Friday, January 16, 2026

Because of Ticket! (Bab 19: Menerima Bayanganmu)

 


******

Bab 19 :

Menerima Bayanganmu

 

******

 

LANGKAH kaki Aldo terhenti begitu suara Gerald terdengar di telinganya. Tanpa menoleh, dengan ekspresi dingin, Aldo menunggu. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh Gerald.

"Kamu mau ke mana, Nak?"

Aldo tahu bahwa Sandi ada di sana. Sandi sedang duduk di sofa ruang tamu bersama Rachel, Naya, dan juga Gerald, sementara Aldo membelakangi mereka.

Napas Aldo terasa berat setiap kali diembuskan, seolah-olah dadanya telah lama menahan sesak selama beberapa jam terakhir.

“Keluar sebentar. Just want to get some air,” ujar Aldo dengan suara yang terdengar begitu dalam. Dengan dua kalimat itu, ia kembali melangkah ke luar rumahnya, tak menghiraukan sapaan hormat Richard maupun para pelayan yang berdiri di dekat pintu.

Pertengkarannya dengan Sandi membuat udara di rumah terasa sesak. Aldo tidak masuk sekolah hari ini; Gerald juga tidak pergi ke kantornya. Meski masalah antara Aldo dan Sandi telah jelas dan cukup terkendali, hal itu tidak menampik kenyataan bahwa Aldo masih sukar berbicara dengannya. Segumpal perasaan berupa luka, rasa bersalah, serta amarah di antara mereka masih belum hilang.

Saat kau menghancurleburkan sebuah gelas, gelas yang hancur itu takkan kembali mulus seperti semula meskipun kau rekatkan, kecuali jika kau mendaur ulang gelas itu sepenuhnya. Dalam kasus Aldo, ini memiliki arti: mencuci otak atau menghilangkan memori lama itu seutuhnya.

Meski kemarahan Aldo telah berkurang oleh penjelasan Sandi, hal itu tak mengubah kenyataan bahwa Aldo menjadi dirinya yang sekarang karena masa lalu yang menyakitkan itu. Jadi, meski semuanya telah jelas, Aldo tetap butuh menenangkan pikirannya. Cowok itu butuh waktu untuk merapikan kekacauan di dalam kepalanya.

Saat ini, Aldo tengah berdiri bersandar pada bagian samping mobilnya sembari memandangi langit senja yang begitu indah. Keindahan langit itu sanggup membuat pertahanan Aldo runtuh, terutama karena dia sedang ada masalah. Senja dan malam; dua waktu yang paling bisa membuat sisi emosional manusia bangkit.

Taman itu sepi. Aldo suka taman itu, entah sejak kapan. Mungkin sejak Rian mengajaknya ke toko olahraga beberapa bulan lalu. Mereka memilih untuk melewati jalan pintas (lorong), lalu tak sengaja melihat anak-anak bermain di taman yang kebetulan ada di sana.

Setidaknya, lorong itu muat untuk dilewati mobil.

Taman itu bukan taman wisata atau sebagainya. Tanah di sana sepertinya akan mudah menjadi debu saat musim kemarau. Di ujung taman itu, ada dua ayunan dan sebuah kursi panjang. Dahulu, saat lewat sini bersama Rian, Aldo melihat kursi itu diduduki oleh ibu-ibu. Selain ayunan dan kursi itu, tak ada apa-apa lagi di sana. Hanya tanah tempat anak-anak bermain bola atau kejar-kejaran.

Aldo memarkirkan mobilnya di dalam taman; suasana senja itu cukup menghangatkan hatinya yang terasa kosong saat ini. Warna oranye senja telah memperindah taman itu. Rasanya hangat. Aldo tak ingin kehangatan itu pergi dan digantikan oleh dinginnya malam.

Tak lama kemudian, matahari mulai terbenam. Semakin menyaksikannya, semakin kau ingin menghentikan matahari agar tak pergi secepat itu. Itu hanyalah keinginan konyol, tentu saja. Namun, terkadang, rasa kehilangan itu membuat hatimu sakit hingga tanpa sadar kau akan mendengkus kecewa.

Tiba-tiba, terdengar suara mengeong di taman itu, membuat Aldo sedikit terdistraksi. Suara itu terdengar bersamaan dengan keberadaan seekor binatang berbulu yang mengusap-usapkan kepalanya di betis Aldo.

Aldo menurunkan pandangannya dan melihat seekor kucing. Kucing itu berwarna kuning; dia sedang berusaha mencari perhatian Aldo.

