Chapter
4 :
Creeping
in the Dark
******
JANTUNG
Zoya
serasa berhenti berdegup. Gadis itu terkejut setengah mati; dia spontan mundur
dan menutup pintu tenda itu kembali. Dia terengah-engah.
What was that? What the hell was
that?!
Mengapa
Mr. Parker menatap tepat ke arahnya?!
Apakah
Zoya hanya salah lihat? Apakah sebenarnya mata Mr. Parker hanya kebetulan
menatap tenda-tenda mereka dan tidak melihat ke arahnya secara spesifik?!
Lagi
pula, kalau memang Mr. Parker melihat ke arahnya…
…bagaimana
Mr. Parker bisa tahu bahwa dia sedang mengintip?!
Danau
itu cukup jauh. Selain itu, Zoya hanya membuka ritsleting tendanya sedikit.
Tidak.
Mr. Parker melihat tepat ke arahnya? Itu tidak mungkin. Kalau memang benar,
berarti jarak pandang Mr. Parker jauh sekali. It’s kind of…impossible.
Mr.
Parker pasti tidak benar-benar melihat ke arahnya. Mungkin melihat ke tenda
mereka…atau ke sesuatu yang ada di belakang tenda. Di antara pepohonan.
Iya.
Pasti begitu.
Pasti
Zoya
hanya salah paham.
Akan
tetapi, jika Zoya hanya salah paham…
…mengapa
jantung Zoya saat ini tak berhenti berdegup kencang?
Zoya
meneguk ludahnya. Dia tak jadi buang air kecil.
Dia
duduk di tenda itu, berusaha untuk tidak membuat suara sedikit
pun…selama sekitar satu menit. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa tadi dia
hanya salah paham; dia diam dan menunggu hingga situasi setidaknya jadi
lebih aman. Mungkin, kalau ia menunggu sebentar, Mr. Parker akan hilang dari
danau itu. Mungkin, sebentar lagi…Mr. Parker akan pergi dari sana.
Zoya
menunggu. Terus menunggu.
Ia
menunduk dan menyatukan jemarinya. Menahan hasratnya untuk buang air kecil.
Tunggu.
Tunggu sebentar saja.
Sebentar
lagi…seharusnya Mr. Parker sudah tak ada lagi di sana.
Sekitar
satu menit kemudian, Zoya pun kembali mendekati pintu masuk tenda itu.
Menyibaknya perlahan…
…dan
mulai mengintip lagi.
Jantungnya
berdebar tak keruan. Napasnya tertahan. Ludahnya terasa sulit untuk ditelan.
Dia
pun melihat jauh ke depan sana. Ke danau itu.
Ternyata,
Mr. Parker…
…sudah
tidak ada lagi di danau itu.
Bagaikan
terbebas dari segala beban yang telah menyesakkan dadanya, Zoya pun bernapas
lega. Embusan napasnya terdengar begitu kuat; ia membebaskan semua udara yang
sejak tadi ia tahan. Kencangnya bunyi detak jantung yang sudah mengganggunya sejak
tadi pun perlahan-lahan mereda.
Huh.
Syukurlah.
Syukurlah…
Zoya
menunduk dan mengusap dadanya pelan. Gadis itu mulai merasa tenang.
Beberapa
saat kemudian, hasrat untuk buang air kecil itu pun kembali mampir. Membuat
Zoya langsung sadar tentang apa yang membuatnya ingin ke luar tenda sejak awal.
Dia
tadi ingin buang air kecil.
Zoya
pun meraih ponselnya yang ada di dekat bantal. Gadis itu menghidupkan flashlight,
lalu membuka ritsleting pintu tenda itu sepenuhnya. Dia sempat melihat Inez
dan Sophia yang sedangtertidur pulas sebelum akhirnya keluar dari tenda.
Zoya
mengarahkan flashlight ponselnya itu ke depan untuk melihat jalan. Ia
ingin buang air kecil di dekat pohon saja. Ia harus mencari pohon yang tidak
terlalu dekat…tetapi juga tidak jauh dari tenda mereka.
Suara
gemerusuk dari dedaunan kering yang Zoya injak di sepanjang jalan itu
terdengar begitu kencang, terutama karena sepinya malam di hutan itu. Suaranya sekarang
jadi terdengar sangat creepy, padahal tadi siang…ketika ia berjalan ‘mendahului’
Elias, suaranya terdengar biasa-biasa saja.
Zoya
berjalan pelan-pelan. Dia menerangi jalanan di depannya…dan menuju ke salah
satu pohon. Namun, sebelum langkahnya benar-benar mencapai pohon itu,
…tiba-tiba
dia melihat beberapa siluet manusia di depan sana.
Siluet
hitam. Seperti bayangan, tetapi bukan hantu. Itu manusia.
Sekitar
tiga…atau empat orang. Di depan sana. Berjalan dari arah kanan…dan lurus terus
hingga ke arah kiri.
