Saturday, August 2, 2025

Lost in the Woods (Chapter 4: Creeping in the Dark)


******

Chapter 4 :

Creeping in the Dark

 

******

 

JANTUNG Zoya serasa berhenti berdegup. Gadis itu terkejut setengah mati; dia spontan mundur dan menutup pintu tenda itu kembali. Dia terengah-engah.

            What was that? What the hell was that?!

Mengapa Mr. Parker menatap tepat ke arahnya?!

Apakah Zoya hanya salah lihat? Apakah sebenarnya mata Mr. Parker hanya kebetulan menatap tenda-tenda mereka dan tidak melihat ke arahnya secara spesifik?!

Lagi pula, kalau memang Mr. Parker melihat ke arahnya…

 

…bagaimana Mr. Parker bisa tahu bahwa dia sedang mengintip?!

 

Danau itu cukup jauh. Selain itu, Zoya hanya membuka ritsleting tendanya sedikit.

Tidak. Mr. Parker melihat tepat ke arahnya? Itu tidak mungkin. Kalau memang benar, berarti jarak pandang Mr. Parker jauh sekali. It’s kind of…impossible.

Mr. Parker pasti tidak benar-benar melihat ke arahnya. Mungkin melihat ke tenda mereka…atau ke sesuatu yang ada di belakang tenda. Di antara pepohonan.

Iya. Pasti begitu.

Pasti Zoya hanya salah paham.

 

Akan tetapi, jika Zoya hanya salah paham…

 

…mengapa jantung Zoya saat ini tak berhenti berdegup kencang?

 

Zoya meneguk ludahnya. Dia tak jadi buang air kecil.

Dia duduk di tenda itu, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit pun…selama sekitar satu menit. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi dia hanya salah paham; dia diam dan menunggu hingga situasi setidaknya jadi lebih aman. Mungkin, kalau ia menunggu sebentar, Mr. Parker akan hilang dari danau itu. Mungkin, sebentar lagi…Mr. Parker akan pergi dari sana.

Zoya menunggu. Terus menunggu.

Ia menunduk dan menyatukan jemarinya. Menahan hasratnya untuk buang air kecil.

 

Tunggu. Tunggu sebentar saja.

Sebentar lagi…seharusnya Mr. Parker sudah tak ada lagi di sana.

 

Sekitar satu menit kemudian, Zoya pun kembali mendekati pintu masuk tenda itu. Menyibaknya perlahan…

…dan mulai mengintip lagi.

Jantungnya berdebar tak keruan. Napasnya tertahan. Ludahnya terasa sulit untuk ditelan.

Dia pun melihat jauh ke depan sana. Ke danau itu.

 

Ternyata, Mr. Parker…

 

…sudah tidak ada lagi di danau itu.

 

Bagaikan terbebas dari segala beban yang telah menyesakkan dadanya, Zoya pun bernapas lega. Embusan napasnya terdengar begitu kuat; ia membebaskan semua udara yang sejak tadi ia tahan. Kencangnya bunyi detak jantung yang sudah mengganggunya sejak tadi pun perlahan-lahan mereda.

 

Huh.

Syukurlah.

Syukurlah…

 

Zoya menunduk dan mengusap dadanya pelan. Gadis itu mulai merasa tenang.

Beberapa saat kemudian, hasrat untuk buang air kecil itu pun kembali mampir. Membuat Zoya langsung sadar tentang apa yang membuatnya ingin ke luar tenda sejak awal.

Dia tadi ingin buang air kecil.

Zoya pun meraih ponselnya yang ada di dekat bantal. Gadis itu menghidupkan flashlight, lalu membuka ritsleting pintu tenda itu sepenuhnya. Dia sempat melihat Inez dan Sophia yang sedangtertidur pulas sebelum akhirnya keluar dari tenda.

Zoya mengarahkan flashlight ponselnya itu ke depan untuk melihat jalan. Ia ingin buang air kecil di dekat pohon saja. Ia harus mencari pohon yang tidak terlalu dekat…tetapi juga tidak jauh dari tenda mereka.

Suara gemerusuk dari dedaunan kering yang Zoya injak di sepanjang jalan itu terdengar begitu kencang, terutama karena sepinya malam di hutan itu. Suaranya sekarang jadi terdengar sangat creepy, padahal tadi siang…ketika ia berjalan ‘mendahului’ Elias, suaranya terdengar biasa-biasa saja.

Zoya berjalan pelan-pelan. Dia menerangi jalanan di depannya…dan menuju ke salah satu pohon. Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai pohon itu,

…tiba-tiba dia melihat beberapa siluet manusia di depan sana.

Siluet hitam. Seperti bayangan, tetapi bukan hantu. Itu manusia.

Sekitar tiga…atau empat orang. Di depan sana. Berjalan dari arah kanan…dan lurus terus hingga ke arah kiri.