Aldo tersenyum. Cowok itu mulai berjongkok dan mengelus kepala kucing itu. Tanpa sadar, langit di atas sana mulai menggelap.

Rasa dingin perlahan merayapi tubuh Aldo, membuatnya teringat pada seseorang.

 

Nadya.

 

Aldo sudah tahu sejak lama bahwa Nadya menciptakan kehangatan di hatinya. Dengan kehangatan yang Nadya miliki, cewek itu merengkuh Aldo, menerima Aldo apa adanya. Merangkul cahaya dan kegelapan di dalam diri Aldo.

Semua itu membuat Aldo merasa aman dan nyaman selama bersamanya.

Kucing itu mengeong ketika Aldo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan segera menelepon Nadya.

 

Apa kabar kamu, Nad?

 

Butuh lima deringan hingga akhirnya panggilan telepon itu diangkat. Aldo tersenyum saat terdengar suara napas Nadya di telepon.

 

I miss the sound of your breathing on the phone.

 

Angin malam mulai menggoyangkan beberapa helai rambut Aldo saat Nadya mulai bersuara, "Halo...?"

"Lagi apa, Sayang?" tanya Aldo. Elusannya pada kucing yang menempel di betisnya itu tak kunjung berhenti.

"Aku…baru selesai mandi, Aldo…" jawab Nadya. "Kalo Aldo?"

"Lagi elus-elus kucing," jawab Aldo sembari tersenyum miring. "Bulu kucingnya lembut banget… Kayak rambut kamu, Nad."

Di sisi lain, Nadya terdiam sebentar. Pipi cewek itu merona bukan main mendengar pujian Aldo yang mendadak itu.

Beberapa detik kemudian, akhirnya Nadya berhasil mengatasi rasa malunya dan bertanya, "Emang…Aldo lagi di mana?"

"Lagi di taman, Nad... Eh, kucingnya pergi."

Nadya tersenyum. By the way, tadi pagi…Aldo tidak masuk sekolah. Apa Aldo baik-baik saja? Seharian ini, Nadya cukup kepikiran soal Aldo.

 

Aldo ada masalah, ya...? Semoga Aldo nggak sakit... Semoga Aldo baik-baik saja...

 

...adalah doa yang sejak tadi selalu Nadya ucapkan dalam hati.

Namun, mendengar suara Aldo malam ini…sepertinya cowok itu cukup tenang. Entah itu benar atau tidak.

Nadya ingin bertanya, tetapi…tak ingin membuat Aldo terganggu. Nadya ingin Aldo tenang dahulu...

Kembali ke Aldo, cowok itu berdiri dan bersandar di sisi mobilnya. Ia memandangi langit. Di sana, bulan sabit menggantung di tengah bintang-bintang yang amat terang. Karena taman itu tak memiliki lampu dan letaknya agak jauh dari perumahan, bulan dan bintang tampak lebih cerah. Sangat cantik. Bersinar terang…

"Nad, langit malam di sini indah banget," ujar Aldo sembari tersenyum. "Bintang sama bulannya bersinar terang banget."

 

Kayak mata kamu, Nad. Mata yang bikin aku langsung jatuh cinta sama kamu waktu pertama kali kita ketemu.

 

Nadya melebarkan mata. Pasti…enak banget bisa melihat langit malam yang seindah itu.

"Kamu mau liat?" tanya Aldo. "Aku bawa kamu ke sini, ya? Biar kita liat sama-sama."

"Eh?" ujar Nadya kaget.

"Biar kamu tau gimana cantik dan jernihnya mata kamu itu," ujar Aldo lirih. "Biar kamu tau seberapa bersinar mereka di mata aku."

Nadya diam. Telinganya memerah. Jantungnya berdegup kencang. Dia tanpa sadar menggigit bibir bawahnya.

"Aku ke sana, ya, Tuan Putri," ujar Aldo. "Nggak usah ganti baju, ntar kamu repot. Pake baju tidur aja, ya?"

Nadya kaget karena Aldo ternyata benar-benar mau datang ke rumahnya. "Aldo—ta—"

"Aku kangen kamu, Nad..." ucap Aldo. Setelah itu, Nadya mendengar suara ciuman pelan dari seberang sana. Dua detik kemudian, panggilan telepon itu pun terputus.

Wajah Nadya kontan memerah bukan main. Tadi—tadi itu apa?!

