Chapter
1 :
New
Neighbor
******
KETUKAN
di
pintu kamar sukses membuyarkan fokus Fae yang sejak tadi sedang membaca buku
Fisika di meja belajarnya. Fae mengalihkan pandangannya dari materi gelombang
yang ada di buku tersebut, lalu mulai menggeser kursi belajarnya ke belakang.
Kalau boleh jujur, sebenarnya distraksi kecil seperti ini agak disyukuri oleh
Fae, soalnya dia sudah berkutat dengan buku Fisika itu sejak satu jam yang
lalu. Agak pusing juga melihat gambar gelombang terus-menerus sedari tadi,
berbeda dengan kedamaian yang ia rasakan tatkala melihat gelombang laut. Meski
Fae Julietta bukan orang yang begitu pintar di bidang Fisika, dia bukanlah
jenis manusia bertelinga baja yang tahan mendengar Pak Yun—Guru Fisika di
kelasnya—mengoceh soal nilai merah. Lupakan soal Pak Yun, mamanya pun pasti
akan mengomel jika ia mendapat nilai merah. Meskipun demikian, kepintaran Fae
terbilang lumayan, soalnya dia masih masuk peringkat sepuluh besar di
kelasnya.
Fae
berdiri dari kursinya; gadis yang memakai kaus bewarna putih dan celana pendek berwarna
hitam itu pun berjalan dengan santai ke arah pintu kamar. Tatkala ia membuka
pintu kamarnya itu, ia melihat mamanya berdiri di sana; Mama memiringkan kepalanya
seraya tersenyum. Di tangan Mama ada bungkus plastik berwarna putih.
“Mama
beli buah pir, nih,” kata Mama. Ucapan Mama seolah langsung menjawab
pertanyaan di otak Fae yang tengah memperhatikan bungkus plastik itu. “Mau,
‘kan? Ayo potong dulu.”
Fae
pun mengangguk. Memakan buah pir adalah tawaran yang sangat bagus ketika dia
baru saja dipusingkan oleh pelajaran Fisika. Segar, manis… Bagus untuk me-refreshing
otaknya sejenak.
“Iya,
Ma,” jawab Fae. Mama lalu tersenyum dan berbalik, mulai berjalan ke dapur.
Jarak dari kamar Fae ke dapur tidak terlalu jauh, hanya perlu berjalan sekitar
sepuluh langkah. Fae mengikuti Mama dari belakang.
Begitu
sampai di dapur, Mama langsung meletakkan satu bungkus buah pir itu di atas counter
dapur. Fae langsung mengambil salah satu pisau yang tersimpan di dalam rak
pisau; rak pisau itu tergantung di bawah kabinet.
Seraya
mencuci buah pir tersebut satu per satu di wastafel, Fae melihat ke arah Mama
yang sedang mengeluarkan belanjaannya dari plastik. Rupanya Mama tadi sempat berbelanja
bahan makanan. Mungkin, setelah pulang dari kantor tadi Mama mampir terlebih
dahulu ke supermarket sebelum akhirnya pulang ke rumah. Tubuh Mama yang
semampai—cenderung kurus—itu dibalut dengan kemeja berwarna putih dan rok selutut
berwarna hitam. Sebetulnya, kemeja itu Mama beli tahun lalu. Mama masih
memakainya lantaran masih bagus, padahal sebenarnya kemeja itu dia pakai ke
kantor setiap hari Senin dan Rabu. Mama selalu berusaha untuk memakai sebuah
barang selama mungkin dan bila rusak, ia akan memperbaiki barang itu hingga
benar-benar tidak layak pakai. Kebiasaan ini semakin menjadi-jadi semenjak Papa
meninggalkan rumah untuk menikahi wanita lain.
Untungnya,
Mama bekerja di sebuah perusahaan yang lumayan bonafide. Dia masih mampu
membiayai hidup mereka berdua. Ia memenuhi segala kebutuhan sekolah Fae, ia
berdiri sebagai tulang punggung keluarga dan menjadi wanita yang mandiri. Rumah
mereka tidak begitu besar, tetapi segalanya tercukupi. Bagi Fae, melihat Mama
tidak bersedih lagi pun sudah cukup. Mama terlihat content, dia kembali easy-going
dan mulai lupa dengan segala masa lalunya. Dia sudah terlihat baik-baik
saja. Sudah rajin tertawa dan melakukan hal-hal yang ia sukai meskipun sekadar
menonton drama-drama romantis ala-ala televisi setiap malam sebelum tidur.
