Bab
19 :
Menerima
Bayanganmu
******
LANGKAH kaki
Aldo terhenti begitu suara Gerald terdengar di telinganya. Tanpa menoleh,
dengan ekspresi dingin, Aldo menunggu. Menunggu apa yang akan
dikatakan oleh Gerald.
"Kamu
mau ke mana, Nak?"
Aldo
tahu bahwa Sandi ada di sana. Sandi sedang duduk di sofa ruang tamu bersama
Rachel, Naya, dan juga Gerald, sementara Aldo membelakangi mereka.
Napas
Aldo terasa berat setiap kali diembuskan, seolah-olah dadanya telah lama
menahan sesak selama beberapa jam terakhir.
“Keluar
sebentar. Just want to get some air,” ujar Aldo dengan suara yang
terdengar begitu dalam. Dengan dua kalimat itu, ia kembali melangkah ke luar
rumahnya, tak menghiraukan sapaan hormat Richard maupun para pelayan yang
berdiri di dekat pintu.
Pertengkarannya
dengan Sandi membuat udara di rumah terasa sesak. Aldo tidak masuk sekolah hari
ini; Gerald juga tidak pergi ke kantornya. Meski masalah antara Aldo dan Sandi
telah jelas dan cukup terkendali, hal itu tidak menampik kenyataan bahwa Aldo masih
sukar berbicara dengannya. Segumpal perasaan berupa luka, rasa bersalah, serta amarah
di antara mereka masih belum hilang.
Saat
kau menghancurleburkan sebuah gelas, gelas yang hancur itu takkan kembali mulus
seperti semula meskipun kau rekatkan, kecuali jika kau mendaur ulang gelas itu
sepenuhnya. Dalam kasus Aldo, ini memiliki arti: mencuci otak atau menghilangkan
memori lama itu seutuhnya.
Meski
kemarahan Aldo telah berkurang oleh penjelasan Sandi, hal itu tak mengubah
kenyataan bahwa Aldo menjadi dirinya yang sekarang karena masa lalu yang
menyakitkan itu. Jadi, meski semuanya telah jelas, Aldo tetap butuh menenangkan
pikirannya. Cowok itu butuh waktu untuk merapikan kekacauan di dalam
kepalanya.
Saat
ini, Aldo tengah berdiri bersandar pada bagian samping mobilnya sembari
memandangi langit senja yang begitu indah. Keindahan langit itu sanggup membuat
pertahanan Aldo runtuh, terutama karena dia sedang ada masalah. Senja dan
malam; dua waktu yang paling bisa membuat sisi emosional manusia bangkit.
Taman
itu sepi. Aldo suka taman itu, entah sejak kapan. Mungkin sejak Rian
mengajaknya ke toko olahraga beberapa bulan lalu. Mereka memilih untuk
melewati jalan pintas (lorong), lalu tak sengaja melihat anak-anak bermain di
taman yang kebetulan ada di sana.
Setidaknya,
lorong itu muat untuk dilewati mobil.
Taman
itu bukan taman wisata atau sebagainya. Tanah di sana sepertinya akan mudah
menjadi debu saat musim kemarau. Di ujung taman itu, ada dua ayunan dan sebuah
kursi panjang. Dahulu, saat lewat sini bersama Rian, Aldo melihat kursi itu
diduduki oleh ibu-ibu. Selain ayunan dan kursi itu, tak ada apa-apa lagi di
sana. Hanya tanah tempat anak-anak bermain bola atau kejar-kejaran.
Aldo
memarkirkan mobilnya di dalam taman; suasana senja itu cukup menghangatkan
hatinya yang terasa kosong saat ini. Warna oranye senja telah memperindah taman
itu. Rasanya hangat. Aldo tak ingin kehangatan itu pergi dan digantikan oleh
dinginnya malam.
Tak
lama kemudian, matahari mulai terbenam. Semakin menyaksikannya, semakin kau ingin
menghentikan matahari agar tak pergi secepat itu. Itu hanyalah keinginan konyol,
tentu saja. Namun, terkadang, rasa kehilangan itu membuat hatimu sakit hingga
tanpa sadar kau akan mendengkus kecewa.
Tiba-tiba,
terdengar suara mengeong di taman itu, membuat Aldo sedikit terdistraksi. Suara
itu terdengar bersamaan dengan keberadaan seekor binatang berbulu yang
mengusap-usapkan kepalanya di betis Aldo.
Aldo
menurunkan pandangannya dan melihat seekor kucing. Kucing itu berwarna kuning;
dia sedang berusaha mencari perhatian Aldo.