 

******

 

Mulut Nadya terbuka karena cewek itu sedikit kaget saat Aldo menggandengnya keluar dari mobil. Benar kata Aldo; cowok itu membawa Nadya ke sebuah taman. Taman yang sebenarnya sunyi, jadi suara jangkrik bisa terdengar.

"Liat tuh, Nad, langitnya," kata Aldo.

Nadya pun melihat ke atas. Cewek itu tercengang.

Demi apa pun, langitnya cantik sekali. Bintangnya kelap-kelip dan berserakan; semuanya bersinar begitu terang.

Rasanya, sulit untuk mengalihkan pandangan. Nadya hampir tak pernah melihat langit malam seindah ini. Mungkin karena taman ini sangat gelap saat malam, semuanya terlihat jelas.

Terdengar Aldo mengembuskan napasnya pelan samping Nadya.

"Dulu, aku ketawa kalo denger orang nggombal kayak, 'Ada bintang di mata kamu' gitu. Tapi…sekarang aku paham maksudnya," ujar Aldo sembari tawa kecil.

Nadya menatap Aldo dan langsung melebarkan mata. Ya Tuhan, rasanya rindu banget sama Aldo yang tertawa polos itu. Di bawah cahaya bintang dan bulan malam ini, wajah Aldo tampak begitu bersinar.

 

Aldo itu...ganteng banget...

 

Tanpa sadar, Nadya sibuk menatap Aldo sejak tadi. Dia bahkan tak sadar bahwa tadi itu Aldo sedang menggodanya. Ada binar di mata cewek itu tatkala melihat Aldo dengan kagum.

Karena Nadya hanya diam, Aldo pun mulai menoleh kepada Nadya. Ternyata, Nadya tengah menatapnya; mata cewek itu tampak jernih, layaknya air yang memantulkan cahaya bulan.

Mata Aldo kontan membelalak.

Lidah cowok itu kelu. Ia mematung.

 

Cantik...

 

Oh, Aldo jadi ingin waktu berhenti saja. Namun, tiba-tiba Nadya memalingkan wajah.

Jakun Aldo naik turun.

 

Jangan-jangan, Tuhan sedang menguji kesabaran Aldo.

 

Nadya langsung memalingkan wajah saat Aldo memergokinya. Sekarang, pipinya merona. Benar-benar merah, seolah-olah sedang demam tinggi.

Tatkala berpikir keras untuk mengalihkan perhatian Aldo, Nadya tiba-tiba jadi teringat sesuatu. Cewek itu kemudian menatap Aldo dengan mata yang sedikit membulat, seperti ingin memberitahukan sesuatu yang penting.

 

…atau mungkin…hanya ingin bertanya.

 

Aldo ternyata masih memandangi Nadya. Nadya jadi ingin menutup wajahnya dan melarikan diri dari pandangan Aldo, tetapi dia ingin menyampaikan sesuatu. Jadi, meskipun jantungnya berdegup kencang, ia tetap mencoba untuk membuka mulut.

"Al—do."

Ya ampun, mengapa Nadya jadi gagap begitu, sih...?

"Hm?" deham Aldo lembut. Seolah-olah…memang menunggu Nadya berbicara. Senyum tipis terbit di wajah cowok itu.

 

Suara Aldo...lembut banget...

 

Nadya menggeleng, mencoba untuk tidak salah tingkah.

"T—Tadi…" Nadya memulai dengan suara pelan. "Tadi…sebelum mandi... Aku cari-cari informasi di Google…"

"He-em. Terus?" ujar Aldo, menunggu kelanjutan cerita Nadya.

Nadya meneguk ludahnya gugup. "Tadi…Aldo nggak sekolah. Jadi, aku takut Aldo sakit..."

Mata Aldo melebar.

Nadya lalu melanjutkan, "Aku cari-cari di Google soal sisi lain Aldo... Soal…apa pun yang berhubungan sama…kepribadian Aldo…"

Aldo menyimak, napasnya berembus samar.

"…dan aku…ketemu artikel soal DID..." ujar Nadya.

Mata Aldo sedikit menyipit. Hanya samar, nyaris tak terlihat perubahannya kalau Nadya tak memperhatikannya dengan jeli.

Nadya buru-buru menimpali, "Aku—aku minta maaf kalo aku…nyakitin perasaan Aldo. Aku cuma ketemu—"

Mendadak, Aldo mengusap kepala Nadya pelan. Cowok itu tersenyum, menenangkan Nadya. "Nggak apa-apa, Nad. Lanjutin aja."

