Aku memang tolol.

Harapan kecil dari Yohan tak seharusnya membuatku terlena.

Betapa pun hangatnya Yohan,

… seharusnya aku tetap tak terpengaruh.

Duniaku jauh, jauh lebih gelap dan dingin daripada kehangatan Yohan.

Surga kecil itu tak seharusnya membuatku lupa siapa diriku dan dari mana aku berasal.

Penganiayaan ini selalu terjadi. Mengapa aku jadi lemah dan cemas begini?

Terima kasih atas tawaranmu, Yohan.

Sepertinya, aku takkan melihat hari esok.

Sepertinya, aku takkan bisa bertemu denganmu lusa nanti.

Aku lupa bahwa sebenarnya yang menungguku bukanlah harapan,

…melainkan kematian.

Aku sudah hampir mati beberapa hari yang lalu, tetapi mendadak aku lupa bahwa itu sudah menjadi ritual rutinku.

Tolol sekali.

 

******

 

            Sepeninggal Ayah dan Daejung, tubuh Hea terbujur kaku—tengkurap—di kamar itu sendirian.

            Pemerkosaan itu berlangsung entah berapa lama. Sepanjang itu pula, Hea benar-benar terlihat seperti mayat hidup. Matanya membelalak dan tak berkedip. Tubuhnya penuh luka bekas tamparan, cengkeraman, dan tinjuan.

            Di sekitar tubuhnya tersebar muntahan, air liur, dan juga sperma. Dia terlihat sama menjijikkannya dengan ketiga cairan itu.

Bau. Bau sekali.

Semuanya bau, terutama dirinya.

Akan tetapi, meski kepalanya sudah berdarah-darah, rupanya napasnya belum berhenti.

 

Tuhan, mengapa Engkau sekejam ini padaku?!! Mengapa rasanya sulit sekali untuk mati?!!

Apa Engkau senang melihatku menderita?!

Apakah ini hiburan bagi-Mu?!!

 

Mati harusnya tinggal mati. Mati harusnya tak sesulit ini.

Tubuh Hea mulai mati rasa. Dia bak seonggok daging tanpa roh, tetapi masih hidup.

 

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

 

Akhirnya, Hea teringat sesuatu.

 

Ah.

Iya.

Ayo menuju ke sana.

Ke kematian itu.

 

Meski fungsi tubuhnya seperti tak bekerja, seperti terputus kabelnya, Hea tetap mencoba untuk bergerak. Dari dahulu, kematian memang selalu menjadi motivasi utamanya untuk bergerak.

 Benar. Inilah dunianya.

Surga yang Yohan tunjukkan tadi…

 

…hanyalah ilusi.

 

Perlahan, Hea pun bangkit duduk. Tubuh—terutama kedua kakinya—langsung bergetar hebat. Setengah mati, ia memajukan tubuhnya yang terasa selunak plastisin. Ia meraih asal gaunnya yang usang—yang dirobek Ayah tadi—lalu memakai gaun itu tanpa memedulikan kancingnya yang terlepas.

Setelah itu, ia mulai mencoba untuk berdiri.

Ia jatuh berkali-kali. Tubuhnya tak seimbang. Berat. Lemas.

Seperti bayi.

Namun, bayi… tidak kotor seperti dirinya.

Ia bangkit, jongkok…

 

…dan jatuh lagi.

 

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

 

Di kali keempat, ia mulai berhasil berdiri, tetapi kembali terduduk dengan menyedihkan.

Vaginanya sangat sakit.

Namun, seperti tengkorak hidup, ia akhirnya berhasil berdiri setelah mencoba sekitar enam kali.

Setelah itu, ia mulai berjalan tertatih-tatih menuju jendela.

 

Mati.

Mati.

Ayo mati.

 

Hea membuka jendela, memanjat kosen jendela itu, lalu menjatuhkan dirinya ke tanah berumput di luar rumah.

Ia pun mulai melangkah menjauh.

Udara malam itu terasa dingin sekali. Dinginnya menusuk tulang, tetapi Hea tidak menggigil sama sekali. Kulitnya tak merasakan apa pun. Ia terus dan terus berjalan dengan kaki telanjangnya, menyusuri jalanan desa yang gelap gulita. Tatapannya lurus ke depan, menembus kegelapan malam.

Tak lama kemudian, sebuah suara keluar dari bibirnya yang pucat dan kering. Awalnya, suara itu hanya berupa embusan napas singkat, tetapi lama-kelamaan, embusan napas itu…

…berubah menjadi kekehan kecil.

Hingga akhirnya, tawanya pecah.

Hea benar-benar tertawa. Langkah kakinya masih tertatih-tatih, sedikit terseret, tetapi ia terus tertawa di jalanan yang sepi itu. Tawanya semakin lama semakin kencang. Menggema. Memecah kesunyian malam.

Tawa itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Itu adalah tawa nestapa dari sebuah kewarasan yang baru saja terputus sepenuhnya. Tawa dari seseorang yang sudah menyerah pada kenyataan bahwa tidak ada tempat baginya di dunia ini.

Seperti sedang menertawakan diri sendiri… yang sempat percaya bahwa surga itu ada.