Mereka berjalan santai. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat…

...tetapi tanpa suara.

Agaknya, mereka ingin pergi ke suatu tempat bersama-sama.

Zoya berhenti melangkah. Gadis itu spontan terdiam di tempat; keningnya berkerut. Dia memperhatikan orang-orang itu.

Bukankah mereka…sedikit aneh?

Apa yang mereka lakukan malam-malam begini?

 

Mau ke mana mereka?

 

Rasa penasaran itu membuat Zoya terdiam di tempat. Ia terus berdiri di sana seraya memperhatikan orang-orang itu.

Apakah orang-orang yang tinggal di hutan ini memang sering keluar malam? Tadi, Mr. Parker juga sedang berdiri di depan danau…

Zoya mulai memfokuskan pandangannya. Ia ingin melihat siluet itu dengan lebih jelas tanpa harus mengarahkan flashlight-nya ke depan sana. Ia tak ingin ketahuan meskipun mungkin saja ia sudah ketahuan karena cahaya flashlight-nya. Soalnya, orang-orang di depan sana…

…agaknya tidak memakai penerangan apa-apa. Hanya mengandalkan cahaya bulan dan bintang malam ini.

Ayo lihat dengan saksama. Ada satu…dua…tiga…dan—

 

Pundak Zoya ditepuk pelan.

 

“Apa yang kau lakukan di sini?”

 

Mata Zoya membulat sempurna. Ia refleks langsung berbalik dan menjauhkan tubuhnya. Ia panik bukan main dan jantungnya nyaris mencelus ke perut.

Wajahnya pucat seketika.

Akan tetapi, di tengah napasnya yang pendek-pendek itu, di tengah kegelapan malam itu, dibantu dengan flashlight ponselnya yang sekarang mengarah entah ke mana…

 

Ia melihat Mr. Parker berdiri di hadapannya.

 

Tengah tersenyum lembut padanya.

 

Jantungnya serasa berhenti berdetak.

 

Mengapa Mr. Parker tiba-tiba ada di sini?!

 Bukankah—bukankah tadi pria paruh baya itu sudah pergi dari danau?

Dia masih ada di sekitar sini, ya?

Sebenarnya, dia sedang melakukan apa?!

 

Zoya meneguk ludahnya. Entah mengapa, instingnya menyuruhnya untuk pergi. Berlari masuk ke tenda. Melupakan seluruh hasratnya untuk buang air kecil. Ada rasa takut yang tak bisa ia jelaskan; rasa takut itu merangkak masuk menembus kulitnya. Akan tetapi, ia takut kalau ia berlari…ia hanya akan membuat suatu kesalahan. Ia tak ingin dikira benar-benar takut. Ini seperti kau tidak boleh berlari di depan seekor anjing karena anjing itu mungkin akan mengejarmu.

Zoya tidak bermaksud untuk menyamakan Mr. Parker dengan seekor anjing, tetapi—tetapi instingnya mengatakan demikian. ‘Kau harus lari, tetapi di sisi lain kau tidak boleh berlari.’

Namun, tatkala melihat senyuman ramah di wajah Mr. Parker, Zoya mendadak merasa bersalah. Ia tak seharusnya takut pada Mr. Parker; pria paruh baya itu sudah bersikap sangat baik pada mereka dan memperhatikan mereka. Dia bahkan menyambut Zoya dengan sangat baik ketika Zoya menumpang mandi di rumahnya tadi sore.

Ini tak boleh dilakukan. Zoya tak boleh terlihat takut seperti ini, apalagi kalau sampai berlari. Itu sungguh tidak sopan.

Jadi, dua detik kemudian…

Zoya pun meneguk ludahnya.

Memberanikan diri untuk membuka suara…meski terdengar serak dan bergetar.

 

“A—Aku…” Napas Zoya tertahan. “Aku hanya ingin buang air kecil, Mr. Parker.”

Zoya sadar bahwa posisinya tubuhnya sekarang masih terlihat waswas. Ekspresi wajahnya juga demikian.

Namun, Mr. Parker masih tersenyum. Pria itu bernapas samar…lalu bersuara.

“Mengapa tidak menumpang di rumah warga saja?”

Zoya bersumpah, entah mengapa suara Mr. Parker malam itu terdengar seperti bergema. Apa karena hutan itu sepi? Atau karena otak Zoya mulai berhalusinasi karena panik?

Apa pun itu, this is unsettling.

Zoya menarik napasnya sejenak, lalu menjawab, “I—Ini sudah malam, Mr. Parker. Aku tak mau mengganggu tidur warga hanya karena aku ingin buang air kecil.”

Mr. Parker mengangguk pelan, masih tersenyum. Tatapannya begitu lembut. “Ya sudah. Kalau kau ingin buang air kecil di luar, hati-hati, ya.”

Zoya mengangguk perlahan, agak kaku.

