Bab
1 :
Coco
dan Hydrangea Biru
******
ZAVIE
punya
seekor kucing. Kucing itu adalah kucing tabby berwarna coklat yang
tubuhnya gemuk, tetapi belum dewasa. Kucing itu bernama Coco.
Coco baru berusia sekitar tiga
bulan. Bulunya lembut, pendek, dan terawat. Tubuhnya yang gembul itu terasa sungguh
nyaman saat dipeluk. Ukurannya pas sekali di dalam pelukan Zavie yang masih
berusia empat tahun.
Zavier
Alastair—yang biasa dipanggil Adek atau Zavie—adalah anak bungsu laki-laki dari
Keluarga Alastair. Keluarga Pak Haryo Alastair tinggal di sebuah rumah yang
terletak di permukiman yang tidak terlalu padat. Mereka tidak tinggal di kawasan
perumahan elit. Di belakang rumah Keluarga Alastair terdapat taman bunga yang tidak
luas, tetapi sangat cantik. Di dekat taman itu terdapat sebuah jembatan kayu
kecil yang menghubungkan antara taman bunga dengan lapangan sepak bola.
Lapangan sepak bola itu biasa ramai digunakan oleh para lelaki di sekitar
pemukiman tersebut untuk bermain bola di sore hari. Jika rumah Zavie berada di sebelah
timur lapangan itu, maka di sebelah utara lapangan tersebut juga ada beberapa
rumah yang berjajar (tetapi bukan bedeng). Permukiman tempat Keluarga Pak Haryo
tinggal adalah permukiman yang tanah kosongnya masih cukup luas meski berada di
kota. Mereka tidak tinggal di depan jalan raya; orang-orang di sekitar permukiman
itu saling mengenal dan akrab. Kekeluargaannya terjaga dengan baik karena
lingkungan yang masih luas seolah-olah berada di desa, tetapi tidak, itu bukan
desa. Pak Haryo Alastair benar-benar beruntung mendapatkan tempat tinggal yang
daerahnya masih luas seperti itu. Untuk bernapas juga sepertinya lebih lega
karena jarak antarrumah tidak terlalu dekat. Rumah-rumahnya tidak saling
berdempetan. Orang-orang masih bisa menanam sesuatu di halaman depan ataupun di
halaman belakang mereka; mereka bisa memelihara ayam atau bebek di belakang
rumah, bisa juga menghabiskan waktu bersama, contohnya bermain bola di sore hari.
Rumah
beton milik Pak Haryo Alastair tidak terlihat begitu besar, tetapi enak
dipandang. Rumahnya ber-style modern dan memiliki satu lantai, tetapi
ruang tamunya sangat besar. Sebenarnya, bagian dalamnya luas meski kalau dari
luar rumah itu tidak terlihat begitu besar. Rumah itu adalah tipe rumah
panggung, jadi Zavie sering duduk-duduk di teras belakang dengan kaki yang
menjuntai seraya memakan buah semangka dari Pak Kumis. Pak Kumis tinggal di
salah satu rumah yang berada di sebelah utara lapangan sepak bola; beliau
memiliki sebuah kebun semangka di belakang rumahnya. Keluarga Alastair rajin
membeli semangka yang beliau tanam karena Zavie hobi makan semangka.
Selain
makan semangka, biasanya Zavie juga duduk-duduk di teras belakang sembari
melihat kucingnya yang suka bermain di taman bunga yang ada di belakang
rumahnya itu. Bunga yang ditanam di sana adalah bunga hydrangea biru.
Kucing Zavie—Coco—suka sekali berlari-lari di sana, terutama karena di sana
juga sering ada bebek-bebek milik tetangga. Ada seekor bebek betina yang rajin
sekali bermain ke taman bunga belakang rumah Zavie seraya membawa anak-anaknya.
Jadi,
berhubung Coco hobi bermain di belakang rumah—di antara bunga-bunga hydrangea
berwarna biru itu—Zavie jadi curiga ketika dia menyadari bahwa kucingnya tidak
ada di dalam rumah sore itu. Hari ini sedang hujan dan hujannya cukup lebat. Gemuruh
dari langit sesekali terdengar, tetapi batang hidung Coco yang pesek itu tak
kunjung kelihatan di dalam rumah.