Tatkala tawa hampa itu menggema semakin keras, ada cahaya lampu mobil yang menyoroti tubuh Hea dari depan. Satu detik setelah itu, terdengarlah suara ban mobil yang bergesekan dengan jalan, berhenti tak jauh di depan Hea.

Pintu pengemudi mobil itu terbuka dengan kasar.

 

"HEA!!!"

 

Oh. Itu suara Yohan.

Namun, Hea tampak tak terganggu. Tatapannya masih kosong; tawanya masih terdengar. Ia bahkan masih berjalan.

Sirkuit otaknya bak sudah rusak total.

Yohan berlari ke arahnya. Wajah pemuda itu tampak tegang; dia panik bukan main. Matanya membeliak ketika melihat Hea yang berjalan terhuyung sambil tertawa mengerikan. Gaun Hea acak-acakan dan robek sana sini. Tubuh gadis itu bergetar, tetapi matanya benar-benar mati.

"HEA?! HEA!!!” teriak Yohan seraya mengguncang bahu Hea. Namun, Hea tidak meresponsnya sama sekali.

“HEA!! Oh, Tuhan…!!" Suara Yohan pecah seketika.

Yohan tak memedulikan apa pun lagi. Pemuda itu langsung merengkuh tubuh kotor Hea ke dalam pelukannya yang hangat dan erat. Memenjarakan tawa sinting itu di dadanya. Tanpa perlu bertanya apa yang terjadi, ia pun langsung menggendong Hea, membawa gadis itu masuk ke mobil, dan membawanya pergi jauh dari sana.

Malam itu, Song Hea telah kehilangan segenap kewarasannya. []

 














******














Friday, March 27, 2026

Be His Mistress (Chapter 5: Take a Step Closer)

 


******

Chapter 5 :

Take a Step Closer

 

******

 

LANGIT telah menghitam tatkala Kanna berjalan berdua bersama Riley di trotoar. Karena sekarang adalah bulan Desember (musim dingin), langit sudah gelap meski masih jam lima sore. Matahari sudah terbenam sekitar jam empat tadi. Lampu-lampu jalan sudah menyala terang, berusaha untuk mengusir kegelapan, tetapi sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.

            Kanna mendongak, menatap wajah Riley. Saat ini, Riley tengah memandanginya dengan penuh… perhatian. Lembut sekali. Tadi, pemuda itu langsung menggenggam tangan Kanna begitu Kanna berlari menghampirinya di depan kantor.

            Tersenyum lembut, Kanna pun mulai bertanya, “Sudah menunggu lama, ya?”

            Riley ikut tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Tidak, kok. Aku baru sampai.”

            Kanna menghela napas lega. “Syukurlah. Aku jadi merasa tidak enak padamu, soalnya cuacanya dingin sekali…”

            “Aku baik-baik saja, Kanna,” ujar Riley. Kedua matanya tertutup dan melengkung, seolah-olah ikut tersenyum. Dia terlihat begitu damai. Begitu senang. “Entah mengapa, setiap bersamamu… tubuhku terasa hangat.”

            Pipi Kanna merona. Entah karena kedinginan… atau karena kata-kata Riley.

            “Lagi pula…” Riley mengeratkan genggamannya. “Aku justru khawatir bila membiarkanmu pulang sendirian di cuaca dingin seperti ini.”

            Kanna tersenyum malu. Gadis itu mulai menunduk, melihat jalinan jemari mereka. Tangannya digenggam oleh Riley. Jemari Riley yang panjang itu terjalin dengan jemarinya.

            Kulit Riley memang cenderung putih pucat, cool tone. Namun, kulit itu jadi sedikit kontras dengan kulit Kanna yang berubah sedikit kemerahan ketika cuaca dingin.

            Kalau dari suhu tangannya… agaknya Riley memang belum menunggu lama. Soalnya, tangannya tidak begitu dingin. Normal. Tidak dingin dan tidak hangat.

Kanna mendongak lagi, lalu berkata, “Aku pakai syal dahulu, ya, Riley.”

“Hmm,” deham Riley seraya mengangguk. “Oke, Kanna. Should I help you?”

Kanna langsung menggeleng, matanya melebar. Kedua tangannya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat. “T—Tidak usah, Riley. Tidak apa-apa. Aku bisa memasangnya sendiri.”

Ya, memang harus pasang sendiri kalau tidak mau jantungnya copot karena berdegup terlalu kencang.

Sembari tersenyum, Riley pun menghela napas. “Baiklah.”

Begitu genggaman Riley terlepas, Kanna mulai merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah syal dari sana. Berhubung masih bulan Desember, Kanna rajin membawa syal dan payung lipat.

Kanna melilitkan syal merah itu di lehernya, lalu menutup tasnya kembali. Begitu selesai, Riley langsung membuka telapak tangannya kembali di hadapan Kanna.

Dengan kikuk, Kanna pun memegang telapak tangan itu. Menyambut ajakan Riley untuk berpegangan tangan.

Kanna mulai memperhatikan sekeliling. Orang-orang terlihat berjalan dengan cepat, seolah-olah berlomba untuk melarikan diri dari suhu dingin yang semakin menggigit. Para pekerja kantoran mendominasi jalanan; mereka berjalan seraya menunduk, berlindung di balik mantel. Syal-syal tebal melilit leher mereka hingga menutupi hidung, sementara kedua tangan mereka disembunyikan di dalam saku. Embusan napas mereka mengepul berulang kali dan menjadi asap putih di udara.