“Baik, Mr. Parker. Thank you.”

Mr. Parker masih tersenyum. Pria itu mengangguk pelan, seolah-olah ingin mengatakan ‘sama-sama’ tanpa suara.

Suasana saat itu mendadak jadi agak awkward. Zoya lagi-lagi meneguk ludahnya karena tak nyaman dengan suasana sepi ini.

Namun, mendadak Zoya teringat sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa membuat situasi ini jadi tidak awkward atau janggal lagi.

Siluet hitam tadi.

Ya. Itu dia.

Zoya kebetulan memang penasaran soal siluet hitam itu.

Akhirnya, dengan sedikit canggung, Zoya pun mulai bertanya.

“Umm…itu…Mr. Parker…”

“Hm?” Mr. Parker sedikit memiringkan kepalanya.

Zoya tanpa sadar menahan napasnya. Gadis itu mulai menunjuk ke depan sana. “Barusan…aku melihat ada beberapa orang yang lewat di sana…”

Mr. Parker pun melihat ke arah yang Zoya tunjuk. Matanya agak melebar. “Ooh. Mungkin itu warga sini. Mereka ingin pergi ke peternakan sapi atau kambing mereka. Biasanya, mereka memang keluar malam-malam begini.”

Zoya menatap ke arah yang sama, lalu menurunkan tangannya. Ia sadar bahwa siluet hitam tadi sudah tidak ada di depan sana. Sudah hilang, tentu saja. Orang-orang itu mungkin sudah sampai di peternakan mereka…walau Zoya tak tahu di mana tepatnya lokasi peternakan itu.

Zoya dan Mr. Parker pun kembali saling menatap.

“O—Oh…begitu, ya…” jawab Zoya dengan gugup.

“Hm,” deham Mr. Parker. “Jangan khawatir. Itu hanya warga sini.”

Zoya akhirnya mengangguk. Gadis itu tersenyum dengan canggung. “B—Baiklah, Mr. Parker. Terima kasih atas penjelasannya. Aku…aku mau buang air kecil terlebih dahulu.”

Mr. Parker tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Hati-hati, ya.”

“Yes. Thank you, Mr. Parker,” ujar Zoya seraya mengangguk. Mr. Parker pun pamit dan berbalik, lalu mulai berjalan menjauhi Zoya.

Zoya kini hanya bisa memandangi punggung Mr. Parker dari belakang. Sosok Mr. Parker itu perlahan-lahan jadi terlihat semakin kecil…dan semakin menjauh.

Zoya meneguk ludahnya—sedikit bersyukur karena ternyata semua ketakutannya tadi tidak terbukti—lalu berbalik dan mulai menyelesaikan urusannya, yaitu buang air kecil.

 

******

 

Sekitar jam enam pagi, kesepuluh orang yang mengikuti kegiatan kemah itu mulai bangun. Ada yang hanya melakukan peregangan di depan tenda, ada yang buang air kecil, ada yang mengambil minum, dan ada juga yang mencuci muka di danau.

Udara di hutan tersebut pagi ini terasa begitu segar. Terasa dingin ketika sampai di hidung.

Zoya baru saja kembali dari menggosok giginya bersama Inez ketika tiba-tiba Mr. Parker datang ke area perkemahan mereka bersama seseorang. Seorang gadis.

Gadis itu berkulit putih, seperti Mr. Parker. Putih sekali. Wajahnya cantik, khas gadis desa. Dia berambut blonde dan diikat dua di bagian bawah. Dia juga memakai hair scarf berwarna krem dengan garis-garis jingga. Dia memakai pakaian yang warnanya dominan cokelat seperti gadis desa di abad pertengahan.

Semua orang yang tadinya sedang melakukan aktivitasnya masing-masing…kontan langsung mendekat. Mereka merapat ke area tenda karena melihat Mr. Parker datang, terutama Mr. Parker datang bersama seorang perempuan yang tak pernah mereka lihat. Mr. Parker dan perempuan itu masing-masing sedang membawa sebuah kotak.

Ketika semua orang sudah berkumpul, Mr. Parker pun tertawa renyah. “Ah, maaf, ya, sudah mengganggu kalian pagi-pagi begini.”

Beberapa dari mereka langsung menjawab, “Oh, tidak, tidak, Mr. Parker. It’s okay.”

Ada juga yang mulai bertanya, “Ada apa, Mr. Parker?”

Mr. Parker tersenyum. “Aku dan Lynn, anak gadisku, membawakan sarapan untuk kalian. Ini bukan makanan yang mewah, tetapi…semoga kalian suka.”

“Woah!! Thank you, Mr. Parker!” teriak Miller. Beberapa dari mereka mulai mendekati Mr. Parker dan melihat bahwa kotak yang Mr. Parker bawa adalah kotak berisi minuman, sementara kotak yang dibawa oleh anaknya Mr. Parker (Lynn) adalah kotak berisi makanan. Semacam rice bowl. Wadahnya bulat dan memakai tutup.