Aldo
tersenyum. Cowok itu mulai berjongkok dan mengelus kepala kucing itu. Tanpa sadar,
langit di atas sana mulai menggelap.
Rasa
dingin perlahan merayapi tubuh Aldo, membuatnya teringat pada seseorang.
Nadya.
Aldo
sudah tahu sejak lama bahwa Nadya menciptakan kehangatan di hatinya.
Dengan kehangatan yang Nadya miliki, cewek itu merengkuh Aldo, menerima Aldo apa
adanya. Merangkul cahaya dan kegelapan di dalam diri Aldo.
Semua
itu membuat Aldo merasa aman dan nyaman selama bersamanya.
Kucing
itu mengeong ketika Aldo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan segera
menelepon Nadya.
Apa
kabar kamu, Nad?
Butuh
lima deringan hingga akhirnya panggilan telepon itu diangkat. Aldo tersenyum
saat terdengar suara napas Nadya di telepon.
I
miss the sound of your breathing on the phone.
Angin
malam mulai menggoyangkan beberapa helai rambut Aldo saat Nadya mulai
bersuara, "Halo...?"
"Lagi
apa, Sayang?" tanya Aldo. Elusannya pada kucing yang menempel di betisnya
itu tak kunjung berhenti.
"Aku…baru
selesai mandi, Aldo…" jawab Nadya. "Kalo
Aldo?"
"Lagi
elus-elus kucing," jawab Aldo sembari tersenyum miring. "Bulu
kucingnya lembut banget… Kayak rambut kamu, Nad."
Di
sisi lain, Nadya terdiam sebentar. Pipi cewek itu
merona bukan main mendengar pujian Aldo yang mendadak itu.
Beberapa
detik kemudian, akhirnya Nadya berhasil mengatasi rasa malunya dan bertanya,
"Emang…Aldo lagi di mana?"
"Lagi
di taman, Nad... Eh, kucingnya pergi."
Nadya
tersenyum. By the way, tadi pagi…Aldo tidak masuk sekolah. Apa
Aldo baik-baik saja? Seharian ini, Nadya cukup kepikiran soal
Aldo.
Aldo
ada masalah, ya...? Semoga Aldo nggak sakit... Semoga Aldo baik-baik saja...
...adalah
doa yang sejak tadi selalu Nadya ucapkan dalam hati.
Namun,
mendengar suara Aldo malam ini…sepertinya cowok itu cukup tenang. Entah itu
benar atau tidak.
Nadya
ingin bertanya, tetapi…tak ingin membuat Aldo terganggu. Nadya ingin Aldo
tenang dahulu...
Kembali
ke Aldo, cowok itu berdiri dan bersandar di sisi mobilnya. Ia
memandangi langit. Di sana, bulan sabit menggantung di tengah bintang-bintang
yang amat terang. Karena taman itu tak memiliki lampu dan letaknya agak jauh
dari perumahan, bulan dan bintang tampak lebih cerah. Sangat cantik. Bersinar
terang…
"Nad,
langit malam di sini indah banget," ujar Aldo sembari tersenyum.
"Bintang sama bulannya bersinar terang banget."
Kayak
mata kamu, Nad. Mata yang bikin aku langsung jatuh cinta sama kamu waktu
pertama kali kita ketemu.
Nadya
melebarkan mata. Pasti…enak banget bisa melihat langit malam yang seindah itu.
"Kamu
mau liat?" tanya Aldo. "Aku bawa kamu ke sini, ya? Biar kita liat
sama-sama."
"Eh?" ujar
Nadya kaget.
"Biar
kamu tau gimana cantik dan jernihnya mata kamu itu," ujar
Aldo lirih. "Biar kamu tau seberapa bersinar mereka di mata aku."
Nadya
diam. Telinganya memerah. Jantungnya berdegup kencang. Dia tanpa sadar menggigit
bibir bawahnya.
"Aku
ke sana, ya, Tuan Putri," ujar Aldo. "Nggak
usah ganti baju, ntar kamu repot. Pake baju tidur aja, ya?"
Nadya
kaget karena Aldo ternyata benar-benar mau datang ke rumahnya.
"Aldo—ta—"
"Aku
kangen kamu, Nad..." ucap Aldo. Setelah itu, Nadya
mendengar suara ciuman pelan dari seberang sana. Dua detik kemudian, panggilan
telepon itu pun terputus.
Wajah
Nadya kontan memerah bukan main. Tadi—tadi itu apa?!