Mereka
berjalan santai. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat…
...tetapi
tanpa suara.
Agaknya,
mereka ingin pergi ke suatu tempat bersama-sama.
Zoya
berhenti melangkah. Gadis itu spontan terdiam di tempat; keningnya berkerut. Dia
memperhatikan orang-orang itu.
Bukankah
mereka…sedikit aneh?
Apa
yang mereka lakukan malam-malam begini?
Mau
ke mana mereka?
Rasa
penasaran itu membuat Zoya terdiam di tempat. Ia terus berdiri di sana seraya
memperhatikan orang-orang itu.
Apakah
orang-orang yang tinggal di hutan ini memang sering keluar malam? Tadi, Mr.
Parker juga sedang berdiri di depan danau…
Zoya
mulai memfokuskan pandangannya. Ia ingin melihat siluet itu dengan lebih jelas
tanpa harus mengarahkan flashlight-nya ke depan sana. Ia tak ingin
ketahuan meskipun mungkin saja ia sudah ketahuan karena cahaya flashlight-nya.
Soalnya, orang-orang di depan sana…
…agaknya
tidak memakai penerangan apa-apa. Hanya mengandalkan cahaya bulan dan bintang
malam ini.
Ayo
lihat dengan saksama. Ada satu…dua…tiga…dan—
Pundak
Zoya ditepuk pelan.
“Apa
yang kau lakukan di sini?”
Mata
Zoya membulat sempurna. Ia refleks langsung berbalik dan menjauhkan tubuhnya. Ia
panik bukan main dan jantungnya nyaris mencelus ke perut.
Wajahnya
pucat seketika.
Akan
tetapi, di tengah napasnya yang pendek-pendek itu, di tengah kegelapan malam
itu, dibantu dengan flashlight ponselnya yang sekarang mengarah entah ke
mana…
Ia
melihat Mr. Parker berdiri di hadapannya.
Tengah
tersenyum lembut padanya.
Jantungnya
serasa berhenti berdetak.
Mengapa
Mr. Parker tiba-tiba ada di sini?!
Bukankah—bukankah tadi pria paruh baya itu
sudah pergi dari danau?
Dia
masih ada di sekitar sini, ya?
Sebenarnya,
dia sedang melakukan apa?!
Zoya
meneguk ludahnya. Entah mengapa, instingnya menyuruhnya untuk pergi. Berlari
masuk ke tenda. Melupakan seluruh hasratnya untuk buang air kecil. Ada rasa
takut yang tak bisa ia jelaskan; rasa takut itu merangkak masuk menembus
kulitnya. Akan tetapi, ia takut kalau ia berlari…ia hanya akan membuat suatu
kesalahan. Ia tak ingin dikira benar-benar takut. Ini seperti kau tidak
boleh berlari di depan seekor anjing karena anjing itu mungkin akan mengejarmu.
Zoya
tidak bermaksud untuk menyamakan Mr. Parker dengan seekor anjing, tetapi—tetapi
instingnya mengatakan demikian. ‘Kau harus lari, tetapi di sisi lain kau
tidak boleh berlari.’
Namun,
tatkala melihat senyuman ramah di wajah Mr. Parker, Zoya mendadak merasa
bersalah. Ia tak seharusnya takut pada Mr. Parker; pria paruh baya itu sudah
bersikap sangat baik pada mereka dan memperhatikan mereka. Dia bahkan menyambut
Zoya dengan sangat baik ketika Zoya menumpang mandi di rumahnya tadi sore.
Ini
tak boleh dilakukan. Zoya tak boleh terlihat takut seperti ini, apalagi kalau sampai
berlari. Itu sungguh tidak sopan.
Jadi,
dua detik kemudian…
Zoya
pun meneguk ludahnya.
Memberanikan diri
untuk membuka suara…meski terdengar serak dan bergetar.
“A—Aku…”
Napas Zoya tertahan. “Aku hanya ingin buang air kecil, Mr. Parker.”
Zoya
sadar bahwa posisinya tubuhnya sekarang masih terlihat waswas. Ekspresi
wajahnya juga demikian.
Namun,
Mr. Parker masih tersenyum. Pria itu bernapas samar…lalu bersuara.
“Mengapa
tidak menumpang di rumah warga saja?”
Zoya
bersumpah, entah mengapa suara Mr. Parker malam itu terdengar seperti bergema.
Apa karena hutan itu sepi? Atau karena otak Zoya mulai berhalusinasi karena
panik?
Apa
pun itu, this is unsettling.
Zoya
menarik napasnya sejenak, lalu menjawab, “I—Ini sudah malam, Mr. Parker. Aku tak
mau mengganggu tidur warga hanya karena aku ingin buang air kecil.”
Mr.
Parker mengangguk pelan, masih tersenyum. Tatapannya begitu lembut. “Ya sudah.
Kalau kau ingin buang air kecil di luar, hati-hati, ya.”
Zoya
mengangguk perlahan, agak kaku.
“Baik,
Mr. Parker. Thank you.”