Tepat
ketika Fae mulai mengupas kulit buah pir yang sudah ia cuci, suara Mama
terdengar lagi. “Eh, kita ada tetangga baru, lho.”
Dahi
Fae berkerut, ia menaikkan sebelah alisnya. Jujur ia agak tak percaya. Rumah
itu sudah lama kosong. “Oh ya?”
Fae
pun menatap Mama yang tengah memasukkan beberapa bahan makanan ke kulkas. Mama
kemudian menyahut, “Iya. Tadi kebetulan Mama beli dua loyang kue bolu.
Rencananya dua-duanya mau disimpan di kulkas, tetapi berhubung ada tetangga
baru, salah satunya kita kasih ke mereka saja, ya.”
“Hmm,”
deham Fae, menyetujui keputusan mamanya. Mama pun kembali berbicara, “Satu
loyang rasa coklat, satu loyang rasa matcha. Kau mau yang mana?”
“Matcha,”
sahut Fae tanpa berpikir dua kali. Dia suka coklat, tetapi kalau dibandingkan
dengan matcha, masih lima puluh berbanding seratus. Kalau bisa, semua
kue atau minuman harus rasa matcha. Kalau tidak ada rasa matcha…barulah
dia akan memilih rasa coklat, keju, atau bluberi.
Mama
terkekeh. “Sudah Mama duga. Ya sudah, nanti tolong kasih kue bolu coklatnya ke
tetangga, ya? Di potong-potong terlebih dahulu, kemudian disusun ke piring.”
Fae
langsung menatap mamanya dan bibirnya mengerucut. Ini bagian yang kurang dia suka.
Dia sebenarnya merupakan anak yang cukup tertutup; dia segan tatkala bertemu
orang asing. Jadi, dia tak menyangka bahwa dialah yang akan mengantar kue bolu
itu ke tetangga sebelah. “Ma—"
Mama
yang sudah memprediksi reaksi anaknya tersebut mulai tertawa. “Mama lelah, lho.
Pergilah ke sana, oke? Sesekali bersosialisasi dengan orang-orang di sekitar
rumah.” Mama mulai mengambil beberapa sayur dari plastik belanjaannya dan
membawa sayuran itu ke wastafel; Mama berdiri tepat di sebelah Fae. “Bisa jadi
tetangga sebelah punya anak yang seumuran denganmu.”
Melihat
mamanya berbicara seperti itu, Fae pun menghela napas. Ia kembali fokus menatap
buah pir yang kulitnya sedang ia kupas, lalu menjawab dengan pasrah, “...Ya,
Ma.”
Mama
pun melihat sejenak ke arah Fae dan memberinya sebuah senyuman manis (yang bagi
Fae malah terlihat seperti senyuman sadis) lalu kembali mencuci sayuran
yang ia beli. “Gadis baik.”
******
Sorenya,
seperti biasa Fae keluar dari kamar dan pergi ke halaman berumput yang ada di depan
rumahnya. Di halaman berumput itu berdirilah tiang-tiang jemuran yang tersusun secara
berjajar. Salah satu tugas Fae adalah mengangkat pakaian mereka dari jemuran
setiap jam lima sore. Jadi, di sinilah Fae, mulai menghampiri tiang-tiang
jemuran di halaman depan rumahnya; Fae melihat pakaian-pakaian yang terjemur di
sana bergoyang ke depan dan ke belakang dengan pelan karena tertiup angin sore.
Fae nyaris saja terbuai dengan angin sepoi-sepoi tersebut, tetapi dia ingat
bahwa dia harus segera mengerjakan tugasnya karena setelah ini dia berencana
untuk mandi. Rambutnya berasa tegak-tegak semua setelah belajar Fisika selama
berjam-jam. Dia butuh mendinginkan kepala atau kepalanya akan mulai
mengeluarkan asap. Dia tak mau membebani ibunya dengan biaya rumah sakit atas
kerusakan fungsi otak atau apa pun itu, jadi dia harus mandi. Dia pun mulai
mengambil satu per satu pakaian yang terjemur di sana, memeriksa apakah
pakaian-pakaian tersebut sudah benar-benar kering atau belum sebelum
mengambilnya.