Lynn tersenyum dengan sangat manis kepada mereka semua. Namun, ada satu orang yang agaknya benar-benar tak berhenti menatap Lynn.

Eddie.

Di antara Eddie dan Lynn, sempat terjadi sebuah tatapan yang bertahan lebih lama daripada seharusnya. A gaze that lasted for four seconds longer.

Seperti ada sebuah tension…yang tak tahu mengapa bisa terbangun. Awalnya…Lynn tersenyum pada Eddie. Setelah itu, Eddie menatap gadis itu dengan lekat…dan tersenyum miring. Tatapan Eddie sangatlah fokus, memenjarakan…seolah-olah tengah mengutarakan hasratnya tanpa ia sadari.

Di sisi lain, dalam waktu singkat—yang hampir tidak kelihatan—Lynn sempat memberikan tatapan yang sama pada Eddie dan berhenti tersenyum manis. Senyuman manis itu berganti dengan seringai tipis sejenak…hanya selama satu detik, lalu Lynn kembali menatap ke lain arah dan memberikan senyuman manis.

Semua aksi tanpa suara itu tidak dilihat oleh banyak orang. Mungkin…hanya dilihat oleh beberapa orang yang kebetulan berdiri di dekat Eddie.

“Ini. Silakan…” kata Lynn dengan ramah. Senyumannya tidak pudar. Dia mulai membagikan rice bowl itu ke sepuluh orang yang ada di sana, satu per satu. Mr. Parker juga membagikan minuman kepada mereka semua.

Semua orang yang menerima itu terlihat senang. Well, makan gratis, lho! Hitung-hitung…bisa sedikit menghemat persediaan makanan mereka (walau sebenarnya makanan mereka masih cukup).

Setelah membagikan makanan dan minuman itu, Mr. Parker Lynn pun pamit. Kesepuluh orang yang menerima makanan dan minuman itu langsung mengucapkan ‘terima kasih’ pada mereka, nyaris serentak. Hayes, Elias, Sophia, dan Inez juga sempat mengatakan, “Hati-hati, Mr. Parker!”

…dan Mr. Parker hanya tertawa kecil, mengangguk, dan pergi dari sana bersama anaknya.

Sepeninggal Mr. Parker dan Lynn, mereka bersepuluh pun langsung duduk di depan tenda. Mereka duduk melingkar…dan mulai sarapan bersama-sama. Ada yang mulai mengobrol, ada yang mulai tertawa, dan ada juga yang hanya fokus makan.

Inez dan Zoya ikut duduk bersama delapan orang lainnya, tetapi posisi mereka tetap ada di depan tenda mereka sendiri. Sayangnya, Sophia tidak ada bersama mereka. Sophia duduk di dekat Becca dan July.

Zoya makan dengan santai. Pelan. Namun, pikirannya berkelana jauh. Sambil menyuap nasi ke mulutnya, ia terus memikirkan soal apa yang telah terjadi semalam.

Ia yang ingin buang air kecil. Ia yang melihat Mr. Parker di dekat danau. Ia yang melihat Mr. Parker tiba-tiba menoleh ke arahnya. Ia yang melihat siluet hitam dari kejauhan. Ia yang kemudian bertemu lagi dengan Mr. Parker secara mendadak. Ia yang mendengarkan penjelasan dari Mr. Parker bahwa warga desa biasanya memang pergi ke peternakan mereka malam-malam.

Semua itu terlalu aneh untuk tidak dipikirkan. Namun, di sisi lain, semua itu juga agak berlebihan jika dipikirkan sekarang, soalnya saat ini seharusnya mereka menikmati graduation trip ini.

…walau sebenarnya sejak awal Zoya sudah tidak menikmatinya.

Apakah hal ini hanya terjadi pada Zoya? Kalau memang begitu, apakah semuanya terjadi karena sejak awal Zoya memang tidak menikmati perjalanan ini?

Ah, entahlah. Zoya jadi pusing sendiri. Otaknya mendadak overheating; pikirannya ke mana-mana.

Tiba-tiba, seseorang membuka suara. Satu dari sepuluh orang tersebut.

Jack.

Suaranya cukup besar hingga membuat semua orang yang ada di sana fokus padanya; mereka berhenti mengobrol dan berhenti tertawa seketika.

Semua orang menatap Jack saat pemuda itu mulai bertanya.

 

“Hei, tadi malam ada yang keluar dari tenda, ya?”

 

Zoya tersentak. Tangannya terhenti di udara.

 

Setelah itu, Jack pun melanjutkan, “Soalnya, aku melihat ada bayangan hitam yang terus bolak-balik di depan tenda kami.”

Semua orang jadi keheranan. Zoya membulatkan mata.