Zavie
lari ke dapur, kaki kecilnya itu berlari agak kencang dan rambutnya memantul
seakan-akan mampu menimbulkan sound effect berupa ‘tuing-tuing’ tatkala
ia berlari. Ia memakai celana panjang berwarna krim dan jaket kebesaran berwarna
biru muda. Saat sampai di dapur, Zavie mengambil payung kecilnya yang Mama
letakkan di tempat penyimpanan payung berbentuk tabung. Tempat penyimpanan
payung itu berdiri di samping rak sepatu. Setelah mengambil payungnya, Zavie
mengambil sepatu kets berwarna putihnya yang terletak di barisan tengah rak
sepatu besar milik keluarga. Zavie harus cari Coco, nih, soalnya nanti Coco
sakit! Coco kalau sakit pasti ingusan!
Zavie
harus cepat sebelum ketahuan Mama. Kalau Mama melihat dia keluar hujan-hujan
begini, bisa-bisa dia kena marah Mama duluan sebelum bisa membawa Coco
pulang. Zavie jadi agak paham, nih, bagaimana rasanya menjadi Mama dan Papa. Ternyata
begini rasanya jadi orangtua yang sibuk mengurusi anak bayi, ya.
Zavie
menenteng sepasang sepatu serta payung kecilnya ke teras belakang rumah
panggung mereka. Ketika sudah sampai di teras belakang, Zavie pun memakai
sepatu ketsnya tersebut dan jemari kecilnya sibuk memasang perekat sepatunya
dengan mata yang membulat lucu. Setelah itu, Zavie lantas berdiri dan meraih
payung kecilnya itu: payung kecil berwarna biru muda yang Papa belikan untuknya
dari minimarket dua bulan yang lalu ketika mereka terjebak hujan saat
jalan-jalan sore. Dia membuka payung tersebut, lalu berlari menuruni tangga
rumah panggung mereka dan menuju ke taman bunga hydrangea yang ada di
belakang rumah itu.
Langkah
kakinya menimbulkan bunyi kecipak tatkala menginjak tanah yang sedang digenangi
air. Namun, Zavie tidak memedulikan itu sama sekali. Si Kecil yang beraroma bedak
bercampur minyak telon itu hanya ingin menjemput Coco pulang; dia sungguh heran
dengan Coco karena kata Mama, kucing biasanya takut air. Nah, ini, kan, lagi
hujan. Kok Coco enggak takut kena air?
“Cocooo!”
teriak Zavie di antara rintik hujan. “Cocooo, Coco di manaaaa?!”
Setelah
sampai di taman bunga belakang rumah, Zavie langsung melihat Coco yang
bersembunyi di antara bunga-bunga hydrangea biru itu. Kucing itu menatap majikan mungilnya—Zavie—dengan
mata yang membulat polos, lalu mengeong. Seolah merespons panggilan Zavie.
Melihat
itu, Zavie jadi menghela napas. Aduh, repot sekali, ya, ternyata, kalau punya
anak kecil. Besok Zavie harus tanya-tanya Mama lagi, deh. Kayaknya Zavie perlu
belajar bagaimana caranya menjadi orangtua yang lebih baik untuk Coco. Tidak
bisa begini terus. Nanti Zavie gagal menjadi orangtua.
Zavie
pun meraih Coco dan memeluk kucing itu, lalu duduk di antara bunga-bunga hydrangea
tersebut. Iya, Coco benar-benar duduk di sana, padahal tanahnya sedang basah.
Seraya memeluk dan memangku Coco di bawah payungnya, Zavie pun mengerutkan
dahi. Dia terlihat agak kesal sekaligus khawatir dengan Coco.
“Coco
ngapain, cih? Ini, kan, lagi hujan… Nanti kalau Coco cakit gimana?” tanya Zavie
dengan kecewa. Coco yang mendengar itu hanya mengeong dan menatapnya dengan
mata yang membulat polos, tidak mengerti sama sekali dengan apa yang majikan
kecilnya itu ucapkan. Ya bagaimana, dong, majikan sama peliharaannya,
kan…sama-sama masih mungil.