Mr.
Parker masih tersenyum. Pria itu mengangguk pelan, seolah-olah ingin mengatakan
‘sama-sama’ tanpa suara.
Suasana
saat itu mendadak jadi agak awkward. Zoya lagi-lagi meneguk ludahnya
karena tak nyaman dengan suasana sepi ini.
Namun,
mendadak Zoya teringat sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa membuat situasi ini jadi
tidak awkward atau janggal lagi.
Siluet
hitam tadi.
Ya.
Itu dia.
Zoya
kebetulan memang penasaran soal siluet hitam itu.
Akhirnya,
dengan sedikit canggung, Zoya pun mulai bertanya.
“Umm…itu…Mr.
Parker…”
“Hm?”
Mr. Parker sedikit memiringkan kepalanya.
Zoya
tanpa sadar menahan napasnya. Gadis itu mulai menunjuk ke depan sana. “Barusan…aku
melihat ada beberapa orang yang lewat di sana…”
Mr.
Parker pun melihat ke arah yang Zoya tunjuk. Matanya agak melebar. “Ooh.
Mungkin itu warga sini. Mereka ingin pergi ke peternakan sapi atau kambing
mereka. Biasanya, mereka memang keluar malam-malam begini.”
Zoya
menatap ke arah yang sama, lalu menurunkan tangannya. Ia sadar bahwa siluet
hitam tadi sudah tidak ada di depan sana. Sudah hilang, tentu saja. Orang-orang
itu mungkin sudah sampai di peternakan mereka…walau Zoya tak tahu di mana
tepatnya lokasi peternakan itu.
Zoya
dan Mr. Parker pun kembali saling menatap.
“O—Oh…begitu,
ya…” jawab Zoya dengan gugup.
“Hm,”
deham Mr. Parker. “Jangan khawatir. Itu hanya warga sini.”
Zoya
akhirnya mengangguk. Gadis itu tersenyum dengan canggung. “B—Baiklah, Mr.
Parker. Terima kasih atas penjelasannya. Aku…aku mau buang air kecil terlebih dahulu.”
Mr.
Parker tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Hati-hati, ya.”
“Yes.
Thank you, Mr. Parker,” ujar Zoya seraya mengangguk. Mr. Parker
pun pamit dan berbalik, lalu mulai berjalan menjauhi Zoya.
Zoya
kini hanya bisa memandangi punggung Mr. Parker dari belakang. Sosok Mr. Parker itu
perlahan-lahan jadi terlihat semakin kecil…dan semakin menjauh.
Zoya
meneguk ludahnya—sedikit bersyukur karena ternyata semua ketakutannya tadi
tidak terbukti—lalu berbalik dan mulai menyelesaikan urusannya, yaitu buang air
kecil.
******
Sekitar
jam enam pagi, kesepuluh orang yang mengikuti kegiatan kemah itu mulai bangun.
Ada yang hanya melakukan peregangan di depan tenda, ada yang buang air kecil,
ada yang mengambil minum, dan ada juga yang mencuci muka di danau.
Udara
di hutan tersebut pagi ini terasa begitu segar. Terasa dingin ketika sampai di
hidung.
Zoya
baru saja kembali dari menggosok giginya bersama Inez ketika tiba-tiba Mr.
Parker datang ke area perkemahan mereka bersama seseorang. Seorang gadis.
Gadis
itu berkulit putih, seperti Mr. Parker. Putih sekali. Wajahnya cantik, khas
gadis desa. Dia berambut blonde dan diikat dua di bagian bawah. Dia juga
memakai hair scarf berwarna krem dengan garis-garis jingga. Dia memakai
pakaian yang warnanya dominan cokelat seperti gadis desa di abad pertengahan.
Semua
orang yang tadinya sedang melakukan aktivitasnya masing-masing…kontan langsung
mendekat. Mereka merapat ke area tenda karena melihat Mr. Parker datang,
terutama Mr. Parker datang bersama seorang perempuan yang tak pernah mereka
lihat. Mr. Parker dan perempuan itu masing-masing sedang membawa sebuah kotak.
Ketika
semua orang sudah berkumpul, Mr. Parker pun tertawa renyah. “Ah, maaf, ya, sudah
mengganggu kalian pagi-pagi begini.”
Beberapa
dari mereka langsung menjawab, “Oh, tidak, tidak, Mr. Parker. It’s okay.”
Ada
juga yang mulai bertanya, “Ada apa, Mr. Parker?”
Mr.
Parker tersenyum. “Aku dan Lynn, anak gadisku, membawakan sarapan untuk kalian.
Ini bukan makanan yang mewah, tetapi…semoga kalian suka.”
“Woah!! Thank
you, Mr. Parker!” teriak Miller. Beberapa dari mereka mulai mendekati Mr.
Parker dan melihat bahwa kotak yang Mr. Parker bawa adalah kotak berisi
minuman, sementara kotak yang dibawa oleh anaknya Mr. Parker (Lynn) adalah
kotak berisi makanan. Semacam rice bowl. Wadahnya bulat dan memakai
tutup.