Namun,
tiba-tiba ada satu semprot air yang mengenai wajahnya.
Fae
yang disemprot dengan air secara tiba-tiba itu kontan terperanjat bukan
main. Air itu sungguh dingin; dinginnya minta ampun! Air itu tidak disemprotkan
dalam jumlah banyak, hanya membasahi area pipi Fae, tetapi berkecepatan tinggi.
Seolah berasal dari slang yang alirannya lumayan deras. Seolah lubang slangnya
sengaja ditutup sebagian dengan jemari tangan agar air yang keluar dapat ditembakkan
ke arah mana pun yang kau mau.
Fae
spontan langsung menoleh ke sumber datangnya air tersebut—dari sebelah kanan—dan
matanya memelotot kesal. Siapa yang berani-beraninya menembakkan air kepadanya?!
Memangnya ia salah apa?!
“HEY!!
SIAPA—”
“Halo,
Tetangga Baru.”
Fae
langsung kembali terperanjat. Tubuhnya nyaris terdorong ke belakang secara
refleks karena kaget.
Di
hadapannya, Fae melihat seorang pemuda. Memakai t-shirt berwarna putih
dan celana pendek berwarna krim. Tubuh pemuda itu tidak terlalu besar (cenderung
kurus) dan tidak terlalu tinggi; dia tipe pemuda yang slender dan mungkin
tingginya tidak sampai 180 cm. Namun, dia masih lebih tinggi daripada Fae yang
tingginya hanya 160 cm. Sepertinya, mereka seumuran. Kalau pun tidak seumuran,
jarak usia di antara mereka tidak mungkin terlalu jauh. Namun, yang paling
mencolok dari pemuda itu adalah:
…rambutnya
berwarna oranye!
Oke,
kalau dilihat-lihat, wajahnya memang tampan dan rule nomor satu dari
orang yang good-looking adalah tetap terlihat menawan dengan style
apa pun. Namun, ini bukan di ibu kota ataupun di kota-kota besar lainnya di
Korea Selatan. Ini adalah sebuah desa, salah satu desa yang ada di Korea
Selatan.
Terlebih
lagi, memangnya dia idol?
Ah,
masa bodoh. Fae sekarang sedang kesal bukan main. Di mana etika pemuda ini,
menyemprotkan air kepada orang yang tidak ia kenal?
“Kau
tidak pernah diajari sopan santun, ya?” tembak Fae dengan sarkastis.
“Apa ada yang salah dengan otakmu? Berapa usiamu? Kau pikir begitu caranya menyapa
orang lain?!!”
Sialnya
pemuda itu malah tertawa keras. Dia menertawai Fae habis-habisan. Mendadak Fae
jadi benci bukan kepalang pada pemuda itu; di matanya pemuda itu mulai berubah
wujud menjadi jamur berwarna oranye yang tumbuh di tengah hutan. Tahulah,
makhluk hidup apa pun yang warnanya terlalu mencolok biasanya beracun. Inilah salah
satu contohnya.
“Kau
sinting, ya?!” teriak Fae. Kini Fae sadar sepenuhnya bahwa pemuda itu adalah
penghuni rumah sebelah. Tetangga baru yang Mama bicarakan tadi. Dia
agaknya sedang menyirami bunga-bunga di halaman rumah itu. Kemungkinan
bunga-bunga—yang tertanam di dalam pot-pot—itu ia bawa dari rumah lamanya sebab
setahu Fae, tidak ada bunga-bungaan di sekitar rumah kosong itu sebelumnya.
Namun, manusia gila macam apa yang berani menyemprotkan air ke wajah tetangga
barunya, lalu tertawa keras ketika melihat hasil dari ulahnya sendiri?
“Salam
kenal, Tetangga Baru,” sapa pemuda itu lagi. “Boleh kenalan?”
“Tidak.”
Fae menjawab dengan spontan.
Pemuda
itu terkekeh. “Siapa namamu?”