Itu pastinya bukan Zoya. Jack tidur di tenda yang sama dengan Elias dan Hayes, jadi jaraknya cukup jauh dari tenda Zoya.

Beberapa orang yang ada di sana mulai keheranan. Saling bertanya.

 

“Tidak, tidak ada yang keluar.”

“Kau keluar?”

“Tidak, aku sudah tidur.”

“Iya, tidak ada yang keluar.”

“Aku juga tidak keluar.”

 

Keadaan mulai jadi sedikit ramai. Hayes lantas mengangkat alisnya. “Are you serious? I did not see that.”

Jack spontan menatap Hayes dan mendengkus. “Dude. You were sleeping.”

Eddie dan Miller jadi tertawa. Hayes langsung kesal; dia ikut-ikutan mendengkus.

Namun, Elias, instead of laughing at Hayes, dia justru mengernyitkan dahi. Dia adalah tipe pemuda yang tak pernah menganggap enteng suatu masalah.

Dia pun menatap Jack dengan saksama. Ingin tahu. Sama seperti kebanyakan orang yang ada di sana.

“Apa yang bayangan hitam itu lakukan? Dia pria atau…wanita?”

“I don’t know. Aku tak terlalu memperhatikannya,” jawab Jack. “Aku hanya tahu kalau dia bolak-balik di depan tenda kita.”

“Oh my God,” ujar Sophia, gadis itu tiba-tiba menimbrung. Sophia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Bu—bukankah itu…berbahaya?! Apakah ia ingin melakukan sesuatu pada kalian?!”

Becca mengangkat sebelah alisnya. “Apakah dia berada di depan tenda kalian untuk waktu yang lama?”

July pun menambahkan, “Kalian tidak apa-apa, ‘kan?”

“Yes, we’re okay,” jawab Jack. “Dia tidak melakukan apa-apa selain berjalan bolak-balik, ke kanan dan ke kiri. Dia melakukan itu selama sekitar…satu menit. Aku hanya penasaran siapa orang itu kerena jujur saja itu cukup…mengganggu.”

“Apakah itu warga sini?” ujar Miller, menebak-nebak. Eddie hanya minum, lalu mengedikkan bahu. “Ya, sepertinya begitu. Mungkin hanya warga yang sedikit aneh.”

“Kau tidak seharusnya bersikap setenang itu, Eddie,” ujar Inez.

“Lain kali, bawa pisau ke dalam tenda kalian,” ujar Sophia. Dia mulai mengusap kedua lengannya dan bergidik ngeri. “That’s creepy.”

July langsung menatap Elias dan memberikan tatapan khawatir. “Elias, kau baik-baik saja, ‘kan? Hm?”

Mendengar pertanyaan itu, semua laki-laki di sana langsung serentak berpikir:

‘Ah, beginilah perempuan. Yang dikhawatirkan pasti yang tampan saja.’

Namun, mengingat bagaimana kepribadian July, mereka semua tak ingin menyuarakan itu.

Elias pun mengangguk dan tersenyum tipis, out of polite. “I’m okay.”

July memiringkan kepala, lalu tersenyum lembut pada Elias. Lembut…tetapi tetap terlihat sedikit…menggoda. “Syukurlah.”

Di sisi lain, Zoya tidak memperhatikan adegan antara July dan Elias itu. Dia sibuk memikirkan cerita Jack dan mencocokkan cerita itu dengan apa yang terjadi padanya semalam. Dahinya berkerut; ia meletakkan sendoknya di mangkuk sarapan itu. Berhenti makan.

 

Apakah benar itu warga desa sini?

Kapan kejadiannya?

Apakah jarak waktu kejadiannya berbeda jauh dengan kejadian yang kualami?

Lagi pula, mengapa warga desa sini keluar malam-malam begitu?

Mereka tidak tidur?

 

“Hei.”

 

Zoya tersentak. Jantungnya hampir saja berhenti berdegup karena kaget. Matanya spontan membulat; ia langsung menoleh ke samping sebab suara itu adalah suara Inez; Inez menepuk pundaknya seraya menegurnya.

Zoya meneguk ludah, mendadak gadis itu jadi gugup setengah mati. “Y—Yes?”

Inez menatap Zoya dengan saksama. Alisnya nyaris menyatu. Hingga kemudian, dia menghela napas.

 

“Sesuatu pasti telah terjadi padamu.”

 

Tubuh Zoya mematung.

Matanya kembali membulat.

Tiba-tiba saja, ada bunyi ‘deg’ yang kencang, berasal dari jantungnya.

 

Soalnya, lagi-lagi ia sadar bahwa…

 

…ia tak bisa membohongi Inez. Inez tahu semua tentangnya: apa yang membuatnya lemah, bagaimana cara menyerangnya agar ia setuju, serta semua ekspresinya. Gadis satu itu paham betul soal siapa dirinya.