Lynn
tersenyum dengan sangat manis kepada mereka semua. Namun, ada satu orang yang
agaknya benar-benar tak berhenti menatap Lynn.
Eddie.
Di
antara Eddie dan Lynn, sempat terjadi sebuah tatapan yang bertahan lebih lama
daripada seharusnya. A gaze that lasted for four seconds longer.
Seperti
ada sebuah tension…yang tak tahu mengapa bisa terbangun. Awalnya…Lynn
tersenyum pada Eddie. Setelah itu, Eddie menatap gadis itu dengan lekat…dan
tersenyum miring. Tatapan Eddie sangatlah fokus, memenjarakan…seolah-olah tengah
mengutarakan hasratnya tanpa ia sadari.
Di
sisi lain, dalam waktu singkat—yang hampir tidak kelihatan—Lynn sempat
memberikan tatapan yang sama pada Eddie dan berhenti tersenyum manis. Senyuman
manis itu berganti dengan seringai tipis sejenak…hanya selama satu
detik, lalu Lynn kembali menatap ke lain arah dan memberikan senyuman
manis.
Semua
aksi tanpa suara itu tidak dilihat oleh banyak orang. Mungkin…hanya dilihat
oleh beberapa orang yang kebetulan berdiri di dekat Eddie.
“Ini.
Silakan…” kata Lynn dengan ramah. Senyumannya tidak pudar. Dia mulai membagikan
rice bowl itu ke sepuluh orang yang ada di sana, satu per satu. Mr.
Parker juga membagikan minuman kepada mereka semua.
Semua
orang yang menerima itu terlihat senang. Well, makan gratis, lho!
Hitung-hitung…bisa sedikit menghemat persediaan makanan mereka (walau
sebenarnya makanan mereka masih cukup).
Setelah
membagikan makanan dan minuman itu, Mr. Parker Lynn pun pamit. Kesepuluh orang
yang menerima makanan dan minuman itu langsung mengucapkan ‘terima kasih’
pada mereka, nyaris serentak. Hayes, Elias, Sophia, dan Inez juga sempat
mengatakan, “Hati-hati, Mr. Parker!”
…dan
Mr. Parker hanya tertawa kecil, mengangguk, dan pergi dari sana bersama
anaknya.
Sepeninggal
Mr. Parker dan Lynn, mereka bersepuluh pun langsung duduk di depan tenda. Mereka
duduk melingkar…dan mulai sarapan bersama-sama. Ada yang mulai mengobrol, ada
yang mulai tertawa, dan ada juga yang hanya fokus makan.
Inez
dan Zoya ikut duduk bersama delapan orang lainnya, tetapi posisi mereka tetap
ada di depan tenda mereka sendiri. Sayangnya, Sophia tidak ada bersama mereka.
Sophia duduk di dekat Becca dan July.
Zoya
makan dengan santai. Pelan. Namun, pikirannya berkelana jauh. Sambil menyuap
nasi ke mulutnya, ia terus memikirkan soal apa yang telah terjadi semalam.
Ia
yang ingin buang air kecil. Ia yang melihat Mr. Parker di dekat danau. Ia yang melihat
Mr. Parker tiba-tiba menoleh ke arahnya. Ia yang melihat siluet hitam dari kejauhan.
Ia yang kemudian bertemu lagi dengan Mr. Parker secara mendadak. Ia yang
mendengarkan penjelasan dari Mr. Parker bahwa warga desa biasanya memang pergi
ke peternakan mereka malam-malam.
Semua
itu terlalu aneh untuk tidak dipikirkan. Namun, di sisi lain, semua itu juga agak
berlebihan jika dipikirkan sekarang, soalnya saat ini seharusnya mereka menikmati
graduation trip ini.
…walau
sebenarnya sejak awal Zoya sudah tidak menikmatinya.
Apakah
hal ini hanya terjadi pada Zoya? Kalau memang begitu, apakah semuanya terjadi
karena sejak awal Zoya memang tidak menikmati perjalanan ini?
Ah,
entahlah. Zoya jadi pusing sendiri. Otaknya mendadak overheating; pikirannya
ke mana-mana.
Tiba-tiba,
seseorang membuka suara. Satu dari sepuluh orang tersebut.
Jack.
Suaranya
cukup besar hingga membuat semua orang yang ada di sana fokus padanya; mereka berhenti
mengobrol dan berhenti tertawa seketika.
Semua
orang menatap Jack saat pemuda itu mulai bertanya.
“Hei,
tadi malam ada yang keluar dari tenda, ya?”
Zoya
tersentak. Tangannya terhenti di udara.
Setelah
itu, Jack pun melanjutkan, “Soalnya, aku melihat ada bayangan hitam yang terus bolak-balik
di depan tenda kami.”
Semua
orang jadi keheranan. Zoya membulatkan mata.