“Aku
tidak mau memberikan namaku kepada orang sinting yang menyemprotku dengan air dari
slang pada pertemuan pertama,” jawab Fae ketus. Ia menatap pemuda itu dengan mata
yang menyipit sadis.
Pemuda
itu tertawa. “Maaf. Hanya ingin memberikan impresi unik pada tetanggaku yang
cantik.”
Berusaha
untuk tidak memedulikan pujian ‘cantik’ dari pemuda itu, Fae pun
mendengkus. “Kau justru membuatku dendam padamu. Apa kau anak SD? Orang macam
apa yang sembarangan menyemprotkan air pada orang yang baru ditemui?!”
Lagi-lagi
pemuda itu tertawa. “Aku terlalu besar untuk ukuran anak SD, bukankah begitu?”
“Tubuhmu
tidak terlalu besar.”
“Memang
tidak,” jawabnya. Dia terlihat mengelus dagu, berpikir. “tetapi belalaiku cukup
besar.”
“Hah?”
“Jadi,
siapa namamu?” tanya pemuda itu lagi, tak menghiraukan tatapan Fae yang penuh
tanda tanya.
Fae
jadi berdecak kesal. “Memangnya apa urusanmu?! Aku masih marah padamu, lho!”
“Sudah,
dong, marahnya,” jawab pemuda itu seraya menggoda Fae melalui matanya.
Dia tersenyum miring. “Kata orang, kalau terlalu benci nanti jadi sayang.”
Apa-apaan?!
“Rayuanmu tidak bermutu.”
“Akan
jadi bermutu kalau kau beritahu aku namamu.”
“Tidak
akan.”
“Kalau
begitu, aku akan bertanya pada keluargamu. Apa keluargamu ada di dalam?”
Sontak
Fae jadi kesal bukan kepalang. Ia sungguh tidak tahan dengan karakter pemuda
itu yang benar-benar menjengkelkan. “Aishh!! Fae, namaku Fae! Sudah
puas?!”
Pemuda
itu pun nyengir. Dia terlihat puas, alisnya naik turun dengan jail.
“Hehe. Salam kenal, Fae.”
Fae
menghela napas. Agaknya, Tuhan telah memberikannya satu cobaan lagi tahun ini,
yaitu menghadapi sebuah jamur berwarna oranye yang tinggal di sebelah rumahnya
entah sampai kapan. Fae pun mulai berencana untuk melanjutkan aktivitasnya tadi,
yaitu mengangkat pakaian dari jemurannya, tetapi tiba-tiba suara pemuda itu
kembali terdengar.
“Oh
ya, tadi aku lihat ada tank top berwarna pink. Punyamu, ya?”
…hah?
Sebentar.
Tank top warna pink?
Oh
astaga. Sialan!!! Kalau diingat-ingat, tadi memang ada satu tank top
berwarna pink yang Fae angkat dari jemurannya. Tank top itu sebetulnya
ia pakai untuk tidur tadi malam lantaran merasa kepanasan. Arghh, demi Tuhan!!!
Sempat kelihatan, ya, sama si Jamur Oranye itu?! Lagi pula, apa urusan pemuda
itu, sih? Mengapa dia memperhatikan jemuran orang lain sampai segitunya?!
Rasa
kesal Fae kontan bercampur dengan rasa malu yang luar biasa. Dengan wajah yang
memerah bak kepiting rebus, Fae pun meneriaki pemuda itu dengan suara yang ia
usahakan agar tidak bergetar. “Dasar gila!!!”
Dengan
laknatnya, pemuda itu malah kembali tertawa. Gummy smile-nya terlihat
jelas; ia tertawa sampai kepalanya terangkat ke atas. Rambut oranye miliknya terlihat
semakin bersinar tatkala diterpa oleh cahaya matahari sore, membuat sosoknya
yang berkaus putih itu terlihat begitu innocent. Tampang dan
penampilannya, caranya tertawa, semuanya sungguh terlihat suci dan tak berdosa
di antara indahnya cahaya matahari sore itu. Menawan seperti malaikat. Jika ada
orang yang kebetulan lewat di depan rumah mereka, bisa saja orang itu mengira
bahwa ada makhluk dari surga yang sedang mampir ke bumi, tanpa tahu bahwa kenyataannya
saat ini makhluk itu sedang tertawa di atas penderitaan orang lain.