******
Mulut
Nadya terbuka karena cewek itu sedikit kaget saat Aldo menggandengnya keluar
dari mobil. Benar kata Aldo; cowok itu membawa Nadya ke sebuah taman. Taman
yang sebenarnya sunyi, jadi suara jangkrik bisa terdengar.
"Liat
tuh, Nad, langitnya," kata Aldo.
Nadya
pun melihat ke atas. Cewek itu tercengang.
Demi
apa pun, langitnya cantik sekali. Bintangnya kelap-kelip
dan berserakan; semuanya bersinar begitu terang.
Rasanya,
sulit untuk mengalihkan pandangan. Nadya hampir tak pernah melihat langit malam
seindah ini. Mungkin karena taman ini sangat gelap saat malam, semuanya
terlihat jelas.
Terdengar
Aldo mengembuskan napasnya pelan samping Nadya.
"Dulu, aku
ketawa kalo denger orang nggombal kayak, 'Ada bintang di mata kamu' gitu.
Tapi…sekarang aku paham maksudnya," ujar Aldo sembari tawa kecil.
Nadya
menatap Aldo dan langsung melebarkan mata. Ya Tuhan, rasanya rindu banget sama
Aldo yang tertawa polos itu. Di bawah cahaya bintang dan bulan malam ini, wajah
Aldo tampak begitu bersinar.
Aldo
itu...ganteng banget...
Tanpa
sadar, Nadya sibuk menatap Aldo sejak tadi. Dia bahkan tak sadar bahwa tadi itu
Aldo sedang menggodanya. Ada binar di mata cewek itu tatkala melihat Aldo
dengan kagum.
Karena
Nadya hanya diam, Aldo pun mulai menoleh kepada Nadya. Ternyata, Nadya tengah
menatapnya; mata cewek itu tampak jernih, layaknya air yang memantulkan cahaya
bulan.
Mata
Aldo kontan membelalak.
Lidah
cowok itu kelu. Ia mematung.
Cantik...
Oh,
Aldo jadi ingin waktu berhenti saja. Namun, tiba-tiba Nadya memalingkan wajah.
Jakun
Aldo naik turun.
Jangan-jangan,
Tuhan sedang menguji kesabaran Aldo.
Nadya
langsung memalingkan wajah saat Aldo memergokinya. Sekarang, pipinya merona.
Benar-benar merah, seolah-olah sedang demam tinggi.
Tatkala
berpikir keras untuk mengalihkan perhatian Aldo, Nadya tiba-tiba jadi teringat
sesuatu. Cewek itu kemudian menatap Aldo dengan mata yang sedikit membulat, seperti
ingin memberitahukan sesuatu yang penting.
…atau
mungkin…hanya ingin bertanya.
Aldo
ternyata masih memandangi Nadya. Nadya jadi ingin menutup wajahnya dan
melarikan diri dari pandangan Aldo, tetapi dia ingin menyampaikan sesuatu.
Jadi, meskipun jantungnya berdegup kencang, ia tetap mencoba untuk membuka
mulut.
"Al—do."
Ya
ampun, mengapa Nadya jadi gagap begitu, sih...?
"Hm?"
deham Aldo lembut. Seolah-olah…memang menunggu Nadya berbicara. Senyum tipis
terbit di wajah cowok itu.
Suara
Aldo...lembut banget...
Nadya
menggeleng, mencoba untuk tidak salah tingkah.
"T—Tadi…"
Nadya memulai dengan suara pelan. "Tadi…sebelum mandi... Aku cari-cari
informasi di Google…"
"He-em.
Terus?" ujar Aldo, menunggu kelanjutan cerita Nadya.
Nadya
meneguk ludahnya gugup. "Tadi…Aldo nggak sekolah. Jadi, aku takut Aldo
sakit..."
Mata
Aldo melebar.
Nadya
lalu melanjutkan, "Aku cari-cari di Google soal sisi lain Aldo... Soal…apa
pun yang berhubungan sama…kepribadian Aldo…"
Aldo
menyimak, napasnya berembus samar.
"…dan
aku…ketemu artikel soal DID..." ujar Nadya.
Mata
Aldo sedikit menyipit. Hanya samar, nyaris tak terlihat
perubahannya kalau Nadya tak memperhatikannya dengan jeli.
Nadya
buru-buru menimpali, "Aku—aku minta maaf kalo aku…nyakitin perasaan Aldo.
Aku cuma ketemu—"
Mendadak,
Aldo mengusap kepala Nadya pelan. Cowok itu tersenyum, menenangkan Nadya. "Nggak
apa-apa, Nad. Lanjutin aja."