“Coco,
kan, bukan bebek. Coco ngapain hujan-hujanan? Coco nggak takut air? Kenapa
nggak mau main di rumah aja? Kan ada Javi…” ujar Zavie, dia protes
dengan nada ngambek-nya itu, sibuk menasihati kelakuan Coco yang sekarang
suka kelayapan sendiri di belakang rumah. Masih kecil saja sudah hobi
kelayapan, bagaimana nanti kalau sudah besar? Zavie takut Coco nanti jadi
melakukan pergaulan bebas!
“Adek!!
Zavie!!”
Belum
sempat Zavie meneliti bagaimana respons Coco, tiba-tiba Zavie mendengar
teriakan mamanya dari teras belakang rumah. Zavie kontan langsung mengangkat
kepalanya, menoleh ke arah teras belakang rumah dan menemukan mamanya yang
bertubuh sedikit gemuk itu berdiri di sana, sedikit memanjangkan leher
demi melihat apakah Zavie benar-benar sedang duduk di tengah-tengah tanaman hydrangea
itu. Mamanya lanjut berteriak, “Adek!! Balik!! Hujan ini!! Ngapain
main ke luar?!!”
Zavie
jadi panik. Dia langsung berdiri dan menggendong Coco, lalu berlari seraya
membawa kucingnya itu kembali ke rumah. Mama yang melihat itu sontak jadi
menganga; mata Mama melebar. “Astaga Adeeek!! Itu celana basah semua astagaaa!!!”
Waduh!
Ketahuan Mama, deh! Gawat ini!
Zavie
pun berlari naik tangga dan begitu dia sampai di teras belakang rumahnya, Mama
langsung merunduk dan memeriksa celananya. Celana itu jelas basah semua,
terutama bagian bokongnya. Mama langsung mengambil payung yang tengah Zavie
pegang, lalu mulai melepas celana Zavie. “Ya ampun, Dek! Ngapain, sih,
hujan-hujanan di belakang rumah? Kan basah semua ini jadinya! Nanti demam baru
tau rasa!”
Zavie
jadi mengerucutkan bibirnya karena sedih, tetapi matanya tetap membulat polos.
“Javi lagi cari Coco, Ma, dia tadi nggak pulang. Dia main di deket bunga. Nanti
dia cakit demam…”
Mamanya
jadi menahan napas sejenak. Setelah itu, Mama pun menghela napasnya. “Ya udah,
mandi sana. Langsung masuk ke kamar mandi. Takutnya ntar jadi demam.”
“Mau
mandi cama Coco, Ma, boleh?” pinta Zavie dengan mata bulatnya. Mama sedang
membuka jaket Zavie. “Boleh, ya, Ma?”
Mama
langsung menggandeng Zavie—yang kini hanya memakai celana dalam itu—masuk ke
dalam rumah. “Ya udah, tapi Zavie beneran mandi, ya? Jangan malah main air.
Nggak boleh pakai bathtub juga. Nanti ada apa-apa. Mandi di lantai aja.”
Zavie
yang masih menggendong Coco pun jadi sedikit melompat senang. Matanya yang
jernih itu mulai berbinar. “Yeeeey!!”
Setelah
itu, Mama pun mengantar Zavie dan Coco ke kamar mandi. Kamar mandi itu ada di
dekat dapur. Setelah itu, Mama mengantarkan mainan bebek-bebekan ke dalam kamar
mandi, memberikan mainan itu pada Zavie, lalu membiarkan Zavie mandi sendiri
bersama Coco. Mama tidak menutup pintu kamar mandi itu supaya bisa mengawasi
dua buntalan daging itu dari dapur. Kamar mandinya luas, jadi Zavie bisa duduk
di lantainya seraya memandikan Coco.
******
Di
dalam kamar mandi, Zavie sibuk mengomeli Coco. Tangan kecilnya menyabuni
Coco dengan sabun khusus untuk kucing yang rutin dibelikan oleh orangtuanya.
Sementara itu, kepala Zavie tampak berbusa sebab agaknya ia masih belum
membilas sampo di kepalanya. Ada satu mainan bebek yang bertengger di
kepalanya.
“Coco,
biar Javi tanya cekali lagi,” kata Zavie serius. “Coco ngapain akhir-akhir ini
ke taman bunga cendirian? Biacanya, kan, Coco main ke cana kalau ada Javi aja.
Ngapain, cih?”