Zoya menunduk.

Inez kini benar-benar menghadap padanya. Gadis itu memiringkan kepala, lalu bertanya, “Ada apa? Katakan padaku.”

Zoya diam sebentar. Dia sempat mengerutkan dahi, mengigit bibir, dan meremas tangannya sendiri karena merasa ragu. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya kepada Inez.

Namun, Inez tetap menunggu. Menatap Zoya dengan lekat. Fokus. Gadis itu tak peduli dengan pembahasan yang terjadi di belakangnya, yaitu pembahasan tentang tenda rombongan Jack.

Zoya pun meneguk ludahnya. Dia akhirnya menatap Inez.

“Aku…tadi malam aku keluar karena mau buang air kecil. Apa kau menyadarinya?”

Inez mengernyitkan dahi. Gadis itu langsung menggeleng dan berkata, “Tidak. Benarkah? Aku bahkan tidak mendengar bunyi apa-apa.”

Zoya mengangguk. “Aku buang air kecil semalam, ketika kalian tidur. Namun, ketika aku baru saja membuka ritsleting pintu tenda itu dan mengintip ke luar…”

Inez menunggu dengan saksama. Perasaannya mulai tak enak.

Zoya pun menghela napas.

“…aku melihat Mr. Parker di dekat danau.”

“Mr. Parker?” Alis Inez menyatu. Gadis itu menggeleng. “Kau…serius? Di danau? Apa yang Mr. Parker lakukan di sana?!”

Zoya mengedikkan bahu dan mendengkus. “Aku juga tak tahu. Namun, saat aku mengintipnya…”

Entah mengapa, Inez jadi panik. Dia gelisah sendiri. Jantungnya berdegup kencang. “A—Apa? Dia melakukan apa?”

Zoya sedikit menunduk. Dia kembali mengingat kejadian semalam bagai me-replay sebuah video di dalam kepalanya.

“D—Dia…” Zoya menggeleng. “Dia tiba-tiba melihat ke arahku.”

Mata Inez membulat.

Jantung Inez serasa berhenti berdegup. Ia menganga—tubuhnya mematung—dan sungguh, mendadak dia jadi gagap. Ia ingin berbicara, tetapi kata-kata yang ia keluarkan semuanya tidak terucap dengan baik.

“Aku—kau—are you—”

Zoya menghela napas.

“Mungkin hanya perasaanku saja, Inez. Bisa jadi…dia hanya kebetulan melihat ke bagian belakang tenda kita. Tidak benar-benar melihat tepat ke arahku.”

Inez menggeleng. “But—”

“Aku…kaget, jadi aku berhenti mengintipnya dan menunggu sebentar. Beberapa saat kemudian, saat aku kembali mengintip ke luar, dia sudah tidak ada,” ujar Zoya.

“Ke mana dia?” Alis Inez terangkat.

Zoya mengedikkan bahu.

“Aku tak tahu. Aku hanya langsung ke luar dan mencari tempat untuk buang air kecil. Namun, saat masih berjalan, tiba-tiba aku melihat siluet orang-orang di depan sana.” Zoya menunjuk ke tempat di mana siluet-siluet hitam itu muncul tadi malam.

Inez melihat ke arah yang sama dan dahinya berkerut. “Orang-orang? Malam-malam begitu?! Berapa orang?!”

Zoya menggeleng. “Aku tak sempat menghitungnya. Aku hanya melihat mereka berjalan dari sisi kanan…ke sisi kiri.”

Mereka kembali bertatapan.

Inez bertanya lagi, “Mengapa kau tak sempat menghitungnya? Apakah sesuatu—"

“Mr. Parker tiba-tiba ada di belakangku dan menepuk pundakku,” potong Zoya. “Dia bertanya padaku apa yang sedang kulakukan di luar tenda.”

Mata Inez membeliak. “HAH?! MENGAPA DIA—”

“Inez!!” Zoya cepat-cepat menutup mulut Inez. “Banyak orang di sini!!”

Inez langsung melepaskan tangan Zoya dari mulutnya—padahal orang-orang sudah sempat menatap mereka dan keheranan—lalu dia menggeleng. “No, no, no. Beri tahu aku sekarang. Beri tahu aku mengapa dia tiba-tiba ada di sana! Itu mengerikan!!”

 

“Mengapa kau tidak memintaku untuk menemanimu, Zoe?”

 

Zoya dan Inez tersentak.

Mereka berdua spontan menoleh ke asal suara; mereka mendongak…

…dan menemukan Elias.

Pemuda itu berdiri di dekat mereka—di dekat Zoya, lebih tepatnya—entah sejak kapan. Dari kata-katanya, agaknya dia sudah menguping sejak tadi. Apakah dia menguping dari posisi yang agak jauh? Soalnya, kalau menguping dari dekat…bukankah seharusnya Zoya dan Inez menyadari keberadaannya?!