Nadya mengepalkan tangannya. Cewek itu memejamkan mata dan mengumpulkan keberaniannya sebelum memberitahu Aldo.

Nadya menarik napas dalam.

"Di situs-situs kesehatan, katanya DID itu… kayak punya dua atau lebih kepribadian yang berbeda dalam satu tubuh. Terus, katanya…kalo salah satu kepribadian ngambil alih, maka kepribadian yang lain nggak ingat apa yang kepribadian itu lakukan. Pergantian kepribadiannya itu secara tanpa sadar dan nggak bisa dikendaliin.”

Nadya menunduk sejenak, melipat bibirnya...lalu perlahan menatap Aldo dan berkata, "Aku inget kalo Aldo…nggak lupa dengan semua kejadian saat sisi gelap Aldo mengambil alih. Aldo inget semuanya; Aldo ngelakuin semuanya…dalam kesadaran penuh."

Embusan napas Aldo masih terdengar stabil. Mata cowok itu berpendar dengan indahnya saat menatap Nadya; dia mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Nadya dengan saksama.

Nadya meneguk ludah. Dengan hati-hati, cewek itu pun bertanya:

 

"Aldo…apa aku…lancang?”

 

Suasana menjadi hening.

Suara jangkrik yang tadi terdengar samar, kini benar-benar menghilang.

Hanya Nadya dan Aldo, yang saling memandang di bawah sinar rembulan.

 

"Berapa lama...kamu nyari tau soal DID?" tanya Aldo pelan. Ada…ketenangan di wajah cowok itu. Kepalanya sedikit memiring ke sisi saat bertanya pada Nadya.

"Sekitar…satu jam..." jawab Nadya pelan. Nadya ingat kalau tadi, setelah mencuci piring, dia malah sibuk mencari info di Google melalui HP-nya karena kepikiran sama Aldo.

Tanpa sadar, Aldo sudah menyita banyak tempat di pikirannya.

Aldo tersenyum miring, tetapi tak begitu kentara. Cowok itu mencubit pipi Nadya pelan. "Makasih, ya, udah mikirin aku selama satu jam."

Mata Nadya membelalak. Kok?

Aldo tertawa kecil. Cowok itu kemudian mengusap kepala Nadya. "Kalo memang aku ngidap DID, pasti udah ketauan dari dulu, Nad, waktu Papa sibuk nyari tau penyakitku."

Aldo tersenyum, lalu melanjutkan, "Ini, kan…nggak. Papa juga masih bingung gimana mungkin sisi gelap itu bener-bener terasa kayak orang lain, padahal itu aku. Semua itu bukan DID…atau apa ya itu istilahnya? Alter Ego, kalo nggak salah. Alter Ego bisa diciptain sama si pengidap karena mereka nggak sanggup menanggung atau ngehadapi beban masa lalunya, nggak mampu ngelakuin apa yang mau mereka lakuin, dan nyerahin semua itu ke kepribadian yang mereka ciptain.”

Lama-lama, senyuman Aldo terlihat pahit. "Sayangnya, aku nggak gitu. Aku nggak pernah ngerasa ada orang lain. Aku nggak pernah mengobrol dengan sisiku yang lain; aku juga nggak pernah ngontrol dia harus gimana, harus ngelakuin apa, harus kapan berhentinya, nggak boleh ngapain aja... Aku nggak pernah ngontrol semua itu. Yang kurasain cuma aku ngontrol emosiku, bukan ngontrol 'seseorang'."

Nadya mengangguk mengerti.

 

Kalo Aldo nggak sakit, syukurlah...

 

Aldo menghadap ke depan. Setelah itu, dia melihat ke atas. Ke langit malam itu.

"Tadi pagi…Kak Sandi datang ke rumah dan ngejelasin semuanya," ujar Aldo.

Nadya kontan terkejut.

 

Pantes aja Aldo nggak sekolah...

 

Aldo lalu menatap Nadya dan tersenyum lembut. "Apa dia...pernah bilang sesuatu sama kamu?"

Nadya menunduk. Dada Nadya jadi terasa agak sesak. Tiba-tiba, Nadya kembali teringat soal foto yang tersebar di sekolah.

Nadya menghela napas, mencoba untuk melupakan kejadian di sekolah tadi dan mulai menjawab pertanyaan Aldo.

"Kak Kurni—bukan, Kak Sandi bilang…dia nggak sadar kalo dia…iri sama kamu, Aldo..." ujar Nadya. Mata Nadya mulai berkaca-kaca saat mengatakan itu.