Seperti
biasa, si gembul berbulu itu hanya mengeong. Zavie pun menghela napas. Zavie
serius nanya, lho, ini. “Coco jawab dulu, kenapa beberapa hari ini Coco
main ke citu cendiri terus ceharian, dari pagi campai core, campai malem kalau
Javi nggak jemput. Liat, nih, badannya Coco jadi kotor cemua.”
Berhubung
Coco hanya mengeong saja, Zavie jadi tidak puas. Besok Zavie harus cari tahu,
nih! Coco memang hobi berlari-lari di taman bunga itu, tetapi biasanya Coco
hanya ke sana kalau ada Zavie di sekitarnya atau minimal ada Zavie yang
mengawasinya dari teras belakang rumah. Kalau tidak begitu, Coco tidak akan ke
sana sendirian, apalagi kalau hari sedang hujan begini! Pasti Coco akhir-akhir
ini rajin sekali ke taman sendirian karena ada sebabnya. Waktunya Zavie mencari
tahu apa sebabnya.
“Zavieee!”
panggil mamanya tiba-tiba. Zavie langsung menoleh ke pintu kamar mandi yang
terbuka, lalu ia menemukan mamanya yang baru saja sampai di pintu itu, berdiri
berpegangan dengan kosen pintu seraya menatap tubuh anaknya yang masih dipenuhi
dengan busa. “Udah belum mandinya? Lama banget mandinya, Nak!”
Zavie
hanya menatap mamanya dengan mata bulat polosnya itu. “Belum celecai, Mama.”
Mamanya
pun jadi menepuk jidat. Setelah itu, Mama langsung masuk ke kamar mandi. Dia
menghampiri anak bungsunya tersebut dan langsung berjongkok, kemudian
mengangkat tubuh anaknya itu agar berdiri. “Hadeh. Udah, udah, Mama mandiin
aja, deh. Bisa-bisa satu jam-an, nih, kalau Mama biarin.”
Mau
tak mau, karena takut Mama mengamuk, Zavie pun hanya mengerucutkan bibirnnya
dan mengangguk. Dia dan Coco ujung-ujungnya jadi dimandiin sama Mama.
Tangan Mama memandikan mereka dengan gesit; Coco yang sudah terbiasa mandi pun
hanya diam saat Mama memandikannya.
Setelah
selesai mandi, Mama lantas membawa Zavie dan Coco keluar dari kamar mandi. Mama
langsung mengambil handuk dan mengeringkan tubuh keduanya di depan kamar mandi.
Coco langsung lari ke ruang tamu tatkala tubuhnya sudah dikeringkan dengan
handuk oleh Mama; Coco berlari ke ruang tamu dan langsung sibuk menjilati
bulu-bulunya sendiri. Sementara itu, Zavie yang masih dihanduki oleh Mama pun
mendadak bertanya pada Mama dengan polosnya, “Mama, kira-kira kenapa, ya, Coco akhir-akhir
ini main cendirian ke taman belakang terus?”
Astaga.
Mama sudah tahu Zavie ini adalah anak yang suka kepo, tetapi ternyata kekepoannya
separah ini. Kalau belum tahu jawabannya maka kekepoannya belum selesai.
Jangan-jangan, dulu Mama salah merk waktu memilihkan susu untuk Zavie.
Mama
pun mengernyitkan dahi, mencoba untuk sedikit berpikir. Dia harus merespons
Zavie kalau tidak mau Zavie mengulang-ulang pertanyaannya sampai sepuluh kali. “Hm…mungkin
sekarang dia rajin ke situ setiap hari karena…”
Zavie
memiringkan kepalanya. “Karenaa?”
“…karena
ada temennya di situ,” lanjut Mama.
Sontak
mata Zavie berbinar. Teman? Wah, ada kucing baru, ya? Zavie harus cari
tahu, nih! Zavie harus lihat teman Coco! Waaah, Zavie jadi tidak sabar.
Mudah-mudahan hari esok segera tiba. Waktunya dia mencari tahu!
Setelah
selesai mengelap tubuh Zavie dengan handuk, Mama pun membawa Zavie ke ruang
tamu. Di ruang tamu itu ada sofa, meja, TV, dan rak majalah. Mama menyuruh
Zavie untuk menunggu di dekat sofa, lalu Mama mengambil baju Zavie dari dalam
kamar. Begitu Mama datang mendekati Zavie kembali, Mama terlihat membawa sepasang
piama garis-garis milik Zavie yang berwarna biru muda. Biru muda adalah warna
favorit Zavie.