Nadya
mengepalkan tangannya. Cewek itu memejamkan mata dan mengumpulkan keberaniannya
sebelum memberitahu Aldo.
Nadya
menarik napas dalam.
"Di
situs-situs kesehatan, katanya DID itu… kayak punya dua atau lebih kepribadian
yang berbeda dalam satu tubuh. Terus, katanya…kalo salah satu kepribadian
ngambil alih, maka kepribadian yang lain nggak ingat apa yang
kepribadian itu lakukan. Pergantian kepribadiannya itu secara tanpa sadar dan
nggak bisa dikendaliin.”
Nadya
menunduk sejenak, melipat bibirnya...lalu perlahan menatap Aldo dan berkata,
"Aku inget kalo Aldo…nggak lupa dengan semua kejadian saat
sisi gelap Aldo mengambil alih. Aldo inget semuanya; Aldo ngelakuin
semuanya…dalam kesadaran penuh."
Embusan
napas Aldo masih terdengar stabil. Mata cowok itu berpendar dengan indahnya
saat menatap Nadya; dia mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Nadya
dengan saksama.
Nadya
meneguk ludah. Dengan hati-hati, cewek itu pun bertanya:
"Aldo…apa
aku…lancang?”
Suasana
menjadi hening.
Suara
jangkrik yang tadi terdengar samar, kini benar-benar menghilang.
Hanya
Nadya dan Aldo, yang saling memandang di bawah sinar rembulan.
"Berapa lama...kamu
nyari tau soal DID?" tanya Aldo pelan. Ada…ketenangan di
wajah cowok itu. Kepalanya sedikit memiring ke sisi saat bertanya pada Nadya.
"Sekitar…satu
jam..." jawab Nadya pelan. Nadya ingat kalau tadi, setelah
mencuci piring, dia malah sibuk mencari info di Google melalui HP-nya karena kepikiran
sama Aldo.
Tanpa
sadar, Aldo sudah menyita banyak tempat di pikirannya.
Aldo
tersenyum miring, tetapi tak begitu kentara. Cowok itu mencubit pipi Nadya
pelan. "Makasih, ya, udah mikirin aku selama satu jam."
Mata
Nadya membelalak. Kok?
Aldo
tertawa kecil. Cowok itu kemudian mengusap kepala Nadya. "Kalo memang aku
ngidap DID, pasti udah ketauan dari dulu, Nad, waktu Papa sibuk nyari tau
penyakitku."
Aldo
tersenyum, lalu melanjutkan, "Ini, kan…nggak. Papa juga masih
bingung gimana mungkin sisi gelap itu bener-bener terasa kayak orang lain,
padahal itu aku. Semua itu bukan DID…atau apa ya itu istilahnya? Alter Ego, kalo
nggak salah. Alter Ego bisa diciptain sama si pengidap karena mereka nggak
sanggup menanggung atau ngehadapi beban masa lalunya, nggak mampu ngelakuin apa
yang mau mereka lakuin, dan nyerahin semua itu ke kepribadian yang mereka ciptain.”
Lama-lama,
senyuman Aldo terlihat pahit. "Sayangnya, aku nggak gitu. Aku nggak pernah
ngerasa ada orang lain. Aku nggak pernah mengobrol dengan sisiku
yang lain; aku juga nggak pernah ngontrol dia harus gimana, harus ngelakuin
apa, harus kapan berhentinya, nggak boleh ngapain aja... Aku nggak pernah ngontrol
semua itu. Yang kurasain cuma aku ngontrol emosiku, bukan
ngontrol 'seseorang'."
Nadya
mengangguk mengerti.
Kalo
Aldo nggak sakit, syukurlah...
Aldo
menghadap ke depan. Setelah itu, dia melihat ke atas. Ke langit malam itu.
"Tadi
pagi…Kak Sandi datang ke rumah dan ngejelasin semuanya," ujar
Aldo.
Nadya
kontan terkejut.
Pantes
aja Aldo nggak sekolah...
Aldo
lalu menatap Nadya dan tersenyum lembut. "Apa dia...pernah bilang sesuatu
sama kamu?"
Nadya
menunduk. Dada Nadya jadi terasa agak sesak. Tiba-tiba, Nadya kembali teringat soal
foto yang tersebar di sekolah.
Nadya
menghela napas, mencoba untuk melupakan kejadian di sekolah tadi dan mulai
menjawab pertanyaan Aldo.
"Kak Kurni—bukan, Kak
Sandi bilang…dia nggak sadar kalo dia…iri sama kamu, Aldo..."
ujar Nadya. Mata Nadya mulai berkaca-kaca saat mengatakan itu.