"Iya. Dia udah bilang soal itu," ujar Aldo seraya mengangguk. Cowok itu pun menghela napas. "tapi...kapan dia cerita semuanya ke kamu, Nad?"

"Kemaren, Kak Sandi ngajak aku ke taman, Aldo..." jawab Nadya. "dan di sana...Kak Sandi cerita semuanya…"

"Jadi, dia emang deket sama kamu," kata Aldo. Ketenangan yang barusan Nadya lihat kini kembali hilang.

"Boleh aku tau...gimana kalian bisa ketemu?" tanya Aldo lirih. Cowok itu mengusap dagu Nadya pelan dengan jempolnya.

Nadya menatap Aldo dengan tatapan sendu. Tak lama kemudian, cewek itu pun mengangguk…dan mulai bercerita.

"Aku ketemu Kak Sandi waktu SMP kelas tiga, Aldo…" ujar Nadya. "Waktu itu lagi hujan. Aku baru pulang dari perpustakaan; aku langsung lari, terus nyebrang supaya bisa ke halte. Aku ketemu Kak Sandi di sana. Dia tanya kenapa aku suka hujan, terus pas aku tanya balik...dia bilang..."

Nadya mengigit bibirnya sejenak.

"...dia suka hujan karena hujanlah yang ngingetin dia dengan kesalahannya. Kesalahan dia sama seseorang di masa lalunya..."

Nadya mendongak. Rahang Aldo tampak mengetat. Matanya menatap Nadya, tetapi terlihat kosong.

Nadya meneguk ludah. Dia tetap melanjutkan meskipun sakit sekali melihat Aldo seperti itu. "Waktu kami pulang, aku sadar kalo ternyata rumah kami…sebelahan. Sejak saat itu, Kak Sandi sering datang ke rumah aku. Dia sering juga makan di rumah aku, bantu Papa bersihin halaman, dan lain-lain...sampe akhirnya, dia pindah. Rumahnya dijual dan dia pergi ke Yogyakarta."

"Waktu Kak Sandi bilang kalo dia menyesali semuanya, dia…bener-bener keliatan terluka, Aldo…ujar Nadya pelan. Mata Nadya berkaca-kaca. "Dia... Dia sayang...sama Aldo…"

Tiba-tiba, Aldo mendekati Nadya. Cowok itu mengistirahatkan kepalanya di bahu Nadya. Kedua tangannya meraih pinggang Nadya. Dia seolah-olah tengah meminta kenyamanan dari Nadya, mencari energi yang mungkin bisa kembali saat memeluk Nadya, atau mungkin...

 

Mengeluarkan semuanya.

 

Nadya kaget saat Aldo tiba-tiba memeluknya, tetapi ketika Aldo meremas baju tidurnya, matanya jadi berkaca-kaca. Air mata itu pelan-pelan jatuh dan membasahi pipinya.

Nadya bisa merasakan beratnya napas Aldo. Tubuh Aldo bergetar.

Nadya mengangkat tangannya—refleks ingin menenangkan Aldo—tetapi terhenti di udara karena belum terbiasa. Mengapa Nadya harus gugup dan ragu sekarang? Mengapa Nadya mesti terus-menerus segan dengan Aldo, padahal Aldo sedang sedih...

Saat pikiran Nadya kacau, tiba-tiba Aldo menghela napas panjang. Seolah ada beban berat yang selama ini tengah mengimpit dadanya.

"Susah, Nad..." ucap cowok itu lirih. Suaranya bergetar. "Aku nggak bisa maafin dia. Aku belum bisa…maafin dia. Semua hal yang nggak normal di hidupku…berawal dari kehadiran dia."

Aldo memeluk Nadya semakin erat, kepalanya semakin mendekat ke ceruk leher Nadya. "Aku takut menyatu dengan sisi gelapku. Takut kalau sewaktu-waktu, aku memang jadi monster yang nggak bisa melihat dunia dengan benar, penuh dengan dendam… Berbahan bakar kekecewaan dan kebencian yang nggak berkesudahan."

Nadya memegang lengan Aldo yang tengah memeluknya. Cewek itu memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh.

Aldo juga menangis.

"Tolong..." ujar cowok itu. "Tolong ajari aku cara untuk maafin seseorang..."

Nadya terperanjat. Aldo ternyata tidak ‘tenang’. Aldo hanya mencoba untuk tenang.

Nadya tanpa sadar mengusap kepala Aldo pelan. Dia begitu prihatin. Dia ingin Aldo tersenyum kembali.

