Bab
1 :
Gara-Gara
Tiket
******
"Jika
kamu punya satu hal yang belum bisa kamu dapatkan saat ini, ya udah, ikhlasin
aja. Bisa jadi, Tuhan itu bukannya nggak mengabulkannya, tapi Tuhan menunggu
kapan waktu yang tepat untuk mengabulkannya."
******
SUARA tangisan
Nadya hampir saja merusak pendengaran Gita. Berkali-kali Nadya
mengguncang-guncang tubuh Gita, merengek sampai membuat Gita pusing tujuh
keliling. Astaga, cuma karena mau tiket konser Muse yang kabarnya mau
datang ke Indonesia satu bulan lagi, Nadya sampai merengek habis-habisan begini
di depan Gita! Gita memutar matanya dan menutup telinganya, dia malas banget mendengarkan
rengekan Nadya karena Nadya ini udah merengek setiap hari sejak beredar luasnya
kabar kedatangan Muse ke Indonesia.
Lagian,
kok Nadya bisa, sih, suka banget sama band rock itu?
Dari tampangnya sebenarnya tidak cocok karena Nadya ini merupakan cewek
yang sederhana dan tidak tomboi sama sekali. Jadi, bisa suka sama
Muse itu jalan ceritanya bagaimana?
"Ampun,
Nad, udahan kali nangisnya," celetuk Gita kesal. "Mau digimanain
lagi, 'kan, kalo nggak bisa beli tiketnya. Bahkan, kalo kita
patungan plus tambahan dikit dari ortu lo, itu masih belum cukup juga!"
Nadya
semakin merengek keras-keras, cewek yang tinggi badannya sama dengan Gita itu
mengentak-entakkan kakinya ke tanah berumput belakang sekolah yang ia dan Gita
duduki. "Huaaa Git, lo nggak tau seberapa lama gue nungguin
kesempatan ini! Lo itu nggak bakal ngerti, Giiit!! Muse itu udah
mendarah daging di dalam diri gue!! Huaa Git, gimana dong?!! Apa
kita minjem uang aja, ya..."
Mata
Gita membelalak. "Gila lo, Nad! Mau minjem ama siapa, coba?!"
Nadya
bersandar di pohon eucalyptus yang ada di belakangnya. Nadya
dan Gita sedang duduk berteduh di bawah pohon eucalyptus yang tumbuh
di belakang sekolah mereka. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar satu jam
yang lalu, tetapi mereka berdua belum pulang karena Nadya yang katanya malas
jalan. Malas jalan—karena bad mood—berhubung
tidak punya tiket konser Muse.
"Iya,
sih…tapi…huaaaaaaa! Gimana kalo gue nggak pernah ketemu atau
ngeliat Muse seumur hidup gue, Git? Gue punya banyak poster mereka
di kamar, tapi gue pengin banget nonton konser mereka! Berarti, gini, ya, kalo
jadi fans yang nggak punya duit…" Nadya menunduk, kini ia duduk
seraya memeluk lututnya.
Gita
menghela napas. "Gue nggak tau gimana rasanya jadi anak fandom
kayak lo karena gue nggak nge-fans sama siapa pun. Tapi
oke, gue ngerti kok perasaan lo. Udah, Nad, jangan nangis lagi. Mungkin nanti
pas kita udah dewasa dan udah kerja, bisa jadi Muse konser lagi di Indonesia,
'kan? Lo bisa beli tiketnya saat itu."
Nadya
menunduk.
Iya,
yang dikatakan Gita itu benar. Akan tetapi, apakah Muse akan datang
ke Indonesia lagi? Apakah Nadya bisa berharap? Kalau Nadya keburu nikah, entar
malah tidak kesampaian lagi... Soalnya, kalau sudah menikah, fokusnya
sudah berbeda. Terus bagaimana, dong?
Melihat
Nadya yang tertunduk lemas, Gita menghela napas lagi.
"Ya
udah, Nad, mending kita pulang dulu. Biar gue ambil tas kita di kelas, lo
tunggu di sini aja. Takutnya ntar bapak penjaga sekolah keburu ngunci kelas,"
ujar Gita, kemudian cewek berkucir kuda itu berdiri, menepuk-nepuk rok
abu-abunya, lalu berlari ke kelas mereka.
Nadya
semakin tertunduk lemas. Napasnya ia keluarkan dengan ogah-ogahan. Kedua
tangannya memeluk lututnya semakin erat, sementara tubuhnya bergerak ke depan
dan ke belakang. Embusan angin sore membelai dan menerbangkan beberapa helai
rambut Nadya yang tergerai dan berhiaskan jepit hitam kecil di poninya.
"Kamu
mau tiket Muse?"