Namun, di sela-sela arus pekerja yang membisu itu, terlihat pula gerombolan anak SMA yang baru saja bubar dari kegiatan klub. Berbeda dengan para orang dewasa, anak-anak remaja itu agaknya… masih punya energi. Mereka memakai duffle coat tebal di luar seragam musim dingin mereka, berjalan bersama seraya menenteng tas sekolah kulit beserta tas olahraga berukuran besar di bahu. Beberapa dari mereka tampak berkerumun di depan vending machine pinggir jalan, tertawa sambil menggenggam sekaleng kopi atau sup jagung hangat untuk mengusir kebekuan di jemari.

Di suatu titik, ada gerombolan siswi yang berpapasan dengan Kanna dan Riley. Begitu sampai di hadapan Riley, tawa dan obrolan mereka mendadak terputus. Langkah mereka melambat secara serentak.

Mata gadis-gadis remaja itu membulat sempurna. Mereka mulai menyenggol lengan satu sama lain dengan heboh, menutupi mulut seraya mencuri-curi pandang ke arah Riley. Di tengah bisingnya lalu lintas sore itu, suara bisikan mereka masih sukses menembus telinga Kanna.

 

"Eh, lihat-lihat! Lihat Kakak itu! Dia artis, ya?!"

"Gila, tampan sekali! Rambut putihnya itu asli tidak, sih?!"

“Mana mungkin! Pasti diwarnai! Seperti idol atau aktor!”

"Astaga, pacarnya itu beruntung sekali... bisa berpegangan tangan begitu…"

“Sayang banget, ya, sudah punya pacar…”

 

Kanna menunduk. Pipinya langsung memanas. Rona merahnya menyebar hingga ke telinga. Aduh, mendadak jadi salah tingkah begini gara-gara disangka sebagai pacar Riley…

Diam-diam, sebenarnya… ada rasa bangga yang mampir di benak Kanna.

Di sisi lain, Riley sama sekali tak peduli dengan tatapan memuja maupun bisik-bisik di sekitarnya. Seluruh keramaian dan hawa dingin di trotoar itu seakan-akan hanyalah ilusi kosong baginya. Dia tetap melangkah dengan santai, mengunci seluruh atensinya untuk Kanna seorang.

“Kanna,” panggil Riley pelan. Suaranya begitu sendah.

Kanna tersentak. Gadis itu langsung mendongak dan menatap Riley. “I—Iya, Riley?”

“Picking you up like this… am I bothering you?” tanya Riley. Tatapan matanya berubah jadi sendu.

Kanna melebarkan mata. Dia spontan menggeleng. “No! No! Aku justru senang kau mau menjemputku, Riley. Serius!”

Mendengar jawaban Kanna, wajah Riley langsung bercahaya. Ada kilauan yang muncul di mata berwarna mint-nya. “Benarkah?”

 “Uh-hm!!” Kanna mengangguk cepat, meyakinkan Riley. “Sungguh!”

Riley tersenyum bahagia. Sebuah tawa lolos dari bibirnya. “Oh, I’m so glad…”

Kanna tersenyum.

“I want to be closer to you…” ucap Riley dengan lirih. Suaranya sedikit serak. Genggamannya mengerat.

Akan tetapi, perlahan-lahan, suaranya berubah menjadi sangat dalam. Kedua matanya menatap Kanna dengan intens.

 

“It’s okay, right?”

 

Deg.

 

Jantung Kanna sempat berdetak kencang, satu kali, ketika mendengar pertanyaan itu.

Tidak, tidak ada yang aneh. Tatapan Riley fokus. Serius… sekaligus penuh kasih sayang. Di dalam tatapan itu juga tersirat permohonan.

Namun, mengapa Kanna deg-degan?

Apakah Kanna salah tingkah?

Kesengsem?

Iya. Pasti itu. Soalnya, permintaan Riley itu sangat manis. Pemuda itu tengah mendeklarasikan bahwa dia ingin lebih dekat dengan Kanna. Lebih dari sekarang.

Itu bukan tuntutan.

Itu… deklarasi.

Setelah beberapa detik termangu karena memikirkan kata-kata Riley, Kanna pun akhirnya tersenyum. Merilekskan tubuhnya kembali. “Iya, Riley. It’s okay.”

Lagi-lagi, bagai seekor anak anjing yang sedang bahagia, mata Riley pun berbinar-binar. Dia tersenyum manis.

Di tengah gelap dan dinginnya malam itu, senyuman Riley terlihat begitu hangat. Memancarkan cahaya, keindahan, dan kehangatan sekaligus. Setiap kali dia tersenyum seperti itu, pasti ada bunga-bunga imajiner yang beterbangan di sekitar wajahnya.

“Berarti, aku bisa sering melakukan ini?” tanya Riley. Pemuda itu mengalihkan pandangannya, menatap jauh ke depan sana… seraya berandai-andai. Senyumannya masih setia menghiasi wajahnya. “Kalau cuacanya bagus… kita bisa berjalan bersama seperti ini… sore-sore. Enjoying the wind and the sky… side by side. That would be so lovely.”

Kanna memperhatikan wajah Riley. Gadis itu tersenyum tatkala mendengar Riley berandai-andai tentang berjalan bersamanya. Hatinya menghangat. Pipinya memerah kembali.