"Tolong ajari aku cara buat ngelepasin masa laluku. Cara untuk ngendaliin sisi gelapku...dan menguburnya..." ujar Aldo. Sesungguhnya, ucapan itu tidak benar-benar ia tujukan kepada Nadya. Dia hanya mengatakan semua isi hatinya, entah berharap pada Tuhan atau kepada siapa pun yang bisa memberitahunya cara untuk mengatasi segalanya dengan baik.

Aldo mengeratkan pelukannya pada Nadya. Cowok itu masih menangis. Bersama Nadya, ia bisa jujur. Bersama Nadya, ia bisa menunjukkan segala kelemahannya. Segala ketakutannya. Segala kegelisahannya.

 

"Nad..."

 

Rasanya sakit sekali mendengar panggilan Aldo yang putus asa itu. Secara impulsif, Nadya merengkuh Aldo dan mengusap punggung Aldo pelan.

Tangisan Aldo itu nyaris tak terdengar, tetapi memilukan. Terlalu sakit hingga sulit untuk mengeluarkan suara. Seolah-olah dia telah memendam tangisan itu selama sekian tahun.

"Aldo..." panggil Nadya tiba-tiba. Mendadak…cewek itu ingin memberitahukan isi pikirannya kepada Aldo. Dengan harapan agar Aldo berhenti bersedih dan mulai memikirkan semuanya baik-baik. Nadya tahu kalau Aldo itu bijaksana. Nadya tahu kalau Aldo pasti bisa berpikir dengan jernih..

Nadya mungkin nggak bisa apa-apa, tetapi setidaknya... Setidaknya…

"Aku..." ucap Nadya dengan gemetar. "Aku juga punya sisi buruk…tapi aku pengin Aldo tau…kalo aku bakal dengerin Aldo. Aku mau peduli…sama Aldo..."

Pelukan Aldo semakin erat, tubuh cowok itu melemah. Nadya bisa merasakan ada setetes air mata jatuh di leher cewek itu.

Nadya tetap berusaha untuk berbicara meskipun suaranya sulit untuk dikeluarkan. Ia ingin sekali…menenangkan Aldo...

Kali ini, ia harus bisa mengembalikan ketenangan yang selama ini selalu Aldo berikan padanya. Ia harus bisa menyemangati Aldo, mendukung Aldo…

"Aldo tau nggak?" tanya Nadya dengan bibir yang bergetar. "Hati yang hebat itu…adalah hati yang selalu bijaksana dalam memaafkan dan meminta maaf. Aldo itu kuat, bijaksana, dan baik hati. Jadi, aku yakin kalo Aldo bisa memaafkan orang lain..."

"Kita kan…dikaruniai sebongkah hati supaya mampu berkasih sayang sama orang lain. Semua orang memang punya sisi gelap. Sama kayak Aldo," kata Nadya. "Tapi kita nggak boleh tunduk sama sisi gelap kita..."

“Menurut aku…kita harus mencari tau sebabnya...dan mengatasinya. Bagaimanapun juga, sisi gelap itu pun...bagian dari diri kita.”

Sometimes, the only way to win is not to play.

Ternyata, kalimat itu memang benar.

Mungkin, luka itulah yang membuat Aldo mendengar bisikan aneh sewaktu bertengkar dengan Sandi tadi pagi. Merasa bahwa iblis itu semakin dekat hingga bisa membisikkan sesuatu dengan jelas padanya.

Namun, Aldo tiba-tiba berkata, "Iya. Aku juga pernah denger kalo semua manusia itu datang ke dunia dalam satu paket. Kita nggak bisa cuma mau memiliki satu sisi dan menolak yang lainnya."

Nadya mengangguk pelan, sedikit kaku.

Aldo mengangkat kepalanya dari ceruk leher Nadya dan mengusap rambut Nadya pelan. Wajahnya masih sembab, matanya masih merah karena air mata. Cowok itu mengembuskan napasnya kalut.

"Aku pernah baca cerita ini, Aldo, tapi entah di mana aku lupa..." ucap Nadya. Cewek itu bernapas samar sebelum berkata, "Dulu, ada seorang bijaksana yang memelihara dua ekor anjing. Dua-duanya besar dan kuat. Yang warnanya hitam suka nggigit orang lain dan bener- bener kejam dengan mangsanya. Sementara itu, yang warnanya putih juga sama kuatnya, tapi dia jadi penjaga rumah yang baik. Dia punya insting yang jauh lebih baik untuk ngebedain mana tamu yang baik dan mana tamu yang nggak baik. Habis itu, pas seseorang nanya sama sang pemilik anjing itu, mana yang bakal menang kalo kedua anjing itu berkelahi..."