Mama
pun memakaikan pakaian Zavie. Mama mengoleskan minyak telon di perut dan
punggung Zavie terlebih dahulu, menaburkan bedak juga di sana, lalu mulai
memakaikan pakaian anak bungsunya itu. Mulai dari celana dalamnya, kaus dalam, hingga
celana panjang dan baju panjangnya. Zavie menurut saja; kedua tangan kecilnya
berpegangan pada bahu Mama tatkala Mama memakaikannya baju.
Tak
lama kemudian, Zavie mendengar pintu depan rumah mereka terbuka. Zavie langsung
menoleh dan dia menemukan Papa yang baru saja pulang dari kantor. Seragam Papa
tidak basah, mungkin karena Papa naik mobil. Melihat kepulangan Papa, Zavie pun
langsung senang bukan main. Matanya berbinar; dia langsung excited. Menyadari
anaknya yang excited, Mama pun mempercepat gerakan tangannya; Mama
langsung menyisir rambut Zavie dan memberikan bedak pada wajah Zavie dengan
cepat. Alhasil, bedak di wajah Zavie jadi berantakan.
“Papaaa!!”
teriak Zavie senang, dia langsung berlari ke arah papanya yang juga terlihat
senang melihat anak laki-laki bungsunya. Papa tampak sedikit membungkuk dan merentangkan
kedua tangannya, bersiap untuk menyambut dan memeluk Zavie yang tengah berlari
ke arahnya.
“Zavieeee!”
teriak papanya balik. Papa kelihatan sedang membawa dua buah bungkus plastik berwarna
hitam. Papa lalu melanjutkan, “Papa bawa martabak coklat, Dek!!”
Zavie
lalu memeluk papanya. Tatkala mendengar Papa sedang membawa martabak, Zavie pun
melompat kegirangan di pelukan papanya dan berteriak, “Yeeeeeyyy!! Maltabaaak!!”
Papa
pun langsung menggandeng tangan mungil Zavie dan membawa Zavie ke sofa yang ada
di ruang tamu. Mama masih ada di sana, sedang menunggu seraya tersenyum.
Sebetulnya, Papa agak heran, anaknya itu bisa menyebutkan ‘r’, tetapi terkadang
ada masa-masanya di mana huruf ‘r’ itu berubah menjadi ‘l’.
“Papa
bawa makanan untuk Coco juga,” ujar Papa kemudian. “Makanan Coco habis, ‘kan,
kata Mama.”
“Iya,
Papa, makanannya abis!” jelas Zavie dengan antusias, dia tahu juga kalau
makanan kucingnya habis. “Makacih, Papa!!”
“Okeeee!”
Papa pun mengusap kepala Zavie dan tertawa. Kelihatan benar-benar jadi bucin
untuk gumpalan lemak yang berwujudkan anak bungsunya itu. Lucunya bukan main,
rasanya pengin cubit pipinya dan peluk badannya kuat-kuat. Gemas sekali
rasanya. Papa meletakkan bungkusan-bungkusan itu ke atas meja, lalu ia membuka salah
satu bungkusan yang berisi martabak. Setelah bungkusnya terbuka, Papa lantas membuka
kotak martabak itu dan Zavie mulai ngiler tatkala memperhatikan kotak
martabak yang perlahan-lahan terbuka. Mata Zavie membulat dan
berbinar-binar. Begitu kotak itu terbuka dan memperlihatkan martabak coklat yang
ada di dalamnya, Zavie langsung mengambil sepotong martabak yang ada di sana
dan langsung memasukkan martabak itu ke mulutnya. Gigitan pertama sukses
membuat Zavie serasa bagai di surga. Zavie sibuk memakan martabak itu sampai-sampai
ia lupa pada Mama dan Papa yang kini tengah mengobrol di samping kanan dan
kirinya, Zavie tak tahu mereka sedang mengobrol tentang apa, yang jelas
martabaknya enak sekali. Mulut Zavie dan tangan Zavie sampai celemotan karena
dipenuhi dengan coklat.