Ini… sangat manis.

Rasanya… cuaca dingin sore ini jadi tidak terasa sedikit pun. Kanna senang sekali Riley menjemputnya hari ini.

Riley menoleh kembali ke arah Kanna. Dengan penuh ketulusan, Riley pun berbicara pelan.

 

“Thank you, my angel.”

 

Mata Kanna kontan membelalak.

‘My angel’?

R—Riley—

Apakah pemuda itu baru saja menyebutkan… ‘my angel’?

Oh. Sial. Rona merah pasti sudah memenuhi seluruh wajah Kanna sekarang, termasuk kedua telinganya. Rasanya begitu panas!

Jantungnya berdegup sangat kencang. Kuat dan cepat. Tubuhnya menegang. Dia berjalan, tetapi gerakannya sudah seperti autopilot.

Riley benar-benar akan menjadi alasan kematiannya, astaga! Dia bisa terkena serangan jantung kalau begini terus!

Ugh. Tuhan, boleh tidak Kanna pergi ke surga saja sekarang? Rasanya melayang banget, nih, soalnya.

Eh. Jangan dulu, deh. Nanti Kanna jadi berpisah dengan Riley.

Sesaat kemudian—yang terasa seperti selamanya—Kanna pun akhirnya berdeham. Berpura-pura membersihkan tenggorokannya. Dia menunduk sebentar, lalu…

…menatap Riley kembali.

Berusaha untuk menunjukkan senyum manisnya.

“It’s so much fun spending time with you. Let’s do this more often, Riley,” ujarnya. Suaranya hampir bergoyang karena gugup. “I also… want to be closer to you.”

Langkah Riley terhenti. Mereka berdua jadi berhenti di trotoar.

Riley mulai berdiri menghadap Kanna. Matanya melebar; mulutnya sedikit terbuka. Dia tampak terpana.

Tak ayal, Kanna pun menunduk. Kalau ada termometer, mungkin ia akan mengukurnya sendiri untuk tahu seberapa panas wajahnya saat ini. Dia malu sekali! Riley mendengar semuanya dan sekarang pemuda itu berhenti melangkah, menghadap padanya sepenuhnya.

 

Duh, Riley menganggapku genit tidak, ya? Riley kagetnya karena apa, ya? Impresi Riley padaku masih positif, ‘kan?

 

Aaaarrrghh! Kanna jadi overthinking, nih! Dia sampai memejamkan matanya kuat-kuat. Astaga, tingkahnya jadi seperti anak remaja, padahal dia sudah dewasa! Begini, nih, kalau tidak punya pengalaman!

“Waaah!” seru Riley tiba-tiba. Hal itu membuat Kanna otomatis membuka matanya. Gadis itu langsung mendongak demi menatap ekspresi Riley.

Ternyata, Riley terlihat sangat… gembira. Pipinya merona dengan indahnya. Dia tertawa pelan; kedua matanya terlihat hidup. Cahaya di wajahnya bak mengalahkan sinar lampu jalan malam itu.

Kanna terpukau.

 

Woah…

Dia… benar-benar tampan…

Tuhan… benar-benar serius saat menciptakannya. Apa dia… benar-benar berasal dari dunia ini?

 

Gadis itu refleks menggeleng. Ada-ada saja. Ya jelas dari dunia ini. Masa dari dunia lain?

Bagaikan seorang pemuda yang baru saja diterima cintanya, Riley pun menggenggam kedua tangan Kanna. Dia meremas punggung tangan Kanna… lalu berkata, “Wow… aku sangat senang sampai rasanya hatiku mau meledak. Ternyata Kanna juga merasakan hal yang sama…”

Aduuuh, sudah, dong, Riley! Pipi Kanna rasanya sudah mau mengeluarkan asap, nih!

“I’m so glad you had fun with me, even if just a little,” ujar Riley. Pemuda itu mulai mencium punggung tangan kanan Kanna, lalu melanjutkan, “Now that I have your answer... I can take a step closer, right?”

“Iya, Riley,” jawab Kanna sambil tersipu.

Bak mendapat hadiah terbaik di dunia, Riley pun tersenyum bahagia.

“Terima kasih banyak, Kanna…” katanya dengan penuh pemujaan. Ibu jarinya mengusap punggung tangan Kanna dengan sangat pelan. Halus.

Kanna mengangguk. Gadis itu juga tampak seperti tengah dimabuk asmara.

Beberapa saat kemudian, mereka pun kembali berjalan. Kembali bergandengan. Obrolan kecil mereka mengalir dengan mudahnya meskipun sesekali mereka sama-sama tersipu. Kadang-kadang mereka tertawa pelan, kadang-kadang mereka menatap satu sama lain dengan penuh kelembutan. Gadis-gadis SMA tadi tidak salah. Mereka memang terlihat seperti pasangan. Pasangan yang mesra, lebih tepatnya.

Di tengah perjalanan, Kanna menatap sebuah toko di sebelah kirinya. Lampu toko itu terang, sinarnya mampu menyinari wajah Kanna dan Riley di trotoar. Toko itu minimalis; catnya dominan berwarna hijau tua. Dindingnya terbuat dari kaca sehingga Kanna bisa melihat apa yang ada di dalam sana.