Nadya diam sejenak, meneguk ludah, lalu melanjutkan:

"Sang pemilik itu jawab kalo yang menang adalah yang dia beri makan lebih banyak."

Tubuh Aldo spontan mematung. Jantungnya nyaris berhenti berdegup. Kenyataan itu menamparnya. Cowok itu seratus persen terdiam.

Benar. Jika dia memberi 'makan' atau memelihara sisi gelap itu lebih banyak daripada sisi baiknya, maka sisi gelap itulah yang akan menang.

Aldo jadi terguncang. Seluruh kata-kata Nadya membuatnya sadar. Membuatnya melihat semuanya dengan lebih jelas.

Setelah lima detik terdiam, Nadya kembali berkata sembari mengusap air matanya, "Manusia nggak bisa mengubah manusia lain, Aldo, nggak peduli betapa kerasnya seseorang itu berusaha. Tapi kalo ada tekad yang kuat dari orang itu sendiri, maka nggak ada yang nggak mungkin, Aldo…"

Agaknya, ada lembing seakan-akan sukses menohok jantung Aldo. Setiap perkataan Nadya jadi sekakmat sendiri baginya.

Akhirnya, Nadya benar-benar memeluk Aldo dengan erat. Cewek itu sukses menghilangkan segala rasa gugup dan malunya. Yang ia pikirkan saat ini…hanyalah Aldo.

Sembari memeluk Aldo, Nadya pun berbicara lirih, "Maafin orang lain bakal bikin hati Aldo jadi lebih tenag. Mama juga pernah bilang sama aku kalo…memaafkan mungkin nggak bisa ngubah masa lalu, tapi setidaknya bisa memperbaiki masa depan."

Saat itulah seluruh pertahanan Aldo runtuh.

Hal terbaik di dalam kehidupan ini adalah ketika kau menemukan seseorang yang mengetahui semua cacatmu, kesalahanmu, dan kegagalanmu, tetapi masih berpikir bahwa kau luar biasa.

 

******

 

Nadya baru saja mau siap-siap tidur, baru saja mau mematikan lampu kamarnya saat tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Nadya sudah pulang—diantar oleh Aldo—sekitar dua jam yang lalu. Tadi, Aldo akhirnya mencurahkan segalanya dan menenangkan diri. Membebaskan udara yang membuat cowok itu tercekik selama ini. Mencoba untuk melangkah lebih maju, menerima sang bayangan di dalam dirinya, terbuka dengan dirinya sendiri…

Kalimat-kalimat dari Nadya secara otomatis bisa menggerakkan hati Aldo meskipun sebenarnya tadi Nadya tidak berharap banyak. Harapan Nadya tadi itu hanya sederhana, yaitu Aldo bisa tenang, menerima dirinya sendiri, dan memaafkan orang lain.

Namun, Nadya tak tahu seberapa besar pengaruhnya pada Aldo. Sebenarnya, selama ini…satu kalimat dari Nadya memiliki kontrol penuh terhadap Aldo.

 

Meski Aldo tak pernah mengucapkan hal itu.

 

Tadi, Aldo bilang dia mau pergi ke rumah Rian sebentar setelah mengantar Nadya. Cowok itu mau menenangkan pikirannya sejenak sebelum pulang dan kembali bertemu dengan Sandi.

Nadya meraih ponselnya tersebut dan melihat ada panggilan masuk dari Rian.

Eh…Rian…? Ada apa?

Dengan cepat, Nadya pun mengangkat panggilan telepon itu.

"Halo...?"

"Nad, Aldo ada ngabarin kamu nggak?" tanya Rian panik.

Nadya mengernyitkan dahi. Entah mengapa, jantung Nadya mendadak berdegup kencang.

 

Kenapa Rian kedengeran panik?

 

"Nggak," jawab Nadya. "Emang kenapa, Rian...?"

Rian sepertinya gelisah. "Tadi, dia ada di rumah aku. Terus aku nunjukin foto kamu yang tersebar di sekolah dan nyeritain semuanya ke dia. Abis itu, dia langsung pergi gitu aja, Nad."

Nadya kontan saja terkesiap.

Rian…menceritakan kejadian di sekolah?

Itu masalah Nadya, bukan masalah Aldo. Nadya ingin menghadapinya sendiri. Aldo tak perlu tahu! Aldo sedang banyak masalah!