Mendengar
tawa pemuda itu yang begitu puas dan menjengkelkan, Fae pun langsung dengan
cepat menarik semua pakaian yang ada di jemuran itu dan lari sekencang-kencangnya
ke dalam rumah. Orang gila! Pemuda itu benar-benar sudah gila!
Bahkan dari dalam rumah—di balik pintu—Fae masih bisa mendengar pemuda itu
berteriak, “Hei, aku belum memberitahumu namaku! Fae!”
Masa
bodohlah. Peduli setan. Mana mungkin Fae mau berdiri di luar sana lebih lama
lagi. Rasa malu dan kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun.
******
Akibat
insiden tadi sore, Fae jadi semakin ogah-ogahan saat disuruh mamanya
mengantarkan kue bolu coklat ke tetangga sebelah. Diam-diam, dengan tidak
logisnya Fae menyalahkan dirinya sendiri karena telah memakai tank top berwarna
pink itu tadi malam, padahal dia sering memakai tank top itu selama
ini. Dia jadi menyalahkan dirinya sendiri, menyalahkan tank top itu,
padahal si Jamur Oranye itulah yang agaknya bermata keranjang.
Namun,
mengingat Mama yang memasang senyuman sadis kepadanya tatkala ia
mengeluh soal mengantarkan kue bolu itu, mau tidak mau Fae jadi harus mengalah.
Fae memilih untuk menekan segala rasa kesalnya, segala rasa malunya, dan segala
penolakan yang dikeluarkan oleh tubuhnya. Segala perasaan yang bercampur
itu membuat dada Fae jadi terasa agak panas, terutama entah mengapa jantungnya mendadak
mengeluarkan degupan aneh—bukan karena suka, melainkan karena…mempersiapkan
diri, mungkin?—saat menyadari bahwa ia bisa jadi akan berhadapan
dengan manusia berambut oranye itu lagi. Ah, hidup ini benar-benar jauh lebih
buruk daripada opera sabun yang Fae tonton bersama Mama satu bulan yang lalu.
Tatkala
sudah sampai di rumah sebelah, Fae sadar bahwa pagar rumah itu terbuka sedikit.
Karena tahu bahwa suaranya tidak selantang itu untuk berteriak kencang dari
luar pagar—hingga orang yang ada di dalam rumah itu bisa mendengar suaranya—Fae
pun memutuskan untuk membuka pagar rumah itu dengan sebelah tangannya dan
langsung masuk ke area rumah tersebut.
Rumput-rumput
yang tumbuh tak beraturan di rumah itu kini sudah dipangkas dan dirapikan.
Bagian halaman depan rumah itu sudah terlihat cantik dan bersih. Dalam sekejap,
rumah itu tak lagi terlihat seperti rumah yang tidak berpenghuni. Lampunya
menyala terang, halamannya bersih dan rapi, rumahnya pun sudah dibersihkan.
Rumah itu terlihat lebih cantik kini.
Ketika
sampai di depan pintu rumah tersebut, Fae pun mulai menatap pintu itu seraya
menelan ludah. Selama dua detik, ia mempersiapkan diri kalau-kalau ia harus berhadapan
lagi dengan pemuda berambut oranye itu. Namun, semoga saja tidak. Semoga saja
nasibnya tidak sesial itu.
Menghela
napas, Fae pun mulai mengetuk pintu rumah itu.
“Permisi…”
Karena
belum ada jawaban, Fae pun mengetuk lagi. Kali ini lebih keras. “Permisi, saya
dari rumah sebelah. Apakah ada orang di dalam rumah?”
Tiba-tiba
terdengar sahutan dari dalam rumah. Suara itu awalnya agak pelan, tetapi
terdengar semakin keras seiring dengan suara langkah kaki yang mendekat. Itu
adalah suara wanita. “Yaa? Sebentar!”
Tak
lama kemudian, pintu rumah itu pun terbuka. Memperlihatkan seorang wanita
berusia sekitar empat puluh tahunan yang berpakaian piama longgar. Rambut
wanita itu berwarna hitam kecoklatan dan diikat satu di bagian bawah. Low
ponytail. Wanita itu awalnya melihat Fae dengan mata yang melebar, tetapi
dia langsung tersenyum ramah. “Ah, halo. Dari rumah sebelah, ya?”