Nadya
tersentak. Cewek itu melebarkan matanya, napasnya terhenti; ia kaget karena
tiba-tiba mendengar ada suara seorang cowok di depannya.
Nadya
perlahan mengangkat kepalanya. Sekitar 45 derajat, Nadya sudah melihat sepasang
sepatu hitam bermerk Adidas di depannya. Nadya kemudian mengangkat
kepalanya lagi hingga ia mendongak.
Saat
telah melihat ke atas, Nadya semakin melebarkan matanya. Cewek itu membutuhkan
waktu sekitar dua detik untuk berkedip sebanyak dua kali karena keheranan
dengan sosok cowok yang berdiri di depannya.
Bukan, cowok
itu bukan orang asing. Cowok itu adalah Aldo Nugraha, Ketua OSIS sekaligus
teman satu kelas Nadya yang pintarnya bukan main. Dia adalah cowok macho yang
selalu juara umum di sekolah. Wajah bening dan alis tebal milik Aldo yang
berdarah Perancis-Indonesia itu selalu berhasil memukau semua cewek
di SMA Kusuma Bangsa, tetapi Nadya dan Aldo selama ini hanyalah teman sekelas
yang boleh dikatakan jarang berteguran. Mereka berteguran kalau ada tugas
kelompok saja (saat mereka kebetulan berada di kelompok yang sama).
Untuk
diperjelas lagi, Nadya juga sosok yang tidak terkenal di kelas.
Nadya itu paling banter dapat ranking sepuluh doang. Nadya itu
cuma anggota kelas yang nyaris-terlupakan, yang mainnya cuma
sama Gita. Nadya sama Gita itu sebelas dua belas, sama-sama malas
cari perhatian dan malas jadi perhatian orang-orang. Mereka berdua seperti
punya dunia mereka sendiri, tetapi bukan berarti mereka tidak berbaur di kelas.
Mereka berdua berbaur ala kadarnya saja.
Aldo
memiringkan kepalanya, melambaikan sebelah tangannya dengan pelan di depan
wajah Nadya. Cowok itu bahkan sampai merunduk cuma untuk melakukan situ.
"Hei."
Nadya
tersentak, dia langsung memfokuskan dirinya kepada Aldo. "A—Ah, Aldo? Kok
kamu masih ada di sekolah?"
Aldo
tersenyum. Senyum cowok itu terlihat sangat manis, bahkan kedua mata cowok itu
melengkung seolah ikut tersenyum. "Aku ngambil jaketku. Tadi
ketinggalan di kelas," ujar Aldo. "Oh ya, kamu belum jawab
pertanyaanku."
Nadya
menganga; dia akhirnya ingat bahwa Aldo datang ke hadapannya dengan membawa
sebuah pertanyaan. Nadya meneguk ludahnya. Apakah Aldo mendengarnya merengek
kepada Gita tadi sehingga Aldo tahu bahwa dia sedang membutuhkan tiket konser
Muse?
Nadya
menghela napas. Mendadak cewek itu jadi bad mood lagi.
"Iya, aku mau tiket konser Muse. Sayangnya, uangku nggak cukup
buat beli tiket seharga dua juta rupiah itu."
Aldo
mengangguk perlahan.
"Aku
punya satu tiketnya," ujar Aldo kemudian. "dan aku
bisa kasih tiket itu ke kamu. Tapi…kamu yakin?"
Nadya
benar-benar mendongak dan matanya membulat sempurna. Agaknya, Nadya sekarang
jadi memelototi Aldo. Cewek itu tak percaya dengan apa yang baru saja Aldo
katakan.
"APA?!
KA—KAMU... PUNYA TIKETNYA?!!" teriak Nadya kencang.
Aldo
tersenyum simpul. "Iya, Nadya. Aku punya. Tapi...apa kamu yakin?"
Pertanyaan
Aldo itu membuat Nadya jadi mengernyitkan dahinya. Namun, suara Nadya masih tidak
santai sama sekali saat menanyakan, "Yakin kenapa?!!"
"Ada
perjanjiannya." Aldo mengatakan itu bersamaan dengan mata jernih cowok itu
yang menatap Nadya dalam.
"Hah?" Nadya
benar-benar bingung. Perjanjian apa?
Ah, bodo
amatlah, yang penting Nadya dapat tiketnya!!
Nadya
menggeleng, kemudian cewek itu menatap Aldo dengan mata yang berbinar. Ia
tersenyum semringah, wajahnya berseri-seri. "Oke oke. Nggak apa-apa, deh, asal
aku dapet tiketnya!"
Aldo
mulai tersenyum lembut.
"Ya
udah. Perjanjiannya itu..." Aldo menunduk agar bisa
menatap Nadya dengan fokus, lalu cowok itu berkata:
"...kamu
jadi pacar aku." []
******



No comments:
Post a Comment