Mata Zoya melebar. Melihat wajah Elias membuat jantungnya berdebar lagi. Ia juga ingat kejadian semalam di mana…Elias hampir mencium bibirnya.

Pipi Zoya memerah. Tubuhnya mematung.

Sementara itu, Inez langsung menganga dan berkata, “Sejak kapan kau ada di sini, Elias?!”

Elias, pemuda tampan itu, mulai tersenyum lembut. A breathy smile.

…and then he spoke.

 

“Barusan. Aku tahu karena tadi aku menguping dari posisi yang agak jauh.”

 

Napas Zoya tertahan. Elias menguping? Dari posisi yang agak jauh?

Bukannya tadi dia duduk di dekat Hayes di ujung sana? Sejak kapan dia melangkah pelan-pelan ke dekat sini…sambil membawa makanan dan minumannya?

“Apa saja…yang kau dengar?” tanya Inez. Dialah yang angkat suara karena Zoya tampaknya jadi diam akibat kehadiran Elias.

Elias mulai duduk di sebelah Zoya; dia langsung mengambil posisi di tengah-tengah Zoya dan Inez setelah meletakkan makanan dan minumannya.

“Hmm…” Elias berpikir sebentar, lalu tersenyum miring kepada mereka berdua. “…Semuanya?”

Zoya dan Inez hampir tersedak.

 

This guy is kinda…terrifying.

…in a hot way.

 

“Itu terdengar agak aneh, tetapi…” Inez menganga. “Oke. Terserahmu saja.”

Elias tertawa kecil.

Pemuda itu pun kemudian menatap Zoya. Tatapannya sangat lembut…lalu dia tersenyum.

“Jadi, Zoemengapa kau tidak memintaku untuk menemanimu? Pada dasarnya, kau keluar sendirian, malam-malam, di tengah hutan. Seharusnya kau memanggilku kalau memang tak ingin membangunkan Inez. Aku bisa menemanimu.”

Zoya kembali tersentak. Jantungnya berdegup kencang; ia langsung buang muka dan tak mau melihat wajah tampan Elias, terutama tatapan lembutnya…senyumannya…

Semua itu membuka ribuan memori yang tak ingin ia ingat saat ini.

“Mengapa aku harus memanggilmu?” ujar Zoya dengan ketus.

Elias memiringkan kepalanya. “Memangnya salah kalau memanggilku?”

Zoya terdiam. Dia jadi bingung mau menjawab apa. Kalau menjawab ‘salah’, salahnya di mana? Kalau menjawab ‘tidak salah’, nanti harga dirinya jatuh.

Sial. Elias pasti sengaja menjebaknya.

Ya. Benar. Inezlah yang melihat seluruh adegan itu seraya menggeleng. Zoya yang masih gengsi…dan Elias yang tersenyum miring karena berhasil menjebak Zoya.

Dasar para mantan yang belum bisa move on, pikir Inez.

Beberapa detik kemudian, Elias pun mulai bertanya. Namun, kali ini, tidak ada senyuman di wajah pemuda itu. Ia menatap Zoya dengan serius.

“Jadi, Zoe, mengapa Mr. Parker tiba-tiba ada di belakangmu tadi malam?”

Zoya pun akhirnya menatap Elias. Meski tatapan itu sedikit bertahan lebih lama daripada seharusnya, Zoya tetap mencoba untuk menghela napas dan menjawab dengan benar.

Inez dan Elias langsung menyimak Zoya.

“Aku tidak tahu kenapa. Aku juga tidak menanyakan alasannya padanya. Setelah dia menepuk pundakku dan menegurku karena ingin tahu apa yang kulakukan, aku pun menjawabnya; kubilang aku hanya ingin buang air kecil,” jawab Zoya.

Inez mengangguk. “Lalu?”

Zoya mengedikkan bahu. “Yah…karena penasaran, aku pun menanyakan soal siluet hitam itu.”

“What did he say?” tanya Elias.

 “Dia bilang…itu hanyalah warga desa yang ingin pergi ke peternakan mereka. Katanya, warga-warga desa itu memang biasa pergi ke peternakan mereka malam-malam,” jawab Zoya.

Elias mengernyitkan dahi.

“Ke peternakan…malam-malam?” Elias menggeleng. “Untuk apa? Kalau karena ingin mengurus peternakan mereka, bukankah itu justru tidak efektif?”

Zoya mengedikkan bahu. “Entahlah. Mungkin sudah jadi kebiasaan warga sini.”

Elias masih merasa heran. “Mereka bisa mengurusnya saat masih terang. Dari pagi sampai sore.”

“Mungkin…mereka kerja di tempat lain dari pagi sampai sore?” kata Inez.

“Suami istri kerja di tempat lain semua?” tanya Elias, dia menatap Inez seraya mengangkat alis. “Kalau begitu, seharusnya mereka mempekerjakan seseorang untuk mengurus peternakan mereka.”