Syukurlah,
yang membuka pintu itu ternyata bukan si Jamur Oranye. Fae pun menghela napas
lega, dia ikut tersenyum manis pada wanita itu dan mengulurkan tangannya (untuk
berjabat tangan). Agaknya, wanita itu…merupakan ibunya si Jamur. “Iya, Bu,
benar. Saya dari rumah sebelah. Salam kenal, Bu.”
Aduh,
sebetulnya Fae tidak terbiasa dalam bersosialisasi seperti ini. Fae keseringan
sibuk dengan dunianya sendiri di dalam kamarnya. Ini merupakan hal yang baru
baginya, tetapi ternyata dia cukup bisa mengatasinya dengan baik.
Ibu
itu langsung menyambut uluran tangan Fae dan mereka pun akhirnya berjabat
tangan. “Salam kenal juga, ya!”
Oh.
Ibu ini sangat ramah dan bersahabat. Sama seperti anakny—ekhem.
Tatkala
jabatan tangan itu terlepas, Fae pun langsung menyodorkan sebuah piring berisi
bolu coklat yang sudah dipotong-potong; piring berisi bolu itu sudah ditutupi
dengan plastic wrap. “Ah, ini ada sedikit kue, Bu, untuk Ibu,” ujar Fae.
“Semoga kita bisa bertetangga dengan baik, ya, Bu. Beritahu kami jika ada yang
bisa kami bantu.”
Wanita
itu pun kontan melebarkan mata. Dia terlihat kaget sekaligus senang dengan
sambutan baik dari Fae. Dia pun menerima sepiring bolu itu seraya tertawa
renyah. “Oh, ya Tuhan, seharusnya kami yang memberikan sesuatu kepada
kalian! Astaga, terima kasih, ya!”
Fae
tersenyum manis. “Sama-sama, Bu. Kalau beg—”
“Eh,
ada
Fae ternyata.”
Fae
langsung terdiam.
Sial,
dia ingat suara ini. Jangan bilang ini—
Mata
Fae langsung mencari sumber suara. Tepat sekali. Di depan sana
terlihatlah sosok jamur itu; dia tengah berjalan melintasi ruang tamu, mau
menuju ke pintu depan. Kedua tangannya bersarang di dalam kantung celana jeans
pendeknya yang berwarna hitam; pemuda itu memakai sweater bermotif
garis-garis yang warnanya hitam dan putih. Sialnya…dia terlihat tampan meski
hanya memakai baju yang simple seperti itu. Namun, saat melihat pemuda
itu, Fae jelas langsung merasa tidak nyaman. Rasa kesal serta malunya menguar
kembali ke udara; ia langsung ingin kabur dari rumah itu sekarang juga. Dia
malas sekali berhadapan dengan pemuda itu. Kalau boleh dikata, sejujurnya ini
luar biasa. Pemuda itu sudah membuat situasi di antara mereka jadi seperti ini,
padahal mereka baru saja bertemu. Fae angkat tangan, deh.
“Lho,
kalian
sudah berbicara?” ujar wanita itu tatkala si Jamur hampir sampai di
belakangnya.
“Iya,
tadi sore,” jawab si Jamur.
Wanita
itu pun langsung excited. “Wah, ini luar biasa. Ini pertanda baik!
Pindah ke sini merupakan keputusan yang bagus.”
Saat
si Jamur sudah berdiri di samping wanita itu, dia pun memiringkan kepalanya dan
tersenyum manis pada Fae. “Halo, Fae. Semakin malam semakin cantik saja.”
Fae
kontan memberikannya tatapan membunuh. Mulai lagi, anak ini.
Melihat
tatapan Fae, kontan si Jamur langsung terkekeh seraya sedikit menunduk.
Bisa-bisanya dia terlihat sangat tampan ketika melakukan itu. “Perkenalkan,
Fae, ini Ibuku.”