"Iya.
Dia udah bilang soal itu," ujar Aldo seraya mengangguk. Cowok itu pun menghela
napas. "tapi...kapan dia cerita semuanya ke kamu, Nad?"
"Kemaren,
Kak Sandi ngajak aku ke taman, Aldo..." jawab Nadya. "dan di
sana...Kak Sandi cerita semuanya…"
"Jadi, dia emang
deket sama kamu," kata Aldo. Ketenangan yang barusan Nadya lihat kini
kembali hilang.
"Boleh
aku tau...gimana kalian bisa ketemu?" tanya Aldo lirih.
Cowok itu mengusap dagu Nadya pelan dengan jempolnya.
Nadya
menatap Aldo dengan tatapan sendu. Tak lama kemudian, cewek itu pun mengangguk…dan
mulai bercerita.
"Aku
ketemu Kak Sandi waktu SMP kelas tiga, Aldo…" ujar Nadya. "Waktu itu
lagi hujan. Aku baru pulang dari perpustakaan; aku langsung lari, terus nyebrang
supaya bisa ke halte. Aku ketemu Kak Sandi di sana. Dia tanya kenapa aku suka
hujan, terus pas aku tanya balik...dia bilang..."
Nadya
mengigit bibirnya sejenak.
"...dia
suka hujan karena hujanlah yang ngingetin dia dengan
kesalahannya. Kesalahan dia sama seseorang di masa
lalunya..."
Nadya
mendongak. Rahang Aldo tampak mengetat. Matanya menatap Nadya, tetapi terlihat kosong.
Nadya
meneguk ludah. Dia tetap melanjutkan meskipun sakit sekali melihat Aldo seperti
itu. "Waktu kami pulang, aku sadar kalo ternyata rumah kami…sebelahan. Sejak
saat itu, Kak Sandi sering datang ke rumah aku. Dia sering juga makan di rumah
aku, bantu Papa bersihin halaman, dan lain-lain...sampe akhirnya, dia pindah.
Rumahnya dijual dan dia pergi ke Yogyakarta."
"Waktu
Kak Sandi bilang kalo dia menyesali semuanya, dia…bener-bener keliatan terluka,
Aldo…" ujar Nadya pelan. Mata Nadya berkaca-kaca.
"Dia... Dia sayang...sama Aldo…"
Tiba-tiba,
Aldo mendekati Nadya. Cowok itu mengistirahatkan kepalanya di bahu Nadya. Kedua
tangannya meraih pinggang Nadya. Dia seolah-olah tengah meminta kenyamanan dari
Nadya, mencari energi yang mungkin bisa kembali saat memeluk Nadya, atau
mungkin...
Mengeluarkan
semuanya.
Nadya
kaget saat Aldo tiba-tiba memeluknya, tetapi ketika Aldo meremas baju tidurnya,
matanya jadi berkaca-kaca. Air mata itu pelan-pelan jatuh dan membasahi
pipinya.
Nadya
bisa merasakan beratnya napas Aldo. Tubuh Aldo bergetar.
Nadya
mengangkat tangannya—refleks ingin menenangkan Aldo—tetapi terhenti di udara
karena belum terbiasa. Mengapa Nadya harus gugup dan ragu sekarang? Mengapa Nadya
mesti terus-menerus segan dengan Aldo, padahal Aldo sedang sedih...
Saat
pikiran Nadya kacau, tiba-tiba Aldo menghela napas panjang. Seolah ada beban
berat yang selama ini tengah mengimpit dadanya.
"Susah, Nad..."
ucap cowok itu lirih. Suaranya bergetar. "Aku nggak bisa
maafin dia. Aku belum bisa…maafin dia. Semua hal yang nggak normal
di hidupku…berawal dari kehadiran dia."
Aldo
memeluk Nadya semakin erat, kepalanya semakin mendekat ke ceruk leher Nadya.
"Aku takut menyatu dengan sisi gelapku. Takut kalau
sewaktu-waktu, aku memang jadi monster yang nggak bisa melihat
dunia dengan benar, penuh dengan dendam… Berbahan bakar kekecewaan dan
kebencian yang nggak berkesudahan."
Nadya
memegang lengan Aldo yang tengah memeluknya. Cewek itu memejamkan mata, membiarkan
air matanya jatuh.
Aldo
juga menangis.
"Tolong..." ujar
cowok itu. "Tolong ajari aku cara untuk maafin seseorang..."
Nadya
terperanjat. Aldo ternyata tidak ‘tenang’. Aldo hanya mencoba untuk tenang.