Toko itu menjual banyak sekali bunga. Bunga-bunga asli… yang tertata dengan baik. Semua bunga itu dirangkai dengan indahnya.

Well, sebenarnya, itu adalah toko bunga yang memang selalu Kanna pandangi saat ia pergi atau pulang kerja. Tepat di bagian atas kaca toko itu, nama ‘Eternal Bloom’ tercetak dengan elegan. Ada lampu-lampu kecil berwarna krem yang menghiasi tiap-tiap hurufnya.

Di depan pintu masuk toko itu, terdapat sebuah sign board yang tertulis: ‘Welcome. We are Open!’.

Kanna memandangi toko itu sambil tersenyum. Di sisi lain, Riley—yang menyadari arah pandang Kanna itu—langsung melihat ke toko yang sama. Matanya sedikit melebar. “Kanna suka bunga, ya?”

Kanna tersentak. Dia langsung menoleh kepada Riley. “Eh?”

Riley tertawa pelan. Kanna imut sekali.

“Kau suka bunga, ya?” ulang Riley.

“O—Oh…” Kanna baru connect. “Iya. Aku suka bunga, Riley.”

Riley pun tersenyum. “Pantas saja di halaman rumahmu ada bunga-bunga yang tertanam di pot.”

“Hehe… Ya begitulah…” Kanna menggaruk tengkuknya, merasa sedikit malu. “Aku cuma bisa menanam di pot. Kalau untuk benar-benar membuat taman di halaman rumahku… aku belum bisa.”

Mata Riley melebar. “Kau ingin membuat taman bunga di halaman rumahmu?”

“T—Tidak, tidak!” Kanna jadi panik. Dia menggeleng cepat. “Aku belum bisa, soalnya. Takutnya nanti bunganya mati semua.”

Riley menghela napasnya sambil tersenyum. Untuk beberapa saat, tak ada yang berbicara di antara mereka.

Akan tetapi, sekitar empat detik kemudian, suara Riley tiba-tiba kembali terdengar.

 

“Aku akan menanam bunga-bunga itu untukmu.”

 

Kontan saja mata Kanna membulat sempurna. Tubuhnya kembali menegang.

 

A—Apa?!

 

“Eh?!” ucap Kanna kaget. Saking kagetnya, dia jadi terlihat seperti sedang memelototi Riley.

Riley tertawa kecil, geli dan gemas melihat reaksi Kanna. “Aku akan membuat taman itu untukmu, Kanna.”

Kanna lantas menganga.

“S—Serius?!” Jujur, Kanna masih mencoba untuk memproses apakah ini mimpi atau kenyataan. Dia sudah lama menginginkan sebuah taman bunga di halamannya. Sudah lama ingin melihat halamannya dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah.

“Iya.” Riley mengangguk. “Aku akan mempelajarinya.”

 

Oh, Tuhan.

Ketika Riley yang mengatakannya, itu terdengar begitu meyakinkan…

 

Pemuda itu cepat belajar. Saat memasak, tatkala tak tahu sebuah resep, dia akan mempelajarinya dengan cepat. Tangannya seperti… diberkati. Apa pun yang dia lakukan dengan tangan itu agaknya akan berhasil.

Hal itu membuat Kanna jadi yakin.

Kini, gantian Kanna yang matanya berbinar-binar. Perasaan bahagianya memelesat ke batas maksimal hingga mau menembus puncak kepalanya dan meledak di udara.

Dengan kebahagiaan yang bergejolak hebat itu, ia pun refleks beranjak ke hadapan Riley dan memeluk Riley dengan erat. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Riley.

Hal itu sukses membuat mata Riley melebar sempurna.

“Terima kasih, Riley!!” ucap Kanna dengan riang.

Riley terdiam sejenak. Untuk beberapa detik lamanya, pemuda itu hanya berdiri di sana. Berhenti melangkah sepenuhnya.

Riley bisa merasakan betapa hangatnya tubuh Kanna di balik seragam kerjanya, betapa cepatnya degupan jantung gadis itu… dengan jelas. Pipinya menempel di rahang Riley.

Pelukan itu masih bertahan. Sepertinya, Kanna terlalu bahagia sampai-sampai gadis itu malah mengeratkan pelukannya. Dia juga sempat membisikkan kata ‘terima kasih’ sekali lagi kepada Riley.

Tak berapa lama, Riley pun… mulai membalas pelukan Kanna. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya… lalu memeluk pinggang Kanna. Dia mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu.

Dengan suara rendahnya yang terdengar begitu dalam itu… dia pun berbisik.

 

“I would do anything for you, Kanna…” katanya. “Use me. Take advantage of me. But…”

 

Pegangannya di pinggang Kanna mengerat.

 

“…don’t leave me,” sambungnya.

 

******

 

Ketika sampai, Kanna lagi-lagi takjub melihat keadaan rumahnya yang sudah bersih. Seluruh pekerjaan rumah sudah diselesaikan oleh Riley. Piring-piring, pakaian, lantai, jendela… semuanya sudah bersih. Tertata. Selesai.

Kanna tak pernah merasa dilayani sampai sesempurna ini selama hidupnya. Dia bagai dimanja lahir dan batin.