"Nad? Nad?!"

Panggilan Rian itu sontak membuat Nadya mengerjap.

Nadya cepat-cepat menyahut, "Ya, Rian?"

"Ya udah, Nad, nggak apa-apa kalo dia nggak ada ngehubungi kamu. Aku takut aja, Nad..." ujar Rian. "Ekspresinya berubah drastis, soalnya."

 

******

 

"Aku sekarang belum mau ngomong sama Kakak," ucap Aldo dengan tegas. Ia sedang mengendarai mobilnya; matanya memandang jalanan di depan sana tajam. "jadi jangan telepon aku."

Ia masih bisa mengendalikan dirinya. Kebencian itu juga sudah sedikit berkurang. Memanggil 'Kakak' mungkin merupakan angan semata jika Aldo sedang dikuasai oleh sisi gelapnya.

"Maaf, Aldo," ujar Sandi. "Kakak cuma inget sesuatu. Kakak mau ngasih tau kamu."

Aldo hanya diam. Rahangnya mengetat. Dia mencengkeram roda kemudi.

Sandi bernapas sejenak, lalu melanjutkan, "Kemaren, Kakak ngajak Nadya ke taman—"

"Aku tau," potong Aldo tajam.

Sandi diam sebentar. Cowok itu kemudian menghela napasnya di seberang sana. Setidaknya…Aldo sudah mau berbicara dengannya.

"Waktu itu, Kakak beliin Nadya gantungan kunci. Terus pas Kakak mau ngasih gantungan kunci itu, Kakak liat Nadya buka SMS di HP-nya. Kakak nggak bermaksud ngintip, tapi karena ekspresi Nadya berubah pas liat SMS itu, Kakak jadi penasaran."

Aldo mulai mengernyitkan dahi.

"Kakak liat…kayaknya ada yang lagi neror Nadya, Aldo," lanjut Sandi.

Aldo—yang saat itu berkendara di jalan kecil—mendadak menghentikan mobilnya. Tubuh cowok itu sedikit terdorong ke depan akibat berhenti mendadak.

Mata Aldo membulat. Panggilan telepon itu mati, diakhiri dengan Sandi yang memanggil nama Aldo sebanyak dua kali.

Mata Aldo menyipit tajam, cowok itu mulai mencocokkan berbagai kemungkinan yang terlintas di otaknya. Buku jarinya yang mencengkeram roda kemudi itu memutih.

 

Damn.

Tadi, Nadya baru saja bersamanya.

Menenangkannya.

Apa ini?

Mengapa cewek sebaik Nadya, sepolos Nadya…

Cewek yang dengan setulus hati menerimanya, mengerti dirinya, mengulurkan tangan untuknya tanpa balasan apa pun… Cewek yang tadi baru saja memberinya keberanian, menguatkannya...

...harus mengalami semua itu?

Nadya menenangkan Aldo saat sebenarnya Nadya sedang dihina semua orang di sekolah?

 

Tepat saat itulah, ponsel Aldo kembali berbunyi. Aldo diam. Suasana di dalam mobil itu hening sekali, hanya ada bunyi ponsel cowok itu.

Tatapan Aldo fokus ke satu arah. Ke depan sana. Tangannya membawa ponsel itu ke telinganya.

Terdengarlah suara Arif, Wakil Ketua OSIS, yang menyapa Aldo di seberang sana.

"Do, besok jadi rapat masalah festival, ‘kan? Gue denger tadi lo nggak sekolah. Lo kenapa?"

"Rif," panggil Aldo tiba-tiba. Cowok itu sama sekali tak menghiraukan ucapan Arif.

Namun, di seberang sana, Arif tersentak. Suara Aldo barusan adalah suara yang paling dingin yang pernah Arif dengar selama hidupnya. Arif sampai mematung; tubuhnya tak mampu bergerak. Rasa takut mulai menjalar di tubuh Arif.

"Y—Ya, Do?" sahut Arif. Suaranya agak bergetar.

 

Hening.

 

Tiga detik kemudian, suara Aldo yang menyeramkan itu kembali terdengar di dalam mobil.

 

"Batalin rapat OSIS besok. Gue ada urusan." []

 















******












No comments:

Post a Comment

Because of Ticket! (Bab 20: Katakan Selamat Tinggal)

  ****** Bab 20 : Katakan Selamat Tinggal   ******   “MAU  ikut masuk nggak, Nad?” tanya Gita, cewek itu mulai turun dari motornya...