Nadya
tanpa sadar mengusap kepala Aldo pelan. Dia begitu prihatin. Dia ingin Aldo
tersenyum kembali.
"Tolong
ajari aku cara buat ngelepasin masa laluku. Cara untuk ngendaliin sisi
gelapku...dan menguburnya..." ujar Aldo. Sesungguhnya, ucapan itu tidak
benar-benar ia tujukan kepada Nadya. Dia hanya mengatakan semua isi hatinya,
entah berharap pada Tuhan atau kepada siapa pun yang bisa memberitahunya cara
untuk mengatasi segalanya dengan baik.
Aldo
mengeratkan pelukannya pada Nadya. Cowok itu masih menangis. Bersama
Nadya, ia bisa jujur. Bersama Nadya, ia bisa menunjukkan
segala kelemahannya. Segala ketakutannya. Segala kegelisahannya.
"Nad..."
Rasanya
sakit sekali mendengar panggilan Aldo yang putus asa itu. Secara impulsif,
Nadya merengkuh Aldo dan mengusap punggung Aldo pelan.
Tangisan
Aldo itu nyaris tak terdengar, tetapi memilukan. Terlalu sakit hingga sulit
untuk mengeluarkan suara. Seolah-olah dia telah memendam tangisan
itu selama sekian tahun.
"Aldo..."
panggil Nadya tiba-tiba. Mendadak…cewek itu ingin memberitahukan isi pikirannya
kepada Aldo. Dengan harapan agar Aldo berhenti bersedih dan mulai
memikirkan semuanya baik-baik. Nadya tahu kalau Aldo itu bijaksana. Nadya tahu
kalau Aldo pasti bisa berpikir dengan jernih..
Nadya
mungkin nggak bisa apa-apa, tetapi setidaknya... Setidaknya…
"Aku..."
ucap Nadya dengan gemetar. "Aku juga punya sisi buruk…tapi aku pengin Aldo
tau…kalo aku bakal dengerin Aldo. Aku mau peduli…sama Aldo..."
Pelukan
Aldo semakin erat, tubuh cowok itu melemah. Nadya bisa merasakan ada setetes
air mata jatuh di leher cewek itu.
Nadya
tetap berusaha untuk berbicara meskipun suaranya sulit untuk dikeluarkan. Ia
ingin sekali…menenangkan Aldo...
Kali
ini, ia harus bisa mengembalikan ketenangan yang selama ini
selalu Aldo berikan padanya. Ia harus bisa menyemangati Aldo, mendukung Aldo…
"Aldo
tau nggak?" tanya Nadya dengan bibir yang bergetar. "Hati
yang hebat itu…adalah hati yang selalu bijaksana
dalam memaafkan dan meminta maaf. Aldo itu kuat, bijaksana,
dan baik hati. Jadi, aku yakin kalo Aldo bisa memaafkan orang
lain..."
"Kita kan…dikaruniai
sebongkah hati supaya mampu berkasih sayang sama orang lain.
Semua orang memang punya sisi gelap. Sama kayak Aldo," kata Nadya. "Tapi
kita nggak boleh tunduk sama sisi gelap kita..."
“Menurut
aku…kita harus mencari tau sebabnya...dan mengatasinya. Bagaimanapun juga, sisi
gelap itu pun...bagian dari diri kita.”
Sometimes,
the only way to win is not to play.
Ternyata,
kalimat itu memang benar.
Mungkin, luka
itulah yang membuat Aldo mendengar bisikan aneh sewaktu bertengkar dengan Sandi
tadi pagi. Merasa bahwa iblis itu semakin dekat hingga bisa membisikkan sesuatu
dengan jelas padanya.
Namun,
Aldo tiba-tiba berkata, "Iya. Aku juga pernah denger kalo semua manusia
itu datang ke dunia dalam satu paket. Kita nggak bisa cuma
mau memiliki satu sisi dan menolak yang lainnya."
Nadya
mengangguk pelan, sedikit kaku.
Aldo
mengangkat kepalanya dari ceruk leher Nadya dan mengusap rambut Nadya pelan.
Wajahnya masih sembab, matanya masih merah karena air mata. Cowok itu
mengembuskan napasnya kalut.