Itu
pastinya bukan Zoya. Jack tidur di tenda yang sama dengan Elias dan Hayes, jadi
jaraknya cukup jauh dari tenda Zoya.
Beberapa
orang yang ada di sana mulai keheranan. Saling bertanya.
“Tidak,
tidak ada yang keluar.”
“Kau
keluar?”
“Tidak,
aku sudah tidur.”
“Iya,
tidak ada yang keluar.”
“Aku
juga tidak keluar.”
Keadaan
mulai jadi sedikit ramai. Hayes lantas mengangkat alisnya. “Are you serious?
I did not see that.”
Jack
spontan menatap Hayes dan mendengkus. “Dude. You were sleeping.”
Eddie
dan Miller jadi tertawa. Hayes langsung kesal; dia ikut-ikutan mendengkus.
Namun,
Elias, instead of laughing at Hayes, dia justru mengernyitkan dahi. Dia
adalah tipe pemuda yang tak pernah menganggap enteng suatu masalah.
Dia
pun menatap Jack dengan saksama. Ingin tahu. Sama seperti kebanyakan orang yang
ada di sana.
“Apa
yang bayangan hitam itu lakukan? Dia pria atau…wanita?”
“I
don’t know. Aku tak terlalu memperhatikannya,” jawab
Jack. “Aku hanya tahu kalau dia bolak-balik di depan tenda kita.”
“Oh
my God,” ujar Sophia, gadis itu tiba-tiba menimbrung. Sophia menutup
mulutnya dengan sebelah tangan. “Bu—bukankah itu…berbahaya?! Apakah ia ingin
melakukan sesuatu pada kalian?!”
Becca
mengangkat sebelah alisnya. “Apakah dia berada di depan tenda kalian untuk
waktu yang lama?”
July
pun menambahkan, “Kalian tidak apa-apa, ‘kan?”
“Yes,
we’re okay,” jawab Jack. “Dia tidak melakukan apa-apa selain
berjalan bolak-balik, ke kanan dan ke kiri. Dia melakukan itu selama sekitar…satu
menit. Aku hanya penasaran siapa orang itu kerena jujur saja itu cukup…mengganggu.”
“Apakah
itu warga sini?” ujar Miller, menebak-nebak. Eddie hanya minum, lalu
mengedikkan bahu. “Ya, sepertinya begitu. Mungkin hanya warga yang sedikit
aneh.”
“Kau
tidak seharusnya bersikap setenang itu, Eddie,” ujar Inez.
“Lain
kali, bawa pisau ke dalam tenda kalian,” ujar Sophia. Dia mulai mengusap kedua
lengannya dan bergidik ngeri. “That’s creepy.”
July
langsung menatap Elias dan memberikan tatapan khawatir. “Elias, kau baik-baik
saja, ‘kan? Hm?”
Mendengar
pertanyaan itu, semua laki-laki di sana langsung serentak berpikir:
‘Ah,
beginilah perempuan. Yang dikhawatirkan pasti yang tampan saja.’
Namun,
mengingat bagaimana kepribadian July, mereka semua tak ingin menyuarakan itu.
Elias
pun mengangguk dan tersenyum tipis, out of polite. “I’m okay.”
July
memiringkan kepala, lalu tersenyum lembut pada Elias. Lembut…tetapi tetap
terlihat sedikit…menggoda. “Syukurlah.”
Di
sisi lain, Zoya tidak memperhatikan adegan antara July dan Elias itu. Dia sibuk
memikirkan cerita Jack dan mencocokkan cerita itu dengan apa yang terjadi
padanya semalam. Dahinya berkerut; ia meletakkan sendoknya di mangkuk sarapan
itu. Berhenti makan.
Apakah
benar itu warga desa sini?
Kapan
kejadiannya?
Apakah
jarak waktu kejadiannya berbeda jauh dengan kejadian yang kualami?
Lagi
pula, mengapa warga desa sini keluar malam-malam begitu?
Mereka
tidak tidur?
“Hei.”
Zoya
tersentak. Jantungnya hampir saja berhenti berdegup karena kaget. Matanya
spontan membulat; ia langsung menoleh ke samping sebab suara itu adalah suara
Inez; Inez menepuk pundaknya seraya menegurnya.
Zoya
meneguk ludah, mendadak gadis itu jadi gugup setengah mati. “Y—Yes?”
Inez
menatap Zoya dengan saksama. Alisnya nyaris menyatu. Hingga kemudian, dia
menghela napas.
“Sesuatu pasti telah
terjadi padamu.”
Tubuh
Zoya mematung.
Matanya
kembali membulat.
Tiba-tiba
saja, ada bunyi ‘deg’ yang kencang, berasal dari jantungnya.
Soalnya,
lagi-lagi ia sadar bahwa…
…ia
tak bisa membohongi Inez. Inez tahu semua tentangnya: apa yang membuatnya
lemah, bagaimana cara menyerangnya agar ia setuju, serta semua
ekspresinya. Gadis satu itu paham betul soal siapa dirinya.