Namun, tatkala sibuk mengagumi rumahnya yang sudah kinclong—bahkan beberapa barang yang jarang ia sentuh juga sudah disortir—tiba-tiba tangannya digenggam.

Riley menggandengnya ke sofa ruang tamu dan mendudukkannya di sana. Setelah itu, Riley mulai berlutut di hadapannya.

Membukakan high heels-nya.

Kanna kaget bukan kepalang. Dia langsung menarik tangan Riley dan menjauhkan kakinya. “R—Riley! Tidak usah! Aku bisa melepasnya sendi—”

Riley tersenyum, lalu kembali meraih kaki Kanna dengan lembut. Dia menatap Kanna dengan penuh atensi. “Tidak apa-apa, Kanna. Aku melakukan ini karena aku menyukainya.”

“T—Tapi—”

Riley tertawa kecil. “Izinkan aku melakukannya untukmu, Kanna. Bukankah kita sudah pernah membicarakan ini?”

Ya memang sudah pernah dibicarakan, sih, tetapi setahu Kanna, yang Kanna mau tidak sejauh ini! Bukankah ini seperti—seperti seorang nyonya?

Oh, astaga. Benar. Riley jadi seperti seorang butler yang melayani sang nyonya.

Aaarghhh!! Bagaimana ini?!

Menyatukan alis, Kanna pun memperhatikan Riley dengan saksama. Pemuda itu mulai membukakan sepatunya, syalnya, blazernya… dan meraih tasnya.

Kanna lantas menghela napas.

“Riley, tolong katakan padaku,” buka gadis itu.

“Hmm?” Riley menatap Kanna dengan mata yang membulat polos.

“Kalau kau menyukai ini, berarti… ini hobimu?” selidik Kanna.

Riley mengerjapkan matanya sebanyak dua kali. “Hobi…?”

“Iya.” Kanna mengangguk. “Jika kau punya kesenangan istimewa terhadap sesuatu, lalu kau melakukannya dengan sukarela karena menimbulkan kebahagiaan… berarti itu adalah hobimu.”

Riley diam sebentar. Pemuda itu sedang mencerna kalimat Kanna.

Dua detik kemudian, terbitlah seulas senyum di bibirnya.

 

“Then…” katanya. “My hobby is you.”

 

******

 

Jadi, sore itu, setelah mendengar Riley berbicara soal hobi—yang membuat Kanna langsung mau meleleh—Kanna pun mandi. Riley sudah mandi sebelum menjemput Kanna, jadi dia langsung menunggu di meja makan yang sudah dipenuhi masakan buatannya sendiri.

Begitu selesai mandi, Kanna pun bergabung dengan Riley untuk makan malam. Mereka menghabiskan waktu yang hangat itu bersama sambil makan. Setelah itu, mereka sempat menonton televisi sejenak… hingga akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamar masing-masing (atas saran Riley yang tak ingin Kanna kelelahan).

By the way, Kanna sudah memberikan Riley satu kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Memang ada kalanya mereka tidur bersama, tetapi Riley tetap punya kamar sendiri.

Well, Kanna tahu kalau dia harus tidur dan mengisi energi untuk besok. Riley sudah sangat perhatian padanya. Namun, saat ini…

 

…dia benar-benar belum mengantuk.

 

Dia belum bisa tidur karena memikirkan semua yang terjadi hari ini. Rasanya dunia nyata jauh lebih indah daripada dunia mimpi, jadi tubuhnya menolak tidur.

Karena tak kunjung bisa terlelap meskipun sudah berguling ke sana kemari, Kanna pun akhirnya menyerah. Dia mulai beranjak mengambil ponselnya di atas nakas…

…dan mengirim sebuah pesan kepada Riley.

 

Riley sudah tidur belum, ya?

Semoga saja belum…

 

Kanna Inori

Riley, are you asleep?

 

Riley🐻‍❄️

Kanna! You’re awake?

 

Kanna Inori

I can’t sleep. How about you?

 

Riley🐻‍❄️

My heart just can’t seem to settle down after we walked together earlier…

 

            Pipi Kanna memerah untuk entah yang keberapa kalinya.

           

Kanna Inori

Me too…

 

Riley🐻‍❄️

So we’re the same! I’m so happy…

Ah… It feels like a dream. I want to savor this moment forever…

We’re connected… even when we’re in different rooms 🥰

 

Kanna Inori

I’m also very happy, Riley

My life is full of color now, thanks to you🥰

 

Riley🐻‍❄️

You are very nice, Kanna…

Umm…

Can I… sleep with you?

Even though my heart is racing right now, I… I want to see you.

I can’t stop thinking about you 🥺

 

            …well.

            Apakah Kanna akan menolak Riley?

            Apakah Kanna akan berpikir negatif?

            Dalam situasi ini?

            Dalam kondisi hati yang sudah seperti ini?

            Tentu saja tidak.

 

******

                       

Kamar Kanna gelap. Lampunya tak dihidupkan, hanya mengandalkan sinar rembulan yang menembus masuk melalui gorden putih.

Tadi, tak lama setelah mengiyakan permintaan Riley, Kanna mendengar pintu kamarnya terbuka pelan. Gadis itu langsung duduk dan melihat sosok Riley berdiri di ambang pintu. Rambut putih dan mata mint Riley bersinar terang di bawah sinar rembulan.