"Aku
pernah baca cerita ini, Aldo, tapi entah di mana aku lupa..."
ucap Nadya. Cewek itu bernapas samar sebelum berkata, "Dulu, ada
seorang bijaksana yang memelihara dua ekor anjing. Dua-duanya
besar dan kuat. Yang warnanya hitam suka nggigit orang lain dan bener- bener
kejam dengan mangsanya. Sementara itu, yang warnanya putih juga sama kuatnya,
tapi dia jadi penjaga rumah yang baik. Dia punya insting yang jauh lebih baik
untuk ngebedain mana tamu yang baik dan mana tamu yang nggak baik. Habis itu,
pas seseorang nanya sama sang pemilik anjing itu, mana yang bakal menang kalo
kedua anjing itu berkelahi..."
Nadya
diam sejenak, meneguk ludah, lalu melanjutkan:
"Sang
pemilik itu jawab kalo yang menang adalah yang dia beri makan lebih
banyak."
Tubuh
Aldo spontan mematung. Jantungnya nyaris berhenti berdegup.
Kenyataan itu menamparnya. Cowok itu seratus persen terdiam.
Benar.
Jika
dia memberi 'makan' atau memelihara sisi gelap itu lebih
banyak daripada sisi baiknya, maka sisi gelap itulah yang akan menang.
Aldo
jadi terguncang. Seluruh kata-kata Nadya membuatnya sadar.
Membuatnya melihat semuanya dengan lebih jelas.
Setelah
lima detik terdiam, Nadya kembali berkata sembari mengusap air matanya, "Manusia nggak
bisa mengubah manusia lain, Aldo, nggak peduli betapa
kerasnya seseorang itu berusaha. Tapi kalo ada tekad yang kuat dari orang
itu sendiri, maka nggak ada yang nggak mungkin, Aldo…"
Agaknya,
ada lembing seakan-akan sukses menohok jantung Aldo. Setiap
perkataan Nadya jadi sekakmat sendiri baginya.
Akhirnya, Nadya
benar-benar memeluk Aldo dengan erat. Cewek itu sukses menghilangkan segala
rasa gugup dan malunya. Yang ia pikirkan saat ini…hanyalah Aldo.
Sembari
memeluk Aldo, Nadya pun berbicara lirih, "Maafin orang lain bakal bikin
hati Aldo jadi lebih tenag. Mama juga pernah bilang sama aku kalo…memaafkan mungkin
nggak bisa ngubah masa lalu, tapi setidaknya bisa memperbaiki masa
depan."
Saat
itulah seluruh pertahanan Aldo runtuh.
Hal
terbaik di dalam kehidupan ini adalah ketika kau menemukan seseorang yang
mengetahui semua cacatmu, kesalahanmu, dan kegagalanmu, tetapi masih berpikir
bahwa kau luar biasa.
******
Nadya
baru saja mau siap-siap tidur, baru saja mau mematikan lampu kamarnya saat
tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nadya
sudah pulang—diantar oleh Aldo—sekitar dua jam yang lalu. Tadi, Aldo akhirnya
mencurahkan segalanya dan menenangkan diri. Membebaskan udara yang membuat
cowok itu tercekik selama ini. Mencoba untuk melangkah lebih
maju, menerima sang bayangan di dalam dirinya, terbuka dengan
dirinya sendiri…
Kalimat-kalimat
dari Nadya secara otomatis bisa menggerakkan hati Aldo meskipun sebenarnya tadi
Nadya tidak berharap banyak. Harapan Nadya tadi itu hanya
sederhana, yaitu Aldo bisa tenang, menerima dirinya sendiri, dan memaafkan orang
lain.
Namun,
Nadya tak tahu seberapa besar pengaruhnya pada Aldo. Sebenarnya, selama ini…satu
kalimat dari Nadya memiliki kontrol penuh terhadap Aldo.
Meski
Aldo tak pernah mengucapkan hal itu.
Tadi,
Aldo bilang dia mau pergi ke rumah Rian sebentar setelah mengantar Nadya. Cowok
itu mau menenangkan pikirannya sejenak sebelum pulang dan kembali bertemu
dengan Sandi.
Nadya
meraih ponselnya tersebut dan melihat ada panggilan masuk dari Rian.
Eh…Rian…? Ada
apa?
Dengan
cepat, Nadya pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo...?"
"Nad,
Aldo ada ngabarin kamu nggak?" tanya
Rian panik.
Nadya
mengernyitkan dahi. Entah mengapa, jantung Nadya mendadak berdegup kencang.
Kenapa
Rian kedengeran panik?
"Nggak,"
jawab Nadya. "Emang kenapa, Rian...?"
Rian
sepertinya gelisah. "Tadi, dia ada di rumah aku. Terus aku
nunjukin foto kamu yang tersebar di sekolah dan nyeritain semuanya ke dia. Abis
itu, dia langsung pergi gitu aja, Nad."