Zoya
menunduk.
Inez
kini benar-benar menghadap padanya. Gadis itu memiringkan kepala, lalu
bertanya, “Ada apa? Katakan padaku.”
Zoya
diam sebentar. Dia sempat mengerutkan dahi, mengigit bibir, dan meremas
tangannya sendiri karena merasa ragu. Dia bingung bagaimana caranya untuk
menjelaskan semuanya kepada Inez.
Namun,
Inez tetap menunggu. Menatap Zoya dengan lekat. Fokus. Gadis itu tak peduli
dengan pembahasan yang terjadi di belakangnya, yaitu pembahasan tentang tenda
rombongan Jack.
Zoya
pun meneguk ludahnya. Dia akhirnya menatap Inez.
“Aku…tadi
malam aku keluar karena mau buang air kecil. Apa kau menyadarinya?”
Inez
mengernyitkan dahi. Gadis itu langsung menggeleng dan berkata, “Tidak.
Benarkah? Aku bahkan tidak mendengar bunyi apa-apa.”
Zoya
mengangguk. “Aku buang air kecil semalam, ketika kalian tidur. Namun, ketika
aku baru saja membuka ritsleting pintu tenda itu dan mengintip ke luar…”
Inez
menunggu dengan saksama. Perasaannya mulai tak enak.
Zoya
pun menghela napas.
“…aku
melihat Mr. Parker di dekat danau.”
“Mr.
Parker?” Alis Inez menyatu. Gadis itu menggeleng. “Kau…serius? Di danau?
Apa yang Mr. Parker lakukan di sana?!”
Zoya
mengedikkan bahu dan mendengkus. “Aku juga tak tahu. Namun, saat aku mengintipnya…”
Entah
mengapa, Inez jadi panik. Dia gelisah sendiri. Jantungnya berdegup kencang.
“A—Apa? Dia melakukan apa?”
Zoya
sedikit menunduk. Dia kembali mengingat kejadian semalam bagai me-replay sebuah
video di dalam kepalanya.
“D—Dia…”
Zoya menggeleng. “Dia tiba-tiba melihat ke arahku.”
Mata
Inez membulat.
Jantung
Inez serasa berhenti berdegup. Ia menganga—tubuhnya mematung—dan sungguh,
mendadak dia jadi gagap. Ia ingin berbicara, tetapi kata-kata yang ia keluarkan
semuanya tidak terucap dengan baik.
“Aku—kau—are
you—”
Zoya
menghela napas.
“Mungkin
hanya perasaanku saja, Inez. Bisa jadi…dia hanya kebetulan melihat ke bagian belakang
tenda kita. Tidak benar-benar melihat tepat ke arahku.”
Inez
menggeleng. “But—”
“Aku…kaget,
jadi aku berhenti mengintipnya dan menunggu sebentar. Beberapa saat kemudian,
saat aku kembali mengintip ke luar, dia sudah tidak ada,” ujar Zoya.
“Ke
mana dia?” Alis Inez terangkat.
Zoya mengedikkan bahu.
“Aku tak tahu. Aku hanya langsung ke luar dan mencari
tempat untuk buang air kecil. Namun, saat masih berjalan, tiba-tiba aku melihat
siluet orang-orang di depan sana.” Zoya menunjuk ke tempat di mana
siluet-siluet hitam itu muncul tadi malam.
Inez
melihat ke arah yang sama dan dahinya berkerut. “Orang-orang? Malam-malam begitu?!
Berapa orang?!”
Zoya
menggeleng. “Aku tak sempat menghitungnya. Aku hanya melihat mereka berjalan
dari sisi kanan…ke sisi kiri.”
Mereka
kembali bertatapan.
Inez
bertanya lagi, “Mengapa kau tak sempat menghitungnya? Apakah sesuatu—"
“Mr.
Parker tiba-tiba ada di belakangku dan menepuk pundakku,” potong Zoya. “Dia
bertanya padaku apa yang sedang kulakukan di luar tenda.”
Mata
Inez membeliak. “HAH?! MENGAPA DIA—”
“Inez!!”
Zoya cepat-cepat menutup mulut Inez. “Banyak orang di sini!!”
Inez
langsung melepaskan tangan Zoya dari mulutnya—padahal orang-orang sudah sempat
menatap mereka dan keheranan—lalu dia menggeleng. “No, no, no. Beri tahu
aku sekarang. Beri tahu aku mengapa dia tiba-tiba ada di sana! Itu
mengerikan!!”
“Mengapa
kau
tidak memintaku untuk menemanimu, Zoe?”
Zoya
dan Inez tersentak.
Mereka
berdua spontan menoleh ke asal suara; mereka mendongak…
…dan
menemukan Elias.
Pemuda
itu berdiri di dekat mereka—di dekat Zoya, lebih tepatnya—entah sejak kapan.