Fae
pun menatap wanita itu, lalu memberikan wanita itu sebuah anggukan pertanda
mengerti seraya tersenyum simpul. Namun, karena Fae tidak mau terus-menerus berhadapan
dengan si Jamur, Fae pun langsung berkata dengan terburu-buru, “Baiklah kalau
begitu, Bu. Saya pulang dulu, ya, Bu. Mama saya menunggu di rumah. Senang
bertemu denganmu, Bu.”
Wanita
itu pun terkejut. Dia heran mengapa Fae terlihat terburu-buru, padahal anaknya
baru sampai di sini. Bukankah Fae dan anaknya sudah berbicara tadi sore? Bukankah
seharusnya mereka sudah tidak terlalu canggung?
Menyadari
hal itu, wanita tersebut langsung buru-buru ingin menghentikan Fae. “Ah,
tungg—”
Namun,
dengan cerdiknya Fae langsung merunduk hormat dan tersenyum kelewat manis
(seolah tidak mau berlama-lama ada di sana), lalu berbalik dengan cepat. Dia
ingin lekas menjauhi si Jamur.
Namun,
didengarnya si Jamur mulai tertawa renyah. “Fae, kok buru-buru, sih? Masuk dulu
ke rumahku, yuk.”
Si
sialan, padahal dia tahu mengapa Fae buru-buru pergi dari sana. Dia sadar dan
dia berjemur santai di dalam kenyataan itu. Dia betul-betul memanfaatkan
situasi ini untuk menjaili Fae lebih jauh.
“Salam
untuk keluargamu, ya! Sampaikan terima kasihku, oke?!” teriak wanita itu—ibunya
si Jamur—pada akhirnya. Fae pun hanya menjawab, “Iya, Bu!” seraya buru-buru
berjalan ke arah pagar rumah itu. Tatkala sudah sampai di pagar, ia lantas membuka
pagar itu, keluar, lalu menutup pagar itu kembali dengan mengebut.
Saat
sudah berhasil mengeluarkan diri dari lokasi budi daya jamur oranye itu, Fae
pun menghela napas lega.
******
Keesokan
harinya, Fae duduk merenung di dalam kelas. Kelas itu berisik, soalnya semua
orang sibuk menyalin PR Matematika yang akan dikumpulkan di jam pertama. Ada
yang sampai kejar-kejaran karena merebutkan buku, ada yang sibuk meminjam pena
atau tip-ex, ada yang sibuk bertanya tentang asal usul jawabannya karena
takut ditanyai oleh guru Matematika, dan ada juga yang sibuk menulis
jawabannya dengan kecepatan tinggi sampai-sampai muncul keringat sebesar biji
jagung di pelipisnya. Namun, ada juga yang justru berisik karena sibuk bergosip
tentang trend-trend terbaru yang sebetulnya tak bisa mereka ikuti sama
sekali berhubung mereka tinggal di desa.
Di
desa itu terdapat satu SMA. Muridnya tidak terlalu banyak, tetapi fasilitasnya
cukup lengkap. Makanya, gedung SMA itu masih bertingkat
meskipun tidak sebesar sekolah-sekolah yang ada di kota.
Berhubung
Fae sudah menyelesaikan PR Matematikanya, Fae pun jadi memiliki waktu untuk
merenung di kursinya. Dia duduk di urutan nomor tiga, barisannya berada di
ujung kelas, dekat dinding. Dia mereka ulang kejadian sore kemarin hingga
kepalanya dipenuhi dengan warna oranye. Semuanya serba oranye.
Ah.
Sepertinya ada sirkuit yang rusak di kepalanya. Ini semua pasti terjadi akibat
terlalu banyak mengonsumsi jamur beracun. Fae mungkin takkan menyentuh sesuatu
yang berwarna oranye dulu untuk beberapa waktu, termasuk jeruk.
Tiba-tiba
pintu kelas terbuka. Semua murid langsung merapikan seluruh barang-barang
mereka, lalu kocar-kacir menuju ke kursi mereka masing-masing. Ada yang bukunya
terjatuh karena sibuk berlari dan menabrak orang lain, ada yang penanya jatuh,
bahkan ada juga yang sibuk merapikan ikat pinggangnya.