Tanpa sadar, setiap permintaan Riley yang polos, manis, dan intens itu… selalu sukses meluluhlantakkan pertahanan Kanna.

Riley tersenyum lembut. Ia lalu mendekati ranjang Kanna pelan-pelan… dan menyusup ke dalam selimut gadis itu.

Ribuan kupu-kupu imajiner beterbangan di perut Kanna saat Riley meraih dan memeluknya. Malam itu, Kanna memakai sweater putihnya yang hangat, sementara Riley masih dalam balutan hoodie-nya. Pelukan mereka malam itu terasa jauh lebih ampuh untuk mengusir beku dibandingkan penghangat ruangan mana pun. Rasa dingin yang datang dari luar seolah-olah hilang begitu saja.

Bahan hoodie yang dikenakan Riley terasa begitu halus di kulit Kanna. Gadis itu mendadak bangga karena telah memilihkan hoodie yang tepat untuk Riley. Selain itu, aroma tubuh Riley—campuran antara wangi sabun mandi dan aroma maskulin yang khas—sangatlah menenangkan. Di dalam pelukan yang luar biasa nyaman itu, mereka mengobrol dengan suara pelan, seolah-olah takut membangunkan malam.

“Riley…?” panggil Kanna lembut.

Riley sedikit menjauhkan wajahnya agar bisa bertatapan dengan Kanna. “Hmm?”

 

Duh. Suaranya.

Napas hangatnya menyapu kulit wajah Kanna.

Wajah tampannya juga… dekat sekali…

 

Riley memiliki kulit wajah yang begitu bersih. Rambutnya yang sedikit acak-acakan itu justru membuatnya terlihat manis. Hidungnya mancung, alisnya tebal, dan bibirnya…

Kanna refleks meneguk ludah.

Oh, sial. Ia harus kuat. Benar-benar harus kuat!

“A—Apa… makanan favoritmu?” Suara Kanna akhirnya keluar meski sedikit gagap.

Riley tertawa kecil. Suaranya amat rendah dan merdu, terdengar begitu dekat di telinga Kanna. Saat ini, seluruh indra Kanna seolah-olah dipenuhi oleh Riley: kulit, mata, telinga, hingga penciumannya. Semuanya Riley.

“Favorit, ya…” jawab Riley pada akhirnya. “Aku suka… parfait. Yang ada buah strawberry dan es krimnya.”

Kanna tiba-tiba bersemangat. “Waah! Itu memang enak! Aku juga suka. Apa lagi?”

Riley kembali tertawa. “Umm… Apa lagi, ya? Oh… aku juga suka fruit sando dan crêpe.”

“Waah, itu juga enak! Berarti, kau suka makanan-makanan manis, ya?” tanya Kanna.

Riley mengangguk. Sepasang mata indahnya menatap Kanna dengan penuh kasih sayang, tetapi mulai muncul sepintas sendu di sana. Ada bayangan cinta, kesedihan, kesepian, sekaligus… rasa syukur yang berbaur menjadi satu.

“Aku… jarang makan semua itu. Namun, aku sangat menyukai mereka sejak pertama kali mencoba,” jawab Riley. Dia memberikan senyuman yang sangat tulus kepada Kanna.

Mendengar kejujuran itu, hati Kanna langsung terenyuh. Gadis itu refleks mengeratkan pelukannya, lalu mengusap punggung Riley dengan penuh perhatian. Empatinya kembali mencuat.

Ya Tuhan… Kehidupan seperti apa yang dahulu Riley jalani sampai-sampai makanan umum seperti crêpe saja jarang dia makan?

            “Nanti, kita sering-sering makan makanan favoritmu, ya, Riley. Bersama-sama,” ujar Kanna.

            Tubuh Riley mematung sejenak. Namun, beberapa detik kemudian, pemuda itu akhirnya melemas sepenuhnya di dalam sentuhan Kanna.

“Kanna, tubuhmu sangat hangat…” pujinya. Pelukannya semakin mengerat.

Telinga Kanna memerah saat Riley mulai mencari posisi ternyaman. Mereka bertahan dalam posisi itu untuk beberapa saat lamanya.

Sekitar dua menit kemudian, Kanna pun teringat sesuatu. Gadis itu mendadak sadar bahwa sejak awal, ada pertanyaan yang belum dijawab Riley hingga sekarang. Pertanyaan yang selama ini ia hindari karena takut Riley tidak nyaman. Takut melukai Riley lebih jauh.

            Apakah kali ini… Kanna sudah boleh bertanya?

            Mereka sudah sedekat ini. Sudah senyaman ini.

Seharusnya… Riley sudah merasa aman untuk menceritakan semuanya, bukan?

Akhirnya, berbekal keyakinan itu, Kanna pun meneguk ludah. Memberanikan dirinya sebelum mulai berbicara.

 

“Riley… kau belum bercerita padaku tentang mengapa kau ada di kursi taman malam itu.”

 

Keheningan sontak menyergap. Kanna bisa merasakan napas Riley yang sedikit tertahan. Cukup lama pemuda itu membisu, sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara yang begitu lirih.

 

“Aku… melarikan diri dari rumah…”

 

Mata Kanna melebar. Finally!

“Mengapa?” tanya gadis itu dengan hati-hati. Ia menunggu jawaban Riley dengan penuh antisipasi.