“Papa,”
panggil Zavie di sela-sela acara makan martabaknya. “Coco kayaknya punya temen
balu.”
Papa
yang tadinya tengah mengobrol bersama Mama pun jadi menatap kepada Zavie. “Oh
ya? Wah…siapa?”
“Nggak
tau, Papa, becok Javi cali tau,” kata Zavie seraya menggigit potongan terakhir
martabak yang ada di tangannya.
Saat
Zavie masih mengunyah potongan terakhir itu, tiba-tiba Mama berteriak, “Atlas,
ada martabak!!”
Zavie
refleks menoleh ke arah Mama yang tengah berteriak; Mama berteriak seraya
mengarahkan pandangannya ke kamar Kak Atlas, kakaknya Zavie.
Jadi,
Zavie ini sebenarnya punya seorang kakak. Kak Atlas namanya; nama lengkapnya
adalah Atlas Alastair. Kak Atlas adalah satu-satunya saudara Zavie. Anak Pak
Haryo Alastair saat ini hanya ada dua, yaitu Atlas Alastair dan Zavier
Alastair. Namun, perbedaan usia antara Atlas dan Zavie bisa dibilang sangat
jauh; Atlas sudah SMA, sementara Zavie masih berusia empat tahun. Jika Zavie
adalah tipe anak yang cerewet dan kepoan…maka Atlas adalah kebalikannya.
Dia tipe cowok yang tidak banyak bicara; dia bicara seperlunya saja. Dia siswa
andalan di sekolahnya; dia juara umum, dia kapten basket, dan dia juga saat ini
sedang menjabat sebagai Ketua OSIS.
Mendengar
Mama yang berteriak karena menawari Kak Atlas martabak, Zavie pun jadi
berinisiatif.
“Mama,
Mama,” panggil Zavie, membuat Mama jadi menoleh ke arahnya. Zavie pun lalu
melanjutkan, “Javi aja yang panggil Kakak.”
Setelah
itu, tanpa menunggu respons dari Mama, Zavie pun langsung berlari ke arah kamar
Kak Atlas yang berada tak jauh dari ruang tamu. Suara langkah kaki kecilnya itu
terdengar lumayan jelas karena ia berlari melewati ruang tamu terlebih dahulu
sebelum akhirnya ia sampai di depan pintu kamar Kak Atlas yang berwarna coklat
muda.
Tatkala
sudah sampai di depan pintu kamar Kak Atlas, Zavie pun mulai berjinjit agar
bisa meraih gagang pintu kamar itu. Zavie menggunakan sebelah tangan kirinya
untuk memegang gagang pintu kamar itu, lalu setelah menekan gagang pintu itu ke
bawah, Zavie pun mulai mendorong pintu tersebut ke dalam. Membukanya perlahan.
Dia tak mau mengganggu Kak Atlas.
Saat
pintu kamar itu sudah terbuka nyaris setengah, Zavie dapat melihat sosok Kak
Atlas yang sedang belajar di meja belajarnya. Lampu yang ada di atas meja
belajar itu hidup dan sinarnya berwarna krem. Namun, lampu kamar Kak Atlas
belum dihidupkan—hanya lampu yang ada di meja belajarnya saja—mungkin karena malam
belum tiba. Kamar Kak Atlas jadi terlihat agak gelap karena cuaca di luar masih
hujan. Langit masih mendung, tentunya.
Atlas
yang tengah fokus ke buku pelajaran itu pun mulai menoleh ke pintu kamarnya. Di
sana sudah ada adiknya yang tengah berdiri seraya melihat ke arahnya dengan
penuh keingintahuan. Sebelah tangan adiknya itu masih memegang gagang pintu dan
kedua kaki adiknya itu tengah berjinjit. Mulut adiknya itu celemotan, dipenuhi
dengan coklat.
Zavie
menatap Kak Atlas dengan mata bulatnya yang melebar karena ingin tahu. Mata
bulat Zavie itu tampak begitu jernih dan polos, seperti kelinci. Mereka
berdua saling bertatapan untuk beberapa detik lamanya—tanpa bersuara—hingga
kemudian Atlas menyaksikan mulut adiknya yang celemotan itu mulai berbicara,
“Kakaak…
Ada maltabak.” []
******


No comments:
Post a Comment