“Mungkin uang mereka tidak cukup untuk membayar pekerja?” Inez masih mencoba untuk berpikir positif.

“Jangan punya peternakan, kalau begitu,” jawab Elias langsung. “Jual saja peternakannya.”

Inez spontan tertawa kencang. Zoya pun diam-diam tertawa kecil karena perdebatan itu terdengar sungguh menggelikan baginya. Akan tetapi, Zoya tak mau tertawa lepas karena tak ingin Elias melihat tawanya. Ia masih gengsi. Ia tak mau tertawa ‘karena’ kelakuan Elias. Ia tak mau terlihat seperti ‘memaafkan’ Elias.

Akhirnya, mereka pun jadi berhenti berpikir negatif tentang siluet hitam itu—meskipun jelas-jelas siluet itu agak aneh—dan membicarakan hal lain sambil makan. Zoya berkali-kali memberi kode kepada Inez agar mereka pergi saja menjauhi Elias (karena ia merasa tidak nyaman), tetapi Inez malah tertawa kecil, diam-diam mengejek Zoya yang masih sangat terganggu dengan keberadaan Elias.

Like, girl. Jujur sajalah. Bukan hanya Elias yang belum bisa move on. Kau juga masih sangat memikirkannya, pikir Inez.

Meskipun Inez pada dasarnya jadi seperti obat nyamuk di antara mereka, Inez tetap menikmati momen itu…karena Zoya dan Elias orangnya sama-sama baik. Inez juga terbiasa dengan kehadiran Elias karena pemuda itu sudah cukup lama pacaran dengan Zoya.

 

******

 

Mereka telah selesai makan sejak dua jam yang lalu. Sekarang sudah jam 10 pagi dan kesepuluh dari mereka mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang mandi di danau, ada yang memainkan ponsel sambil memakan snack di dalam tenda, ada yang berkeliling hutan, ada yang melihat peternakan warga, ada yang mencuci piring atau baju mereka, dan ada juga yang bermain gitar di depan tenda.

Semua itu berjalan lancar-lancar saja. Keanehan yang mereka bicarakan saat sarapan tadi juga seolah-olah mereka tepis dan lupakan. Mereka ingin berpikir positif karena mereka datang ke sini untuk bersenang-senang. Menghabiskan waktu bersama sebelum fokus ke hidup masing-masing.

Zoya, Inez, dan Sophia ada di dalam tenda mereka. Memainkan ponsel, menghidupkan lagu…sambil memakan snack. Mereka baru saja selesai mandi (menumpang mandi di rumah-rumah warga).

Seharusnya hari ini akan terlewati dengan lancar. Gembira. Lebih bisa bonding daripada kemarin.

Namun, agaknya dunia belum mengizinkan itu…

…karena dua menit kemudian, tiba-tiba saja July berteriak.

Teriakannya sangat kencang.

 

“TOLONG!!!! EVERYONE, PLEASE!!! HELP!!”

 

Zoya, Inez, dan Sophia jelas terperanjat. Mereka langsung duduk tegap, saling menatap satu sama lain dengan mata membulat, lalu refleks berdiri dengan panik. Mereka langsung berlari ke luar tenda dan bertanya-tanya, “Apa?! Ada apa?!!”

Semua orang juga yang ada di sekitar juga langsung berlari mendekat. Mereka mendengar kalau teriakan July itu berasal dari belakang tendanya, jadi mereka langsung pergi ke sana.

Sesampainya di sana, mereka semua (termasuk Zoya, Inez, dan Sophia) menyaksikan sesuatu yang membuat alis mereka menyatu. Mulut mereka menganga.

Soalnya, di sana mereka melihat Miller yang sedang dalam posisi merangkak; pemuda itu muntah-muntah. Muntahannya sangat banyak; itu mungkin mengandung seluruh makanan dan minuman yang ada di perutnya. July dan Becca ada di sebelah pemuda itu, tengah memegangi dan mengusap-usap punggungnya. Ekspresi mereka berdua terlihat panik.

“Dia—dia tidak berhenti muntah. Dia terus muntah sejak tadi! Tolong—seseorang harus minta tolong kepada warga setempat!” teriak Becca.

Jack langsung mengangkat tangannya. Ia terlihat cemas. “Aku. Aku akan pergi. Tunggu sebentar.”

Namun, sebelum Jack sempat melangkahkan kakinya pergi dari sana…

 

…tiba-tiba Miller ambruk.

 

Pemuda itu pingsan di tempat. []

 












******








No comments:

Post a Comment

She Was Never Mine (Bab 4: Segalanya Untuknya)

  ****** Bab 4 : Segalanya Untuknya   ******   LANTUNAN lagu di radio terdengar begitu merdu saat Josh baru saja memberhentikan mo...