Namun, ternyata Riley kembali diam.

Lama.

Kebungkamannya itu membuat Kanna jadi yakin bahwa…

 

…dia belum mau cerita.

 

Kanna menunduk. Gadis itu merasa sedikit kecewa sekaligus sedih. Sebetulnya, dia sadar bahwa Riley sudah mulai sedikit terbuka (karena telah menjawab ‘melarikan diri dari rumah’), tetapi dia… ingin lebih.

Dia ingin tahu segalanya tentang Riley.

Mungkin, karena bisa merasakan kekecewaan Kanna, Riley pun membenamkan wajahnya di antara helaian rambut gadis itu, lalu berbisik.

“Suatu hari nanti… aku akan menceritakan semuanya padamu.”

Kanna serta-merta menjauhkan wajah. Matanya membulat.

“Janji??” tuntut Kanna dengan suara lembut.

Riley tersenyum. Pemuda itu mengangguk pelan.

“Iya… aku janji,” jawabnya. “If you stay with me.”

Kanna jadi bete. “Aku tak mungkin pergi ke mana-mana, soalnya ini rumahku. Harusnya aku yang bilang begitu padamu.”

Riley tertawa renyah. Matanya menerawang, seolah-olah menatap jauh ke dalam jiwa Kanna. Tak lama, jemarinya mulai membelai pipi gadis itu dengan gerakan konstan yang membuai. Terlalu berirama, terlalu sempurna.

“Ah… how wonderful would it be if you could just stay by my side without going anywhere?” bisiknya seraya tersenyum tipis.

 

******

 

Sinar matahari pagi mulai menyusup melalui celah gorden dan menyentuh kelopak mata Kanna. Gadis itu mengerjap beberapa kali, merasakan sisa-sisa kehangatan semalam yang masih tertinggal di selimut. Namun, saat tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, ia hanya menemukan seprai yang sudah mendingin.

 

Riley sudah tidak ada di sana.

 

Kanna pun bangkit duduk, menguap kecil sembari mengucek-ngucek matanya yang masih terasa berat. Dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit berantakan, ia pun berjalan ke luar kamar, berniat untuk mencari Riley. Mungkin, pemuda itu sedang memasak di dapur, sedang mandi… atau sedang membereskan rumah.

Riley rajin banget, sih… padahal ini masih pagi, pikir Kanna.

Ya sudah, deh, Kanna cari saja. Sekalian mau cuci muka juga ke kamar mandi.

Kanna terus melangkah menuju dapur. Akan tetapi, saat melewati kamar Riley, langkah Kanna otomatis terhenti.

Pintu kamar itu terbuka.

Awalnya, Kanna hanya ingin mengecek kenapa pintu kamar itu terbuka dan apakah Riley ada di sana. Namun, pemandangan di dalam kamar itu sukses membuat kantuknya hilang seketika.

Di sana, dia melihat Riley.

Benar, Riley ada di sana.

Pemuda itu tengah membelakangi pintu, baru saja hendak membuka pakaiannya. Meskipun tubuhnya cenderung kurus, punggungnya yang putih pucat itu terlihat kokoh. Setidaknya, itulah yang Kanna pikirkan selama satu detik.

Namun, di detik berikutnya, mata Kanna mulai menyipit. Dahinya berkerut saat menangkap sesuatu yang asing di punggung itu.

Di punggung Riley, tepatnya di sebelah kanan atas, ada sebuah tato yang tercetak dengan tinta hitam yang tegas. Bukan gambar bunga, bukan pula motif estetik yang biasa orang-orang miliki.

Tato yang ia miliki hanyalah sebuah angka tunggal.

 

“9”.

 

Alis Kanna lantas menyatu. Berbagai pertanyaan mulai mengganggu pikirannya. Dia tak tahu kalau ternyata Riley punya tato seperti itu.

Sadar bahwa Riley kapan saja bisa berbalik dan memergokinya, Kanna pun langsung menarik diri dan bersembunyi di balik dinding. Ia menyandarkan punggungnya di sana, berusaha untuk mengatur napasnya yang mendadak memburu. Jantungnya berdegup kencang.

 

Sembilan.

 

Apa maksudnya? []

 













******



Ini aku edit yaa, biar sesuai tato Riley. Aslinya, foto dari artist Reii itu seperti ini:



tapi berhubung Riley tidak punya tato seperti itu, jadi aku edit dikit yaa. Artist Reii ini menggambar Saeran (Mystic Messenger) soalnya. Saeran punya tato di lengan wkwk.


Sedikit disclaimer soal visual Riley:


Karena aku pakai Choi Saeran/Ray (Mystic Messenger) sebagai referensi, pasti bakal banyak foto yang memperlihatkan tato di lengan atas. Tapi di cerita ini, Riley Winter itu nggak bertato di lengan, ya. Satu-satunya tato yang dia punya cuma angka "9" di punggung. Jadi, kalau nanti aku post fotonya, bayangkan saja lengannya bersih dari tinta, oke? Wkwkwk.








Ihh kecilnyaa. Umur berapa ini? Wkwkwk







Immure (Chapter 5: Numb, Empty)

  ****** Chapter 5 : Numb, Empty   ******   SAAT matahari terbenam, Yohan pun mengantarkan Hea pulang. Pemuda itu sempat ragu-ra...