Dari kata-katanya, agaknya dia sudah menguping sejak tadi. Apakah dia
menguping dari posisi yang agak jauh? Soalnya, kalau menguping dari
dekat…bukankah seharusnya Zoya dan Inez menyadari keberadaannya?!
Mata
Zoya melebar. Melihat wajah Elias membuat jantungnya berdebar lagi. Ia juga
ingat kejadian semalam di mana…Elias hampir mencium bibirnya.
Pipi
Zoya memerah. Tubuhnya mematung.
Sementara
itu, Inez langsung menganga dan berkata, “Sejak kapan kau ada di sini, Elias?!”
Elias,
pemuda tampan itu, mulai tersenyum lembut. A breathy smile.
…and
then he spoke.
“Barusan.
Aku
tahu karena tadi aku menguping dari posisi yang agak jauh.”
Napas
Zoya tertahan. Elias menguping? Dari posisi yang agak jauh?
Bukannya
tadi dia duduk di dekat Hayes di ujung sana? Sejak kapan dia melangkah
pelan-pelan ke dekat sini…sambil membawa makanan dan minumannya?
“Apa
saja…yang kau dengar?” tanya Inez. Dialah yang angkat suara karena Zoya
tampaknya jadi diam akibat kehadiran Elias.
Elias
mulai duduk di sebelah Zoya; dia langsung mengambil posisi di tengah-tengah
Zoya dan Inez setelah meletakkan makanan dan minumannya.
“Hmm…”
Elias berpikir sebentar, lalu tersenyum miring kepada mereka berdua. “…Semuanya?”
Zoya
dan Inez hampir tersedak.
This
guy is kinda…terrifying.
…in
a hot way.
“Itu
terdengar agak aneh, tetapi…” Inez menganga. “Oke. Terserahmu saja.”
Elias
tertawa kecil.
Pemuda
itu pun kemudian menatap Zoya. Tatapannya sangat lembut…lalu dia
tersenyum.
“Jadi,
Zoe…mengapa
kau tidak memintaku untuk menemanimu? Pada dasarnya, kau keluar sendirian,
malam-malam, di tengah hutan. Seharusnya kau memanggilku kalau memang tak ingin
membangunkan Inez. Aku bisa menemanimu.”
Zoya
kembali tersentak. Jantungnya berdegup kencang; ia langsung buang muka dan tak
mau melihat wajah tampan Elias, terutama tatapan lembutnya…senyumannya…
Semua
itu membuka ribuan memori yang tak ingin ia ingat saat ini.
“Mengapa
aku harus memanggilmu?” ujar Zoya dengan ketus.
Elias
memiringkan kepalanya. “Memangnya salah kalau memanggilku?”
Zoya
terdiam. Dia jadi bingung mau menjawab apa. Kalau menjawab ‘salah’, salahnya di
mana? Kalau menjawab ‘tidak salah’, nanti harga dirinya jatuh.
Sial.
Elias pasti sengaja menjebaknya.
Ya.
Benar. Inezlah yang melihat seluruh adegan itu seraya menggeleng. Zoya yang
masih gengsi…dan Elias yang tersenyum miring karena berhasil menjebak
Zoya.
Dasar
para mantan yang belum bisa move on, pikir Inez.
Beberapa
detik kemudian, Elias pun mulai bertanya. Namun, kali ini, tidak ada senyuman
di wajah pemuda itu. Ia menatap Zoya dengan serius.
“Jadi,
Zoe, mengapa Mr. Parker tiba-tiba ada di belakangmu tadi malam?”
Zoya
pun akhirnya menatap Elias. Meski tatapan itu sedikit bertahan lebih
lama daripada seharusnya, Zoya tetap mencoba untuk menghela napas dan menjawab
dengan benar.
Inez
dan Elias langsung menyimak Zoya.
“Aku
tidak tahu kenapa. Aku juga tidak menanyakan alasannya padanya. Setelah
dia menepuk pundakku dan menegurku karena ingin tahu apa yang kulakukan, aku
pun menjawabnya; kubilang aku hanya ingin buang air kecil,” jawab Zoya.
Inez
mengangguk. “Lalu?”
Zoya
mengedikkan bahu. “Yah…karena penasaran, aku pun menanyakan soal siluet
hitam itu.”
“What
did he say?” tanya Elias.
“Dia bilang…itu hanyalah warga desa yang ingin
pergi ke peternakan mereka. Katanya, warga-warga desa itu memang biasa pergi ke
peternakan mereka malam-malam,” jawab Zoya.
Elias
mengernyitkan dahi.
“Ke
peternakan…malam-malam?” Elias menggeleng. “Untuk apa? Kalau karena
ingin mengurus peternakan mereka, bukankah itu justru tidak efektif?”
Zoya
mengedikkan bahu. “Entahlah. Mungkin sudah jadi kebiasaan warga sini.”
Elias
masih merasa heran. “Mereka bisa mengurusnya saat masih terang. Dari pagi
sampai sore.”