Nadya
kontan saja terkesiap.
Rian…menceritakan
kejadian di sekolah?
Itu
masalah Nadya, bukan masalah Aldo. Nadya ingin menghadapinya sendiri.
Aldo tak perlu tahu! Aldo sedang banyak masalah!
"Nad?
Nad?!"
Panggilan
Rian itu sontak membuat Nadya mengerjap.
Nadya
cepat-cepat menyahut, "Ya, Rian?"
"Ya
udah, Nad, nggak apa-apa kalo dia nggak ada ngehubungi kamu. Aku takut aja,
Nad..." ujar Rian. "Ekspresinya
berubah drastis, soalnya."
******
"Aku sekarang belum
mau ngomong sama Kakak," ucap Aldo dengan tegas. Ia sedang
mengendarai mobilnya; matanya memandang jalanan di depan sana tajam. "jadi jangan telepon
aku."
Ia
masih bisa mengendalikan dirinya. Kebencian itu juga sudah sedikit berkurang.
Memanggil 'Kakak' mungkin merupakan angan semata jika Aldo
sedang dikuasai oleh sisi gelapnya.
"Maaf,
Aldo," ujar Sandi. "Kakak cuma inget
sesuatu. Kakak mau ngasih tau kamu."
Aldo
hanya diam. Rahangnya mengetat. Dia mencengkeram roda kemudi.
Sandi
bernapas sejenak, lalu melanjutkan, "Kemaren, Kakak ngajak Nadya
ke taman—"
"Aku tau," potong
Aldo tajam.
Sandi
diam sebentar. Cowok itu kemudian menghela napasnya di seberang sana.
Setidaknya…Aldo sudah mau berbicara dengannya.
"Waktu
itu, Kakak beliin Nadya gantungan kunci. Terus pas Kakak mau ngasih gantungan kunci
itu, Kakak liat Nadya buka SMS di HP-nya. Kakak nggak bermaksud ngintip, tapi
karena ekspresi Nadya berubah pas liat SMS itu, Kakak jadi penasaran."
Aldo mulai mengernyitkan
dahi.
"Kakak
liat…kayaknya ada yang lagi neror Nadya, Aldo," lanjut
Sandi.
Aldo—yang
saat itu berkendara di jalan kecil—mendadak menghentikan mobilnya. Tubuh cowok
itu sedikit terdorong ke depan akibat berhenti mendadak.
Mata
Aldo membulat. Panggilan telepon itu mati, diakhiri dengan Sandi yang memanggil
nama Aldo sebanyak dua kali.
Mata
Aldo menyipit tajam, cowok itu mulai mencocokkan berbagai kemungkinan yang
terlintas di otaknya. Buku jarinya yang mencengkeram roda kemudi itu memutih.
Damn.
Tadi, Nadya
baru saja bersamanya.
Menenangkannya.
Apa
ini?
Mengapa
cewek sebaik Nadya, sepolos Nadya…
Cewek
yang dengan setulus hati menerimanya, mengerti dirinya, mengulurkan tangan
untuknya tanpa balasan apa pun… Cewek yang tadi baru saja memberinya
keberanian, menguatkannya...
...harus
mengalami semua itu?
Nadya
menenangkan Aldo saat sebenarnya Nadya sedang dihina semua orang di sekolah?
Tepat
saat itulah, ponsel Aldo kembali berbunyi. Aldo diam. Suasana
di dalam mobil itu hening sekali, hanya ada bunyi ponsel cowok itu.
Tatapan
Aldo fokus ke satu arah. Ke depan sana. Tangannya membawa
ponsel itu ke telinganya.
Terdengarlah
suara Arif, Wakil Ketua OSIS, yang menyapa Aldo di seberang sana.
"Do,
besok jadi rapat masalah festival, ‘kan? Gue denger tadi lo nggak sekolah. Lo
kenapa?"
"Rif," panggil
Aldo tiba-tiba. Cowok itu sama sekali tak menghiraukan ucapan
Arif.
Namun,
di seberang sana, Arif tersentak. Suara Aldo barusan adalah suara yang paling dingin
yang pernah Arif dengar selama hidupnya. Arif sampai mematung; tubuhnya
tak mampu bergerak. Rasa takut mulai menjalar di tubuh Arif.
"Y—Ya,
Do?" sahut Arif. Suaranya agak bergetar.
Hening.
Tiga
detik kemudian, suara Aldo yang menyeramkan itu kembali terdengar
di dalam mobil.
"Batalin rapat
OSIS besok. Gue ada urusan." []


No comments:
Post a Comment