Seiring
dengan murid-murid di dalam kelas yang mulai duduk di kursinya masing-masing,
dari depan kelas terlihatlah Pak Daniel—guru Matematika sekaligus wali kelas
mereka—tengah melangkah ke depan papan tulis. Di belakang Pak Daniel ada seseorang,
yaitu seorang pemuda dan saat ini pemuda itu tengah mengikuti Pak Daniel.
Pemuda itu memakai seragam yang sama seperti mereka dan…
…rambutnya
berwarna oranye.
Fae
kontan terperanjat. Matanya membulat penuh. Tubuhnya tanpa sadar langsung
menegang. Napasnya tertahan dan rasanya jantungnya mau copot.
Sebentar.
Sebentar!
Itu…
Itu bukannya si Jamur yang ada di sebelah rumah—
Setelah
itu, seakan mengonfirmasi kecurigaan Fae, Pak Daniel dan pemuda itu pun mulai
menghadap ke seluruh murid.
…dan
benar. Itu adalah tetangga barunya Fae. Pemuda berambut oranye itu.
Mulut
Fae kontan menganga.
Sementara
itu, anak-anak di kelas mulai berbisik-bisik akibat merasa excited. Ada
yang berdecak kagum. Ada juga yang melihat ke arah pemuda berambut oranye itu
dengan mata yang berbinar. Semuanya merasa penasaran. Para murid yang laki-laki
pun melihat ke depan dengan antusias sebab pemuda berambut oranye itu terlihat bersahabat.
Sebetulnya,
ini tidak mengherankan, mengingat paras pemuda itu yang terlihat begitu tampan,
ramah, lembut dan baik hati seperti malaikat, serta membawa seluruh
cahaya bersamanya. Keberadaannya bagai dikelilingi oleh cahaya dan bunga-bunga
dari surga. Dia pasti akan disenangi di mana pun dia berada.
Kalau
saja orang-orang ini tahu bahwa pemuda itu memperhatikan tank top Fae
kemarin—
“Perkenalkan
dirimu, ya,” ucap Pak Daniel, sukses memotong isi pikiran Fae. “Nanti duduk
saja di kursi kosong yang ada di sana.” Pak Daniel menunjuk sebuah kursi kosong
di kelas yang jaraknya terpisah satu barisan dari Fae.
Fae
pun langsung menatap pemuda berambut oranye itu. Pemuda itu mulai tersenyum,
senyumannya terlihat begitu manis dan indah. Seisi kelas langsung
heboh, terutama yang perempuan.
“Baik,
terima kasih, Pak,” jawab pemuda itu. Pak Daniel pun tersenyum dan mengangguk.
Kini
seisi kelas mulai diam. Mereka tahu bahwa ini adalah saatnya pemuda berambut
oranye itu memperkenalkan dirinya. Mereka tak mau melewatkan momen ini.
“Hai.
Perkenalkan, namaku Riel Orion. Panggil aku Riel, ya,” ujar pemuda berambut
oranye itu dengan ramah.
Mendengar
nama pemuda itu, Fae mendadak merasa seolah angin di sekitarnya berembus dan menerpa
wajahnya dengan lembut. Selembut nyiur yang melambai di pantai, sedamai padang
rumput yang luas, senyaman suasana saat kau tertidur di bawah pohon yang
rindang.
Ah.
Jadi, namanya adalah Riel.
Senyuman
di wajah Riel belum memudar. Kedua mata pemuda itu melengkung seolah ikut
tersenyum. Senyuman yang tulus itu sebetulnya sukses menembakkan panah asmara
ke hati seluruh perempuan yang ada di kelas itu, kecuali Fae yang otaknya masih
belum bisa mencerna seluruh kejadian ini sepenuhnya.
“Oh
ya, aku bertetangga dengan Fae,” ujar Riel tiba-tiba. Pemuda itu menoleh
kepada Fae, lalu memiringkan kepalanya. Menyaksikan semua itu, jantung Fae
kontan terasa seolah berhenti berdegup. Mata Fae memelotot karena terkejut dan
tubuhnya menegang, terutama tatkala seisi kelas spontan ikut melihat ke
arahnya.
Sementara
itu, dengan tanpa dosa, Riel pun tersenyum semakin manis. “Salam kenal,
ya, untuk semuanya.” []
******


No comments:
Post a Comment