“Mungkin…mereka
kerja di tempat lain dari pagi sampai sore?” kata Inez.
“Suami
istri kerja di tempat lain semua?” tanya Elias, dia menatap Inez seraya
mengangkat alis. “Kalau begitu, seharusnya mereka mempekerjakan seseorang untuk
mengurus peternakan mereka.”
“Mungkin
uang mereka tidak cukup untuk membayar pekerja?” Inez masih mencoba untuk berpikir
positif.
“Jangan
punya peternakan, kalau begitu,” jawab Elias langsung. “Jual saja
peternakannya.”
Inez
spontan tertawa kencang. Zoya pun diam-diam tertawa kecil karena perdebatan itu
terdengar sungguh menggelikan baginya. Akan tetapi, Zoya tak mau tertawa lepas
karena tak ingin Elias melihat tawanya. Ia masih gengsi. Ia tak mau tertawa ‘karena’
kelakuan Elias. Ia tak mau terlihat seperti ‘memaafkan’ Elias.
Akhirnya,
mereka pun jadi berhenti berpikir negatif tentang siluet hitam itu—meskipun jelas-jelas
siluet itu agak aneh—dan membicarakan hal lain sambil makan. Zoya berkali-kali
memberi kode kepada Inez agar mereka pergi saja menjauhi Elias (karena
ia merasa tidak nyaman), tetapi Inez malah tertawa kecil, diam-diam mengejek
Zoya yang masih sangat terganggu dengan keberadaan Elias.
Like,
girl.
Jujur sajalah. Bukan hanya Elias yang belum bisa move on. Kau juga
masih sangat memikirkannya, pikir Inez.
Meskipun
Inez pada dasarnya jadi seperti obat nyamuk di antara mereka, Inez tetap
menikmati momen itu…karena Zoya dan Elias orangnya sama-sama baik. Inez juga
terbiasa dengan kehadiran Elias karena pemuda itu sudah cukup lama pacaran
dengan Zoya.
******
Mereka
telah selesai makan sejak dua jam yang lalu. Sekarang sudah jam 10 pagi dan
kesepuluh dari mereka mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang
mandi di danau, ada yang memainkan ponsel sambil memakan snack di dalam
tenda, ada yang berkeliling hutan, ada yang melihat peternakan warga, ada yang
mencuci piring atau baju mereka, dan ada juga yang bermain gitar di depan
tenda.
Semua
itu berjalan lancar-lancar saja. Keanehan yang mereka bicarakan saat sarapan
tadi juga seolah-olah mereka tepis dan lupakan. Mereka ingin berpikir positif
karena mereka datang ke sini untuk bersenang-senang. Menghabiskan waktu
bersama sebelum fokus ke hidup masing-masing.
Zoya,
Inez, dan Sophia ada di dalam tenda mereka. Memainkan ponsel, menghidupkan
lagu…sambil memakan snack. Mereka baru saja selesai mandi (menumpang
mandi di rumah-rumah warga).
Seharusnya
hari ini akan terlewati dengan lancar. Gembira. Lebih bisa bonding daripada
kemarin.
Namun,
agaknya dunia belum mengizinkan itu…
…karena
dua menit kemudian, tiba-tiba saja July berteriak.
Teriakannya
sangat kencang.
“TOLONG!!!!
EVERYONE, PLEASE!!! HELP!!”
Zoya,
Inez, dan Sophia jelas terperanjat. Mereka langsung duduk tegap, saling menatap
satu sama lain dengan mata membulat, lalu refleks berdiri dengan panik. Mereka
langsung berlari ke luar tenda dan bertanya-tanya, “Apa?! Ada apa?!!”
Semua
orang juga yang ada di sekitar juga langsung berlari mendekat. Mereka mendengar
kalau teriakan July itu berasal dari belakang tendanya, jadi mereka
langsung pergi ke sana.
Sesampainya
di sana, mereka semua (termasuk Zoya, Inez, dan Sophia) menyaksikan sesuatu
yang membuat alis mereka menyatu. Mulut mereka menganga.
Soalnya,
di sana mereka melihat Miller yang sedang dalam posisi merangkak; pemuda itu
muntah-muntah. Muntahannya sangat banyak; itu mungkin mengandung seluruh
makanan dan minuman yang ada di perutnya. July dan Becca ada di sebelah pemuda
itu, tengah memegangi dan mengusap-usap punggungnya. Ekspresi mereka berdua
terlihat panik.
“Dia—dia
tidak berhenti muntah. Dia terus muntah sejak tadi! Tolong—seseorang
harus minta tolong kepada warga setempat!” teriak Becca.
Jack
langsung mengangkat tangannya. Ia terlihat cemas. “Aku. Aku akan pergi. Tunggu
sebentar.”
Namun,
sebelum Jack sempat melangkahkan kakinya pergi dari sana…
…tiba-tiba
Miller ambruk.
Pemuda
itu pingsan di tempat. []




No comments:
Post a Comment